Mongabay.co.id

Sampah Plastik Ancam Biodiversitas Laut dan Rugikan Ekonomi

  • World Economic Forum melaporkan polusi plastik mengancam biodiversitas laut global. Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga sangat besar. Sebanyak 75-150 juta ton plastik di laut global sebabkan kerugian antara $500 miliar dan $2,5 triliun dalam jasa ekosistem laut setiap tahunnya. 
  • Alaika Rahmatullah, Peneliti Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) katakan kondisi laut di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Data kebocoran sampah di laut 82% berasal dari sungai dan 18% berasal dari pesisir dan pantai. Plastik di laut ancam biota laut hingga ke manusia melalui sistem rantai makanan. 
  • Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur & Founder CELIOS katakan ketahanan ekonomi salah satunya bergantung kepada cara mengatasi persoalan sampah. Semakin buruk pengelolaan sampah plastik, maka semakin besar subsidi ke nelayan, pariwisata, dan belanja pelestarian lingkungan.
  • BRIN menghitung secara kasar ada rata-rata kurang lebih sekitar 484 ribu ton sampah plastik per tahun yang bocor ke lautan dunia, kurun waktu 2018-2023. Kerugiannya antara Rp125-225 triliun per tahun. Estimasi kerugian tersebut dilihat dari kerugian secara ekonomi,  pariwisata, kesehatan, dan kerugian teknis lainnya.

World Economic Forum (WEF) melaporkan polusi plastik menjadi salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman hayati di dunia. Sejak 1950, produksi plastik tahunan terus melonjak, dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton. Daur ulang hanya 10%.

Sebanyak 130 juta ton sampah plastik mencemari air, udara dan tanah. WEF juga prediksi,  lonjakan sampah plastik akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2040 jika tak ada tindakan nyata dari komunitas global. Jumlah itu setara dengan membuang satu truk sampah setiap detik ke alam.

Dampak ekonomi dari fenomena ini sangat besar. Sebanyak 75-150 juta ton plastik di laut global sebabkan kerugian antara US$500 miliar dan US$2,5 triliun dari jasa lingkungan ekosistem laut yang hilang atau berkurang setiap tahun.

Banyak sektor terdampak, mulai dari perikanan hingga pariwisata, termasuk kerugian ekonomi karena hilangnya penyerapan karbon karena hutan bakau rusak. Sedangkan emisi gas rumah kaca plastik sebanyak 2,7 miliar ton per tahun dengan perkiraan  melampaui emisi setiap negara pada 2040.

Alaika Rahmatullah, Peneliti Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton katakan, pada konteks lokal, kondisi laut Indonesia juga tak tak memprihatinkan akibat ‘kebocoran sampah’ dari sungai.

“Data kami, kebocoran sampah di laut 82% berasal dari sungai dan 18%  dari pesisir dan pantai,” katanya.

Dia bilang, buruknya tata kelola sampah dari hulu memperburuk situasi itu. Penelitian Ecoton pada 2026 menyebutkan, kawasan pesisir utara Kota Surabaya aliran sampah dari sungai yang ke laut rata-rata mencapai 1,5 ton per harinya

“Kenaikan sebanyak hampir 10 kali lipat jika dibandingkan temuan kami di 2023.”

Dia tegaskan, penanganan sampah laut seharusnya  dari hulu hingga hilir, tak sekadar membersihkan sampah yang sudah berada di laut. Misal, dengan memperkuat kebijakan larangan penggunaan plastik sekali pakai serta pembatasan produksi oleh produsen dengan mensubstitusi kemasan guna ulang.

“Karena seharusnya kebocoran sampah di laut itu juga menjadi tanggung jawab produsen melalui mekanisme EPR (extended producer responsibility),” katanya.

Menurut Alex,  UU 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah di Indonesia dan  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen mengatur hal itu.

Alex mengatakan, pemerintah harus memastikan pelayanan dan infrastruktur persampahan merata, termasuk mulai membuat baku mutu mikroplastik supaya masyarakat paham dan merasa lebih aman ketika mengkonsumsi air atau ikan hasil tangkapan laut.

 Menurut dia, masyarakat punya hak mengetahui berapa total kontaminan, berapa partikel yang bisa ditoleransi oleh tubuh manusia.

“Kami ingin semua kebocoran sampah plastik di laut bisa berkurang, ya kalau bisa diselesaikan supaya Indonesia ke depan kualitas ekosistem lautnya bagus, dan pastinya keanekaragaman hayati juga terjaga. Ekosistem dan lingkungan yang baik juga dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan oleh nelayan.”

Sampah plastik yang berada di lautan. Foto : Algalita Foundation CC BY-NC-SA 2.0

Ancam biota laut 

Sampah plastik di laut menjadi ancaman nyata terhadap biota laut. Kasus kematian hiu tutul di bawah Jembatan Suramadu beberapa tahun silam membuka fakta mengejutkan lantaran terdapat begitu banyak sampah plastik di dalam perut spesies itu. Biota laut, kata Alex, seringkali mengira plastik sebagai makanan sehingga dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

“Belum lagi ketika sampah plastik ini sudah lama berada di lautan dia akan mudah terfragmentasi menjadi pecahan plastik yang berukuran mikroskopis (mikroplastik), yang ancamannya ternyata jauh lebih berbahaya. Bisa merusak sistem hormon pada hewan,” katanya.

Temuan lain,  juga mengkonfirmasi senyawa kimia yang terkandung dalam mikroplastik dapat mengganggu sistem hormonal pada biota laut. Pada akhirnya dapat mengancam kehidupan biota yang terkontaminasi. Contoh dampaknya temuan ikan yang intersex, dimana dalam satu individu ikan ditemukan dua jenis kelamin seperti ikan bencong.

“Kondisi ini menyebabkan ikan-ikan tidak dapat berkembang biak. Ya,  jika terus-terusan dibiarkan maka di masa depan nanti akan banyak ikan yang mati bahkan punah.”

Dia bilang, temuan terbaru juga  terkonfirmasi mikroplastik bisa masuk dalam tubuh manusia. Hal ini akibat sampah plastik yang berada di lingkungan terpecah menjadi partikel mikroplastik, yang kemudian masuk ke rantai makanan hingga berakhir di manusia.

“Kami sudah banyak meneliti mikroplastik di darah manusia, air ketuban, rahim, dan sperma. Ini sangat mengkhawatirkan dampaknya dalam jangka panjang seperti memicu kanker, tumor, dan penyakit-penyakit keras lainnya.”

Ni Kadek Dita Cahyani, Peneliti di Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang katakan, ada banyak contoh mengapa sampah plastik berimbas pada biodiversity loss. Sampah plastik masuk perairan dalam bentuk besar (macro plastic) ada juga yang terkecil (micro plastic).

“Makroplastik yang masuk ke perairan laut, misalnya, dapat menutupi terumbu karang dan menyebabkan zooxanthellae (alga mikroskopis) pada terumbu karang tidak dapat berfotosintesis.”

Dengan demikian karang akan mati karena tidak mendapatkan makanan. Fotosintesis yang gagal sebabkan oksigen menurun dan ekosistem terumbu karang akan berubah. Jika banyak yang tidak bisa menyesuaikan diri, katanya, biodiversity bisa hilang.

“Sedangkan mikroplastik bisa dimakan oleh hewan, terakumulasi pada tubuh hewan dan menyebabkan kematian,” katanya.

Contoh lain yang paling sering terjadi di lautan ialah  banyak plastik di dalam tubuh mamalia laut besar, penyu, dan burung. Sayangnya, kematian demi kematian seringkali minim pendataan hingga melemahkan penyusunan tindak lanjut.

Menurut Dita, kondisi sampah plastik Indonesia saat ini tak lepas dari konsumerisme yang tinggi dan kesadaran lingkungan yang masih rendah. Tumpukan sampah di pemukiman juga masih sangat banyak. Belum lagi praktik pembakaran sampah yang masih marak terjadi.

Dita bilang, perlu edukasi untuk mengubah cara pandang dan cara hidup khususnya terkait sampah plastik. Misalnya, melalui pengelolaan sampah skala kecil sejak dari rumah dengan memilah sampah organik dan non organik.

“Banyak yang tidak paham atau tidak mau tau apa imbas (secara global) dari yang mereka lakukan. Membuang sampah sembarangan, membakar sampah plastik, memakai plastic sekalai pakai dan banyak lagi. Harus dibiasakan untuk mengurangi itu.”

Dua orang sedang menjaring ikan di antara tumpukan sampah plastik yang mencemari dasar Sungai Brantas, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Ketahanan ekonomi 

Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur & Pendiri Center of Economic and Law Studies (CELIOS) katakan,  ada hal menarik dari laporan WEF. Yakni bagaimana menjadikan masalah sampah sebagai beban ekonomi yang ditanggung oleh pemerintah, pelaku usaha maupun investor. Jadi bukan sekedar beban masyarakat atau alam itu sendiri.

“Ketahanan ekonomi bergantung cara mengatasi persoalan sampah terutama sampah plastik,” ujarnya.

Hasil laporan WEF itu bisa menjadi gambaran untuk segera menghitung kerugian ekonomi plastik ke anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN).

Apalagi,  saat ini  ada pembahasan rencana anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2027. Indikator kerugian sampah plastik bisa jadi sebagai asumsi APBN.

“Makin buruk kerugian sampah plastik, makin besar subsidi ke nelayan, pariwisata, dan belanja pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Memang ada roadmap pengurangan sampah namun tak berjalan dengan baik karena penegakan hukumnya masih kurang. Apalagi dana di pemerintah daerah juga masih terbatas.

Bhima tekankan, seharusnya ada budget tagging yang tidak bisa utak-atik atau kena efisiensi soal penanganan sampah plastik di level daerah.

Dia bilang, dalam perhitungan akuntansi, masalah sampah tidak pernah dimaterialisasi menjadi beban perusahaan. Bahkan,  pos khusus kerugian sampah plastik di industri makanan minuman, misal, sampai saat ini belum ada. Padahal ada opportunity cost yang terbuang.

Bhima katakan, buruknya tata kelola sampah plastik juga membawa efek negatif terhadap sektor pariwisata. Branding pariwisata Indonesia menjadi buruk karena sampah plastik terutama di pesisir dan sungai. Bahkan, kerugian sampah plastik lebih besar ketimbang pendapatan dari devisa pariwisata.

“Turis jadi mengurangi kunjungan, hanya sekali dan kapok, bahkan tidak merekomendasikan destinasi wisata ke orang lain,” ujarnya.

Di sektor perikanan kondisi tidak kalah buruk. Dia contohkan, sekitar 38% pendapatan nelayan Jakarta turun akibat biaya operasional terkait plastik.

“Di kepulauan Seribu sampai ada pulau plastik, konsumen yang makan hasil laut juga khawatir ada mikro plastik di makanan mereka.”

Kondisi sampah plastik di pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Foto: Wulan Yanuarwati/Mongabay Indonesia.

Penelitian Costas A. Velis dkk menyebut,  Indonesia sebagai kontributor sampah plastik terbesar di lautan nomor tiga setelah India dan Nigeria,  sebanyak 3,4 juta ton per tahun.

Penelitian Andi Sagita dkk dalam Analysis of the Impact of Plastic Waste in the Sea on Small-Scale Fishermen Activities in Jakarta menemukan dampak sampah plastik di laut berdampak kepada kerugian ekonomi nelayan. Terutama nelayan skala kecil. Penurunan pendapatan ekonomi akibat menurunnya hasil tangkapan, peningkatan biaya operasional melaut, dan kerusakan alat tangkap.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat potensi kerugian negara akibat kebocoran sampah plastik ke laut capai Rp225 triliun per tahun. Estimasi kerugian tersebut dilihat dari kerugian secara ekonomi,  pariwisata, kesehatan hingga kerugian teknis lainnya.

“Setelah kami hitung dari 2018-2023 secara kasar, rata-ratanya kurang lebih sekitar 484 ribu ton per tahun yang bocor ke lautan dunia dari kegiatan masyarakat kita. Kerugian kita antara Rp 125 triliun sampai Rp 225 triliun per tahun,” ujar Muhammad Reza Cordova, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi BRIN, mengutip laman BRIN. 

*****

 

 

Monster Plastik ‘Teror’ Tujuh Kota, Peringatkan Bahaya Sampah Plastik ke Lingkungan

Exit mobile version