Hari: 15 Februari 2026

  • Rangkong dan Masa Depan Hutan Kalimantan Selatan

    Rangkong dan Masa Depan Hutan Kalimantan Selatan

    Sejak pagi, Ikhsan Effendi, Imam Riyanto, dan Fahmi Rijali bersiaga dengan kamera. Mereka merupakan fotografer satwa liar yang telah membuat buku “121 Jenis Burung di Kawasan Taman Hutan Raya Sultan Adam.” Tujuan mereka kali ini adalah memotret burung rangkong di hutan konservasi, di Kalimantan Selatan (Kalsel).

    Setelah lama menunggu, terlihat seekor enggang cula (Buceros rhinoceros) bertengger di pohon. “Rangkong sangat sensitif,” ujar Ikhsan setengah berbisik, sembari menunjukkan hasil jepretannya, pertengahan Januari 2026.

    Sejauh ini, ketiganya telah memotret julang jambul-hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus), kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris), julang emas (Rhyticeros undulatus), serta enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

    Pohon-pohon tinggi merupakan tempat hidup rangkong, mulai bersarang  hingga mencari pakan. “Hilangnya pepohonan akibat aktivitas manusia, baik dari sektor perkebunan monokultur maupun pertambangan, membuat kehidupan rangkong terdesak,” ujar Imam.

    Rangkong merupakan burung yang masuk dalam keluarga Bucerotidae (julang, enggang, dan kangkareng)yang ditandai dengan ukuran tubuhnya dari 65 cm hingga 170 cm. Beratnya juga bervariasi, dari 290 hingga 4.200 gram. Paruhnya panjang dan ringan dengan kepakan sayap yang terdengar keras. Rangkong pun tersebar di Afrika, Asia wilayah tropis, serta Indonesia dan Papua Nugini.

    Enggang cula (Buceros rhinoceros) bertengger di hutan Kalimantan Selatan. Foto: Ikhsan Effendi

    Merujuk data Map Biomas Indonesia, dari total luas wilayah Kalimantan Selatan sekitar 3,87 juta hektar pada 2024, tutupan hutannya diperkirakan sekitar 1,789 juta hektar atau 45,2 persen. Tutupan tumbuhan non-hutan mencapai 1,644 juta hektar atau 41,6 persen, sementara kawasan non-vegetasi seluas 453 ribu hektar atau 11,5 persen.

    Bila melihat data Global Forest Watch (GFW), sepanjang 2001-2024, Kalsel kehilangan sekitar 96 ribu hektar hutan primer basah. Angka ini, menyumbang 10 persen dari total kehilangan tutupan pohon hingga menyebabkan luas hutan primer basah menyusut sampai 13 persen, dibandingkan kondisi awal.

    Batang kayu tumbang di alur sungai kecil di dalam kawasan hutan Kalsel. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia

    Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono, Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan, mengatakan foto menjadi ingatan penting bahwa satwa liar bertahan hidup meskipun menghadapi tekanan dari kerusakan lingkungan.

    “Dokumentasi menjadi peringatan kita semua untuk menghentikan segala kegiatan merusak hutan,” jelasnya pertengahan Januari 2026.

    Berdasarkan data Walhi Kalsel, sekitar 51,57 persen dari total 3,7 juta hektar luas wilayah provinsi ini sudah terbebani berbagai izin usaha. Rinciannya, perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) seluas 722.895 hektar, izin usaha pertambangan (IUP) 559.080 hektar, serta hak guna usaha (HGU) yang mayoritas perkebunan sawit seluas 645.612 hektar.

    “Melindungi rangkong berarti menjaga hutan. Menjaga hutan artinya, menjaga masa depan kehidupan seluruh makhluk hidup di Kalimantan Selatan,” jelasnya.

    Beberapa jenis rangkong yang berhasil diabadikan dari hutan hujan tropis Kalimantan Selatan. Foto: Ikhsan Effendi.

    Perburuan Liar

    Selain alih fungsi lahan, perburuan liar juga menjadi ancaman kelangsungan hidup rangkong.

    Pada 28 Oktober 2025 lalu, aparat penegak hukum di Kalimantan Selatan mengungkap kasus perdagangan 1.930 bagian tubuh satwa liar dilindungi. Dari jumlah tersebut, terdapat 5 paruh julang emas beserta 621 lembar bulunya, 4 paruh rangkong gading, 3 paruh rangkong badak, dan 1 tengkorak kangkareng hitam.

    Pengungkapan dilakukan di pusat perbelanjaan moderen Kabupaten Banjar, Kalsel. Pemilik berinisial HA, mengakui seluruh barang miliknya dan sudah diperjualbelikan sejak 2023 dengan membeli dari seseorang berinisial A. Barang tersebut, berasal dari berbagai daerah termasuk kawasan pegunungan Meratus. Saat ini, HA dikenakan penahanan rumah sembari menunggu putusan pengadilan.

    Atas perbuatannya, pelaku diancam Pasal 40A ayat (1) huruf f jo Pasal 21 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, atau Pasal 480 KUHP tentang penadahan.

    “Menjalani sidang dengan tahanan rumah. Sidang sudah berjalan saat ini, sidang ketiga,” ujar Radityo Wisnu, Pejabat Sementara Seksi Pengelolaan Barang Bukti dan Barang Rampasan Kejaksaan Negeri Martapura, Selasa (20/1/2026).

    Radityo menjelaskan, untuk menghindari agar tidak disalahgunakan, seluruh barang bukti kemungkinan besar akan dimusnahkan.

    “Pemusnahan massal dengan barang bukti lain dilakukan jika sudah inkracht.”

    Barang bukti berupa paruh rangkong yang disita di Kejaksaan Negeri Martapura dalam pengungkapan kasus perdagangan bagian tubuh satwa dilindungi di Kalimantan Selatan. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia

    Sebaran rangkong

    Yokyok Hadiprakarsa, konservasionis dari Rangkong Indonesia, menejelaskan bahwa bukan hal mustahil jika rangkong memasuki habitat yang sebelumnya tidak tercatat sebagai wilayah sebaran. Sebab, sebagian rangkong yang memiliki ukuran tubuh lebih besar, memiliki daya jelajah sangat jauh. Bahkan mampu menyeberang antarpulau, seperti dari Lampung ke Jawa serta dari Jawa Timur ke Bali.

    Dari 62 jenis rangkong di dunia, genus Rhyticeros memiliki sebaran paling luas, mulai dari India hingga Kepulauan Marshal di Samudra Pasifik.

    “Rangkong dikenal sebagai spesies nomadik yang mampu terbang tinggi dan menjelajah jauh. Diperkirakan, genus Rhyticeros dapat bermigrasi dari Thailand bagian utara hingga ke Semenanjung Malaysia dengan jarak mencapai ribuan kilometer,” jelasnya, Sabtu (7/2/2026).

    Membayangkan Kalimantan Selatan 20–30 tahun lalu yang masih hijau, rangkong dapat terbang bebas ke berbagai wilayah. Namun kini keterbatasan wilayah akibat fragmentasi yang menyisakan petak-petak hutan, akan berdampak pada perebutan sumber pakan dan lubang sarang.

    “Rangkong bertubuh kecil seperti kangkareng yang bersifat teritorial, sangat rentan terhadap fragmentasi hutan. Kondisi ini dapat berdampak pada kepunahan lokal.”

    Terkait sarang, Yoki panggilannya, menekankan hal yang perlu dipahami masyarakat.

    “Rangkong tidak membuat sarang.”

    Kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris). Foto: Rangkong Indonesia/Riki Rahmansyah

    Di Indonesia, terdapat 13 jenis rangkong yang semuanya memanfaatkan lubang alami pada batang pohon, sebagai sarang. Pohon yang digunakan umumnya berasal dari kelompok dipterokarpa, seperti meranti dan kerabatnya, yang juga memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga rentan ditebang. Lubang alami sarang, umumnya berdiameter lebih dari 40 sentimeter.

    Sebagai gambaran, dalam 1.000 hektar hutan dengan sekitar 1.000 pohon berdiameter di atas 40 sentimeter, kemungkinan hanya 10 persen yang memiliki lubang alami untuk rangkong bersarang.

    “Selain fragmentasi hutan yang menyusutkan sumber pakan, terjadi pula perebutan lubang sarang alami.”

    Lalu bagaimana rangkong gading yang jarang ditemui di Kalsel? Yoki menjelaskan, spesies ini merupakan lowland forest specialist, penghuni khusus hutan dataran rendah di bawah 1.000 m dpl. Dari 13 jenis rangkong di Indonesia, rangkong gading yang memiliki kebutuhan habitat sangat spesifik. Sebab, untuk bersarang saja, jenis ini memerlukan pohon berdiameter di atas satu meter.

    “Apakah masih ada di Kalimantan Selatan? Catatan perjumpaan pernah dilakukan pada 1970-an, karena saat itu kondisi hutan masih baik.”

    Sebagai pemakan buah, rangkong menelan buah secara utuh, lalu mengeluarkan kembali bijinya melalui muntahan atau kotoran, sehingga membantu perkecambahan, sekaligus penyebaran tumbuhan baru di berbagai lokasi. Peran ekologis rangkong sangat penting meregenerasi hutan secara alami.

    “Jadi, rangkong dikenal sebagai arsitek hutan tropis,” ujarnya. Melalui penyebaran biji tersebut, hutan yang rusak dapat pulih secara alami tanpa biaya besar.

    Yoki juga menyebut rangkong sebagai “pahlawan karbon” penjaga utama kesehatan hutan tropis.

    “Kalau diibaratkan seperti film Marvel, rangkong adalah pahlawan karbon sekaligus penjaga utama kesehatan hutan tropis,” paparnya.

     

    *****

     

    Nasib Kelam Rangkong, Antara Perburuan dan Jasa yang Terlupakan

  • Kostensuchus atrox: Buaya Raksasa Pemangsa Dinosaurus dari Ujung Selatan Benua Amerika

    Kostensuchus atrox: Buaya Raksasa Pemangsa Dinosaurus dari Ujung Selatan Benua Amerika

    Sekitar 70 juta tahun yang lalu, bentang alam di ujung selatan benua Amerika merupakan dunia yang sangat berbeda. Hutan purba, rawa, dan sungai melintasi daratan yang kala itu masih menjadi bagian dari superkontinen Gondwana. Di kawasan ini, dinosaurus berbagai bentuk dan ukuran berkeliaran. Ada titanosaurus raksasa pemakan tumbuhan hingga theropoda predator seperti Maip macrothorax. Kehidupan kala itu menampilkan ekosistem yang kompleks dan penuh persaingan.

    Dinosaurus bukanlah satu-satunya penguasa daratan. Seekor buaya purba dengan rahang bergigi tajam juga mengintai di antara vegetasi dan tepian sungai. Predator ini menempati posisi penting dalam rantai makanan. Dengan tubuh besar, gigi bergerigi, dan rahang bertenaga, ia mampu menaklukkan mangsa yang tak kalah besar. Spesies itu kini dikenal sebagai Kostensuchus atrox.

    Fosil Kostensuchus atrox ditemukan dalam kondisi relatif utuh di Formasi Chorrillo, wilayah Patagonia, Argentina. Lokasi di ujung selatan ini dikenal sebagai ladang emas paleontologi karena menyimpan banyak jejak kehidupan akhir Kapur. Tim paleontologi yang dipimpin Fernando Novas berhasil mengangkat fosil berupa tengkorak, rahang bawah, serta bagian kerangka tubuh.

    Temuan ini luar biasa karena biasanya anggota kelompok peirosauridae hanya dikenal dari sisa fosil terfragmentasi. Nama Kostensuchus atrox dipilih dengan penuh makna. Kosten berasal dari bahasa Tehuelche yang merujuk pada angin kencang khas wilayah selatan. Suchus mengacu pada dewa buaya Mesir, Sobek. Sementara itu, atrox berarti ganas atau kejam dalam bahasa Latin. Nama tersebut menegaskan ciri morfologi predator darat tangguh dengan rahang besar yang siap merobek mangsanya. Kawasan selatan di akhir Kapur bukan hanya dunia dinosaurus. Wilayah ini adalah panggung bagi predator lain yang tak kalah mematikan.

    Anatomi Sang Spesialis Hiperkarnivori

    Dari hasil rekonstruksi, Kostensuchus atrox diperkirakan mencapai panjang sekitar 3,5 meter dengan berat 250 kilogram. Ukuran ini memang tidak sebesar buaya purba raksasa seperti Sarcosuchus imperator dari Afrika. Namun, dimensi tersebut cukup besar untuk mendominasi ekosistem darat di ujung selatan. Tengkoraknya memperlihatkan ciri khas hewan pemangsa yang sangat teradaptasi. Moncongnya tinggi dan kokoh dengan gigi ziphodont yang tajam dan melengkung seperti gergaji.

    Analisis anatomi menunjukkan bahwa spesies ini adalah seorang hypercarnivore. Hal ini berarti ia hampir sepenuhnya bergantung pada daging sebagai sumber energi. Rahang K. atrox dilengkapi otot-otot besar yang memberi kekuatan gigitan mematikan. Dengan senjata alami tersebut, ia bisa menaklukkan berbagai jenis mangsa termasuk dinosaurus berukuran sedang. Keberadaannya membuktikan bahwa evolusi buaya purba mampu menghasilkan mesin pembunuh yang setara dengan theropoda kecil.

    Foto detail memperlihatkan bagian tengkorak di area antorbital (A) dan rostrum dengan deretan gigi bergerigi tajam (B). Struktur ini menegaskan kemampuan K. atrox sebagai predator darat dengan rahang kuat yang mampu merobek daging dinosaurus berukuran sedang di ekosistem Patagonia akhir Kapur.Sumber: PLOS ONE, 2025.

    Berbeda dengan buaya modern, K. atrox justru lebih aktif berburu di darat. Posisi tungkai yang tegak di bawah tubuh menunjukkan kemampuan bergerak dengan cekatan. Hal ini kontras dengan buaya masa kini yang biasanya mengandalkan strategi serangan mendadak dari air. K. atrox diduga menunggu di daratan untuk mengintai hadrosaurus muda atau titanosaurus kecil yang berkeliaran di tepi hutan. Adaptasi darat ini memberi K. atrox posisi unik dalam ekosistem Formasi Chorrillo. Ia tidak perlu bersaing langsung dengan predator akuatik.

    Persaingan Predator di Akhir Zaman Kapur

    Formasi Chorrillo menyimpan gambaran detail tentang ekosistem menjelang akhir Zaman Kapur. Fosil yang ditemukan tidak hanya berupa reptil besar. Ada pula serbuk sari tumbuhan, kura-kura, katak, hingga mamalia kecil. Semua temuan itu memberikan potret ekosistem yang berlapis. Predator dan mangsa hidup berdampingan dalam jaringan makanan yang kompleks.

    Di tengah keanekaragaman itu, dinosaurus tetap menjadi aktor utama. Titanosaurus raksasa menjelajahi dataran terbuka. Hadrosaurus pemakan tumbuhan bergerak dalam kawanan besar. Namun, di bawah bayang-bayang predator raksasa seperti Maip, K. atrox muncul sebagai pesaing tangguh. Ia mengisi posisi ekologis sebagai pemburu menengah yang sangat efektif.

    Lokasi Patagonia di ujung selatan Amerika Selatan. Titik hijau menandai wilayah dekat El Calafate, Argentina, tempat fosil Kostensuchus atrox ditemukan. Posisi geografisnya menunjukkan betapa dekat kawasan tersebut dengan Antarktika, menjadikan Patagonia salah satu area kunci dalam studi ekosistem akhir Kapur. | Foto Google Earth

    Jika predator besar memburu mangsa raksasa dengan strategi tertentu, K. atrox kemungkinan mengandalkan kombinasi kecepatan dan kekuatan rahang untuk membunuh mangsa dengan cepat. Hadrosaurus muda atau dinosaurus herbivora lain yang menjauh dari kawanan bisa dengan mudah menjadi santapannya. Ekosistem Formasi Chorrillo memperlihatkan struktur predator yang berlapis. Kehadiran Kostensuchus atrox memberi wawasan tentang dinamika ekologi akhir Kapur di ujung selatan benua Amerika.

    Bagi dunia sains, penemuan ini merupakan terobosan besar. Untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukan rangka buaya purba jenis ini yang relatif lengkap. Sebelumnya, kelompok buaya Gondwana lebih sering dikenal hanya lewat potongan rahang yang terpisah. Fosil ini membuka tabir tentang sosok predator yang lebih utuh. Temuan ini juga memperlihatkan jalur evolusi yang unik. Banyak kerabat buaya purba berukuran kecil, tetapi K. atrox justru tumbuh lebih besar untuk mengambil peran sebagai predator darat yang tangguh.

  • Cerita Komunitas Muda di Jember Berupaya Atasi Masalah Sampah

    Cerita Komunitas Muda di Jember Berupaya Atasi Masalah Sampah

    Syazwan Luftan Riady hampir selalu habiskan liburan sekolah di rumah neneknya di salah satu desa di Kecamatan Tempurejo, Jember, Jawa Timur. Satu waktu, saat masih duduk di Kelas 6 SD, dia saksikan langsung anak seusianya membuang sampah di sungai.

    “Nak, segera buang sampah itu ke sungai. Keranjangnya sudah penuh,” katanya mencontohkan kata-kata orangtua untuk buang sampah di sungai.

    Pemandangan itu kerap dia lihat dan terekam di kepala. Syzwan protes dengan kondisi itu. Dia dan kawan-kawannya gemar berjalan di bantaran sungai lalu menelusuri sampah (trash walk) di sepanjang jalan itu. Kegiatan itu mereka lakukan sejak dia masih duduk di kelas 6 SD.

    Belakangan, dia lalu menggagas Komunitas Wiskomunalian yang mengurus sampah dengan konsep reduce, reuse & recycle.

    Giatnya fokus melakukan pada penyelesaian masalah lingkungan, seperti pencemaran sungai karena sampah dan pemberdayaan anak muda di Jember.

    Gerakan itu, katanya, karena dorongan ilmu yang dia dapat di Sekolah Alam Raya, yang mengajari tentang kesadaran lingkungan. Sekolah ini merupakan organisasi yang berdiri supaya generasi muda peduli dan mengambil aksi nyata terhadap krisis iklim.

    Hasil trash walk, pun dia jadikan bahan pembuatan ecobrick. Produk itu tak berjalan lama, karena mereka harus mencuci bersih sampah plastik dan botol bekas yang mereka temukan itu.

    “Namun susur sampah itu tetap berjalan dari waktu ke waktu, tapi sampahnya kami tumpuk lalu dialihkan ke tempat penampungan terdekat untuk diangkut ke TPA.”

    Wiskomunalian, katanya, merupakan istilah yang terdiri dari dua kata, wisdom (kebijaksanaan) dan communal (bersama). Dia poles jadi wiskomunalian yang berarti ingin bijaksana bersama dalam urusan persampahan.

    Sebab, katanya, urusan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

    “Nama itu muncul sebelum nerima penghargaan Ashoka Young Changemaker, baru muncul tahun 2019-an,” ucap penerima penghargaan Ashoka Young Changemaker (AYC) 2021 dan Pemimpin Muda untuk Iklim dari Teens Go Green ID itu.

    Aksi Wisstore di Alun-alun Jember. Foto: Dokumentasi Wiskomunalian.

    Penyuluhan di sekolah

    Seiring waktu, Wiskomunalian tidak hanya telusuri sampah di sungai dan persawahan. Mereka pun kampanye lingkungan ke sekolah-sekolah.

    Luftan tidak ingat berapa sekolah yang sudah dia sambangi. Yang jelas, kegiatan itu berlanjut sampai SMA. Mereka mulai dengan memberikan pengantar ke pihak sekolah, menceritakan profil kelompok, fokus, metode yang mereka pakai, sampai tujuan yang ingin mereka capai.

    “Yaitu menyadarkan teman-teman soal lingkungan, khususnya isu sampah dengan konsep Reduce, Reuse & Recycle,” ucap Mahasiswa Semester 4 Universitas Brawijaya itu

    Di jenjang sekolah dasar, Wiskomunalian  memakai metode belajar sambil bermain, seperti adu cepat pilah sampah. Untuk tingkat SMP dan SMA, memakai metode reflektif yang menyuguhkan gambar atau cerita, lalu siswa boleh menggambar situasi yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Baik itu tempat tinggal atau sekolah.

    Selain itu, dia juga sering ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Pakusari, Jember. Kegiatan itu dia lakukan bersama tim Wiskomunalian guna mendata sampah, berbincang dengan petugas, dan pemulung di sana.

    Di sana, dia menemukan fakta sampah-sampah itu tercampur dari sampah basah dan kering.

    “Kalau melihat di beberapa titik, Jember itu sudah sedia tempat sampah yang terpisah, antara yang organik dan anorganik. Tapi ketika ke TPA, sampah itu nyampur. Jadi kami mikir, itu kan percuma dipisah, tapi akhirnya tercampur.”

    Sisi lain, dia menemukan tempat sampah yang memang tidak memisahkan kedua sampah itu. Misal, di depan rumah-rumah warga, gang, atau depan ruang instansi. Kedua jenis sampah ini tercampur dari titik pengumpulan pertama, sehingga tidak heran petugas langsung mengangkutnya ke TPA dalam kondisi tercampur.

    Sementara,  TPA Pakusari sudah overload. “Kondisi ini perlu evaluasi bersama.”

    Edukasi Wiskomunalian di Sekolah. Foto: Dokumentasi Wiskomunalian.

    Kelola pakaian bekas

    Wiskomunalian memiliki program Wisstore yang bertujuan menggalang dana untuk kegiatan komunitas. Di sini, mereka mengelola baju bekas lalu menjualnya dengan harga terjangkau.

    Luftan bilang, kegiatannya bukan hanya soal uang, lebih jauh, merupakan gerakan yang mengadvokasi kekuatan daur dan guna ulang.

    Melalui kampanye itu, mereka ingatkan kesadaran tentang bahaya konsumsi berlebihan, mengumpulkan pakaian yang tak terpakai, dan memberikan kehidupan kedua dengan menjualnya kembali di ruang publik.

    “Wisstore hadir untuk mengurangi sampah tekstil. Karena 20% dari polusi air di seluruh dunia karena industri tekstil, salah satunya pakaian.”

    Anggota Wiskomunalian yang duduk di bangku SMP yang menjalankan program ini. Mereka pakai pola donasi. Pakaian akan mereka jemput atau tunggu pengiriman dari donatur.

    Selanjutnya, mereka rapikan pakain itu dan jual di area Car Free Day. Harganya mulai dari Rp5.000 – Rp100.000.

    “Perhari ini, WISTORE berhasil mengumpulkan hampir 20 jutaan. Hasilnya digunakan untuk aksi lingkungan.”

    Aksi Wisstore jualan baju bekas untuk penggalanan dana dan edukasi pengurangan emisi industri tekstil. Dokumentasi: Wiskomunalian.

    Gerakan bersama

    Menurut Luftan, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan satu komunitas atau gerakan tetapi harus ada kolaborasi dengan kelompok lain.

    Karena itu, dia minta Pemerintah Jember mencari solusi yang variatif masalah persampahan. Salah satunya, dengan menggabungkan gerakan yang lahir secara organik dan mendukungnya dengan pola sistemik.

    “TIdak perlu bentuk peraturan daerah, bentuk imbauan pun bisa. Syukur-sukur, bisa diatur dalam Perda.”

    Dia contohkan,  pengelolaan sampah organik, baik skala rumahan, lembaga sampai hotel, harus bisa menggandeng komunitas yang bergerak di bidang sampah organik. Contoh, dengan komunitas yang memanfaatkan magot atau kompos.

    Untuk sampah botol plastik, katanya, perlu cari komunitas yang bergerak di bidang itu. Baik yang memanfaatkannya untuk seni, atau usaha daur ulang.

    “Mereka perlu diberi ruang. Jadi enggak semua sampah harus ke TPA. jadi, istilahnya, buat manajemen sistem sirkular.”

    Pemerintah Jember, katanya, perlu memberikan ruang ekspresi bagi pelaku seni, usaha, komunitas yang bergerak di isu ini. Tapi, harus berkelanjutan, tidak sekadar seremonial.

    Dengan demikian, solusi manajemen lingkungan akan lebih baik bila cepat terlaksana.

    “Kalau buat perda dan aturan itu ribet atau prosesnya lama. Maka, perangkat pemerintahan di sini bisa jadi contoh buat rekan-rekannya. Buat ajakan sederhana di media sosial, atau menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.”

    Sebagian pemuda Wiskomunalian saat ditemui di Basecamenya, 17 Januari 2026. Foto: Gafur Abdullah/Mongabay Indonesia

    Menanti perhatian pemerintah 

    Putri  Lisya Anggraini, Founder Ecosociopreneur, mengapresiasi Wiskomunalian. Kegiatan anak-anak muda ini tidak hanya bersih-bersih, tapi menyelamatkan bumi sejak dalam pikiran melalui edukasi dan penguatan komunitas.

    “Ini penting, karena persoalan sampah bukan sekadar soal estetika kota, tapi soal kesehatan ekosistem sungai dan kualitas hidup manusia,” katanya.

    Menurut dia, pemerintah tidak boleh hanya memberi apresiasi, tapi menjadikan komunitas seperti Wiskomunalian sebagai mitra strategis dalam tata kelola lingkungan. Gerakan anak muda, katanya, tidak bisa menggantikan sistem, tapi mereka bisa jadi motor perubahan budaya dan perilaku.

    Sehingga, lanjutnya, ada integrasi antara keduanya. Pemerintah yang bangun sistem, komunitas yang menguatkan kesadaran dan partisipasinya.

    Dukungan terbaik yang bisa pemerintah berikan, katanya, ialah membuat gerakan komunitas ini semakin bertumbuh dan mandiri. Juga, menyediakan fasilitas pilah sampah yang benar-benar berjalan, ruang aktivitas komunitas, dukungan logistik untuk edukasi sekolah, serta bangun kemitraan resmi komunitas dengan Dinas Lingkungan Hidup.

    Hal paling krusial, lanjutnya, memastikan sistem pengangkutan sampah terpilah tidak dicampur lagi di hilir. Karena kondisi itu membuat edukasi terhadap masyarakat kehilangan maknanya.

    Wiskomunalian merupakan contoh gerakan anak muda yang lahir dari kepedulian ekologis yang nyata dan tumbuh jadi aksi kolektif yang konsisten, mulai dari edukasi lingkungan, trash walk, hingga penguatan organisasi komunitas.

    Dalam perspektif ekologi dan konservasi, gerakan seperti ini penting karena menjaga sungai dan ruang hidup bukan hanya soal kebersihan, tetapi soal kesehatan ekosistem dan kualitas hidup masyarakat.

    Ke depan, Wiskomunalian bisa semakin kuat dengan memperjelas indikator dampak, membangun sistem regenerasi, serta mengembangkan riset sederhana agar programnya makin terukur dan kredibel.

    *Liputan ini sebagai tindak lanjut dari Media Fellowship Climate Communication Workshop*

    Kondisi TPA Pakusari, Jember, Jawa Timur. Foto: Dokumentasi Wiskomunalian.

    *****

    Insiatif Para Mahasiswa di Jogja Atasi Ketimpangan Pangan dan Krisis Iklim