- Padi lokal di Jambi berada di ujung tanduk. Sebagian lahan pertanian tak tertanami. Satu contoh, dari 200 hektar sawah di Senaung, hanya 100 hektar masih ditanami. Sisanya, membentang sebagai rawang, sebutan masyarakat untuk hamparan sawah yang berubah menjadi semak belukar setelah lama tidak diolah.
- Perubahan iklim membuat jadwal tanam makin tak pasti. Tradisi perlahan memudar di antara tumpukan plastik mulsa, pupuk kimia, dan kalender musim yang tak lagi dapat diandalkan. Masalah yang petani hadapi bukan sekadar soal cuaca. Dalam diam, krisis lain terjadi di tingkat paling dasar: mutu benih lokal Jambi merosot.
- Penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi mencatat, tingkat kesesuaian praktik penanganan pascapanen padi lokal terhadap standar praktik penanganan yang baik (good handling practices/GHP) hanya 40–67%. Hal ini karena tata kelola benih dan pascapanen buruk.
- Elwamendri, Dosen Agribisnis Universitas Jambi mengatakan, mencoba menjembatani jurang antara teknologi dan tradisi. Salah satu intervensi adalah invigorasi benih, teknik merendam benih dengan air kelapa muda atau larutan bawang merah untuk meningkatkan vigor. Metode sederhana ini cocok untuk kondisi desa dan tidak memerlukan alat canggih. Juga pelatihan agar petani mengenali pentingnya pengukuran kadar air, pemilahan gabah, dan penggunaan lantai jemur yang layak.
Aroma tanah basah menyeruak dari hamparan sawah Desa Senaung di Kecamatan Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi. Di ujung petak yang mulai menguning, beberapa perempuan menunduk, tangan mereka menggenggam ani-ani, alat panen tradisional yang kini hampir punah.
Dengan gerakan pelan namun pasti, mereka memotong malai satu per satu.
“Beginilah cara kami dari dulu. Pelan tapi tidak merusak batangnya. Padi lokal harus diperlakukan seperti anak,” ujar Misanah, perempuan 53 tahun sambil meluruskan punggung.
Aminah , di sampingnya, tertawa kecil. Dia menyeka keringat, lalu kembali bekerja. Kegiatan itu mereka sebut ‘pelarian,’ bagian dari gotong royong panen yang sejak lama ada di Desa Senaung .
Dari 200 hektar sawah di Senaung, hanya 100 hektar masih ditanami. Sisanya, membentang sebagai rawang, sebutan masyarakat untuk hamparan sawah yang berubah menjadi semak belukar setelah lama tidak diolah.
Rawang tidak hanya di Senaung. Hamparan ini kini tersebar hingga 1.300 hektar di enam desa di dua kecamatan, Jambi Luar Kota (Jaluko) dan Maro Sebo, serta satu kelurahan di Kota Jambi.
Desa-desa itu antara lain, Penyengat Olak, Senaung, Kedamangan, Setiris, Mudung Darat, dan Danau Kedap.
Sekitar 700 hektar kini jadi lahan tidur. Iklim tak menentu menyulitkan petani.
“Sekarang, hanya bisa nanam sekali setahun. Musim hujan datang cepat, pergi cepat. Kami sering salah prediksi,” kata Misanah.
“Kalau salah waktu tanam, bisa habis semua.”
Dulu, sebelum masa tanam mulai, warga menggelar sedekah payo , ritual adat yang memadukan doa, sesajen, dan kebersamaan.
Payo, berarti padi muda sebelum berisi, menjadi simbol harapan baik bagi musim tanam. “Kami dulu buat sesajen di pinggir sawah. Ada pulut kuning, ayam kampung, bunga, dan doa. Itu cara kami meminta izin pada alam,” kenang Roziah.
Ritual yang dulu menjadi penanda siklus tanam itu kini tak lagi seramai dulu. Anak muda banyak merantau. Petani tersisa bekerja sekadarnya.
Perubahan iklim membuat jadwal tanam makin tak pasti. Tradisi perlahan memudar di antara tumpukan plastik mulsa, pupuk kimia, dan kalender musim yang tak lagi dapat diandalkan.
“Sekarang ini alam dak bisa diprediksi. Kami dak tahu lagi mengikuti,” ujar Aminah.
Masalah yang petani hadapi bukan sekadar soal cuaca. Dalam diam, krisis lain terjadi di tingkat paling dasar: mutu benih lokal Jambi merosot.
Banyak petani menyimpan benih selama bertahun-tahun tanpa standar penyimpanan memadai. Hasilnya, benih kehilangan vigor, kekuatan tumbuh yang menentukan keberhasilan panen.
“Benih itu beda dengan gabah. Kalau terlalu lama disimpan, melemah. Daya kecambah turun, pertumbuhan tidak seragam. Petani rugi di awal musim,” kata Elwamendri, Dosen Agribisnis Universitas Jambi yang sejak 2020 mengawal pendampingan di Kawasan Perdesaan Agribisnis Maro Sebo.
Penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi memperkuat temuan ini. Dalam kajian balai oleh Desy Nofriati dan Araz Meilin pada 2018 mencatat, tingkat kesesuaian praktik penanganan pascapanen padi lokal terhadap standar praktik penanganan yang baik (good handling practices/GHP) hanya 40–67%. Hal ini karena tata kelola benih dan pascapanen buruk.
“Petani hampir tidak pernah mengukur kadar air gabah saat panen,” kata Elwamendri.
“Klasifikasi mutu gabah sesuai standar nasional juga jarang dilakukan.”
Penjemuran pun di pinggir jalan atau halaman rumah karena minim infrastruktur. Akibatnya, gabah padi lokal sering dipasarkan dalam kualitas tidak stabil, menekan harga jual dan merugikan petani.
Inventarisasi dan penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi menunjukkan, Jambi menyimpan keragaman padi lokal yang besar, ratusan plasma nutfah tersebar di ekosistem rawa, lebak, dan dataran tinggi.
Sekitar 116 jenis padi lokal terdata di Jambi, mayoritas berupa padi rawa/lebak yang beradaptasi pada kondisi setempat.
“Padi lokal itu kuat secara genetik. Yang lemah itu sistemnya,” kata Elwamenderi.
“Kalau sistemnya diperbaiki , benih, pascapanen, petani bisa bangkit. Plasma nutfah Jambi bisa hidup lagi.”
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Upaya yang dilakukan?
Pemerintah Muaro Jambi mencoba menjawab ini dengan mengeluarkan dua kebijakan: SK Bupati No. 553/2020 dengan menetapkan sembilan desa sebagai Kawasan Perdesaan Agribisnis (KPA). Kemudian, SK Bupati No. 554/2020, dengan membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Kawasan Perdesaan Agribisnis.
Tim ini bertugas mengawal perencanaan, pendampingan, hingga evaluasi pembangunan kawasan berbasis agribisnis.
Fokusnya, pertanian cerdas, dengan tiga pilar utama, water management, soil management, dan crop management (benih, teknik tanam, pascapanen).
Namun, kata Elwamendri, teknologi bukanlah titik awal perubahan.
UNJA mencoba menjembatani jurang antara teknologi dan tradisi. Salah satu intervensi adalah invigorasi benih, teknik merendam benih dengan air kelapa muda atau larutan bawang merah untuk meningkatkan vigor.
Metode sederhana ini cocok untuk kondisi desa dan tidak memerlukan alat canggih.
Selain itu, juga berikan pelatihan GHP agar petani mengenali pentingnya pengukuran kadar air, pemilahan gabah, dan penggunaan lantai jemur yang layak.
Perubahan perilaku tidak mudah. “Petani tidak bisa langsung disuruh mengubah kebiasaan. Harus didampingi. Harus sabar,” ujar Elwamendri.
Meski di sebagian tempat, perubahan mulai terlihat. Kelompok tani yang dulu tidak aktif perlahan hidup kembali. Beberapa petani muda mulai ikut terlibat.
Tantangan masih besar, katanya, dengan sawah menyusut, varietas berkurang dan pengetahuan adat perlahan hilang.
“Ini darurat pangan, kalau pemerintah tidak hadir untuk membantu petani mengatasi permasalahan bersawah ini. Tidak ada lagi sebutir beras dari sawah di Senaung,” ujar M. Ridwan Sugara, Kadus II Senaung.
Bahkan, program pangan di desanya malah memilih menanam jagung ketimbang perbaikan sistem persawahan kuno yang sudah sejak turun temurun ada.
*****