- Lubang tambang di Kalimantan Selatan terus memakan korban jiwa. Tapi, warga justru jadikan kawasan itu tempat wisata.
- Di Danau Biru di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), misal. Mongabay melihat pengunjung yang duduk bersantai di hamparan pasir putih menikmati matahari terbenam, ada pula yang berenang di sejumlah sudut. Seorang remaja terlihat memandu 9 orang kawannya menyeberang melalui perairan dangkal, setengah berenang menuju gundukan tanah menyerupai pulau kecil. Berjarak sekitar 44 meter.
- Data Operasi SAR dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin yang Arianto kirim, menunjukkan 7 operasi pencarian dan pertolongan di lubang bekas tambang selama 2023-2025.
- Mongabay melakukan pengukuran mandiri terhadap kualitas air di Danau Biru menggunakan water quality tester. Murjani, Ketua Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo) Kalsel, menjelaskannya satu persatu hasil pengukuran terhadap lima parameter.
Sejak viral di media sosial, wisata Danau Biru di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), banjir pengunjung. Puluhan orang dari dalam dan luar daerah silih berganti datang. Padahal, lokasi itu adalah lubang tambang galian C yang pendulang abaikan sejak lama.
Siang itu, Mongabay melihat pengunjung yang duduk bersantai di hamparan pasir putih menikmati matahari terbenam, ada pula yang berenang di sejumlah sudut. Seorang remaja terlihat memandu sembilan orang menyeberang melalui perairan dangkal, setengah berenang menuju gundukan tanah menyerupai pulau kecil. Berjarak sekitar 44 meter.
Mungkin mereka tak tahu, tiga hari sebelumnya, remaja laki-laki berinisial L, warga Kecamatan Kertak Hanyar, tenggelam di kubangan yang sama. Wasis Nugraha, Kepala Pelaksana badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar, bilang, mereka terima laporan 22 Juni 2026, pukul 15.55 Wita.
Dari keterangan sejumlah saksi, peristiwa terjadi sekitar pukul 12.00 Wita. Saat laporan mereka terima, korban sudah hilang empat jam, belum kembali ke permukaan.
“Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Banjar kemudian berkoordinasi dengan unsur terkait dan melakukan asesmen awal sebelum pencarian dimulai,” tulisnya meneruskan laporan pesan WhatsApp.
Arianto, Kepala Seksi Operasi Basarnas Banjarmasin, menceritakan, proses pencarian mulai sekitar pukul 17.00 Wita usai seluruh personel melaksanakan briefing. Tim gabungan lalu melakukan penyisiran mulai dari permukaan, dan menyelam di titik yang menjadi lokasi korban tenggelam.
Kurun 20 menit, atau pukul 17.20 Wita, tim berhasil menemukan remaja itu setelah menyelam. Posisinya sekitar 10 meter dari tepian danau.
“Kedalamannya hanya sekitar 2-3 meter. Kendalanya hanya visibility (jarak pandang) terbatas, karena dasar yang berlumpur,” katanya.
Peristiwa itu lantas menjadi perhatian serius mereka, karena Danau Biru saat ini ramai warga kunjungi untuk berenang, berfoto, dan membuat video.
“Kami melihat bahwa area tersebut adalah salah satu lokasi yang sangat berpotensi terjadinya musibah tenggelam.”
Data SAR
Data Operasi SAR dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin yang Arianto kirim, menunjukkan tujuh operasi pencarian dan pertolongan di lubang bekas tambang selama 2023-2025.
Operasi pertama, 17 Juli 2023, di hutan lindung Gunung Lintang, Desa Sungai Jelai, Kabupaten Tanah Laut. Waktu itu, seorang jatuh ke dalam galian bekas tambang emas dan meninggal dunia.
Pada 2024, ada empat operasi SAR. Kasus pertama di Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, ketika seorang warga hilang di sekitar danau bekas tambang, 25 November 2024. Ironisnya, tim tidak menemukannya hingga operasi berakhir.
Operasi lain di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kala itu, warga terjepit batu kapur dan berhasil tim evakuasi dalam kondisi meninggal dunia, 16 September 2024.
Di hari sama, tim SAR juga menangani kasus orang tenggelam di bekas galian tambang di Desa Sumber Jaya, Kabupaten Tanah Bumbu. Sayangnya, korban tim temukan dalam kondisi meninggal dunia.
Lalu, 20 Juni 2024, seorang warga yang tenggelam di Danau Biru Baroh, Desa Pengayuan, Kota Banjarbaru. Juga, tim temukan dalam kondisi meninggal dunia.
Selanjutnya, 25 Juli 2025, operasi SAR kembali di danau bekas galian tambang di Kelurahan Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut. Saat itu, dua anak terjatuh ke danau bekas tambang juga tim temukan tidak bernyawa setelah proses pencarian.
“Dalam dua tahun terakhir saya tugas di kalsel, ada sekitar 10 kejadian korban tenggelam di bekas Galian tambang yg tersebar di wilayah kalsel.”
Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalsel, mengatakan, remaja berinisial L merupakan korban ke-23 yang mereka catat sejak 2019.
“Tahun ini, sudah ada tiga korban yang tenggelam di lubang bekas tambang. Dan ketiganya ialah anak-anak,” katanya.
Sebagian besar korban meninggal, katanya, merupakan perempuan, anak-anak, dan remaja. Angka korban berpotensi terus meningkat jika terus membiarkan lubang-lubang bekas tambang terbuka.
Sampai 2024, perkiraan luas lubang tambang provinsi itu sudah sekitar 53.590 hektar, dengan 814 lubang tersebar di delapan kabupaten.
“Kabupaten Banjar menempati urutan ketiga terbanyak dengan 117 lubang, setelah Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Tanah Laut dan ironisnya ratusan lubang berada di luar area konsesi resmi.”
Tambang ilegal
Informasi yang Raden dapat, lokasi L tenggelam sejak beberapa tahun terakhir memang terkenal kawasan penambangan pasir, kuarsa dan batu (sirtu). Sebagian besar titik lokasinya tidak memiliki izin sama sekali.
Masifnya aktivitas ilegal di Kecamatan Beruntung Baru itu meninggalkan banyak lubang bekas galian yang kemudian terisi air hingga membentuk danau berwarna biru.
Walhi Kalsel bersama Mongabay melakukan pemantauan di sekitar lokasi, 14 Juli. Melihat kegiatan penambangan galian C yang masih berlangsung.
Pipa-pipa panjang penyedot air melintang hingga menyeberangi jalan. Belasan alat pendulangan berdiri kokoh di sejumlah titik.
Juga, puluhan truk-truk pengangkut material. Hilir mudik keluar masuk dan akan mencapai puncaknya pada sore dan malam hari.
Raden menduga, lemahnya pengawasan pemerintah dan aparat penegak hukum terhadap wilayah pertambangan di luar kendali korporasi resmi menjadi celah maraknya praktik ilegal di Kabupaten Banjar.
Kondisi itu tidak hanya merugikan pendapatan negara, tetapi memicu kerusakan lingkungan serta mengancam keselamatan warga di sekitar lokasi tambang.
“Inilah akibatnya kalau lemah penegakan hukum tambang Ilegal. Masak harus tunggu korban dahulu.”
Dari peta historis di Google earth, lubang bekas tambang sirtu mulai terbuka sejak 2017 dan terus mengalami perluasan serta pendalaman hingga 2025.
Kualitas air
Mongabay melakukan pengukuran mandiri terhadap kualitas air di Danau Biru menggunakan water quality tester. Murjani, Ketua Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo) Kalsel, menjelaskan satu persatu hasil pengukuran terhadap lima parameter. Antara lain, tingkat keasaman (pH) air yang tercatat 5,14. Ia menunjukkan kondisi air tergolong sedikit asam.
Padahal, Peraturan Pemerintah (PP) 22/2021 yang menetapkan baku mutu pH air untuk sungai, danau, dan perairan sejenis, mengharuskan angka itu berada pada kisaran 6-9. Artinya air bersifat asam dan belum memenuhi standar untuk konsumsi langsung.
Untuk parameter konduktivitas listrik (EC), alat mencatat angka 38 µS/cm. Murjani bilang, nilai tersebut menandakan kandungan ion atau mineral terlarut di dalam air relatif rendah.
Pada banyak kasus air asam tambang yang berat, katanya, nilai EC biasanya jauh lebih tinggi karena banyaknya mineral dan logam terlarut.
“Kalau EC-nya sangat rendah, berarti kandungan mineral terlarut di dalam air juga sangat sedikit,” katanya.
Sementara itu, nilai Total Dissolved Solids (TDS) tercatat 20 ppm tergolong sangat rendah dan jauh di bawah batas maksimum air yang umumnya 500 ppm. Menunjukkan jumlah zat terlarut di dalam air relatif sedikit.
Adapun salinitas sebesar 0,00% menandakan air tersebut tidak terpengaruh kandungan garam seperti pada air payau atau air laut.
Lalu, suhu air yang mencapai 31,3° Celcius, Murjani menilai suhu tersebut cukup hangat. Namun pengukuran hanya di permukaan, padahal, lubang tambang biasanya memiliki kedalaman yang bervariasi sehingga suhu air di bagian tengah dan bawah berbeda secara drastis atau cenderung lebih dingin.
“Semakin dalam biasanya suhu air semakin dingin. Perbedaan suhu antara permukaan dan bagian bawah dapat memicu kram atau syok pada orang yang tidak terbiasa dengan perubahan suhu mendadak.”
Selain faktor lima parameter itu, Murjani menyarankan pengujian lanjutan untuk mengetahui kemungkinan keberadaan gas berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂) dan hidrogen sulfida (H₂S) yang dapat mempengaruhi kadar oksigen di dalam air. Juga, potensi kontaminasi logam berat seperti besi (Fe), mangan (Mn), dan timbal (Pb).
Pada kasus orang tenggelam, katanya, korban tidak hanya berisiko mengalami kekurangan oksigen, tetapi dapat menelan air yang terkontaminasi zat tertentu secara tidak sengaja.
Selain faktor kualitas air, kondisi fisik lubang tambang juga perlu perhatian. Mulai dari lereng yang tidak stabil, kedalaman yang sulit diperkirakan, hingga keberadaan lumpur di dasar perairan yang dapat menyulitkan korban untuk bergerak.
Karena itu, hasil pengukuran lima parameter air tersebut belum dapat menunjukkan secara langsung penyebab seseorang tenggelam.
“Data ini baru memberikan gambaran awal mengenai kondisi kualitas air. Untuk mengetahui apakah ada kaitannya dengan penyebab tenggelam, diperlukan analisis laboratorium dan kajian yang lebih mendalam.”
Bagaimana tindakan kepolisian?
Inspektur Polisi Dua (IPDA) Deden Aprianto Lesmana, Kapolsek Beruntung Baru, mengatakan, polisi sempat memasang garis polisi saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait tenggelamnya remaja L. Namun, garis kemudian mereka lepas karena peristiwa itu tidak masuk kategori tindak pidana.
Mereka juga memasang sejumlah imbauan dan larangan beraktivitas di lokasi, berupa spanduk dan stiker. Mongabay tidak menemukan imbauan itu.
Dia menduga spanduk itu kemungkinan roboh atau tersapu angin mengingat Kalsel sedang memasuki musim kemarau.
Terkait dugaan aktivitas pertambangan ilegal, Deden menyebut penanganannya berada di bawah kewenangan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Banjarbaru.
“Yang saya ketahui, kasus itu masih dalam tahap penyelidikan.”
AKP Ari Handoyo, Kasat Reskrim Polres Banjarbaru, secara terpisah mengatakan, sedang menjalankan ibadah umrah dan mengarahkan agar koordinasi melalui IPDA Kardi Gunadi, Kasi Humas Polres Banjarbaru.
Kardi menyampaikan kepolisian telah meminta keterangan dari pemilik lahan tambang. Dia juga memastikan telah lakukan pengecekan di lokasi kejadian.
“Saat pengecekan memang tidak ditemukan adanya aktivitas penambangan,” ucapnya.
Menurut dia, kepolisian, melalui Bhabinkamtibmas, telah mengimbau masyarakat sekitar yang bekerja sebagai penambang agar tidak melanjutkan aktivitas mereka.
*****
Ketika Korban Tewas di Lubang Tambang Batubara Kaltim Terus Berulang