- Pulau Sumatera yang luasnya sekitar 47.348.100 hektar, memiliki 343 DAS [Daerah Aliran Sungai]. Tercatat 16 sungai terpanjang dan terbesar, serta ribuan sungai kecil lainnya.
- Keberadaan ribuan sungai, membangun kebudayaan amfibi pada masyarakat Sumatera, yang hidup memanfaatkan daratan dan perairan.
- Persoalannya, hari ini, akibat pertambangan emas liar, perkebunan monokultur skala besar, permukiman baru, dan lainnya, menyebabkan banyak hulu sungai di Sumatera Barat mengalami kerusakan. Dampaknya kualitas air menjadi buruk, dan menyebabkan banjir.
- Perubahaan bentang alam akibat aktivitas manusia, membuat sungai seperti air mata Tuhan, bukan berkah dari Tuhan.
Pulau Sumatera yang luasnya sekitar 47.348.100 hektar, memiliki 1.343 DAS [Daerah Aliran Sungai]. Tercatat 16 sungai terpanjang dan terbesar, serta ribuan sungai kecil lainnya. Gusti Asnan dalam bukunya “Sungai dan Sejarah Sumatera [2016]” menyebut Sumatera sebagai “Pulau Seribu Sungai”.
Keberadaan ribuan sungai, membangun kebudayaan amfibi pada masyarakat Sumatera, yang hidup memanfaatkan daratan dan perairan. Salah satunya masyarakat Minangkabau, yang kebudayaannya terbentuk dari falsafah “Alam takambang jadi guru”, yang artinya alam membentang adalah guru.
Wilayah dataran tinggi di Sumatera Barat yang luas wilayahnya mencapai 4.229.730 hektar adalah hulu tiga sungai terpanjang di Sumatera. Yakni Sungai Batang Hari (800 kilometer) yang berhulu di Gunung Rasan (2585 mdpl), di Kabupaten Pesisir Selatan. Sungai Indragiri atau Batang Kuantan (500 kilometer) berhulu di Kabupaten Solok, serta Sungai Kampar (413 kilometer) yang berhulu di wilayah Bukit Barisan, Kabupaten Pasaman.
Ketiga sungai ini bermuara di pesisir timur Sumatera atau ke Selat Malaka. Hanya Sungai Musi (750 kilometer) di Sumatera Selatan dan Sungai Barumun (440 kilometer) di Sumatera Utara, yang hulunya tidak berasal dari dataran tinggi di Sumatera Barat.
Sementara belasan sungai lainnya di Sumatera Barat bermuara ke pesisir barat Sumatera. Misalnya Batang Agam, Batang Alahan Panjang, Batang Anai, Batang Arau, Sungai Danau Kariang, Batang Gasan, Batang Kandis, Batang Pasaman, Batang Tapan, hingga Batang Indrapura.
“Keberadaan berbagai sungai tersebut sangat penting bagi masyarakat Minangkabau. Sebagai penanda penyebaran masyarakat Minangkabau ke pesisir timur dan barat Sumatera,” kata Arbi Tanjung, pekerja budaya dan sastrawan Sumatera Barat, di sela acara Pekan Nan Tumpah 2025 di Padang, 28 Agustus 2025 lalu.
Berbagai tradisi masyarakat Minangkabau terkait dengan sungai, yang masih bertahan hingga saat ini, antara lain Mandi Balimau, yakni tradisi mandi di sungai menggunakan jeruk nipis menjelang bulan Ramadan.
Tradisi Limau Baronggeh, juga tradisi mandi di sungai. Tradisi ini menggunakan air jeruk, air rebusan sejumlah daun, dan limau baronggeh, yang diusapkan ke wajah dengan sejumlah doa sebagai simbol penyucian diri, menjelang Ramadan atau Idul Fitri.
Serta, adanya lubuk larangan di sejumlah sungai. Lubuk larangan sebagai upaya menjaga kelestarian ikan di sungai.
Dijelaskan Arbi, masyarakat Minangkabau memahami sungai seperti makhluk hidup (biotik). Diibaratkan pohon. Aliran terbesar disebut batang, anaknya disebut dahan, lebih kecil lagi disebut cabang, ranting, tangkai, hingga tampuk atau mata air.
Setiap bagian terhubung sehingga harus dirawat atau dijaga. Jika salah satu bagian hilang atau rusak, sungai itu akan mati, dan mendatangkan bencana.
Persoalannya, hari ini, akibat pertambangan emas liar, perkebunan monokultur skala besar, permukiman baru, dan lainnya, menyebabkan banyak hulu sungai di Sumatera Barat mengalami kerusakan. Dampaknya kualitas air menjadi buruk, dan menyebabkan banjir.
Rumusan baru
Mahatma Muhammad, pekerja budaya dan pimpinan Komunitas Seni Nan Tumpah, menilai banyak hal yang diajarkan sungai bagi masyarakat Minangkabau.
Misalnya dari pepatah “Sakali aia gadang, sakali tapian barubah”, yang artinya ketika air bah datang, maka tepian sungai akan berubah bentuk.
Pepatah ini menggambarkan perubahaan itu adalah hukum alam. Pelajarannya, manusia harus beradaptasi dengan perubahaan. Jika tepian sebuah sungai berubah akibat air bah, maka manusia harus mampu hidup di tepian sungai yang baru, sebagai tempat untuk mandi, mencuci, dan bermain.
Terkait kehidupan, manusia harus mampu beradaptasi dengan perubahaan. Perubahaan itu baik karena krisis ekonomi, politik, modernitas, hingga perubahaan iklim.
“Masyarakat Minangkabau itu diajarkan untuk selalu melahirkan rumusan baru atau solusi dari setiap persoalan. Tidak berhenti atau menunggu persoalan tersebut hilang. Manusia Minangkabau harus bergerak, berpikir, bermusyawarah, untuk menemukan rumusan baru terkait perubahaan yang terjadi pada saat ini,” kata Mahatma.
Misalnya jika ruang hidupnya berubah karena bencana, baik bencana alam atau antropogenik, sebaiknya pindah ke wilayah lainnya yang jauh dari bencana. Begitupun jika selama kegiatan atau aktivitas ekonomi memberikan dampak yang buruk, sebaiknya dihentikan dan diganti dengan kegiatan baru yang tidak menyusahkan diri sendiri dan banyak orang.
Air mata sungai
Ubai Dillah Al Anshori, penyair yang menetap di Padang Panjang, selama dua tahun terakhir melakukan proyek penulisan buku puisi mengenai sungai. “Saya melakukan ini dikarenakan setiap kali melakukan perjalanan sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, dan Jambi, sungai seakan ingin mengatakan dirinya tidak baik-baik saja,” ujarnya, di sela acara Pekan Nan Tumpah 2025 di Padang, 27 Agustus 2025 lalu.
Beberapa sungai yang menjadi objek penelitian dan penulisannya, antara lain Sungai Asahan, Sungai Bahbolon, Sungai Bonjol, Sungai Batang Hari, Sungai Batang Kuantan, Sungai Siak, dan sejumlah sungai kecil di Tapanuli Selatan.
Puisi yang sudah ditulis sebanyak 20 buah, dan beberapa puisi yang tengah dikerjakan sekitar 20 puisi, “Dan mungkin akhir tahun akan diterbitkan,” kata Uba yang sudah menerbitkan kumpulan puisi “Setungkul Benang (2018)” dan “Tangan-Tangan Kisah (2022).
Hampir semua sungai itu, kata Ubai, seperti menyampaikan kesedihannya. Limbah plastik, limbah
industri dan perkebunan skala besar, pertambangan batubara, yang memenuhi air sungai, serta kerusakan hutan di sekitar sungai, seakan sungai dilahirkan dari air mata Tuhan.
“Bukan sebagai berkah dari Tuhan.”
*****
