Mongabay.co.id

Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global

  • Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan rekor panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam kurun waktu 2026-2030. Ini memecahkan rekor sebelumnya pada 2024, ketika suhu rata-rata global melebihi 1,5°C di atas tingkat rata-rata dari tahun 1850-1900.
  • Pemanasan global tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan menambah beban bencana. Pemanasan global memantik gelombang panas yang memicu heat stress, penyakit menyebar dan meluas, menyebabkan gagal panen, hingga memicu kerusakan infrastruktur.
  • Berita baiknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, energi angin dan surya berhasil mengalahkan gas alam dalam produksi listrik secara global pada April 2026. Ini bukti nyata bahwa transisi energi sedang berjalan meski masih harus dikerjakan jauh lebih cepat.
  • Meskipun situasi krisis iklim terlihat suram, ada perkembangan positif yang menunjukkan bahwa perubahan ke arah lebih baik sedang terjadi. Mengutip laporan UNEP, di beberapa negara tingkat emisi gas rumah kaca turun. Andai lebih banyak negara meningkatkan efisiensi energi dan beralih dari bahan bakar fosil, maka emisi gas rumah kaca di tingkat global bisa turun lebih banyak lagi.

Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan rekor panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam kurun waktu 2026-2030. Ini memecahkan rekor sebelumnya pada 2024, ketika suhu rata-rata global melebihi 1,5°C di atas tingkat rata-rata dari tahun 1850-1900.

“Ada El Nino yang diprediksi akhir 2026, yang meningkat kemungkinan tahun 2027, menjadi tahun pemecahan rekor (panas) berikutnya,” ungkap Leon Hermanson, penulis utama laporan tersebut.

Ini berarti pemanasan global masih berlanjut. Es di Arktik mencair lebih cepat, curah hujan berubah drastis, kekeringan lebih parah dan berkepanjangan, dan hilangnya spesies karena gagal beradaptasi dengan cepat, menuju kepunahan massal.

Pemanasan global tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan menambah beban bencana. Pemanasan global memantik gelombang panas yang memicu heat stress, penyakit menyebar dan meluas, menyebabkan gagal panen, hingga memicu kerusakan infrastruktur.

Berita baiknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, energi angin dan surya berhasil mengalahkan gas alam dalam produksi listrik secara global pada April 2026. Ini bukti nyata bahwa transisi energi sedang berjalan meski masih harus dikerjakan jauh lebih cepat.

“Tonggak sejarah ini terjadi selama bulan pertama krisis energi global terbaru yang dipicu konflik di Timur Tengah, menyoroti betapa cepatnya pertumbuhan pembangkit angin dan surya membentuk kembali bauran daya global. Bahkan, di tengah volatilitas pasar bahan bakar fosil,” tulis laporan dari Ember, think tank energi independen yang berbasis di London, Inggris.

Angin dan matahari menghasilkan rekor 531 TWh listrik pada April 2026, 54 TWh lebih banyak dari pembangkit gas pada 477 TWh. Lima tahun lalu, pada April 2021, pembangkit gas berada pada tingkat yang sama (476 TWh), tetapi hampir dua kali lipat dari gabungan pembangkit dari angin dan surya (245 TWh).

Angka-angka ini mungkin sulit dimengerti orang awam. Namun, selisih 54 terawatt per jam itu setara dengan listrik yang dibutuhkan jutaan rumah untuk menyalakan lampu dan peralatan elektronik selama berbulan. Ibarat lomba lari, jika tahun-tahun sebelumnya angin dan matahari berada di pinggir lapangan, kini mereka justru ikut berlomba dan memimpin.

Angka-angka itu juga memberi pesan kuat, bahwa masa depan dunia tanpa bahan bakar fosil bukan lagi sekadar mimpi. Namuh, realitas yang sedang terjadi di depan mata. Ternyata, kita bisa beralih ke energi yang lebih bersih.

Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan hutan rawa gambut tersisa di Aceh yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan juga merupakan habitat satwa liar. Foto drone: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Harapan

Meskipun situasi krisis iklim terlihat suram, ada perkembangan positif yang menunjukkan bahwa perubahan ke arah lebih baik sedang terjadi. Mengutip laporan UNEP, di beberapa negara tingkat emisi gas rumah kaca turun. Andai lebih banyak negara meningkatkan efisiensi energi dan beralih dari bahan bakar fosil, maka emisi gas rumah kaca di tingkat global bisa turun lebih banyak lagi.

Misalnya, di Australia, Uni Eropa, China, Jepang, dan Korea Selatan, emisi gas rumah kaca sudah mulai turun. Negara-negara tersebut semakin meningkatkan efisiensi energi dan beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.

Menurut kajian Ember, China memimpin ekspansi tenaga surya pada 2025, dengan kontribusi lebih dari setengah peningkatan global, baik dari sisi kapasitas maupun pembangkitan. Hal ini mendorong pangsa tenaga surya dan angin dalam bauran listrik China mencapai 22 persen, melampaui rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development yang beranggotakan 38 negara, yang mencapai 20 persen.

Laporan juga menyebutkan, India menunjukkan percepatan dalam pengembangan listrik bersih. Pembangkitan energi terbarukan di negara tersebut tumbuh hingga dua kali lipat dibandingkan dengan rekor sebelumnya, dan untuk pertama kalinya kapasitas tenaga surya baru yang dipasang oleh India melampaui Amerika Serikat.

Laporan-laporan sedikit menggembirakan ini keluar menyongsong peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni. Untuk tahun ini peringatan dipusatkan di Azerbaijan, salah satu negara yang berada di Jalur Sutra, yang memiliki 8 jenis iklim yang berbeda. Mulai dari iklim laut, gurun, hingga pegunungan bersalju.

Tema tahun ini adalah Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita. Dalam laman resminya, dijelaskan bahwa alam bukanlah opsional, namun inti dari ketahanan iklim dan masa depan kolektif kita. Tema ini mengajak kita berhenti mendikte alam, dan mulai meniru kecerdasannya yang telah teruji bertahan melewati berbagai krisis selama jutaan tahun.

Alam bukan penyerta, namun solusi itu sendiri. Alam bukan sekadar korban, namun guru terbaik menghadapi krisis iklim. Meniru dan menjaga kecerdasan alam itu pulalah yang melahirkan harapan kelestarian hutan tropis Indonesia.

Indonesia memiliki potensi air melimpah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Spesies baru

Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang membayangi kondisi global, para ilmuwan menemukan harta karun baru di dunia tumbuhan. Pada 16 Mei 2026, sebuah jurnal ilmiah Taprobanica menerbitkan deskripsi resmi spesies terong baru bernama Solanum kalimantanense.

Spesies ini ditemukan dan dideskripsikan oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipimpin oleh Esthi L. Agustiani, bersama Siti Susiarti, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri. Artikel hasil penelitian itu berjudul “A New Spiny Eggplant Species of the Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo.”

Penemuan ini menjadi bukti bahwa keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya di Pulau Kalimantan, masih banyak yang belum terungkap.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujar Muhammad Rifqi Hariri, dikutip dari laman BRIN, Sabtu (23/5/2026).

Penemuan ini berawal dari survei lapangan yang dilakukan tim BRIN antara 2022 hingga 2024 di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Survei dilakukan guna mendokumentasikan spesies Solanum di Indonesia.

Buah terong yang saat tua berwarna kuning ini oleh masyarakat Kalimantan sudah lama dimanfaatkan untuk sayur. Mereka menamakannya terong dayak, atau terong asam, dan biasa dijual di pasar terapung Banjarmasin. Selain buahnya bisa dimakan, daun dan kuncup buahnya juga digunakan sebagai obat tradisional “wikat” untuk pengobatan kanker oleh masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Meski ditemukan di habitat yang cukup beragam, mulai dari tanah pasir, tanah liat berdrainase baik, hingga tanah hitam yang asam, spesies ini memiliki distribusi yang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan status konservasinya dinilai Rentan (Vulnerable) menurut kriteria IUCN.

Keberadaannya di pekarangan penduduk menunjukkan bahwa spesies ini telah lama dibudidayakan secara tradisional, dan baru sekarang diakui secara ilmiah sebagai spesies yang berbeda.

Secara morfologi, S. kalimantanense berbentuk semak setinggi 0,8-1,5 meter dengan batang dipenuhi duri tajam. Daunnya berukuran besar sekitar dua kali telapak tangan orang dewasa.

Buahnya berbentuk bulat hingga lonjong, permukaannya berbulu halus, dan menggantung. Ciri-ciri ini membedakannya dari kerabat dekatnya, Solanum lasiocarpum, terutama pada ukuran dan bentuk daun, panjang tangkai bunga, serta tekstur buah yang lebih halus.

Plantive Cuckoo atau wiwik kelabu merupakan jenis burung yang sangat bermanfaat bagi ekosistem lingkungan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Di tengah krisis iklim, keberadaan spesies endemik seperti ini menjadi penting karena dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan tropis Kalimantan. Spesies ini juga menjadi sumber genetik yang berharga untuk pemuliaan tanaman terong yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan penyakit.

Penamaan ilmiah S. kalimantanense memiliki makna mendalam. Nama tersebut merujuk pada Pulau Kalimantan sebagai tempat asal spesies ini ditemukan. Pemberian nama menjadi salah satu bukti pengakuan ilmiah atas kekayaan alam Indonesia khususnya yang berasal Kalimantan.

Penemuan ini mengingatkan di balik hutan Kalimantan yang kerap menjadi sorotan karena deforestasi, masih tersimpan keanekaragaman yang luar biasa. Modal penting bagi ketahanan pangan dan obat-obatan masa depan.

 

Referensi:

Agustiani, E. L., Susiarti, S., Djarwaningsih, T., & Hariri, M. R. (2026). A new spiny eggplant species of the genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo. Taprobanica, 15(1), 56–62. https://www.taprobanica.org/~file/~dl/2026/5/16/401_solanum_kalimantanense_taprobanica_15_1_agustiani_etal_56_62-f9597-3349_1479.pdf?b2148289–

 

*****

 

Mendukung Kepemimpinan Garis Depan di Era Krisis Iklim

Exit mobile version