Mongabay.co.id

Pala Banda dan Iklim yang Tidak Bersahabat

  • Hujan yang turun hampir tanpa jeda, menyebabkan pala muda busuk dan rontok di kebun warga di Negeri Pulau Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah
  • Cuaca tak menentu menjadi ancaman terbesar bagi petani pala.
  • Saat produksi menurun, harga pala di tingkat petani justru relatif tinggi. Kenaikan terjadi karena pasokan berkurang. Namun, tingginya harga tak serta merta perbaiki ekonomi petani.
  • Pala merupakan ikon Pulau Banda yang keberlanjutannya harus dijamin bersama oleh masyarakat dan pemerintah desa.

Buah pala itu jatuh satu per satu di kebun Saiful Lamadi (44). Hujan yang turun hampir tanpa jeda, menyebabkan pala muda busuk dan rontok.

Dari kebun seluas dua hektar di Negeri Pulau Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah, yang dia kelola, hasil panennya kini merosot tajam. Biasanya tujuh karung per musim kini hanya dua karung. Bagi Saiful, cuaca tak menentu menjadi ancaman terbesar bagi sumber penghidupan keluarganya.

“Sekarang ini hujan sering turun,” ujarnya, ditemui di kebunnya, Jum’at (5/12/2025).

Lelaki itu mengamati pohon pala yang ditanamnya satu dekade lalu. Batangnya yang besar menjulang, harusnya pada fase produktif. Namun, hujan berkepanjangan disertai angin kencang, membuat bunga dan buah muda tak mampu bertahan.

“Saya hanya bisa menunggu musim berganti.”

Sebagai nelayan, Saiful terbiasa hadapi ketidakpastian hasil tangkapan. Namun, saat kebun pala yang menjadi penyangga juga gagal, ruang hidupnya makin sempit.

“Sejauh ini, hama bukan masalah utama produksi pala, melainkan faktor cuaca.”

Buah pala yang menjadi andalan masyarakat Pulau Banda. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Sayidah (59), petani pala di Negeri Pulau Ay, merasakan dampak serupa. Buah pala di kebunnya hampir setiap tahun banyak gugur, terutama saat hujan berkepanjangan.

Dalam kondisi normal, pala bisa dipanen tiga kali setahun. Panen besar terjadi April, sementara panen kecil pada Juni dan Desember.

“Hujan bikin buah tidak kuat sampai panen,” ujarnya.

Saat produksi menurun, harga pala di tingkat petani justru relatif tinggi, kisaran Rp220 ribu per kilogram. Kenaikan terjadi karena pasokan berkurang. Namun, tingginya harga tak serta merta perbaiki ekonomi petani.

“Harga ada, tapi buahnya tidak banyak.”

Buah pala merupakan hasil andalan dari kebun warga Pulau Banda. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Mirani Kusni, petani muda asal Negeri Pulau Rhun, tertekan akibat perubahan lingkungan dan keterbatasan pengetahuannya terkait kelola tanaman.

“Pala di sini masih digarap secara tradisional.”

Fenomena ombong mei -istilah lokal untuk kondisi cuaca ekstrem- juga terjadi di Pulau Rhun. Cara yang umum dilakukan adalah mengasapi kebun dengan tujuan buah pala tidak mudah rontok saat musim hujan dan mengusir organisme pengganggu.

Buah pala dapat diolah menjadi manisan. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Peninggalan masa kolonial

Salihi Surahi, Kepala Pemerintahan Pulau Rhun, menuturkan kebun-kebun pala di wilayahnya memiliki rentang usia hingga puluhan tahun.

“Dampak serangan hama cukup signifikan, muncul bercak putih yang membuat daun kering dan tanaman melemah. Diperkirakan, sekitar 60-70 persen kebun pala menurun produksinya.”

Sayidah, petani pala di Negeri Pulau Ay, merasakan berkurangnya hasil buah pala akibat iklim yang berubah. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Said Mohamad Al Idrus, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Maluku Tengah, menjelaskan persoalan pala di Pulau Banda tak lepas dari usia tanaman yang sudah sangat tua dan sejarah pengelolaanya sejak masa kolonial.

“Banyak kebun pala tinggalan Belanda,” ujarnya.

Pemerintah daerah berupaya mendorong peningkatan pengelolaan pala rakyat, namun harus dibarengi kejelasan status dan komitmen bersama.

“Hal penting adalah pemerintah desa bisa menjaga.”

Pohon pala yang tumbuh subur di Pulau Banda. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Pala merupakan ikon Pulau Banda yang keberlanjutannya harus dijamin bersama oleh masyarakat dan pemerintah desa. Mengingat sebagian besar pohon pala berumur tua, pemerintah tidak lagi menargetkan perluasan lahan besar-besaran. Melainkan, pada intensifikasi dan perbaikan kebun.

“Sebagai langkah awal, pemerintah akan mendata melalui calon petani calon lahan untuk memastikan intervensi tepat sasaran,” jelasnya.

Sebuah laporan penelitian dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku menyoroti pentingnya perbaikan teknik pengendalian hama dan penyakit pala. Pendekatan ilmiah dalam pengendalian berbasis teknologi pertanian seperti pestisida yang tepat maupun teknik biologis dianggap perlu dilakukan.

 

Referensi:

Pesireron, M., Kaihatu, S., Suneth, R., & Ayal, Y. (2025). Perbaikan teknik pengendalian hama dan penyakit perkebunan pala Banda (Myristica fragrans Houtt) di Maluku / Control Techniques Improvement of Banda Nutmeg Pest and Disease in Maluku. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/items/5e12c076-efbd-4dcc-af85-1abee0eb0cba

 

*****

 

Photovoices, Cara Warga Kepulauan Banda Jaga Laut

Exit mobile version