Mongabay.co.id

Satu Abad Menghilang, Nuri Dahi-Biru Terpantau di Pulau Buru

  • Sekitar satu abad, keberadaan burung nuri dahi-biru tidak terdengar sama sekali. Hingga pada April 2026, keberadaan Blue-fronted Lorikeet terkuak. Sebuah ekspedisi menyusuri Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, Maluku, menemukan kembali jenis tersebut.
  • Gunung Kapalatmada merupakan puncak tertinggi di Pulau Buru. Selama bertahun, kawasan ini menjadi wilayah paling sulit diakses di Indonesia bagian timur.
  • Jenis ini pertama kali dideskripsikan dari tujuh spesimen yang dikumpulkan pada dekade 1920-an. Setelah itu, hampir tak ada lagi catatan keberadaanya.
  • Temuan kembali spesies ini punya arti penting bagi pemahaman keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea, wilayah peralihan antara Asia dan Australia yang dikenal memiliki tingkat endemisitas sangat tinggi.

Satu abad lamanya, kabar nuri dahi-biru tidak terdengar sama sekali. Meski namanya tercatat dalam buku-buku ilmiah, namun keberadaannya nyaris tak terlihat.

Hingga pada April 2026, keberadaan Blue-fronted Lorikeet terkuak. Sebuah ekspedisi menyusuri Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, Maluku, menemukan kembali jenis tersebut.

Setelah enam hari mendaki, dari bentang alam hamparan batu kapur yang dipenuhi tumbuhan  berduri tajam dan serangga menuju hutan kabut berlumut dan area terbuka yang riuh kicau burung, tim secara tidak terduga melihat kehadiran burung perkici.

“Kami melihat dua individu burung kecil terbang menuju sebuah pohon. Saya mengambil binokular untuk melihat jenis tersebut,” ujar John Mittermeier, Direktur Search for Lost Birds  American Bird Conservancy (ABC). “Saya sangat gembira begitu menyadari jenis tersebut adalah nuri dahi-biru,” jelasnya melalui pernyataan resmi, Kamis (4/6/26).

Burung kecil berbulu hijau dengan semburat biru di bagian kepala itu, beberapa kali terlihat dan berhasil dipotret serta direkam suaranya. Penemuan tersebut menjadi catatan kedua sejak spesies ini pertama kali dideskripsikan seratus tahun lalu.

Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Burung Indonesia, mengatakan penemuan kembali nuri dahi-biru (Charmosynopsis toxopei) mengonfirmasi dua hal sekaligus.

Pertama, spesies yang selama ini nyaris menghilang dari catatan ilmiah ternyata masih bertahan hidup. Kedua, habitat berlindungnya tetap terjaga bukan semata karena keberhasilan kebijakan konservasi, melainkan kondisi geografisnya yang sulit dijangkau.

“Kawasan itu masih sangat alami, karena belum banyak terjamah manusia,” terangnya, Selasa (23/6/26).

Gunung Kapalatmada merupakan puncak tertinggi di Pulau Buru. Selama bertahun, kawasan ini menjadi wilayah paling sulit diakses di Indonesia bagian timur.

Jalur menuju puncaknya baru berhasil dipetakan para pendaki lokal, beberapa tahun terakhir. Sebelum itu, sebagian besar wilayahnya praktis tak pernah jadi lokasi penelitian intensif. Kondisi ini yang diduga, membuat nuri dahi-biru begitu lama menghilang dari radar para ilmuwan.

Inilah nuri dahi-biru yang terpantau di Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, Maluku. Foto: Dok. James Eaton/Birdtour Asia & John C Mittermeier/American Bird Conservancy.

Pertama kali dideskripsikan

Jenis ini pertama kali dideskripsikan dari tujuh spesimen yang dikumpulkan pada dekade 1920-an. Setelah itu, hampir tak ada lagi catatan keberadaanya.

Dijelaskan Ridha, status konservasi nuri dahi-biru atau disebut juga perkici buru, pernah masuk kategori Kritis (Critically Engangered). Namun, pada 2024 statusnya berubah jadi Data Deficient atau Kekurangan Data.

Perubahan ini bukan berarti kondisi spesies membaik.

“Bukan karena populasinya meningkat. Justru, karena kita hampir tidak mengetahui apa-apa tentang spesies ini. Informasi tentang ukuran populasi, tren populasi, hingga kondisi habitatnya masih sangat minim.”

Kondisi ini menunjukkan tantangan terbesar konservasi di Indonesia, yaitu masih banyak spesies endemik yang hidup di wilayah terpencil, namun belum ada data ilmiah memadai.

Akibatnya, sulit menentukan tingkat ancaman yang sebenarnya mereka hadapi. Dalam konteks lebih luas, penemuan kembali nuri dahi-biru jadi pengingat bahwa spesies yang dianggap hilang belum tentu punah.

“Bisa jadi karena jarang disurvei. Habitatnya sulit dijangkau, atau perhatian peneliti belum sampai ke sana.”

Temuan ini harus jadi momentum untuk memperkuat penelitian dan konservasi di wilayah-wilayah yang selama ini luput perhatian. Ada tiga langkah mendesak yang perlu dilakukan setelah penemuan ini.

Pertama, survei populasi yang lebih sistematis untuk mengetahui jumlah individu, distribusi, tren populasi, dan kebutuhan habitat spesies tersebut.

Kedua, perlindungan habitat berbasis pencegahan dengan memprioritaskan kawasan hutan pegunungan yang diduga jadi habitat utama.

Ketiga, pengelolaan ancaman melalui pendekatan berbasis masyarakat, termasuk kampanye kesadaran dan pengembangan alternatif mata pencaharian yang tidak merusak habitat.

“Kita harus melakukan kegiatan konservasi yang kita pahami,” jelasnya.

Nuri dahi-biru atau yang dikenal dengan sebutan perkici buru, terakhir dideskripsikan pada 1920-an. Foto: Dok. James Eaton/Birdtour Asia & John C Mittermeier/American Bird Conservancy.

Ancaman tetap ada

Benny Siregar (39), Koordinator Kepulauan Maluku Burung Indonesia, menjelaskan ancaman terhadap satwa liar di Pulau Buru tetap ada, meskipun sekitar 70 persen bentang alam pulau ini berupa hutan alami.

Aktivitas pertambangan, ekspansi lahan pertanian, serta perubahan hutan alami jadi kawasan monokultur berpotensi mengurangi kualitas habitat berbagai spesies endemik.

Walau tak terlalu khawatir terhadap kondisi habitat di kawasan konservasi Gunung Kapalatmada, Benny menaruh perhatian pada ancaman lain yang selama ini menghantui burung-burung paruh bengkok di Maluku, yakni perburuan dan perdagangan satwa liar.

“Spesies yang sangat langka seringkali menarik perhatian kolektor,” ujarnya, Rabu (24/6/26).

Walid Rumblat (34), Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengingatkan risiko jangka panjang yang bisa memengaruhi kelangsungan hidup nuri dahi-biru.

Temuan kembali spesies ini punya arti penting bagi pemahaman keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea, wilayah peralihan antara Asia dan Australia yang dikenal memiliki tingkat endemisitas sangat tinggi.

“Pulau Buru menjadi rumah spesies ini dalam waktu sangat lama, hingga akhirnya berevolusi menjadi  jenis tersendiri yang ditemukan di tempat lain,” jelasnya, Selasa (23/6/26).

Menurutnya, karena hanya hidup di wilayah yang sangat terbatas, spesies endemik sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Selain ancaman kehilangan habitat dan perdagangan ilegal, perubahan iklim berpotensi menjadi tantangan besar di masa depan.

“Banyak satwa dengan habitat spesifik, cenderung bergeser ke daerah yang lebih tinggi saat suhu lingkungan meningkat. Bila habitat yang cocok terus bergeser ke atas, suatu saat spesies ini bisa mencapai titik tertinggi gunung dan tidak punya tempat lagi untuk berpindah. Itu yang dikhawatirkan para ekolog.”

Walid menilai, penemuan kembali nuri dahi-biru harus jadi momentum untuk memperkuat penelitian jangka panjang. Data mengenai populasi, distribusi, dan perubahan habitat diperlukan agar upaya konservasi tak terlambat, ketika ancaman semakin nyata.

 

*****

 

Bukan Hanya Orangutan, Rawa Singkil juga Habitat Burung Liar

Exit mobile version