- Mengapa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang tersebar luas di Indonesia, kehidupannya relatif aman dibandingkan Genus Macaca lainnya?
- Macaca fascicularis yang secara global mengalami tekanan populasi di berbagai negara, dikategorikan Genting atau Endangered. Namun, di Indonesia, spesies yang sama justru masuk kategori Risiko Rendah atau Least Concern.
- Penilaian status konservasi tak hanya bergantung pada jumlah individu, tetapi juga pada konteks sebaran dan tekanan lokal. Penilaian nasional hanya melihat kondisi dalam batas wilayah Indonesia. Sementara, penilaian global pertimbangkan kondisi di seluruh wilayah, seperti di berbagai negara Asia Tenggara.
- Hal berbeda, terjadi peningkatan ancaman pada lima spesies Macaca endemik Sulawesi, yaitu Macaca nigrescens, Macaca hecki, Macaca tonkeana, Macaca ochreata, dan Macaca brunnescens. Kelimanya dikategorikan Endangered di tingkat nasional.
Mengapa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang tersebar luas di Indonesia, kehidupannya relatif aman dibandingkan Genus Macaca lainnya?
Puji Rianti, peneliti dari IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group sekaligus pemimpin kajian Macaca National Red List Assesment (NRLA) Macaca Indonesia, menjelaskan perbedaan ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Melainkan, konsekuensi dari cara penilaian yang berbeda antara tingkat global dan nasional.
Satu contoh menarik, Macaca fascicularis yang secara global mengalami tekanan populasi di berbagai negara, dikategorikan Genting atau Endangered. Namun, di Indonesia, spesies yang sama justru masuk kategori Risiko Rendah atau Least Concern.
Kondisi tersebut disebabkan populasi di Indonesia yang relatif masih besar dan tersebar luas di berbagai habitat alaminya.
“Spesies ini dikenal sangat adaptif, dengan struktur sosial multijantan dan multibetina, serta tak punya musim kawin tertentu. Bisa berkembang biak sepanjang waktu, populasinya stabil, dan cenderung meningkat di berbagai wilayah Indonesia,” paparnya, Minggu (12/4/2026).
Namun, penilaian status konservasi tak hanya bergantung pada jumlah individu, tetapi juga pada konteks sebaran dan tekanan lokal. Penilaian nasional hanya melihat kondisi dalam batas wilayah Indonesia. Sementara, penilaian global pertimbangkan kondisi di seluruh wilayah, seperti di berbagai negara Asia Tenggara.
“Perbedaan ini sah secara ilmiah, karena menggunakan skala dan data yang berbeda. Dalam kajiannya, data populasi dari wilayah non-alami atau introduksi tidak dimasukkan dalam penilaian, sesuai standar IUCN.”
Spesies endemik terancam
Hal berbeda, terjadi peningkatan ancaman pada lima spesies Macaca endemik Sulawesi, yaitu Macaca nigrescens, Macaca hecki, Macaca tonkeana, Macaca ochreata, dan Macaca brunnescens. Kelimanya dikategorikan Endangered di tingkat nasional.
Menurut Puji, kondisi ini mencerminkan realitas lokal yang tak selalu terlihat dalam penilaian global.
“Sebarannya hanya di Sulawesi dan habitatnya menyempit akibat terfragmentasi. Jenis Macaca nigrescens, penurunan populasinya tak hanya karena pertambangan dan fragmentasi habitat, juga karena perburuan.”
Satu karakteristik penting Macaca adalah kemampuannya beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Tetapi, kemampuan itu membawa konsekuensi lain, yaitu meningkatnya konflik dengan manusia. Monyet yang kehilangan habitat alami, sering pindah ke kawasan yang dikuasai manusia, dan kerap dianggap hama.
Meski demikan, konflik manusia-monyet belum terbukti jadi faktor utama yang percepat penurunan populasi secara langsung.
“Upaya penanganan dilakukan dengan berbagai cara, seperti translokasi ke kawasan yang minim konflik, termasuk taman nasional atau hutan lindung.”
Pendekatan konservasi
Kondisi yang kontras antara spesies melimpah dan yang terancam, menunjukkan bahwa pendekatan konservasi tak bisa disamaratakan.
Monyet ekor panjang yang melimpah populasinya, maka pendekatan konservasinya bukan eksploitasi, melainkan pengelolaan berbasis daya dukung habitat. Langkah lain, sterilisasi populasi, translokasi terarah, dan pengelolaan konflik berbasis sains.
Melindungi habitat tersisa, menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan. Upaya lain, penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan ilegal, pemantauan populasi sistematis, peningkatan kesadaran masyarakat, dan pengelolaan konflik secara beradab, dapat dilakukan.
Menurut Puji, berdasarkan kajian Macaca NRLA yang dilakukannya bersama tim, perhatian khusus, perlu diberikan pada populasi di pulau-pulau kecil, seperti Simeulue, Lasia, Karimunjawa, dan Maratua, yang punya kerentanan tinggi.
“Pemerintah perlu prioritaskan perlindungan habitat inti dan koridor. Diperlukan strategi spesifik, data akurat, dan kondisi lokal masing-masing spesies,” ujarnya.
Amanda Yonica Poetri Faradifa, Koordinator Media Sosial Animal Cruelty Coalition, bagian dari Macacaque Coalition-Asia for Animals menilai, kajian Macaca NRLA sangat penting sebagai dasar ilmiah, namun masih menyisakan celah.
Kajian tersebut, katanya, lebih banyak berfokus pada aspek makro, seperti ukuran dan tren populasi, distribusi spesies, ancaman besar seperti kehilangan habitat dan perburuan. Namun, aspek kesejahteraan satwa belum banyak tersentuh.
Baik itu di level individu seperti kekerasan, stres, atau kondisi hidup, maupun level populasi seperti tekanan kronis akibat konflik.
“Kita bisa melihat spesies tampak aman secara status, tapi mengalami penderitaan di lapangan,” terangnya, Jum’at (10/04/2026).
Amanda tegaskan, konservasi tanpa pertimbangkan kesejahteraan berisiko mengabaikan realitas yang dialami satwa setiap hari.
Ilham Kurnia, Manager Program The Long-Tailed Macaque Project, mengatakan hasil kajian tersebut tetap perlu ditafsirkan hati-hati. Status ‘aman’ di tingkat nasional secara umum tidak selalu mencerminkan kondisi di semua wilayah.
Pada tingkat lokal, banyak populasi atau subspesies monyet ekor panjang masih menghadapi ancaman serius. Terutama, terjadi pada subspesies endemik di wilayah kepulauan dengan ruang terbatas.
“Mereka lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dan tekanan antropogenik,” jelasnya, Selasa (14/4/2026).
*****