- Masyarakat adat Boti menjaga ketahanan pangan dengan menanam berbagai jenis tanaman. Tujuannya agar mereka memiliki cadangan pangan saat satu tanaman gagal panen.
- Tak hanya menjadi sumber pangan, hutan mereka juga menjadi sumber air. Larangan menebang pohon sembarangan menjadi cara agar menjaga pangan dan air tetap lestari.
- Mereka mengelola lahan dan pangan secara komunal dan berkelanjutan. Tiap panen, mereka menyimpannya di ume kbubu--sebagian untuk konsumsi, cadangan pangan dan benih.
- Direktur Mama Aleta Fund, Siti Maimunah, pengetahuan lokal yang dijalankan masyarakat adat Boti merupakan bentuk adaptasi ekologis yang lahir berdasarkan pengalaman kolektif menghadapi ancaman paceklik.
Lahan kapur dan kemarau panjang tak mematahkan semangat Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak kehilangan cara untuk memenuhi pangannya sendiri. Tangan Seo Neolaka bergerak gesit mematahkan pen meto atau jagung-jagung kering di ladang lalu memasukkan ke dalam sau, bakul anyaman lontar di hadapannya.
Di antara sulur ubi jalar, gadung, singkong, bersama perempuan Boti lain, Seo juga memanen sorgum, kacang tunis dan sayur-sayuran. Setelah hasil panen terkumpul, mereka akan menyimpannya dalam ume kbubu, lumbung tradisional Masyarakat Boti.
“Kalau jagung kurang, masih ada sorgum, ubi, labu, pisang, atau kacang. Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo ditemui sehabis berkebun, April lalu.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT menyebutkan, El Nino tahun ini bisa menjadi ancaman iklim bagi pertanian di provinsi itu. Mulai dari krisis air, gangguan kalender tanam, penurunan produksi padi dan jagung, dan meningkatnya hama tanaman. Meski begitu, masyarakat Boti tak terlalu khawatir karena wilayah mereka memiliki tutupan lahan lebih baik daripada wilayah lain.
“Karena alam di sekitar tempat ini dijaga, sejak dulu sampai sekarang kami tidak alami kesusahan makanan,” kata Raja (Usif) Boti, Nama Benu saat berbincang di pondok kebun, April lalu.
Satu hamparan ladang masyarakat Boti menanam beragam jenis tanaman. Mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Ubi jalar, singkong dan gadung berada di antara pohon-pohon seperti kemiri, asam, pisang dan lain-lain. Semua berdampingan, mengikuti aturan adat yang menjaga pangan tetap ada di sepanjang musim.
Saat hujan berkurang dan jagung gagal panen, masyarakat masih punya sumber pangan lain. Begitu juga saat satu diserang hama, tanaman lain masih bisa dipanen. Saat panen melimpah, tak semuanya mereka konsumsi karena sebagian disimpan untuk benih.
“Karena alam kasih kita sedikit, kita makan secukupnya. Tetapi kalau alam kasih banyak, yang lain kami simpan,” kata Molo Benu, pemimpin perempuan adat Boti saat ditemui di kediaman Raja pada April lalu.
Bahkan, saat musim hujan, masyarakat Boti memiliki pantangan adat untuk mengambil pangan baru dari kebun atau hutan. Mereka hanya bisa mengonsumsi hasil panen musim sebelumnya.
Menjaga hutan
Musim kemarau di NTT bisa berlangsung lebih dari delapan bulan. Tanah terlihat tandus, embun jarang turun dan angin panas berdebu. Meski begitu, Desa Boti muncul sebagai anomali dengan tanah yang subur, teduh dan harmonis.
Di hutan Boti Dalam, penebangan pohon hampir sepenuhnya dilarang. Kayu untuk material bangunan hanya bisa diambil dari pohon tertentu setelah melewati upacara adat. Sistem ini secara tidak langsung menciptakan mekanisme konservasi berbasis komunitas. Beragam jenis pohon yang tumbuh berdekatan dengan kebun, ditanam secara tumpang sari.
Muke Benu, perempuan adat Suku Boti bercerita kalau mereka mengelola dan menjaga hutan adat dan kebun secara komunal. Mereka menjaganya seperti menjaga tubuhnya sendiri. “Hutan itu mama,” ujar Muke, April lalu.
“Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya.”
Tiap pagi dan petang, perempuan Boti memilah kacang-kacangan, membersihkan pisang dan sayur-sayuran dari ume kbubu. Mereka menakar jumlah pangan yang akan dimakan. Saat panen melimpah, sebagian mereka simpan untuk cadangan. Sedangkan, saat kemarau panjang, mereka perlu mengurangi porsi dan mengganti bahan makanan.
“Kami harus tahu kapan makan banyak dan makan sedikit. Jika semua dimakan sekarang, besok kami tidak punya apa-apa lagi,” kata Molo.
Berbagai keragaman pangan selalu tersaji di meja hidangan. Hari ini bose dengan kacang arbila, besok umbi-umbian atau pisang, lusa jagung katemak dan kacang tunis. Molo Benu bilang dengan mengandalkan beragam sumber pangan lokal, warga Boti dapat memastikan kecukupan gizi sekaligus menghindari ketergantungan dari negara dan industri.
Selain berladang setiap, perempuan adat Boti juga mengerjakan tenun. Menenun merupakan tradisi sebagai perpanjangan cara dalam memperlakukan alam dengan mengambil secukupnya untuk menjaga kelestarian.
Para remaja hingga lansia, duduk melingkar sembari menghaluskan kapas (sifoh), memintal kapas (sunat) dan menggulus kapas (nunut). Mereka juga mewarnai benang dengan akar mengkudu, akar kunyit, dan daun tarum, lalu menenunnya menjadi kain.
“Tanpa hutan, kami tidak bisa menenun,” tutur Heka Banoet, masyarakat Boti dari Kelompok Tenun Tai Matani sambil merapikan lungsi.
“Tidak ada benang, tidak ada warna, tidak ada kehidupan di sini,” katanya April lalu.
Tak hanya hutan terawat, mereka juga jaga sumber air. Sekitar 600 meter dari perkampungan, ada mata air di Boti yang selalu mengalir meski musim kemarau. Tiap sore, masyarakat berjalan dan menimbah air di pancuran dengan tabung bambu. Air mereka ambil seperlunya.
Ada hari khusus dalam kalender adat Suku Boti, yakni neon oe atau hari air. Hari itu menjadi pengingat bagi masyarakat untuk menggunakan air dengan bijak. Warga juga dilarang mencemari mata air, membuka lahan di sekitarnya.
“Kami juga tidak pernah kekurangan air. Sejauh hutan terjaga, air di pancuran tidak akan kering,” kata Nama Benu
Agnes Natalya Boimanu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kie, mengatakan, strategi Masyarakat Adat Boti bisa menghadapi musim kemarau panjang dengan berbasis diversifikasi pangan. Mulai dari menanam jagung, umbi-umbian, kacang, pakan ternak, dan lainnya.
“Praktik yang dilakukan di Boti Dalam sudah begitu baik. Bapak Raja dan warganya memiliki kebun dengan tanaman yang beragam. Untuk peternakan ada aturan kalau ternak wajib dikandangkan,” katanya.
Masyarakat Boti Dalam juga mempertahankan keyakinan terhadap benih lokal. “Untuk kebutuhan konsumsi, mereka masih andalkan benih lokal. Bahkan Bapak Raja menolak keras bantuan beras dari pemerintah.”
Bantuan benih hibrida yang masuk ke Desa Boti, katanya, lebih banyak warga Boti Luar yang menerima selain untuk kebutuhan konsumsi, juga pakan ternak atau dijual kembali.
Menurut Siti Maimunah, Direktur Mama Aleta Fund, pengetahuan lokal Masyarakat Adat Boti merupakan bentuk adaptasi ekologis yang lahir berdasarkan pengalaman kolektif menghadapi ancaman paceklik.
“Model pertanian seperti di Boti justru lebih adaptif terhadap perubahan iklim dibanding sistem monokultur yang bergantung dari komoditas tertentu”.
Sayangnya, kemandirian pangan Boti Dalam ini terancam dengan pengembangan proyek strategis nasional (PSN) di Timor seperti food estate dan hutan tanaman energi (HTE), Pembukaan kawasan hutan, eksploitasi sumber daya alam, hingga rusaknya daerah tangkapan air dinilai berpotensi mengganggu basis penghidupan masyarakat adat.
“Apabila hutan dibabat, perempuan yang pertama terkena imbas. Sebab mereka yang setiap hari mengurus air dan makanan bagi komunitasnya,” kata Doktor Filsafat Universitas Passau, Jerman ini.
Menurut Mai, yang perlu dilindungi tidak saja hutan adat, tetapi meliputi pengetahuan lokal untuk menjaga hubungan antara pangan, air, dan alam hingga berjalan beriringan.
******