Mongabay.co.id

Bagaimana Rasanya Jumpa Macan Tutul Jawa di Alam Liar?

  • Butuh 6 tahun bagi Ignatius Dwi Wardhana, fotografer satwa liar Animalika, untuk bisa melihat langsung macan tutul jawa di alam liar.
  • Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, jadi lokasi yang didatanginya untuk mencari satwa tersebut. Tetapi, perjumpaan pertama bukan akhir pencarian. Sejak itu, Ignaz berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun, termasuk melihat macan tutul di lokasi berbeda.
  • Dokumentasi perilaku memberikan dimensi lain dalam fotografi satwa liar. Foto tak hanya menunjukkan rupa satwa, namun juga merekam aktivitas yang mungkin berguna sebagai bahan pengamatan lebih lanjut.
  • Pendidikan konservasi merupakan bagian penting dalam melindungi macan tutul, meskipun bukan satu-satunya solusi.

Bertahun menunggu dan berulang kali masuk hutan, akhirnya Ignatius Dwi Wardhana (48), berhadapan langsung dengan predator endemik Pulau Jawa.

Bagi fotografer satwa liar Animalika ini, perjumpaan dengan macan tutul jawa tak hanya kesempatan memperoleh gambar langka. Melainkan, ada kegembiraan setelah penantian panjang, rasa ingin tahu terhadap perilaku Panthera pardus melas. Juga, kesadaran bahwa satu-satunya kucing besar yang tersisa di Pulau padat penduduk ini masih menyimpan banyak hal yang perlu dipelajari.

Keinginan mengabadikan macan tutul sejak 13 tahun silam, berhasil didokumentasikan enam  tahun kemudian, yaitu tahun 2019. Selama rentang waktu itu, Ignaz, terus mencari kesempatan bertemu kucing yang dikenal sulit dijumpai itu.

“Waktu pertama kali bertemu, senang sekali rasanya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya bisa melihat macan tutul secara langsung,” tuturnya, Senin (26/10/26).

Macan tutul jawa yang hidup dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.

Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, jadi lokasi yang didatanginya untuk mencari satwa tersebut. Tetapi, perjumpaan pertama bukan akhir pencarian. Sejak itu, Ignaz berusaha kembali ke hutan hampir setiap tahun, termasuk melihat macan tutul di lokasi berbeda.

Saat pandemi COVID-19 berlangsung, Ignaz mendapat kesempatan lebih luas menjelajahi kawasan hutan melalui keterlibatannya dalam sebuah gugus tugas multifungsi di lingkungan kehutanan.

Dia perhatikan musim, sumber air, arah angin, hingga fase bulan.

“Musim kemarau jadi waktu yang bisa jadi pertimbangan besar untuk pengamatan.”

Saat sejumlah sumber air mengering, titik-titik air yang tersedia berpotensi jadi tempat macan tutul datang untuk minum.

Butuh waktu 6 tahun bagi Ignatius Dwi Wardhana untuk melihat dan memotret langsung macan tutul jawa di habitat alaminya. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.

Lihat langsung macan tutul

Pengamatan itu berkembang dari pengalaman di lapangan.

Tetapi, Ignaz tidak bisa memastikan bahwa kondisi tertentu selalu membuat macan dengan persebaran terbatas itu lebih mudah dijumpai. Perilakunya dipengaruhi banyak faktor dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami polanya.

Disamping memperhatikan kondisi alam, dia kerap memilih menunggu ketimbang bergerak mengejar. Kesempatan mengamati macan tutul bisa datang tanpa diduga, namun bisa juga berlalu begitu saja.

Bagi Ignaz, satu pengalaman membekas bermula dari laporan seorang warga saat berada di hutan. Warga itu lihat kawanan monyet berperilaku tidak biasa di sekitar sebuah pohon, Informasi itu disampikan ke petugas taman nasional.

Ignaz kemudian berangkat dari Banyuwangi. Di lokasi, dia mendapati seekor macan tutul jantan sedang istirahat di atas pohon asam (Tamarindus indica L.)

“Mulanya petugas menduga macan itu tidur. Tapi, saat saya amati lewat lensa telefoto macan itu ternyata memperhatikan keberadaan kami, juga mengeluarkan suara.”

Sumber air merupakan tempat yang dikunjungi macan tutul di alam liar. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.

Pengalaman lain terjadi di sekitar Jembatan Curahuling, Baluran. Seekor macan tutul muda berjalan ke arahnya hingga berjarak sekitar 7-8 meter. Satwa bercakar itu kemudian duduk di akar liana dan memperhatikan dia dan rekannya, sesama pengamat.

Baginya, pengalaman bertemu macan tutul tak sekadar mendapatkan foto dramatis. Tapi juga, merekam perilaku macan yang sejauh ini jarang disaksikan manusia secara langsung.

Dalam sejumlah kesempatan, Ignaz mendokumentasikan macan tutul istirahat di pohon, minum, tidur, menjilat kaki depan, hingga berguling dengan posisi telentang.

“Beberapa gerakannya mengingatkan pada kucing rumahan,” ujarnya.

Menurutnya, dokumentasi perilaku memberikan dimensi lain dalam fotografi satwa liar. Foto tak hanya menunjukkan rupa satwa, namun juga merekam aktivitas yang mungkin berguna sebagai bahan pengamatan lebih lanjut.

Dia berharap, pendidikan bisa jadi upaya utama untuk melindungi macan tutul jawa. Pengenalan sejak usia dini bisa menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang peran predator ini menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Ignatius Dwi Wardhana menati kehadiran macan tutul untuk diabadikan melalui kamera. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.

Mengubah cara pandang macan tutul

Zulqarnain Assidiqqi, Direktur Endemic Indonesia Society, juga berpandangan pendidikan konservasi merupakan bagian penting dalam melindungi macan tutul, meskipun bukan satu-satunya solusi.

Pendidikan sejak dini, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sebagai habitat macan tutul, diperlukan untuk membentuk cara pandang jangka panjang terhadap keberadaan satwa liar. Macan tutul tak semata dipandang sebagai predator yang berpotensi mengancam ternak, namun juga sebagai bagian dari ekosistem hutan yang punya fungsi ekologis.

Selama ini, interaksi negatif antara manusia dengan macan tutul kerap jadi dasar terbentuknya persepsi buruk terhadap satwa terssebut.

Saat kucing besar itu memangsa ternak misalnya, perhatian masyarakat bisa terpusat pada kerugian. Sedangkan, faktor-faktor yang sebabkan konflik, seperti perubahan habitat, ketersediaan mangsa alami, kondisi peternakan, dan aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan, belum tentu dipahami secara luas.

“Penting, atau lebih tepatnya menjadi bagian penting. Bukan menjadi solusi tunggal,” jelasnya, Selasa (27/10/26).

Macan tutul jawa, sang penjaga hutan Jawa. Foto: Dok. Ignatius Dwi Wardhana.

Pemikiran kritis untuk menggali penyebab konflik masih terbatas di kalangan tertentu. Karenanya, edukasi tak hanya cukup menyampaikan pesan bahwa macan tutul merupakan satwa dilindugi. Warga juga perlu paham kenapa konflik terjadi, bagaimana perilaku satwa liar, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko perjumpaan yang merugikan manusia maupun satwa.

Persepektif itu mendapat konteks dari penelitian Raharja dan kolega (2025) tentang “Persepsi Masyarakat Desa Sekitar Gunung Sawal terhadap Konflik Manusia dan Macan Tutul Jawa.”

Penelitian terhadap 160 responden di Desa-Desa sekitar Gunung Sawal menemukan bahwa tingkat pendidikan berkaitan dengan pemahaman masyarakat mengenai konflik manusia dan macan tutul jawa. Persepktif negatif lebih banyak ditemukan pada kelompok responden yang pendidikan terakhirnya sekolah dasar.

Penelitian juga menyoroti keterkaitan mata pencaharian di sektor pertanian dan peternakan dengan interaksi serta potensi konflik dengan macan tutul.

 

Refrensi:

Raharja, A., Syartinilia, & Ario, A. (2025). Persepsi Masyarakat Desa Sekitar Gunung Sawal terhadap Konflik Manusia dan Macan Tutul Jawa. Jurnal Lanskap Indonesia, 17(1), 16–22 https://journal.ipb.ac.id/index.php/jli/article/view/54097

 

*****

 

Macan Tutul Jawa Terpantau di Nusakambangan, Bagaimana Populasinya?

Exit mobile version