Mongabay.co.id

Paus Paruh Longman, Jenis Langka yang Terpantau di Laut Sulawesi

  • Paus paruh Longman (Indopacetus pacificus) menjadi satu dari 14 megafauna laut yang berhasil dideteksi tim peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat melakukan ekspedisi di laut Sulawesi bersama kapal OceanX, akhir Januari 2026.
  • Paus yang juga dikenal dengan nama paus hidung botol tropis atau paus paruh indo pasifik itu dikenal langka dan paling sedikit diketahui keberadaannya. Terlebih, karena mereka terbiasa hidup di perairan hangat dan dalam.
  • Saking langka dan sedikit publikasi, spesies tersebut diketahui baru bisa dideskripsikan melalui dua tengkoraknya yang ditemukan di pantai. Pada 1882 di Australia oleh HA Longman yang namanya kemudian disematkan pada 1926, dan 1955 di Afrika.
  • Paus Longman sudah mendapatkan perlindungan penuh dari Pemerintah Indonesia sejak 2025 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi.

Nama paus paruh Longman (Indopacetus pacificus) menjadi satu dari 14 megafauna laut yang berhasil dideteksi tim peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat melakukan ekspedisi di laut Sulawesi bersama kapal OceanX, akhir Januari 2026.

Mamalia laut tersebut termasuk langka dan belum banyak dieksplorasi secara fisik maupun ilmiah. Kemunculannya masih sangat sedikit di seluruh dunia.

Dibandingkan dengan keluarga paus berparuh lain, paus yang juga dikenal dengan nama paus hidung botol tropis atau paus paruh indo pasifik itu dikenal langka dan paling sedikit diketahui. Terlebih, karena mereka terbiasa hidup di perairan hangat, dalam, dan pelagis di wilayah tropis dan subtropis di Samudera Hindia dan Pasifik.

Saking langka dan sedikit publikasi, spesies tersebut diketahui baru bisa dideskripsikan melalui dua tengkoraknya yang ditemukan di pantai. Pada 1882 di Australia oleh HA Longman yang namanya kemudian disematkan pada 1926, dan 1955 di Afrika.

Sekar Mira, Peneliti Mamalia Laut BRIN, menuturkan fisik paus paruh Longman memang lebih besar dari paus berparuh lain yang ada sekarang.

“Jadi, ia bermoncong dan ada melon, yaitu jaringan lemak di kepala. Itu adalah lumba-lumba. Lalu, sirip dorsalnya lebih ke belakang, sementara lumba-lumba ada di tengah tubuh,” jelasnya kepada Mongabay, Rabu (11/3/2026).

Paus paruh Longman sudah mendapatkan perlindungan penuh dari Pemerintah Indonesia sejak 2025 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi.

Sayangnya, perlindungan tersebut belum lengkap, karena tidak ada bukti kehadirannya. “Secara hukum sudah masuk perlindungan, namun evidence belum. Jadi tugas kami adalah memberikan dukungan bukti yang dibutuhkan itu,” jelasnya.

Jenis ini sempat terdampar di Bali, namun tidak terekam secara ilmiah karena dilepaskan ke laut. Itu kenapa, peristiwa tersebut belum bisa menjadi bagian bukti ilmiah. Tanpa ada bukti langsung, Indonesia dan negara lain menemui kesulitan untuk melakukan eksplorasi ataupun penelitian lebih lanjut. Selain butuh teknologi sangat tinggi, diperlukan juga biaya sangat besar untuk melakukannya.

“Makanya, kami harus bisa memanfaatkan dengan baik saat ada kesempatan eksplorasi bersama OceanX.”

Sekar Mira tetap memastikan kembali jika mamalia laut yang diabadikan melalui foto dan video saat di laut Sulawesi adalah paus paruh Longman. Dia masih menunggu konfirmasi dari pakar taksonomi untuk meyakinkan bahwa itu memang benar spesies yang sama.

Paus paruh Longman merupakan jenis langka yang sulit terpau ehadirannya. Foto: NOAA Fisheries/Domain Publik

Misteri

Sebagai spesies yang jarang mendapat sorotan ilmuwan dunia, paus paruh Longman masih menjadi misteri di laut dalam yang mencapai ratusan meter. Mamalia laut itu juga menyukai perairan yang sepi dan jauh aktivitas manusia.

Kawasan perairan yang menjadi favoritnya adalah laut lepas yang jaraknya 200 mil laut dari garis pantai. Laut lepas merupakan wilayah laut internasional yang tidak termasuk dalam yurisdiksi, kedaulatan, atau Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara mana pun.

Selain Jepang, berdasarkan data NOAA Fisheries, negara lain yang pernah didatangi paus paruh Longman adalah pantai Afrika seperti Kenya, Somalia, dan Afrika Selatan. Lalu, ada juga Australia, Maladewa, Filipina, dan Sri Lanka.

Di alam, mereka hidup berkelompok antara 10-20 individu, bahkan mencapai 100 individu. Tetapi, jumlahnya Samudra Hindia bagian barat diketahui sedikit.

Itu kenapa, saat di alam mereka bergabung dengan mamalia laut lain, seperti paus pilot, lumba-lumba spinner, atau lumba-lumba hidung botol. Tujuannya, agar menjadi kelompok besar, walau beda spesies.

Sekar menambahkan, spesies itu tidak diketahui perkiraan populasinya di seluruh dunia. Kondisi ini berlaku global, bukan di satu negara saja. Perairan Kepulauan Hawaii di Amerika Serikat menjadi lokasi paling banyak ditemukan jenis ini.

Namun, temuan itu tak mengartikan kalau paus tersebut tidak ditemukan di perairan lain. Sebaliknya, ada banyak perairan lain di dunia yang diduga kuat menjadi jalur migrasinya, satunya adalah perairan laut dalam Indonesia.

Penampakan kawanan paus di perairan Sulawesi. Foto: Ocean-X

Warna

Jika bisa melihat langsung, rupa paus paruh Longman tampak abu-abu gelap, perunggu, cokelat, atau hijau kekuningan gelap (zaitun) dari lubang hidung, mata, punggung, dan garis wajah.

Pada bagian melon antara leher dan perutnya, warna yang tergambar adalah krem atau lebih terang. Sementara, pada sirip atas berwarna gelap dan bawah terang, ekor bagian atas gelap, dan bawah bergaris terang.

Seperti halnya mamalia laut lain, paus ini menghadapi ancaman dari aktivitas penangkapan ikan, alat penangkapan ikan (API), dan kebisingan yang disebabkan manusia. Atau, mereka juga bisa menjadi tangkapan sampingan seperti yang terjadi di Sri Lanka.

Merukuk MarineBio, beratnya bisa mencapai 2.200-3.600 kilogram (kg), dengan jantan lebih ringan dari betina. Sementara, panjang tubuhnya mencapai 6,5 meter, dan khusus jantan bisa mencapai 7,7 meter.

The International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan paus paruh Longman dengan status Least Concern (LC) atau Risiko Rendah. Itu adalah kategori Daftar Merah untuk spesies yang telah dievaluasi tetapi tidak terancam punah.

Sementara, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) menetapkan statusnya Appendix II. Artinya, paus ini tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

 

*****

 

Riset BRIN dan Ocean-X Temukan Belasan Megafauna di Laut Sulawesi

Exit mobile version