- Warga Kecamatan Wulanggitang dan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, masih mengungsi sejak Gunung Lewotobi Laki-Laki erupsi, pada 1 Januari 2024.
- Warga setiap pagi kembali ke desanya untuk membersihkan kebun dan memanen hasil pertanian untuk dijual. Mereka butuh uang untuk biaya sekolah anak dan bayar cicilan utang.
- Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Flores Timur menunjukkan, total tanaman perkebunan yang terdampak eruspi dan rusak berjumlah 123,26 hektar.
- Gunung api Lewotobi lama beristirahat sehingga mengakumulasi volume dan tekanan magma. Saat meletus, jauh lebih besar dari biasanya.
Metty Kilok bersama para pengungsi tengah latihan koor di Hunian Sementara (huntara) Desa Konga, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (24/12/2025). Dia bersama warga Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, setia berada di lokasi pengungsian hingga menetap di huntara.
“Setahun lalu, kami mengungsi di posko,” ucapnya.
Hampir dua tahun Gunung Lewotobi Laki-Laki erupsi, sejak 1 Januari 2024. Hingga Rabu (10/12/2025), jumlah pengungsi terdata 7.959 jiwa. Ribuan penyintas ini berasal dari beberapa desa terdampak, yaitu Klantalo, Hokeng Jaya, Nawokote, Dulipali, Nobo, dan Boru.
“Saya dan keluarga memilih tinggal di huntara meski saat hujan lokasi ini terendam banjir. Warga iisiatif buat tanggul agar lebih nyaman,” ujarnya.
Ago Hanakin, warga Desa Hokeng Jaya, memilih mengungsi mandiri. Dia bangun rumah sederhana di Desa Konga, pinjam tanah warga. Dampak erupsi membuat usaha mebelnya porak poranda.
Pit Muda, Kepala Desa Klatanlo, juga mengungsi mandiri di rumah saudara. Meski begitu, dia selalu koordinasi dengan warg dan menyalurkan bantuan dari pemerintah maupun swasta.
“Tak terasa, hampir dua tahun kami mengungsi. Hunian tetap (huntap) juga belum dibangun, karena empat lokasi yang disurvei belum ada titik terang. Mudah-mudahan tahun 2026 sudah dibangun,” ucapnya.
Warga tetap ke desa
Meski di pengungsian, warga kembali ke rumah mereka saat pagi dan sorenya kembali ke huntara atau posko.
Warga beralasan, mereka harus memetik hasil kebun seperti kelapa, kakao, alpukat, rambutan dan lainnya untuk dijual.Uangnya dipakai untuk biaya sekolah anak dan bayar cicilan utang di bank atau koperasi.
“Utang saya tetap ditagih. Kalau bisa ada toleransi dan bunga cicilan jangan dihitung,” harap Ago.
Metty mengatakan ada mobil pick up yang antar warga ke desa mereka. Bayar Rp10 ribu dan sorenya kembali ke pengungsian. Erupsi membuat atap rumahnya rusak akibat material vulkanik, sehingga ditutup terpal.
Positifnya, erupsi membawa berkah bagi tanaman. Kelapa dan kakao tumbuh subur. Bahkan buah kakao yang dulunya terserang penyakit busuk, kini tumbuh sehat. Alpukat dan rambutan juga berbuah lebat.
“Pendapatan dari kakao sebulan Rp500 ribu, dikarenakan harga jualnya drastis.”
Dua tahun gagal panen
Letusan Lewotobi membuat hasil pertanian dan perkebunan di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, terdampak.
Yohana Jawa, warga Desa Timutawa, memperlihatkan tiga buah kemiri yang dipilihnya dari kebun. Dia mengaku sejak lewotobi erupsi tanaman kemiri, kelapa, dan jambu mete gagal panen.
“Kemiri dan mente sudah dua tahun tidak ada hasil. Kelapa baru tahun ini berbuah tapi kecil, bahkan daunnya saja mati.”
Vinsensius Sensi juga menunjukan jambu mete yang buahnya tidak seberapa. Bunganya layu dan mati. Penghasilan semusim berkisar bisa mencapai Rp8 juta, sementara kemiri dalam setahun bisa Rp3 juta.
“Air tercampur abu vulkanik sehingga harus beli air galon. Untungnya, situasi sekarang mulai normal jadi saya bisa tanam padi dan jagung lagi,” ucapnya.
Apolinardus Y.L. Demoor, Sekertaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur, menjelaskan dampak erupsi membuat 2.462 ha tanaman pangan di Kecamatan Wulanggitang dan 1.425 ha di Kecamatan Ilebura rusak.
“Kerugian materil tanaman padi dan jagung di Wulanggitang sebesar Rp3,8 miliar dan di Ilebura sekitar Rp2,8 miliar. Sudah dua tahun petani gagal panen dan gagal tanam,” paparnya.
Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Flores Timur menunjukkan, total tanaman perkebunan yang terdampak eruspi dan rusak berjumlah 123,26 hektar.
Potensi erupsi
Vincensius Keladu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Flores Timur, menuturkan kawasan hutan lindung Lewotobi Ile Muda masuk Register Tanah Kehutanan (RTK) 140 seluas 5.932,89 ha. Wilayahnya meliputi Kecamatan Wulanggitang di Desa Nawakote, Hokeng Jaya, Klatanlo, dan Boru. Sementara, Kecamatan Ilebura berada di Desa Dulipali, Nobo, dan Nurabelen.
Terdapat dua kelompok masyarakat yang mengelola kawasan hutan lindung dengan skema Hutan Kemasyarakatan (Hkm), yakni di Desa Nawakote (100 ha) dan Desa Klatanlo (341 ha).
“Pepohonan di kawasan ini didominasi pelawan putih (Tristaniopsis whiteana) dan pelawan merah (Tristaniopsis merguensis). Dampak eruspi menyebabkan banyak pohon terbakar,” ujarnya.
Mirzam Abdurrachman, ahli vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan interval yang lebih panjang antara letusan menandakan akumulasi energi lebih besar dalam gunung
“Gunung api Lewotobi lama beristirahat sehingga mengakumulasi volume dan tekanan magma. Saat meletus, jauh lebih besar dari biasanya,” jelasnya dikutip dari situs ITB, Rabu (13/11/2024).
Secara geologis, Lewotobi terletak di atas kerak samudera, yang biasanya menghasilkan letusan efusif dengan lava mengalir tenang. Namun, letusan kali ini mengejutkan para ahli dengan karakter eksplosif yang memunculkan abu vulkanik keluar terus-menerus sampai 6-7 kilometer.
Hal ini disebabkan perubahan komposisi magma, dari basaltik cair menjadi andesitik kental, dengan kandungan silika (SiO2) tinggi.
“Kandungan silika yang tinggi membuat magma lebih kental dan berpotensi menghasilkan letusan eksplosif,” ungkapnya.
*****