- Koperasi Kompos dimulai saat Pandemi Covid pada 2021, diawali dari 30 keluarga. Kini berkembang menjadi 100 rumah tangga yang mengolah 300–400 kilogram per pekan atau sekitar 1,5 ton per bulan.
- Jumlah penduduk Indonesia terus bertambah, kini total penduduk 287 juta jiwa. Sehingga produksi sampah juga melonjak. Saat ini Indonesia rata-rata setiap hari menghasilkan sampah sekitar 140 ribu ton. Sedangkan pemerintah hanya bisa mengelola 36 ribu ton sampah.
- Indonesia komitmen mendukung target pengurangan emisi metana sebesar 30 persen dari tingkat emisi 2020. Sedangkan, pemerintah Indonesia menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% tanpa syarat dan 43,2% setelah bersyarat pada 2030.
- Sampah plastik yang salah urus, juga bisa berdampak terhadap kesehatan manusia. Mikroplastik ditemukan di tubuh manusia, di dalam otak, darah, dan plasenta.
Sekelompok perempuan meriung di kebun sayuran pada Senin (30/3/26). Suka cita, mereka memetik beragam sayuran dengan pupuk kompos limbah rumah tangga. Mereka adalah para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Tani Taman Puspa Elok Lestari RT05/RW16 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.
“Kami mengolah sampah rumah tangga saat Pandemi COVID-19, pada Februari 2021,’’ kata Shanty Syahril, Koordinator Koperasi Kompos dalam webinar bertema “Krisis Pangan, Lonjakan Gas Metan dan Tantangan Iklim Indonesia” pada Kamis (12/3/26).
Berawal dari 30 orang di lingkup RW16, yang intens diskusi perihal pengolahan sampah, mereka lantas tergerak, memilah dan mengolah sampah rumah tangga.
“Mengubah masalah menjadi manfaat. Koperasi kompos menerima sisa sayur dan kulit buah. Petugas menjemput ke rumah anggota setiap Senin, Rabu dan Jumat,” katanya.
Santy katakan, hampir semua sampah berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Dengan luas 110,3 hektar, sampah yang tertampung di Bantar Gebang rerata 6.500–7.000 ton per hari. Mereka pun berinisiatif mengatasi persoalan sampah skala rumah tangga.
Apalagi, sampah yang telah terpilah di rumah, kerap tercampur saat diangkut truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sehingga konsep koperasi kompos ini menjadi alternatif mengolah sampah secara mandiri.
Jakarta memang sudah memiliki Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 77 /2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga mengatur masyarakat di lingkup rukun warga untuk mengolah sendiri sampah organik tetapi tak banyak berjalan efektif. Di lingkungannya, dari 470-an warga, tak sampai 10 rumah yang melakukan pengomposan.
Hobi berkebun
Saat pandemi, katanya, hidup seolah melambat. Banyak warga yang menekuni hobi berkebun dengan menanam bunga dan sayuran. Dia kemudian menawarkan gagasan untuk mengolah sampah organik secara bersama-sama. Santi menyiapkan sistem yang mempermudah mempermudah warga memilah sampah di rumah tanpa harus mengolahnya sendiri.
Mereka mengajak anak muda menjadi bagian dari tim operasional koperasi kompos. Koperasi menjadi wahana belajar dalam sistem operasional pengolahan sampah. Mereka berlatih sistem pemilahan sampah, sekaligus mengumpulkan datanya.
“Jadi kami tahu persis data sampah yang dikumpulkan setiap minggu.”
Anggota koperasi cukup memilah sampah di rumah, tim operasional yang menjemput dan mengolahnya. Memanfaatkan garasi salah satu anggota, sampah organik mereka olah dalam komposter sederhana.
Tim operasional terdiri atas anak muda mereka yang akan menjemput dan mengolah sampah organik menjadi kompos.
“Alhamdulillah, sebenarnya eksperimen sekarang sudah masuk tahun keenam,” katanya.
Kini, mereka bahkan bergerak sendiri tanpa dukungan RT/RW. Anggota makin bertambah, mereka kewalahan mengolah sampah. Akhirnya, bekerja sama dengan pembudidaya magot atau larva lalat black soldier fly (BSF). Sebagian limbah dapur dikirim menjadi pakan magot.
Sedangkan kompos yang mereka produksi, setiap enam bulan sekali mereka salurkan kembali kepada anggota koperasi menjadi media tanam. Praktik ini, katanya, menjadi dasar dalam kerja sama dengan multi pihak.
Menurut Santy, anggota koperasi turut berperan dalam perubahan di lingkungannya. Koperasi, tidak memberikan insentif ekonomi kepada anggotanya. Justru mereka yang membayar iuran untuk mereka gunakan membayar honor tim operasional dan biaya operasional.
“Kita bagikan kompos, kita merayakan kebahagiaan bersama,” katanya.
Setelah anggota hampir 100 rumah tangga, pengurus RW menyediakan fasilitas umum (fasum) perumahan untuk pengolahan sampah. Sekaligus mengelola taman di kawasan itu. Kini, koperasi mengolah 300–400 kilogram per pekan atau sekitar 1,5 ton per bulan.
Larang open dumping
Aksi para perempuan di Cakung itu salah satu upaya penanganan persoalan sampah di Jakarta. Agus Rusli, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), menjelaskan, krisis sampah menyumbang lonjakan gas metana.
Gas metana dari peluruhan bahan organik yang daya rusaknya 28 kali lebih besar dibandingkan CO2. Karena itu, harus ada upaya mengendalikannya kalau tidak jadi sumber emisi paling besar.
“Ini sumber emisi. Ada karbon dioksida, berpotensi menghasilkan gas metana,” katanya.
Penduduk Indonesia terus bertambah, mencapai 287 juta jiwa. Produksi sampah juga melonjak. Saat ini, katanya, rata-rata timbunan sampah per hari mencapai sekitar 140.000 ton. Sedangkan pemerintah hanya bisa mengelola 36.000 ton.
Awal Maret, gunung sampah di TPST Bantar Gebang longsor menyebabkan tujuh nyawa melayang. Pada 2 Februari 2005, juga terjadi tragedi di TPA Luewigajah, Cimahi. Sampah longsor merenggut 157 nyawa. Tragedi ini kemudian diperingati sebagai hari sampah nasional.
Rerata, Jakarta menghasilkan sampah sebanyak 8.000 ton, Depok 1.300 ton, Bekasi 1.000 ton lebih, Kabupaten Bekasi itu 2.000 ton, Tangerang Selatan 1.000 ton dan Kota Tangerang juga 1.000 ton. Sampah tersebut menjadi beban TPST Bantar Gebang. “Melihat karakteristik sampah kita, kebanyakan sisa makanan. Sekitar 49%,” katanya.
Indonesia menjadi penghasil sampah makanan terbanyak se-Asia, total 20 juta ton setiap tahun di tengah banyak warga yang kekurangan pangan bahkan mengalami tengkes. KLH pun mendorong setiap rumah tangga mengurangi limbah makanan dan mengolahnya menjadi kompos, atau pupuk organik cair.
Sebagian besar TPA di Indonesia, katanya, masih menggunakan sistem open dumping, metode pembuangan sampah konvensional, dengan ditumpuk, dan dibiarkan di lahan terbuka tanpa pengolahan. “Artinya cuma dikumpulkan, dan dibuang.”
KLH menargetkan seluruh TPA menyetop open dumping pada 2026-2030. Open dumping merusak lingkungan, menghasilkan emisi metana, dan menjadi sumber penyakit. KLH menghentikan praktik open dumping di 343 TPA di seluruh Indonesia.
Sistem open dumping dihentikan, beralih ke sistem sanitary landfill atau controlled landfill. Metode pengolahan sampah modern yang mengisolasi limbah menggunakan lapisan kedap air, pengolahan lindi, dan penutupan tanah harian, menjadikannya standar ramah lingkungan.
Ambisius, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah Indonesia menargetkan 100% pengelolaan sampah tuntas pada 2029. Penanganan sampah akan berlangsung secara komprehensif mulai hulu sampai ke hilir. Fokus mengurangi dengan daur ulang dan teknologi seperti Refuse Derived Fuel (RDF) dan Waste-to-Energy (WTE).
Peraturan sudah lengkap, katanya, termasuk aturan yang mewajibkan produsen baik manufaktur, ritel, jasa makanan/minuman untuk menyusun peta jalan (roadmap) pengurangan sampah 30% dari total timbulan sampah produknya. Kebijakan ini menekankan pendekatan reduce, reuse, recycle (3R) melalui pembatasan timbulan, pendaurulangan, dan pemanfaatan kembali sampah.
Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor P.75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. “Artinya produsen, makanan, minuman bertanggung jawab atas pengurangan sampah.”
Menangkap gas metana
Satya Budi Utama, Urban Development and Clean Air Manager, World Resources Institute (WRI) Indonesia menjelaskan, melakukan survei komposisi sampah di lima kota di Indonesia meliputi Solok, Mataram, Surabaya dan Balikpapan, yang mewakili kota kecil, kota menengah, kota besar, dan kota metropolitan. Komposisi sampah didominasi sisa makanan 55%, kertas 14,5%, plastik 10,4% dan sisanya bahan organik dan anorganik lainnya.
Survei berlabel Smart Waste Indonesia itu untuk memetakan komposisi, timbulan, dan karakteristik sampah TPA. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia sebagian besar overload.
“Seluruh jenis sampah dibuang ke sana dalam sistem open dumping,” katanya.
Sampah organik menghasilkan gas metana (CH4) yang potensial jauh lebih besar daripada CO2 dalam merusak atmosfer. Dengan potensi pemanasan 34 kali lebih kuat untuk periode 100 tahun dan menjadi 80 kali lebih kuat dalam periode 20 tahun. “Gas metana berkontribusi terhadap pemanasan global sekitar 30%,” katanya.
Pada 1990-2019, sektor limbah berkontribusi sekitar 54% menghasilkan gas metana dibandingkan sektor energi. Gas metana yang dihasilkan tidak ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi, meski sudah ada beberapa yang memanfaatkannya. Seperti TPA Benowo, Surabaya; Balikpapan dan Banyuwangi.
“Tapi sebagian besar di Indonesia terlepas begitu saja di udara. Mencemari,” katanya. Sehingga sering terjadi kebakaran di TPA seperti di Bali, Yogyakarta dan Tangerang.
Pemerintah katanya, sebenarnya memiliki komitmen melakukan pengurangan atau mitigasi emisi gas metana. Bahkan, Indonesia salah satu negara yang paling awal menandatangani Global Methan Pledge pada Conference of the Parties United Nations Framework Convention on Climate Change (OP UNFCCC) pada 2021 di Glasgow, Skotlandia.
Komitmen ini untuk mendukung target pengurangan emisi metana sebesar 30% dari tingkat emisi 2020. Sedangkan, pemerintah Indonesia menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% tanpa syarat dan 43,2% dengan syarat pada 2030. Serta, berkomitmen menekan limbah rendah karbon melalui strategi pengurangan, pemanfaatan, dan penjagaan emisi metana.
Laju peningkatan emisi dari sampah dan limbah terus meningkat. Selain itu, ada kesenjangan implementasi dan kapasitas pemerintah daerah dalam menyusun strategi pengurangan emisi.
“Inisiatif yang dilakukan Ibu Santi, masih kecil sekali dibandingkan sampah organik yang dikirim ke TPA,” katanya.
WRI Indonesia mendampingi 500 kabupaten kota di Indonesia untuk pengolahan sampah. Banyumas menjadi contoh baik, pengolahan sampah sangat tinggi ditambah partisipasi masyarakat juga baik.
Ancaman mikroplastik
Sampah plastik yang salah urus, juga bisa berdampak terhadap kesehatan manusia. Seperti mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari kantong plastik, serat sintetis, detergen dan sampah plastik lainnya. Riset Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) pada 2017 mendeteksi mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban dan darah perempuan.
“Seperti kutukan, ini terjadi akibat menyia-nyiakan sampah plastik. Akhirnya plastik yang dibuang kembali ke tubuh kita,” kata Sofi Azilan Aini, peneliti mikroplastik Ecoton dalam siaran pers yang Mongabay terima.
Mikroplastik salah satunya berasal dari kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah ke sungai. Infiltrasi mikroplastik dalam darah mengancaman kesehatan manusia. Berpotensi mengalir ke dalam organ vital dan menimbulkan kerusakan sel dan mal fungsi organ vital.
Indonesia menjadi negara yang menyumbang sampah plastik ke laut tertinggi ketiga setelah India dan Nigeria. Secara global, sampah plastik yang mengalir sampai ke lautan mencapai 12,4 juta ton per tahun.
Selain itu, penduduk Indonesia juga menjadi manusia yang paling banyak mengkonsumsi mikroplastik, sekitar 15 gram per bulan.
Data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan pada 2023, timbulan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton. Sebanyak 11,3 juta tidak terkelola dan lebih dari 7,8 juta ton berupa sampah plastik. Sebagian besar belum tertangani secara layak dan masih dikelola dengan pembakaran, sebesar 57%.
Ecoton bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mendeteksi 100% perempuan di Gresik terkontaminasi mikroplastik. Jumlah partikel 2-18 partikel per mililiter, berukuran lebih besar dari 0,45 µm. Jenis mikroplastik yang ditemukan antara lain fiber dan fragmen.
Sedangkan uji terhadap air ketuban atau amnion terhadap 42 ibu melahirkan di Gresik seluruhnya atau 100% terkontaminasi mikroplastik. Jenis polimer didominasi jenis polyethylene yang berasal dari botol plastik air minum dalam kemasan, plastik bening, tas kresek, dan gelas plastik.
Rafika Aprilianti, kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton menjelaskan rahim yang menjadi tempat yang paling aman bagi umat manusia telah tercemar mikroplastik. Riset yang juga melibatkan Woonjin Institut itu juga menyebutkan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman meningkatkan risiko paparan mikroplastik dalam tubuh. Mikroplastik dalam ketuban berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. “Ada korelasi antara mikroplastik dengan meningkatnya nilai malondialdehide (MDA) penanda peradangan (inflamasi).”
Penelitian Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Maret 2025 mendeteksi mikroplastik dalam jaringan otak manusia. Diduga berpotensi mengganggu fungsi saraf dan berisiko menurunkan kemampuan kognitif secara bertahap.
Penelitian ini merujuk riset di New Meksiko 2024 yang menemukan penumpukkan mikroplastik dan nanoplastik yang berukuran 1 hingga 1000 nanometer telah menumpuk di otak manusia. Konsentrasi lebih tinggi sekitar 7-30 kali lipat dibandingkan pada organ hati dan ginjal.
Konsentrasi plastik pada sampel otak pada 2024 meningkat hingga 50% dibandingkan sampel 2016. Matthew Campen, profesor ilmu farmasi University of New Mexico, menyebut fenomena ini sebagai cerminan penumpukan lingkungan yang semakin ekstrem. ‘’Produksi plastik global melampaui 300 juta ton per tahun, sekitar 2,5 juta ton mencemari lautan,” ujar Rafika.
*****