- Sawah Masyarakat Adat Patawang Wanga kini sulit teraliri air. Warga menduga, salah satu penyebab karena aktivitas perusahaan tebu di hulu.
- Dulu, warga Wanga panen padi sempat tiga kali setahun. Saat ini. yang punya dana beli pompa air masih bisa dua kali setahun. Bagi yang tanpa pompa, panen setahun sekali bergantung air hujan.
- Umbu Lili Pekuwali, Bupati Sumba Timur, menyebut persawahan di Wanga memang pada musim kemarau tidak bisa teraliri air. Bahkan, sebelum adan aktivitas PT MSM dan perkebunan tebu di bagian atas lahan irigasi.
- Kabupaten Sumba Timur terkenal dengan motonya ‘Matawai Amahu Pada Njara Hammu’. Ia berarti ‘mata air emas, padang kuda elok’. Dedy Febrianto Holo, dari Walhi NTT, menegaskan, seharusnya moto ini makin menunjukkan pengelolaan sumber daya air untuk kepentingan semua pihak adalah hal yang sangat krusial. Dalam konteks budaya Marapu, air merupakan darah dari tanah Humba. Adat Marapu mengenal Pa Eri Wee atau Kalarat Wai, artinya pengkeramatan sumber mata air.
Persawahan Desa Wanga, terluas di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Barat, mulai menghijau, padi mulai berbulir tetapi rasa was-was menghantui para petani. Para petani dari Masyarakat Adat Patawang Wanga ini resah soal ketersediaan air.
“Areal persawahan ini semuanya dialiri dengan air dari sumur galian dengan menggunakan mesin pompa,” sebut Mbada Halatamu kepada Mongabay, September lalu.
Deru mesin pompa yang bekerja mengaliri air itu terdengar saat Mongabay bertandang ke pondoknya di tengah persawahan.
Terlihat juga saluran irigasi di samping pondoknya yang membelah persawahan. Sejak 2017, saluran itu baru bisa terisi air saat hujan.
“Para petani yang punya modal pasti membeli pompa air agar bisa panen dua kali setahun. Kalau tidak punya modal, paling setahun hanya tanam sekali saja saat musim hujan,” terang pria 65 tahun itu.
Jurnal Pertanian Agros mencatat Sumba Timur, sebagai wilayah yang tidak pernah absen memproduksi padi setiap tahun. Padi sawah jadi paling mendominasi di sana.
Jurnal itu mengutip data BPS NTT 2020 yang mencatat produksi padi sawah Sumba Timur tahun 2015, sebesar 778.808 ton dari luas panen 188.092 hektar. Terus meningkat hingga puncaknya pada 2018 1.067.121 ton dari luas panen 247.759 hektar. Lalu menurun pada 2019 menjadi 993.791 ton dari luas panen 233.252 hektar.
Sementara luas panen padi sawah di Kecamatan Umalulu 899 hektar dengan produksi 3.420 ton. Rata-rata produksi per hektarnya mencapai 38,04 kulintal atau 3,804 ton.
Krisis air
Kabupaten Sumba Timur terkenal dengan motonya ‘Matawai Amahu Pada Njara Hammu’. Ia berarti ‘mata air emas, padang kuda elok’.
Dedy Febrianto Holo, dari Walhi NTT, menegaskan, seharusnya moto ini makin menunjukkan pengelolaan sumber daya air untuk kepentingan semua pihak adalah hal yang sangat krusial.
Dalam konteks budaya Marapu, katanya, air merupakan darah dari tanah Humba. Adat Marapu mengenal Pa Eri Wee atau Kalarat Wai, artinya pengkeramatan sumber mata air.
“Warga beragama Marapu melakukan persembahan di sumber mata air. Selain merupakan ibadah ucapan syukur, kegiatan ini sebagai ibadah permohonan kepada sang pencipta agar senantiasa melimpahkan karunia air buat orang Humba.,” ucapnya.
Kundi Kei Marak, warga Desa Wanga, mengatakan. mata air Bula dan Mata serta Kali Wanga dulu melimpah air, sebelum PT Muria Sumba Manis (MSM) beroperasi tahun 2016.
Dalam setahun, warga tiga kali menanam padi dan hidup berkecukupan. Mereka tidak menggunakan pompa air dan harus membeli solar untuk bahan bakar mesin pompa.
“Dulu satu hektar bisa panen sampai 8 ton tapi sekarang menurun drastis hanya dua ton saja,” kata pria 62 tahun itu.
Dia bilang, sekali beroperasi, mesin pompa bisa mengairi sawah seluas empat hektar di musim kemarau dengan lima liter solar bila lahan masih basah, namun 10 liter saat sedang kering.
Sementara, harga solar di pengecer pinggir jalan mencapai Rp50.000 untuk lima liter.
“Tiga hari sekali sawah harus diairi lagi. Untuk luas satu hektar maka butuh dua hari untuk mengairinya,” sebut David Luta Lapu, warga lainnya.
Warga, katanya, perlu Rp4 juta untuk beli pupuk dan pestisida per hektar. Biaya itu belum termasuk beli solar, upah tenaga kerja dan mesin panen padi combine harvester.
“Kalau hasil panen bagus maka petani bisa untung tapi kalau sawah kekurangan air maka hasil produksi menurun dan petani bisa mengalami kerugian.”
Namun, hasil panen menurun hingga warga memilih bekerja panen tebu di MSM dengan upah Rp130.000 per jaring. Sehari-hari, mereka bisa panen satu jaring, kadang hanya setengahnya saja apabila tebu tertanam rapat.
Selain itu warga pun memetik pucuk daun lontar seharga Rp5.000 per pucuk. Ada lima pucuk dalam satu pohon.
Pembelaan bupati
Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali saat konferensi pers, September lalu menyebutkan, persawahan di Wanga memang pada musim kemarau tidak bisa teraliri air. Bahkan, sebelum adan aktivitas pabrik dan perkebunan tebu di bagian atas lahan irigasi.
Ada keterbatasan sumber air dari irigasi hingga ada penggiliran sebelum ada aktivitas tanam. Sementara, air untuk lahan pabrik dan perkebunan tebu MSM gunakan mata air Mbula yang mengalir langsung ke laut.
“Air ini yang dimanfaatkan oleh perusahaan dengan menampungnya di embung yang ada di sekitar pabrik. Memang berkesan bahwa air itu yang ditahan dan dialirkan ke embung,” katanya.
Perusahaan, katanya, juga membuat semacam bantalan di atas air yang masuk ke badan sungai yang menjadi sumber air irigasi itu. Saat musim hujan air itu mereka pompa masuk ke embung.
“Ini memang salah satu strategi secara teknik yang mereka harus lakukan dengan cara menampung air pada saat air berlebihan.”
Karena itu, katanya, perusahaan bangun embung-embung raksasa di sekitar perkebunan untuk penampung air saat berlebihan, bukan air irigasi yang mereka belokkan masuk ke lahan perkebunan.
MSM membangun tiga embung dan warga menuding mereka sering mengambil air dari Kali Wanga untuk menyiram tebu perusahaan.
“Dari dulu kita sudah melihat aktivitas sawah di Wanga memang tidak bisa dimanfaatkan semua saat musim kemarau,” ucap Umbu Lili.
Apa kata perusahaan?
Aditia Insani, Corporate Communication MSM kepada Mongabay, Oktober lalu mengatakan, perusahaan memahami kekhawatiran masyarakat atas kekeringan di Sumba Timur yang berdampak pada kekurangan air pada lahan pertanian atau sawah masyarakat.
Hal ini, katanya, menjadi kesadaran perusahaan sebelum membangun kebun di Sumba Timur. Mereka yakin masalah air jadi krusial di sana.
Sebelum membangun kebun, MSM telah melakukan studi teknis dan kajian lingkungan. Termasuk analisis dampak ketersediaan air, tanpa mengganggu ketersediaan air masyarakat.
“Kami membangun embung di sekitar area perkebunan, serta menerapkan berbagai inisiatif pengelolaan sumber daya air secara terbatas,” ucapnya.
Teknik ini, mereka kerjakan dengan memanfaatkan penampungan air hujan serta aliran sungai pada saat musim hujan. Lalu memanfaatkannya secara terbatas untuk penyiraman air di musim kemarau.
Dia bilang, MSM berkomitmen menjaga keseimbangan dan pelestarian lingkungan. Mereka pun aktif melakukan pengayaan tanaman (enrichment) di Sumba Timur melalui kolaborasi bersama pemerintah dan masyarakat, baik di lokasi internal maupun di sekitar area operasional.
“Investasi di Sumba Timur ini secara perhitungan ekonomis cukup penuh dengan tantangan iklim dan kondisi lahan yang membutuhkan upaya ekstra.”
*****
Tahun Ini, Sebagian Persawahan di Rawa Gambut Sumsel Terancam Gagal Panen