Lambang Negara Indonesia, Garuda adalah burung mitologi perkasa, yang tercatat dalam kitab atau manuskrip kuno. Sebut saja, dalam Kitab Adiparwa. Dalam kehidupan nyata, Garuda ada pada burung elang jawa (Nisaetus bartelsi).
Sesuai namanya, elang jawa endemik Pulau Jawa. Berdasarkan IUCN, statusnya Genting (Endangered/EN) atau dua langkah menju kepunahan di alam liar.
Meski sebarannya hanya ada di Pulau Jawa, tetapi elang jawa juga ditemukan di Pulau Bali. Untuk kasus ini masih diteliti, apakah elang tersebut memang terbang sendirinya, atau sengaja dilepaskan.
Donan Satria Yudha, dosen satwa liar dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, mengatakan, satu penyebab kelangkaan elang jawa adalah hilangnya habitat. Syarat habitatnya sangat spesifik, sehingga tidak semua area pegunungan atau perbukitan di Jawa memenuhi kriteria tersebut.
“Habitat elang jawa harus memenuhi unsur hutan hujan tropis dengan heterogenitas tinggi serta adanya pohon menjulang tinggi (emergent tree). Dengan begitu, ketersediaan mangsa cukup banyak,” jelasnya, dikutip dari situs UGM, Senin (19/1/2026).
Wardi Septiana, Kepala Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), pada pelepasan dua elang jawa di Bumi Pekemahan Sukamantri, Bogor, Jawa Barat, mengatakan sebaran elang jawa hanya di Jawa, hal yang berbeda dengan jenis elang lainnya.
“Pola perkembangbiakannya yang hanya bertelur dua tahun sekali, membuat peluang keberhasilannya cukup riskan. Selain itu, predator yang memangsa anakannya seperti musang, kerap terlihat,” jelasnya kepada Mongabay, Kamis (26/2/2026).
Berita baiknya, keberadaan elang jawa mengalami peningkatan. Waldi menambahkan, pada 2010 terdapat 300 – 500 individu. Perkembangan terbaru, ditemukan beberapa habitat baru, dan setelah diteliti jumlahnya sekitar 523 pasang.
“Keberadaanya diharapkan bisa lebih banyak dan harapannya status bisa turun.”
Dua elang jawa yang dilepaskan ini adalah jantan dan betina. Jantan bernama Satriya Angkasa, usia dua tahun dan betina bernama Srikandi Langit, usia 3 tahun. Proses rehabilitasi elang jawa hingga ideal dilepasliarkan minimal 6 bulan, dengan perlakuan khusus. Ini dikarenakan, elang hasil sitaan atau yang diserahkan masyarakat ke suaka elang terkadang obesitas, beratnya bisa mencapai 3,4 kg. Padahal, berat normal sekitar 1,5 kg.
Satu penyebab punahnya elang jawa adalah perdagangan ilegal, yang ironisnya harganya cukup murah bila dibandingkan dengan burung kicau. Ini dikarenakan, kepemilikan elang jawa hanya dianggap sebagai simbol kebanggan saja.
*****