Mongabay.co.id

Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat

  • Konflik harimau sumatera dengan manusia terus terjadi. Terbaru, harimau sumatera terluka setelah terkena jebakan babi di Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar). Pakar Universitas Andalas menyebut periode menjelang Idul Adha merupakan musim ketika harimau jantan lebih aktif mencari pasangan sehingga peluang bertemu manusia meningkat.
  • Kerusakan dan fragmentasi habitat menjadi faktor utama yang mendorong harimau keluar dari kawasan hutan. Pembukaan hutan untuk perkebunan, gangguan di koridor habitat, perubahan tutupan lahan, hingga terputusnya jalur jelajah akibat bencana membuat harimau semakin sering memasuki area aktivitas manusia.
  • Jerat babi masih menjadi ancaman serius bagi kelestarian Harimau Sumatera. Kasus harimau terluka akibat jerat di Pasaman menambah daftar panjang insiden serupa. Sejumlah pihak mendesak pelarangan penggunaan jerat serta peningkatan kesadaran masyarakat bahwa kawasan sekitar hutan merupakan ruang hidup bersama antara manusia dan satwa liar.
  • Lemahnya perlindungan habitat dan minimnya upaya mitigasi dinilai memperparah konflik. Aktivitas seperti ekspansi perkebunan sawit, tambang emas ilegal, serta degradasi kawasan konservasi membuat habitat harimau terfragmentasi. Organisasi lingkungan menilai respons pemerintah masih dominan bersifat reaktif setelah konflik terjadi, sementara langkah pencegahan belum berjalan optimal.

Nasib  harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) makin terjepit di Sumatera Barat (Sumbar). Konflik jenis kucing besar langka dan dilindungi ini dengan manusia cukup tinggi sejak awal Januari-Mei 2026 di Sumbar. Kejadian terbaru  evakuasi  harimau yang terluka karena jerat babi di Kabupaten Pasaman, 21 Mei lalu.

Insiden itu  memperpanjang kasus serupa sebelumnya. Merujuk data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, pada 2022, terdapat 33 kasus konflik manusia dengan harimau. Lalu, 2023 sebanyak 34 kasus dan 21 kasus pada 2024.

Rizaldi, pakar primatologi, tingkah laku hewan dan biokonservasi Universitas Andalas mengatakan, interaksi negatif antara harimau dan manusia terjadi karena harimau memasuki habitat manusia.

“Situasinya menjadi berbahaya karena manusia memasang jerat. Sementara daerah jelajah harimau memang kadang meluas, kadang menyempit,” katanya.

Dia bilang, terdapat kepercayaan di masyarakat lokal bahwa musim kawin harimau berlangsung sebelum lebaran haji atau Idul Adha. Seharusnya ini menjadi petunjuk awal bahwa pada musim itu harimau jantan akan menjelajahi area sekitar untuk mencari harimau betina, yang itu berarti potensi interaksi dengan manusia meningkat.

“Saya pikir peningkatan interaksi ini berkaitan dengan peningkatan populasi harimau. Tetapi, lebih karena dipicu oleh musim kawin, bukan karena jumlah individu bertambah,” katanya.

Harimau sumatera yang diperkirakan berumur 11 bulan kena jerat di Jorong Lima Sumpadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, pada Kamis siang (21/5/26). Foto: BKSDA Sumbar.

Habitat rusak

Menurut Rizaldi, terganggunya habitat turut mempengaruhi intensitas interaksi harimau dengan manusia. Habitat terganggu karena intervensi manusia yang masuk ke dalam kawasan atau bahkan pembukaan hutan di pedalaman, seperti  di koridor Lubuk Minturun menuju Kota padang.

Disana, katanya, pembabatan hutan lindung untuk perkebunan berlangsung massif. Hasil analisa citra satelit dan survei menggunakan drone thermal mengungkap bukaan kawasan lindung yang kian meluas. Itu artinya, kawasan yang seharusnya menjadi zona penyangga atau habitat inti harimau sudah terbuka.

“Kesan saya adalah satwa mangsa harimau masih cukup tersedia seperti rusa, babi hutan dan kijang masih ditemukan dalam jumlah yang memadai.”

Rizaldi menyarankan,  harimau yang terlibat konflik segera merilis kembali ke habitatnya. Untuk individu dengan rekam jejak terlibat konflik berulang, dia mendorong  rehabilitasi.

“Yang tidak boleh di-release adalah jika harimau pernah menimbulkan kasus kematian pada manusia, karena individu ini ada kecenderungan mengulangi serangan ke manusia. Demikian juga individu yang memiliki cacat permanen yang mungkin tidak akan survive di alam.”

Menurut dia, keberadaan pusat rehabilitasi lebih utama untuk melatih individu menjadi liar. Misal,  anakan harimau yang lahir di kandang atau penangkaran. Termasuk pula  individu yang sudah lama dipelihara manusia.

“Untuk rehabilitasi jika hasil evaluasi sudah menunjukkan sifat liar dan akan mampu survive maka harus segera dirilis ke alam,” katanya.

Meski  begitu  sampai saat ini belum ada standar kualitatif tingkah laku itu.

Dia menilai, evakuasi dan rehabilitasi oleh BKSDA belum ideal karena terkendala akses dan biaya. Untuk pasangan  betina dan anak, dia sarankan untuk tidak rilis terpisah, kalau jantan dewasa, masih memungkinkan.

Kondisi Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang terus dirambah. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Jalur jelajah terputus

Erlinda C Kartika, Direktur Hutan Harimau, mengatakan, ada sejumlah faktor pemicu  konflik harimau-manusia. Mulai dari habitat rusak, satwa mangsa sedikit, mencari area teritori baru, atau bahkan area jelajah yang putus akibat bencana November lalu. Kemungkinan itu bisa terjadi saat harimau dari daerah tertentu tidak bisa kembali lantaran jalur telah tertutup longsor.

“Kalau melihat kondisi beberapa bulan terakhir, harimau yang tertangkap di Pasaman dan Palupuh adalah anakan. Artinya reproduksi harimau di sana masih cukup bagus, regenarisnya cukup bagus dan menandakan sebuah bentuk keberhasilan bahwa di alam harimau berkembang biak.”

Bagi Erlinda, insiden harimau terjebak jerat bukan kali pertama. Karena itu, lulusan Wageningen University ini mendesak ada larangan penggunaan jerat. Selain itu, perlu juga meningkatkan kesadaran warga sekitar hutan bahwa mereka hidup berbagi ruang dengan harimau.

Hal lain tak kalah penting adalah pengayaan habitat. “Kalau kita belajar dari India, harimau tidak butuh area yang sangat luas kalau makanannya cukup. Di India, home range-nya tidak terlalu besar dibanding Sumatera” katanya.

Respons cepat juga perlu tatkala mendapati informasi adanya konflik manusia dengan harimau.

Proses evakuasi harimau sumntera yang terjebak jerat babi di Pasaman. Foto: BKSDA Sumbar.

Perlindungan in situ lemah

Tommy Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumbar menyebut, intensitas konflik harimau-manusia adalah potret lemahnya perlindungan in situ oleh BKSDA.

 “Faktanya kawasan-kawasan habitat harimau itu sudah terfragmentasi. Mulai dari dimasuki, perubahan lahan dan dugaan pencemaran sungai yang jadi sumber hidup harimau,” katanya.

Di Sumbar, pola konflik harimau terus berulang. Mulai dari Palembayan, Salaer Aia, Pasaman dan dua kawasan yang jadi habitatnya di Cagar Alam Maninjau dan Suaka Margasatwa Malampah. Dalam catatan Walhi, SM Malampah banyak beroperasi aktivitas tambang emas ilegal.

“Aktivitas tambang dengan alat berat mengganggu satwa, sementara di Agam Pelambayan fragmentasinya berupa hutan menjadi sawit. Meskipun tidak besar, tapi masif di beberapa titik di CA Maninjau,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Tommy, respon cepat hanya dilakukan BKSDA ketika ada kejadian. Sementara upaya mitigasi untuk mencegah terjadinya konflik tak jalan.

Selain harimau terjebak jerat babi di Pasaman, BKSDA Sumbar mencatat sejumlah insiden interaksi negatif manusia dengan harimau. Misal, di Kabupaten Agam pada 2 Mei, lalu di Palupuh pada 8 Mei.

“Ini merupakan interaksi negatif ke-8 sejak awal 2026,” kata Ade Putra, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar.

Menurut dia, perubahan tutupan lahan, perburuan tradisional dan kehadiran individu baru dari lanskap lain turut memicu terjadinya interaksi harimau dengan manusia.

Dia katakan, selain memasang kamera trap, tim BKSDA melakukan upaya-upaya seperti patroli pemantauan untuk meminimalisir interaksi langsung satwa dengan manusia.

 Ahmad Dumyadi, Sekretaris Nagari Saniang Baka Kabupaten Solok mengimbau warga untuk berhati-hati. Dia juga meminta warga  tidak melakukan penangkapan tatkala mendapati harimau berkeliaran.

*****

 

Kasus Gajah dan Harimau Mati di Bentang Seblat, Desak Pemerintah Serius Lindungi Habitat Satwa

Exit mobile version