Mongabay.co.id

Piton Zaitun, Ular Penguasa Hutan Papua

 

 

Pulau Papua menyimpan kekayaan biodiversitas menakjubkan. Salah satunya adalah ular piton zaitun papua (Apodora papuana).

Papuan Olive Python adalah anggota famili Pythonidae dan satu-satunya spesies dalam genus Apodora. Saat dewasa bisa mencapai panjang rata-rata 4 meter, bahkan ada spesimen hingga 4,3 meter, dengan tubuh tebal dan kekar.

Keunikan fisik ular ini tidak hanya pada ukurannya, namun nama “olive” atau “zaitun” yang disematkan karena warna dominan tubuhnya menyerupai buah atau minyak zaitun, yakni hijau keabu-abuan hingga cokelat kehijauan gelap. Ular ini disebut mampu mengubah warnanya dari hijau zaitun ke kuning, atau bahkan nuansa hitam, kadang-kadang memamerkan dua warna sekaligus.

Perubahan warna ini diyakini terkait kondisi stres atau agitasi. Sisiknya yang halus dan berkilau menambah pesona visualnya dengan mata dan pupil vertikal. Serta seperti kebanyakan ular piton; lubang sensor panas di sekitar mulutnya adalah adaptasi yang cocok untuk gaya hidup nokturnal, yang bisa mendeteksi mangsa berdarah panas dalam kegelapan.

Inilah ular piton zaitun papua yang hidup di hutan Papua. Foto: Wikimedia Commons/Goodshort/CC BY-SA 3.0

 

Menurut Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, ular piton zaitun ini memiliki habitat asli yang sebagian besar terkonsentrasi di Papua dan Papua Nugini. Spesies ini mendiami dataran rendah hingga daerah dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

“Di wilayah ini, ular yang sebagian besar hidup di darat ditemukan di berbagai habitat, tetapi khususnya berasosiasi dengan hutan hujan tropis, yang menutupi sebagian besar pulau,” ungkap Hari kepada Mongabay Indonesia, Senin (14/7/2025).

Dijelaskannya lagi, hutan hujan tropis ini menyediakan lingkungan ideal bagi ular piton serta beragam jenis mangsa. Dedaunan lebat dan iklim yang lembab, sesuai dengan karakter predator ini yang tinggal di tanah dan tidak banyak bergerak.

Meskipun keberadaan ular piton paling menonjol di daratan utama Papua dan Papua Nugini, mereka juga dapat menghuni beberapa pulau lepas pantai di sekitar Papua, seperti Misool, Biak, Yapen, Numfor.

Di Papua Nugini, spesies ini telah tercatat di Pulau Karkar dan di pulau lepas pantai Ferguson di Provinsi Teluk Milne. Pulau-pulau ini, yang memiliki karakteristik ekologi yang sama dengan daratan utama, dapat mendukung siklus hidup dan kebiasaan berburu ular tersebut.

Ini merupakan ular piton yang ditemukan di hutan Papua. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Pemburu senyap

Ular piton zaitun papua adalah pemburu mahir dan cerdas. Mereka penyergap (ambush predator) yang mengandalkan kesabaran dan kamuflase. Malam hari, dengan indra panasnya yang tajam, mereka mengidentifikasi jalur-jalur yang sering dilewati oleh mangsa utama, yaitu mamalia kecil hingga menengah seperti hewan pengerat dan marsupial, serta burung-burung yang hidup di tanah. Setelah mangsa berada dalam jangkauan, serangan cepat dan lilitan kuat akan segera mengakhiri perburuan.

Menariknya, ular ini memiliki metabolisme lambat, yang memungkinkan mereka bertahan hidup berminggu, bahkan berbulan, hanya dengan satu kali makan besar. Meskipun ukurannya menakutkan, mereka umumnya tidak agresif terhadap manusia kecuali jika terprovokasi.

Ular ini memainkan peran vital dalam mengendalikan populasi mangsa, terutama hewan pengerat. Dengan demikian, ular ini secara tidak langsung menjaga kesehatan hutan, memastikan keseimbangan rantai makanan tetap terjaga.

Para peneliti dari The George Institute, menjelaskan bahwa ular sebagai predator, memangsa katak, serangga, tikus, mencit, dan hewan pengerat lainnya, sehingga membantu menjaga populasi mangsa tetap terkendali. Ular juga dimangsa oleh spesies lain sehingga memainkan peran kunci dalam rantai makanan sebagai mangsa.

“Ular sebagai insinyur ekosistem’ memfasilitasi penyebaran benih sekunder’, sehingga berkontribusi pada reproduksi tanaman. Ketika ular menelan hewan pengerat (yang mengonsumsi benih), benih tersebut dikeluarkan melalui ekskresi ke lingkungan secara utuh,” ungkap Deepti Beri dan Soumyadeep Bhaumik dari The George Institute.

Dijelaskan keduanya, karena ular memiliki daerah jelajah lebih luas daripada hewan pengerat, benih cenderung menyebar pada jarak lebih jauh dari tanaman induk. Mekanisme ini mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup spesies tanaman tanpa harus berebut sumber daya yang sama seperti cahaya, air, dan unsur hara tanah, dan karenanya sangat penting bagi keanekaragaman hayati dan ekologi.

Hutan Papua kaya akan biodiversitas, termasuk ular piton yang hidup di dalamnya. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Dalam daftar merah IUCN, ular piton zaitun papua ini dikategorikan sebagai spesies “Least Concern” atau Risiko Rendah, namun bukan berarti mereka bebas ancaman. Kehilangan habitat akibat deforestasi untuk perkebunan, pertambangan, dan pembangunan permukiman menjadi ancaman serius. Perburuan untuk perdagangan hewan peliharaan eksotis juga tetap menjadi tantangan, meskipun mereka tidak umum tersedia di pasar gelap.

Berbagai penelitian menyebut bahwa penurunan populasi mereka bisa menjadi sinyal awal adanya ancaman lingkungan, seperti deforestasi, perburuan liar, atau dampak perubahan iklim yang mulai mengganggu keseimbangan alam.

 

Referensi:

Animals.howstuffworks.com. (N.D.). Papuan Olive Python.

Beri D, Bhaumik S. Snakes, the ecosystem, and us: it’s time we change. The George Institute of Global Health. July 2021.

IUCN Red List of Threatened Species. (N.D.). Apodora papuana.

 

*****

 

Konflik Manusia dengan Ular Piton: Apa Penyebabnya?

Exit mobile version