Mongabay.co.id

Pakis Ekor Monyet, Tumbuhan Unik di Gunung Muria

  • Pakis ekor monyet merupakan tumbuhan unik yang hidup di hutan Gunung Muria, Jawa Tengah. Tumbuhan ini umumnya berada di Asia Tenggara pada ketinggian 80-800 mdpl. Bahkan, bisa mencapai 1.600 mdpl.
  • Secara ekologis, pakis ekor monyet memiliki peran penting di hutan Gunung Muria. Tak hanya tumbuh di sela pohon besar, tetapi juga sebagai indikator alami kesuburan tanah dan keberadaan sumber air. Pakis ini juga membantu kelembapan tanah dan berkontribusi pada kestabilan ekosistem hutan.
  • Meski tekanan pengambilan pakis di Muria mulai berkurang, namun ancaman tak sepenuhnya hilang. Praktik pengambilan bergerser ke wilayah lain. Eksploitasi tidak benar-benar selesai, hanya berpindah lokasi.
  • Beberapa desa di Muria mulai menetapkan aturan tidak tertulis untuk melindungi hutan mereka, termasuk melarang pengambilan pakis dan aktivitas berburu.

Di balik rimbunnya hutan Gunung Muria, tersimpan kisah tumbuhan unik yang mengalami perubahan nasib.

Pakis ekor monyet, yang dulu tumbuh liar tanpa banyak perhatian, pernah jadi primadona saat tren tanaman hias dan kepercayaan akan ‘kayu tolak tikus’ merebak pada 1990-an. Kini, keberadaannya menyusut di habitatnya.

Teguh Budi Wiyono (51), Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria atau Peka Muria, menuturkan pemanfaatan pakis sejak awal, sebenarnya bukan sesuatu yang dianjurkan. Namun, gelombang tren yang datang dari luar, ditambah minimnya regulasi masa itu, membuat eksploitasi tak terhindarkan.

“Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan, sejak masih muda,” jelasnya, Minggu (26/4/2026).

Saat itu, bagian dalam Cibotium barometz yang bermotif unik dipotong dan dijual sebagai ‘kayu tolak tikus’. Kulitnya, digunakan sebagai media tanam, terutama untuk anggrek.

Aktivitas ini, seingat Teguh berjalan masif. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis, lalu menjualnya tanpa mempertimbangkan kelanjutan.

Waktu berjalan, tren mereda. Namun, dampaknya tidak ikut hilang. Teguh menyebut, bila dibandingkan dengan kondisi masa lalu, populasi pakis di Muria kini diperkirakan menurun.

“Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang.”

Pakis ekor monyet yang tumbuh di hutan Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Indikator sumber air

Secara ekologis, pakis ekor monyet memiliki peran penting. Tak hanya tumbuh di sela pohon besar, tetapi juga sebagai indikator alami kesuburan tanah dan keberadaan sumber air.

Pakis ini juga membantu kelembapan tanah dan berkontribusi pada kestabilan ekosistem hutan.

“Kalau ada pakis, dekat mata air.”

Meski tekanan pengambilan pakis di Muria mulai berkurang, menurut Teguh, ancaman tak sepenuhnya hilang. Praktik pengambilan bergerser ke wilayah lain. Eksploitasi tidak benar-benar selesai, hanya berpindah lokasi.

Saat pakis punya nilai jual, kebanyakan warga cenderung mengambil tanpa melihat usia atau kondisi tanaman.

“Alih fungsi lahan juga jadi tantangan.”

Di tengah kondisi tersebut, harapan mulai tumbuh dari kesadaran masyarakat.

Beberapa desa di Muria mulai menetapkan aturan tidak tertulis untuk melindungi hutan mereka, termasuk melarang pengambilan pakis dan aktivitas berburu.

“Di beberapa tempat sudah ada pengumuman. Sehingga, bila ada yang turun hutan membawa pakis, mulai dipantau.”

Melalui pendekatan berbasis masyarakat, Peka Muria berupaya mengajak warga, terutama generasi muda, untuk terlibat dalam upaya konservasi. Hal yang diusung sederhana, memanfaatkan secukupnya, merawat selebihnya. Prinsip ini jadi dasar keseimbangan kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Selain menjaga mata air, Teguh bilang, pakis juga bagian penting keanekaragaman hayati yang menopang kesehatan hutan di Muria.

“Hutan itu disebut lestari bila tanamannya beragam dan semuanya hidup saling mendukung.”

Pakis ekor monyet yang keberadaannya menyusut di habitatnya di Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Tumbuh lambat

Fairuzia Fazat, peneliti sekaligus tutor Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka, yang pernah melakukan penelitian di hutan Muria, Jawa Tengah, mengatakan tumbuhan ini umumnya berada di Asia Tenggara pada ketinggian 80-800 mdpl. Bahkan, bisa mencapai 1.600 mdpl.

“Ia menyukai tempat teduh dengan naungan pepohonan dan kelembapan tinggi, sekitar 60-90 persen,” katanya, Senin (27/4/2026).

Proses pertumbuhannya dari spora hingga jadi tanaman dewasa memerlukan waktu 3-5 tahun, terutama pada kondisi naungan penuh atau parsial.

Di Muria, pakis ekor monyet banyak ditemukan di lereng curam dan cenderung terkonsentrasi mendekati hutan primer atau sekunder, terutama di atas 800 mdpl. Fragmentasi habitat akibat agroforestri, seperti perkebunan kopi, jadi tantangan lain, membuat sebarannya kian terbatas.

Meski demikian, Fairuzia menyatakan belum menemukan aktivitas pengambilan liar selama penelitian di Muria.

“Belum pernah melihat pencari yang mengambil tanaman ini.”

Dari sisi ilmiah, pakis ini mengandung lebih 100 senyawa aktif, termasuk fenolat, flavonoid, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan.

Upaya konservasi juga telah dilakukan melalui budidaya dan kultur jaringan oleh lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mampu mempercepat pertumbuhan bibit.

Dengan budidaya intensif, siklus tanaman bisa dipersingkat hingga 1,5-3 tahun, membuka peluang mengurangi tekanan terhadap populasi liar.

Bentang alam Gunung Muria yang merupakan tempat tumbuhnya pakis ekor monyet. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Teguh Jumadiyanto, Kepala Resort Pemangkuan Hutan Ternadi, Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan Muria Patiayam, KPH Pati, menyebut pakis ekor monyet merupakan flora asli hutan Muria yang keberadaanya dilindungi dalam kawasan hutan negara.

Setiap bentuk pengambilan, harus melalui mekanisme aturan yang berlaku.

“Kalau tidak ada izin, itu ilegal. Pengambilan hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Dia merujuk regulasi kehutanan yang mengatur bahwa seluruh pemanfaatan sumber daya di kawasan hutan wajib berizin. Pelanggaran terhadap aturan, bisa dikenai sanksi pidana maupun denda.

Meski begitu, Teguh mengakui pengawasan di lapangan belum optimal.

Keterbatasan jumlah personel jadi kendala utama dalam memantau kawasan hutan yang luas, termasuk wilayah Muria yang mencapai ribuan hektar.

“Kalau ada yang mengambil, sering sembunyi-sembunyi.”

Sebagai langkah pencegahan, Perhutani, katanya rutin melakukan patroli serta sosialisasi kepada masyarakat.

 

*****

 

Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria

Exit mobile version