- Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur telah menyelamatkan tiga bayi orangutan kalimantan, Sepanjang 2025. Ketiganya ditemukan tanpa induk.
- Proses rehabilitasi ketiga bayi orangutan tersebut akan berlangsung panjang. Pelepasliaran baru bisa dilakukan ketika mereka berusia enam hingga delapan tahun, serta memiliki kemampuan bertahan hidup.
- Selain butuh waktu, mereka juga perlu penanganan intensif. Bayi orangutan berbeda dengan orangutan dewasa, tubuhnya rentan dan harus mengikuti rehabilitasi di sekolah hutan cukup lama.
- Ditemukannya bayi orangutan tanpa induk di Kutai Timur menjadi indikator tekanan terhadap habitat. Namun, jika bayi orangutan terpisah dari induknya, kemungkinan terbesar penyebabnya adalah tekanan pada induknya.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur telah menyelamatkan tiga bayi orangutan kalimantan, sepanjang 2025. Ketiganya yang dinamakan Lukas, Hannes, dan Jack, ditemukan tanpa induk.
Paulinus Kristianto, Direktur Conservation Action Network (CAN) Borneo, mengatakan saat ini hanya tiga bayi orangutan tersebut yang dirawat di Long Sam.
“Ketiganya datang di waktu berbeda. Yang pertama datang Lukas, lalu Hannes, dan Jack di akhir tahun,” jelasnya, Selasa (23/12/2025).
Lukas ditemukan di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur, dan sempat dirawat warga. Namu, pada Mei 2025, ia diserahkan ke tim BKSDA Kaltim.
ditemukan warga dalam kondisi tersesat di kebun masyarakat Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur. Lukas sempat dirawat oleh warga yang menemukan. Namun tidak lama, dan dilaporkan ke BKSDA Kaltim.
“Saat diperiksa, usianya sekitar dua sampai tiga bulan. Belum ada gigi. Penanganannya sangat kompleks. setiap bangun tidur menangis jika tidak ada ibu asuhnya.”
Penampilan Lukas menggemaskan. Bulu halus di kepalanya berdiri.
“Tanda kulit kepalanya masih tipis.”
Pada Agustus 2025, tim mengevakuasi bayi orangutan bernama Hannes. Ia ditemukan warga di Bengalon, Kutai Timur, lalu diserahkan ke Balai Taman Nasional Kutai (TNK).
“Hannes kami terima dari SKW II Tenggarong BKSDA Kaltim, yang sebelumnya berkoordinasi dengan TNK. Data awal terbatas karena langsung diserahkan,” kata Paulinus.
Hannes menunjukkan sifat liar paling menonjol. Meski usianya sekitar satu tahun, ia mampu membuat sarang di pohon dan mencari makanan sendiri.
“Hannes tidak suka bersama manusia, lebih nyaman di pohon, makan pucuk dan daun muda. Hal yang menunjukkan ia sempat hidup di alam bersama induknya.”
Di sekolah hutan, Hannes kerap berperan sebagai ‘kakak’ bagi Lukas. Ia sering memberi contoh perilaku alami orangutan, sementara Lukas hanya memperhatikan. Meski terlihat mandiri, ia masih butuh susu dan perawatan intensif.
“Hannes relatif sehat, tapi saat awal kedatangannya terlihat stres karena perubahan lingkungan.”
Jack yang berusia 10 bulan, datang ke Long Sam menjelang akhir 2025. Ia ditemukan warga di kebun sawit di Kutai Timur. Saat dievakuasi, kondisinya demam dan dehidrasi ringan. Pada telapak tangan dan kakinya ada luka lecet akibat duri sawit.
“Jack ditemukan warga. Ia sendirian di bawah pohon sawit.”
Kini Jack bergabung bersama Lukas dan Hannes. Tubuhnya lebih kecil dan suka menyendiri.
“Kondisinya makin sehat. Tapi, ia lebih sering bersembunyi di pelukan dokter hewan. Kalau dibawakan susu atau makanan, ia menunggu giliran tanpa meminta.”
Rehabilitasi panjang
Paulinus menegaskan, proses rehabilitasi ketiga bayi orangutan tersebut akan berlangsung panjang. Pelepasliaran baru bisa dilakukan ketika mereka berusia enam hingga delapan tahun, serta memiliki kemampuan bertahan hidup.
“Selama rehabilitasi, kami menyiapkan habitat yang layak. Tujuan akhirnya, memberi mereka kesempatan kedua kembali ke hutan,” ujarnya.
M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, menyebut seluruh proses penyelamatan berawal dari laporan masyarakat Kutai Timur.
“Lukas, Hannes, dan Jack semuanya berawal dari laporan warga. Untuk Hannes, laporan awal diterima TNK lalu diteruskan ke kami,” katanya, Minggu (28/12/2025).
Dia berharap, ketiga bayi tersebut dapat pulih dan kembali memiliki sifat liar.
“Selain butuh waktu, mereka juga perlu penanganan intensif. Bayi orangutan berbeda dengan orangutan dewasa, tubuhnya rentan dan harus mengikuti rehabilitasi di sekolah hutan cukup lama,” jelasnya.
Hutan Kutai Timur terbuka
Yaya Rayadin, peneliti orangutan dari Universitas Mulawarman, menilai ditemukannya bayi orangutan tanpa induk di Kutai Timur menjadi indikator tekanan terhadap habitat. Namun, jika bayi orangutan terpisah dari induknya, kemungkinan terbesar penyebabnya adalah tekanan pada induknya.
“Bayi orangutan usia di bawah dua tahun, tidak mungkin terpisah dengan sendirinya. Jika terpisah, pasti ada faktor ancaman yang memaksa induknya,” jelasnya, Senin (29/12/2025).
Menurut dia, bayi orangutan akan terus menempel pada induknya, bahkan hingga usia anak-anak. Diharapkan, masyarakat luas makin memahami bahaya memisahkan bayi orangutan dari induknya, baik akibat gangguan manusia maupun perubahan lingkungan.
“Kalau dibilang ditinggal atau diusir induknya, itu tidak mungkin. Besar kemungkinan induknya terganggu atau ditangkap sehingga bayi terlepas.”
Yaya tidak menampik bahwa hutan di Kutai Timur menyempit. Selain pembukaan karena korporasi, masyarakat yang membuat ladang, dan pemerintah yang membangun jalur infrastruktur juga menyumbang terbukanya hutan.
“Di Kutai Timur, penyumbang pembukaan hutan terbesar adalah perusahaan. Baik tambang maupun sawit,” jelasnya.
*****