Mongabay.co.id

Belajar dari Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah

Kenderaan melewati jalan yang rusak akibat longsor di Pinto Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

  • Lubang raksasa seluas hampir tiga hektar merobek ladang kopi dan sawah warga di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh.
  • Jika sebelumnya jalan yang tergerus hanya 4 meter, kini telah mencapai panjang 175 meter. Jarak longsoran ke permukiman pun makin dekat. Kini tinggal 450 meter saja.
  • Berbeda dengan pemahaman publik sebelumnya yang menganggap fenomena di Aceh Tengah sebagai sinkhole, peneliti BRIN menegaskan bahwa yang terjadi ini adalah longsoran.
  • Selain karena faktor hujan dan jenis batuan, gempa bumi juga turut memperparah terjadinya longsoran. Gempa berkekuatan 6,2 Magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013, diduga memperlemah struktur lereng sehingga memicu ketidakstabilan yang semakin besar.

Lubang raksasa seluas hampir tiga hektar itu terus merangsek, merobek ladang kopi dan sawah warga di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh. Bahkan longsoran telah memakan jalan yang menjadi urat nadi warga. Kini jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total.

Warga tidak menyangka longsoran di lereng yang semula kecil pada 2010 lalu itu kini kian membesar. Longsoran terus bergerak ke utara, selatan dan tenggara. Menenggelamkan tanah garapan, mengancam kehidupan, dan menimbulkan rasa was-was.

Jika sebelumnya jalan yang tergerus hanya 4 meter, kini telah mencapai panjang 175 meter. Jarak longsoran ke permukiman pun makin dekat. Kini tinggal 450 meter saja. Warga pun meminta relokasi. Pemerintah dikabarkan tengah menyiapkan skemanya.

Berbeda dengan pemahaman publik sebelumnya yang menganggap fenomena di Aceh Tengah sebagai sinkhole, peneliti BRIN menegaskan bahwa yang terjadi ini adalah longsoran.

“Itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ungkap Adrin Tohari, dimuat di laman resmi BRIN, Jumat (20/2/2026). Dia adalah Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN.

Kenderaan melewati jalan yang rusak akibat bencana longsor yang terjadi akhir November 2025 di Pinto Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Lapisan tufa adalah lapisan batuan piroklastik yang terbentuk dari material vulkanik halus saat terjadi letusan gunung api. Abu ini kemudian mengendap dan mengeras. Menurut Adrin, secara geologi, kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole. Melainkan, endapan piroklastik hasil aktivitas Gunung Api Geureudong yang sudah tidak aktif. Karena material ini secara geologis masih muda dan belum mengalami pemadatan sempurna, sehingga rapuh dan gampang runtuh.

Adapun penyebab eksternalnya ada beberapa faktor. Hujan lebat sangat berkontribusi terhadap penyebab longsoran ini. Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air, sehingga kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh. Sementara, air permukaan saluran irigasi perkebunan turut meningkatkan percepatan longsoran.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” jelasnya. Beberapa video memperlihatkan air yang terus mengalir ke arah longsoran.

Dia juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah di batas antara lapisan aliran lahar di dasar tebing yang lebih padat dan batu tufa di atasnya yang rapuh. Penggerusan di bagian kaki lereng oleh air tanah dapat menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

Adrin menyebut bahwa kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah lain yang memiliki karakter geologi batuan gunung api muda. Masih seperti yang dimuat di laman itu, dia mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang, terkait aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera dengan karakter batuan serupa.

Selain karena faktor hujan dan jenis batuan, gempa bumi juga turut memperparah terjadinya longsoran. Gempa berkekuatan 6,2 Magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013, diduga memperlemah struktur lereng sehingga memicu ketidakstabilan yang semakin besar.

Gunung Geureudong merupakan gunung stratovulkano yang terletak di bagian utara Pulau Sumatera. Secara administratif, berada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Gunung setinggi 2.885 mdpl itu, tercatat pernah meletus 6 kali. Letusan terakhir yang terjadi pada 1937 lalu. Saat gempa 2013, dilaporkan aktivitasnya meningkat meski masih dinyatakan normal.

Perkampungan yang telah menjadi sungai di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Bahaya air

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menilai kejadian longsoran tanah itu memang menyerupai fenomena sinkhole. Namun, secara geologis memiliki karakteristik berbeda. Sinkhole umumnya terjadi di kawasan karst, dengan ciri-ciri tanah lempung, lanau (tanah lembut di antara pasir dan lempung), atau pasir lepas yang mudah tererosi dan mengalami pelarutan. Namun, di wilayah Aceh Tengah permukaannya didominasi tanah vulkanik yang lebih padat dan stabil.

Pada terjadinya sinkhole, air memegang peran besar dalam pembentukan rongga bawah tanah. Air bekerja dengan cara melarutkan mineral tertentu, berlangsung lama, sampai akhirnya membentuk rongga yang tidak mampu menopang beban di atasnya sehingga permukaan tanah runtuh.

Seperti diketahui, siklon Senyar yang melanda wilayah bagian barat Indonesia akhir2025, menyebabkan peningkatan curah hujan, termasuk di Aceh Tengah. Akibatnya, aliran air bawah tanah menjadi lebih aktif dan mempercepat pengikisan. Tanah yang semula stabil menjadi kehilangan daya dukungnya.

Badan Geologi mengingatkan bahwa fenomena seperti yang terjadi di Pondok Balek menunjukkan bahwa air tidak selalu bersifat konstruktif. Air yang berlebihan dan tidak terkontrol justru dapat menjadi sumber bencana.

Sawah di Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh, ini tertutup lumpur akibat banjir epanjang mata memandang. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Campur tangan manusia

Di lereng-lereng yang rapuh, kejadian tanah longsor, dan pergerakan tanah lambat (creeping) kerap berjalan seiring, bahkan dipercepat faktor antropogenik. Aktivitas manusia seperti pengelolaan air permukaan yang ceroboh atau irigasi berlebih, menjadi katalis yang memperlemah struktur geologi yang sudah rentan.

Fenomena ini bukan sekadar cerita tentang batuan dan air semata. Ia juga menjadi sinyal kuat kerusakan pada jaringan kehidupan di dalam tanah itu sendiri. Yaitu, struktur biologis yang selama ini menjaga kohesi dan stabilitas tanah melalui akar vegetasi, mikroorganisme, dan siklus air alami yang terganggu. Hal demikian dikatakan Misbakhul Munir, Dosen Biologi UINSA, Surabaya, dalam sebuah tulisan yang ditayangkan Antara, Senin (16/2/2026).

“Kekhawatiran publik sering berpusat pada risiko geologi. Tetapi apabila ditelaah dari perspektif biologi lingkungan, fenomena ini sesungguhnya merupakan indikator kerusakan serius pada struktur biologis tanah akibat campur tangan manusia,” jelas Misbakhul.

Sinkhole merupakan fenomena yang berpotensi terjadi di wilayah karst. Foto: Wikimedia Commons/Luis Fernández García/CC BY-SA 4.0

Tanpa vegetasi yang kuat atau bahan organik cukup, menurutnya, struktur tanah akan rapuh. Air hujan tidak terserap dengan baik, sehingga mempercepat erosi, sementara tanah kehilangan kemampuan untuk menahan tekanan dari luar, seperti hujan deras atau beban permukaan. Dalam kondisi seperti ini, tanah lebih mudah bergeser, longsor, atau amblas.

“Adanya mikroba tanah dan jamur membantu menciptakan perekat alami yang menstabilkan partikel tanah, sementara akar tanaman memperkuat struktur tanah secara mekanis. Keduanya, menjaga kohesi tanah dan membantu menyerap serta menyimpan air.”

Dia menyoroti ekstraksi air tanah di beberapa kota besar di Jawa seperti Bandung, Jakarta yang melebihi kemampuan alami akuifer untuk mengisi ulang. Akibatnya, terjadi penurunan muka air tanah yang diikuti amblasnya permukaan tanah. Jika air yang ikut menjadi penyangga tanah ditarik berlebih, maka rongga tanah dapat runtuh dan memicu sinkhole. Saat kohesi partikel tanah turun drastis, tanah rentan mengalami creeping yang bisa menyebabkan kerusakan infrastruktur.

Penyebab tidak stabilnya tanah bisa juga disebabkan deforestasi dan alih fungsi lahan. Ketika hutan ditebang dan lahan dialihkan untuk peruntukan lain, peran vegetasi sebagai penyangga biologis tanah akan hilang. Populasi mikroba pembentuk agregat tanah pun menurun drastis. Tanah yang kehilangan komponen biologis, kurang mampu menahan tekanan eksternal dan rentan terhadap kerusakan struktural.

Alih fungsi lahan untuk pertanian multikultur, misalnya, juga mengubah sifat fisik dan kimia tanah. Kemampuan tanah untuk menyerap air dan mempertahankan kohesinya berkurang.

Dia juga merespons ulah manusia. Retak pelan, amblas tiba-tiba, dan longsor tak kenal ampun, apakah itu peristiwa geologi biasa? Boleh jadi sebagai balasan Bumi yang telah dilukai terlalu dalam.

 

*****

 

Bagaimana Fenomena Sinkhole Muncul di Indonesia?

Exit mobile version