Mongabay.co.id

Orang Sawai Dalam, Penjaga Hutan Halmahera dari Jerat Industri Nikel

  • Ketenangan hidup suku Kulo Dalam di Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara (Malut) kian terusik. Perlahan tapi pasti, hutan mereka terus terbabat akibat ekspansi industri nikel. Dampak lainnya, mereka kerap alami banjir akibat hujan di hulu.
  • Data BPS Maluku Utara (2022) mencatat, dari  jumlah desa  itu total warga berjumlah 12.986 jiwa. Wilayah ini dulunya hutan primer dan menjadi hutan Suku Sawai. Di sini mereka menggantungkan hidup. Sebut saja hasil hutan non-kayu  seperti rotan, damar, dan sagu.
  • Ekspansi tambang nikel kini mengubah wajah hutan Halteng terutama yang berada di Weda Tengah. Data  Forest Watch Indonesia (2024), provinsi ini telah kehilangan lebih dari 11.000 hektar tutupan hutan dalam lima tahun terakhir. Dari jumlah itu sebagian besar ada di sekitar kawasan WBN dan IWIP.  Itu berarti, setiap tahun, deforestasi di Weda Tengah capai 2.300 hektar per tahun
  • Di tengah deru mesin tambang dan kicau burung yang semakin jarang terdengar, Kampung Kulo menjadi simbol perlawanan sunyi masyarakat adat Sawai, berdiri di batas terakhir hutan Halmahera, melawan dengan cara mereka: menanam, menjaga, dan berdoa

Mendung menyelimuti langit Dusun Kulo Dalam,  kampung di pedalaman Halmahera Tengah (Halteng) di akhir Oktober tahun 2025. Dusun ini  berbatasan  langsung dengan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Kota Tidore Kepulauan. Mereka hidup dari hutan yang tersisa.

Selain warga Kulo, ada juga Suku Tobelo Dalam atau O’hongana Manyawa tersebar di kawasan hutan ini. Bedanya, warga Tobelo Dalam tidak  membuat perkampungan layaknya seperti warga Kulo.

Ada yang mengaitkan warga Kulo dengan  Suku Sawai yang  hidup di  pedalaman atau Sawai Dalam. Meskipun ada beberapa etnis hidup bersama di dusun ini.   Sehari-hari mereka  juga gunakan bahasa Sawai untuk komunikasi.

Untuk ke Kulo Dalam tidaklah mudah. Dari Weda, perlu dua jam perjalanan menggunakan motor ke Desa Kulo Jaya, merupakan desa induk dari Kulo Dalam. Setelah itu, berjalan kaki 20 menit ke tempat tambatan perahu di Sungai Ake Jira.

Perahu dan sungai merupakan sarana transportasi utama dari dan menuju Kulo Dalam. Termasuk ketika warga Kulo Dalam belanja kebutuhan sehari-hari dari luar. Perahu berkapasitas 4 PK itu biasa cukup untuk menampung 7-9 orang, termasuk juru mudi.

Hari itu,  perahu yang kami tumpangi mengangkut tujuh orang, termasuk juru mudi. Perjalanan yang memakan waktu empat jam itu cukup menantang. Apalagi, arus Sungai Ake Jira sangat deras setelah hujan mengguyur daerah hulu.

Sepanjang perjalanan, juri mudi mematikan mesin untuk membersihkan kayu dan sampah.

“Kondisi normal biasanya empat jam sudah sampai. Tapi, kalau atas hujan deras, biasanya banyak kayu di sungai. Perjalanan bisa lebih lama, bisa 6-7 jam. Bahkan kadang tidak bisa tembus,” kata Yamris Koke, juru mudi perahu berbahan fiber itu.

Yohanes Koke, tetua adat mengatakan,  keseharian hidup warga  banyak tantangan. Jalan tak ada, hanya lewat sungai, rakit dan perahu.

“Sering terhambat banjir dan lumpur,” kata pria yang juga kakak Yembris Koke ini.

Sepanjang mata memandang, terlihat  hutan Halmahera nan rimbun di kanan kiri sungai. Beberapa pohon  ukuran cukup besar. Sesekali, di antara pucuk pepohonan itu, terdengar  suara burung gagak, kakatua putih,  nuri bayan, hingga rangkong.

Orang Kulo Dalam memanfaatkan sungai Ake Jira untuk aktivitas sehari-hari. Foto: Vicky.

Asal usul

Kampung Kulo secara administrasi masuk Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Menurut penuturan beberapa tetua kampung, nama lengkap dusun sebenarnya adalah Kulo Kulaga Mandala Siaga. Namun, di kalangan warga, nama Kulo Dalam lebih populer.

Konon, dusun ini ada sejak 1909 saat kelompok warga dari pesisir mencari damar dan gaharu ke tengah hutan Halmahera menyusuri Sungai Ake Jira.

Dari situ, mereka menetap dan menjadikan  hutan ini sebagai perkampungan hingga kini.

Sejarah dan waktu pembentukan kampung ini memang banyak versi. Ada juga yang menyebutnya  dusun ini berdiri  1911.

Yohanes Koke  menyebut,  warga Suku  Sawai yang datang dari pesisir adalah yang mengawali pendirian kampung ini dan menamainya “Kulo” yang dalam bahasa Sawai  berarti tempat yang terjaga.

Tempat yang terjaga itu berkaitan dengan jere atau makam keramat yang warga yakini sebagai nenek moyang orang Sawai.

Mayoritas warga kampung ini berasal dari etnis Suku Sawai. Ada juga dari Tobelo dan Galela, dua etnis dari Utara Halmahera.

Meski begitu, bahasa mayoritas yang mereka  gunakan  adalah Sawai, meski warga juga memahami bahasa Tobelo dan Galela.

Abner Dowongi, Sekretaris Desa Kulo Jaya menjelaskan, penduduk Kulo Jaya 503 jiwa, sedang  di dusun Kulo Dalam ada 32 jiwa atau 11  keluarga  dengan tujuh rumah.

Berstatus dusun  secara administrasi tidak terdaftar sebagai desa definitif tetapi tergabung ke desa Kulo Jaya Weda Tengah.  “Tergabung dalam Desa Kulo Jaya,” ujar Abner.

Warga Kulo menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Mereka menanam antara lain,  kelapa, pala dan cengkih.  Ada juga tanaman pangan seperti pisang, ubi, sayuran, dan tanaman lokal lain.

Untuk kebutuhan protein, warga memanfaatkan Sungai Ake Jira untuk mencari  ikan, kerang udang dan lain-lain. Ada juga sagu yang juga bisa mereka manfaatkan sebagai sumber bahan makanan pokok.

Sebagian warga juga masih berburu rusa, babi atau hewan liar lain dengan  tombak, panah, atau alat jebakan.

“Praktik-praktik ini dijalankan oleh para leluhur  dan sampai saat ini kami masih ada. Ada perangkap tradisional yang namanya dodeso atau jerat untuk hewan seperti babi dan rusa,” cerita  Yohanes.

Kondisi sungai Ake Jira yang keruh tercemar material sisa tambang. Foto: Vicky.

 

Kekerabatan erat dan penjaga hutan

Hubungan kekerabatan dan kehidupan sosial di kampung ini masih sangat erat. Kegiatan gotong royong juga masih ada sampai sekarang.

Antar warga juga terbiasa saling membantu. Dalam membangun rumah baru atau memperbaiki atap  rumah yang bocor maupun panen hasil kebun biasa mereka lakukan bersama tetangga.

“Musyawarah untuk mufakat menjadi landasan pengambilan keputusan, sehingga ikatan kekeluargaan  kuat dan perselisihan jarang terjadi,” ujar Yohanes.

Dalam upacara adat suba jo baik dalam pernikahan, perayaan natal penutupan tahun baru,  penjemputan  kunjungan  selalu diiringi alunan musik dan tarian tradisional Yangere,  sudah  turun temurun.

Tarian ini  diiringi musik  dari  alat tradisional khas Tobelo seperti gitar hasil buatan sendiri dari kayu (kaste) menggunakan dua senar  maupun alat musik bambu yang dikenal dengan bambu tada.

Alat musik  ini terbuat dari potongan bambu. Uniknya, cara memainkannya  dengan membenturkan ke tanah hingga mengeluarkan suara atau nada.

Mama Aleksandrina,  warga Kulo bercerita,  mereka tetap merawat  pengetahuan lokal tentang menjaga hutan. Karena dari sana para lelaki atau perempuan bisa berburu, mencari tanaman untuk obat-obatan, hingga keperluan lain.

“Bikin saloy (keranjang untuk mengangkut hasil pertanian) harus diambil di hutan,”katanya.

Hidup warga bergantung hutan hingga merekaa menyadari betapa penting menjaga  ekosistem ini. Tidak mengherankan bila kesadaran itu mereka wariskan turun temurun pada anak cucu mereka.

Bagi mereka, sungai, hutan, dan ladang bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga rumah dan ruang spiritual.

“Kalau hutan hilang, kami kehilangan hidup. Kami tidak bisa pisah dari alam, karena di sanalah leluhur kami tinggal,” ujar Yohanis.

Sungai Ake Jira yang merupakan akses utama ke Kulo Dalam penuh oleh tumpukan kayu. Foto: Vikcy.

Orang Sawai dan alam

Sejak berdiri seabad lalu, Kampung Kulo di tepian Sungai Ake Jira ini  memiliki makna mendalam. Ia tak sekadar penanda geografis, juga penghormatan kepada Lagae Cekel, simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Sawai.

Berdasar cerita turun temurun dari warga, Lagae Cekel terkenal sebagai orang sakti, bijak, dan menguasai  12 bahasa daerah di Maluku, dari Tobelo, Galela, hingga Sawai. Kisah  Cekel bagi orang Sawai sangat heroik.

Dia dikisahkan  sebagai utusan Kesultanan Tidore yang menyeberangi laut menuju Tidore hanya dengan sebatang galah.

Selain setia pada kesultanan, dia juga terkenal dengan kemampuannya mengatasi rintangan alam. Dia berpulang  di tengah hutan Halmahera. Makamnya kini diyakini berada sekitar tiga kilometer dari kawasan transmigrasi Kobe Kulo atau Jere Lagae Cekel.

“Jere itu tempat suci. Kami tidak boleh merusak hutan di sekitarnya, karena di sanalah leluhur kami bersemayam,”kata  Yohanis.

Warga meresapi bahwa setiap pohon, setiap aliran sungai, dan setiap batu di sekitar Jere sebagai bagian dari warisan hidup yang harus mereka lindungi dan lestarikan.

Bagi masyarakat Kulo, menjaga hutan bukan sekadar menjaga tanah, melainkan menjaga identitas, sejarah, dan keberlangsungan hidup.

“Ini bukan cuma tanah, tapi kehidupan kami. Kalau hutan hilang, sejarah dan roh leluhur pun ikut hilang,” kata Yohanis.

Hutan di sekitar Kulo juga berperan sebagai pengetahuan masyarakat Sawai. Di hutan itu mereka belajar tentang musim, tumbuhan obat, lokasi berburu, dan pola tanam yang sudah diwariskan turun-temurun.

Setiap ritual adat, dari panen hingga upacara spiritual, selalu terkait dengan hutan dan sungai yang menyejahterakan mereka, sekaligus menegaskan hubungan mereka dengan leluhur.

“Kampung Kulo ini cermin harmoni manusia dan alam, sejarah, spiritualitas, dan ekologi saling terkait.Kehilangan hutan bukan hanya menghapus flora dan fauna, tapi juga memutus hubungan masyarakat dengan leluhur dan meminggirkan nilai-nilai budaya yang telah bertahan lebih dari seratus tahun,” kata Yohanis.

Orang Sawai Dalam saat berada di rumah kebun. Foto: Mahmud Iachi/Mongabay Indonesia.

Alfonsius Gabariel Budiman, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora-Universitas Halmahera (Uniera) dalam riset tentang Orang Sawai, menyebut Cekel merupakan cikal bakal Keturunan Sawai yang mendiami pesisir Weda bagian timur. Yakni, Desa Kobe Gunung, Kobe Peplis, Lelilef Wo’e Bulan, Lelilef Sawai, Gemaf, Sagea, Yeke, Sepo, Wale, Mesa dan Dote.

Orang Sawai percaya Cekel, selalu melindungi mereka ketika berada dalam ancaman bencana alam, manusia yang ingin membunuh atau juga ketika sakit. Mereka yakin ketika ada orang masuk hutan Sawai tanpa izin akan mendapat malapetaka.

Karena itu, perusahaan yang masuk ke wilayah ini harus meminta izin melalui tetua adat dan membuat upacara khusus untuk roh nenek moyang Cekel agar selamat dari bahaya.

“Dari pandangan mereka lebih tinggi itu disebut Jou (Tuhan). Ada juga yang melihat bahwa Jou itu sebutan kepada Sultan,”tulis Alfonsius dalam risetnya. Sawai, katanya, memiliki makna air yang terpancar.

Kini, warga Suku Sawai, ada juga yang beragama  Islam dan Kristen Protestan.

Mereka masih kuat kepercayaan pada pohon, batu, dan goa–goa yang mereka anggap keramat. Selain itu, satu kepercayaan lagi adalah kepercayaan pada Legae Peay yang kuburannya disebut Lagae Lo’y (orang/paitua besar). Tempat ini selalu jadi tempat ziarah Orang Sawai.

Warga Suku Sawai Dalam bercengkerama di rumah kebun setelah bergotong-royong. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia.

Terusik tambang  

Ketenangan dan kedamaian warga Kulo Dalam dengan semua kebutuhan yang terpenuhi dari hutan dan kebun itu kini mulai terusik.

Sejak  2020, ketika  tambang nikel masuk Halteng, masyarakat Kulo mulai merasakan perubahan. Air sungai  keruh, tanah  mengering dan udara berdebu. Sungai Akejira, yang selama seabad lebih menjadi nadi kehidupan, kini berubah warna.

“Dulu,  sungai itu tempat kami mandi, minum, dan mencuci,sekarang airnya keruh dan berbau logam. Kami takut anak-anak sakit kulit,” tutur Yohanes.

Ekspansi industri ini menghadirkan ancaman ekologis serius bagi Weda Tengah. Dari sungai yang keruh, kerusakan hutan hingga alih fungsi lahan pertanian. Aktivitas ini juga berdampak langsung ke warga, termasuk yang ada di Kulo Dalam.

Dalam kurun Mei-Juni 2025, banjir besar melanda Kulo. Air setinggi satu meter menenggelamkan rumah dan kebun, meninggalkan lumpur merah pekat di jalan kampung.

  “Air datang cepat sekali, tidak ada hujan sebelumnya,” kenang Yamris, warga Kulo.

“Kami tahu ini bukan banjir biasa. Itu lumpur dari atas, dari arah tambang.”

Lima bulan berselang, Oktober 2025, banjir kembali terjadi. Meski hujan tak turun,   banjir tiba tiba datang membawa material lumpur menghantam kampung.

Warga menduga,  sedimentasi material tambang di hulu telah mengubah aliran sungai.

“Kalau dulu sungai tenang dan jernih, sekarang cokelat seperti kopi saat banjir,” kata Yamris.

Setiap kali banjir,  kebun  warga tertimbun lumpur dan ikan-ikan mati.

Tambang PT Weda Bay Nickel (WBN). Foto: Humas KLH

Dusun Kulo Dalam  yang masuk desa Induk Kulo Jaya merupakan satu dari 13 desa di Weda Tengah dengan wilayah kini berdampingan langsung dengan perusahaan tambang maupun kawasan industri nikel, PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

Data BPS Maluku Utara (2022) mencatat, dari  jumlah desa  itu total warga berjumlah 12.986 jiwa. Wilayah ini dulu hutan alam, hutan Suku Sawai. Mereka menggantungkan hidup. antara lain dari hasil hutan non-kayu  seperti rotan, damar, dan sagu.

Ekspansi tambang nikel mengubah wajah hutan Halteng,  terutama di Weda Tengah. Data  Forest Watch Indonesia (2024), provinsi ini kehilangan lebih 11.000 hektar tutupan hutan dalam lima tahun terakhir.

“Yang kaya mereka yang punya tambang. Kami hanya dapat lumpur dan sakit. Air yang dulu sumber kehidupan, sekarang  membawa racun.”

Meski tekanan industri makin kuat, masyarakat Kulo menolak pergi. Tetap menjaga Jere Lagae Cekel, situs sakral tempat leluhur bersemayam. Setiap bulan, ritual adat mereka gelar untuk memohon keseimbangan alam.

“Selama hutan masih berdiri, leluhur masih bersama kami.  Kalau hutan rusak, bukan cuma air yang hilang, tapi juga jiwa kami,”katanya.

Kini, di tengah deru mesin tambang dan kicau burung yang makin jarang terdengar, Kampung Kulo menjadi simbol perlawanan sunyi Masyarakat Adat Sawai, berdiri di batas terakhir hutan Halmahera, melawan dengan cara mereka: menanam, menjaga, dan berdoa.

Di Jere Lagae Cekel, setiap upacara adat mulai  dengan kalimat sederhana namun sarat makna:  “Torang jaga hutan, karena hutan juga jaga torang.”

*****

 

Ketika Tambang Nikel Cemari Laut dan Sawah di Halmahera Timur

Exit mobile version