Mongabay.co.id

Katak Pohon Harlequin, Amfibi Hutan Sumatera yang Tidak Mudah Dilihat

  • Namanya, katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal dalam Bahasa Inggris disebut Harlequin Tree Frog. Katak ini terpantau di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
  • Jenis ini memiliki sebaran cukup luas di Sumatera. Namun, perjumpaannya relatif jarang karena lebih sering berada di hutan, khususnya yang ada genangan air.
  • Hutan Sumatera tidak hanya menyediakan habitat bagi mamalia besar, tetapi juga bagi satwa ukuran kecil dengan kebutuhan ekologis beragam. Sebagian hidup di lantai hutan, sementara lainnya menempati pepohonan, tepian sungai, atau lingkungan lembab di sekitar genangan air
  • Meskipun tidak selalu menjadi perhatian utama dalam pengamatan satwa, katak memiliki peran dalam ekosistem. Sebagai pemangsa berbagai jenis hewan kecil, katak menjadi bagian dari jaring-jaring makanan. Katak juga dapat menjadi sumber makanan bagi satwa lain.

Warna kuning pada sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, kontras dengan punggungnya yang berwarna cokelat kemerahan. Namanya, katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal dalam Bahasa Inggris disebut Harlequin Tree Frog. Katak ini terpantau di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan, jenis ini memiliki sebaran cukup luas di Sumatera. Namun, perjumpaannya relatif jarang karena lebih sering berada di hutan, khususnya yang ada genangan air.

“Hubungan antara pepohonan dan genangan air membuat di hutan sangat mendukung mendukung kehidupannya,” ungkapnya, Senin (28/9/26).

Katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal juga dengan nama Harlequin Tree Frog. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Katak ini termasuk famili Rhacophoridae, yang banyak dijumpai di kawasan tropis Asia. Tubuhnya relatif kecil. Jantan panjang sekitar 4–5,5 sentimeter, sedangkan mencapai 6–7 sentimeter. Ukuran tersebut diukur dari ujung moncong hingga kloaka, bukan sampai ujung kaki.

“Sisi tubuhnya cenderung kekuningan dihiasi bintik-bintik gelap. Bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan.”

Kaki belakangnya yang panjang, mendukung kemampuan melompat. Sementara itu, selaput di antara jari-jari kaki membantu memperluas permukaan tubuh saat katak bergerak di udara. Pada sejumlah katak pohon dari genus Rhacophorus, adaptasi tersebut memungkinkan mereka meluncur dari satu tempat ke tempat lain.

Kemampuan meluncur inilah yang membuat sejumlah spesies dalam kelompok tersebut dikenal sebagai katak terbang. Bukan berarti katak dapat terbang aktif seperti burung, melainkan mampu memanfaatkan selaput pada tubuhnya untuk memperlambat penurunan dan mengarahkan pergerakan ketika berpindah di antara pepohonan.

Menurut Mistar, perjumpaan dengan Rhacophorus pardalis di Kalimantan relatif lebih umum dibandingkan di Sumatera.

“Spesies ini juga diketahui memiliki sebaran di Semenanjung Malaysia dan sejumlah wilayah Asia Tenggara lainnya,” ungkapnya.

Jenis ini tidak mudah dilihat karena aktif malam hari dan berada di pohon. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Amir Hamidy, pakar herpetologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan kehidupan katak pohon Harlequin sangat bergantung pada keberadaan pepohonan di hutan.

“Bila hutan rusak, kehidupannya sangat terganggu. Penebangan pohon dan perubahan tutupan hutan dapat menghilangkan tempat katak berlindung, berpindah, maupun berkembang biak,” ungkapnya, Senin (26/10/26).

Jenis ini umumnya aktif malam hari. Jika ditemukan siang hari, perpindahan tempat dapat terjadi karena satwa tersebut merasa terganggu.

“Meskipun hidup di pohon, namun untuk bertelur, ia membutuhkan genangan air dan akan bertahan satu atau dua hari.”

Katak pohon Harlequin memiliki sebaran cukup luas di Sumatera, namun jarang terlihat. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Katak merupakan kelompok amfibi yang memiliki hubungan erat dengan air, terutama selama fase awal kehidupan. Berbeda dengan mamalia yang anaknya berkembang di dalam tubuh induk atau telur yang memiliki cangkang keras, banyak jenis katak meletakkan telur di lingkungan yang lembab atau perairan.

Pada sejumlah spesies katak pohon dari genus Rhacophorus, proses reproduksi melibatkan pembentukan sarang berbusa yang melekat pada vegetasi di atas kolam atau genangan air. Busa tersebut menjadi tempat telur diletakkan. Setelah menetas, berudu jatuh ke dalam air dan melanjutkan perkembangan hingga mengalami metamorfosis menjadi katak muda.

Habitat katak pohon tidak dapat dipahami hanya dari keberadaan pohon tempatnya bertengger. Kondisi genangan air, kelembaban, dan vegetasi di sekitarnya turut menentukan kesesuaian lingkungan bagi satwa tersebut.

“Genangan air di dalam hutan juga tidak selalu berupa sungai besar atau kolam permanen. Dalam sejumlah habitat, cekungan yang menampung air hujan dapat menjadi bagian dari lingkungan yang dimanfaatkan amfibi. Kesesuaian setiap lokasi tetap bergantung pada karakteristik spesies dan kondisi perairannya.”

Cagar Alam Jantho Kabupaten Aceh Besar, Aceh, merupakan habitat alami katak pohon Harlequin. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Tidak selalu mudah ditemukan

Amir mengatakan, spesies ini telah dikenal sejak abad ke-19 dan memiliki sebaran di beberapa wilayah Asia Tenggara.

“Jenis ini awalnya ditemukan pada 1800-an dan sebarannya di Pulau Kalimantan, Sumatera, serta beberapa daerah lain.”

Sebaran geografisnya tidak serta-merta membuat suatu spesies mudah ditemukan di setiap wilayah. Frekuensi perjumpaan di lapangan dapat dipengaruhi kondisi habitat, waktu pengamatan, perilaku satwa, dan intensitas survei yang dilakukan.

Katak yang hidup di pepohonan tidak selalu terlihat dari permukaan tanah. Pengamat perlu memperhatikan vegetasi, daun, ranting, dan bagian hutan yang memiliki kondisi sesuai dengan kebutuhan satwa tersebut.

Hutan Jantho juga merupakan habitatnya orangutan sumatera. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Amir juga menyoroti kekayaan amfibi di Sumatera. Menurut dia, pulau ini memiliki banyak jenis katak, sehingga menjadi wilayah penting untuk mengenali keanekaragaman kelompok satwa tersebut.

“Keanekaragaman itu menunjukkan bahwa hutan Sumatera tidak hanya menyediakan habitat bagi mamalia besar, tetapi juga bagi satwa ukuran kecil dengan kebutuhan ekologis beragam. Sebagian hidup di lantai hutan, sementara lainnya menempati pepohonan, tepian sungai, atau lingkungan lembab di sekitar genangan air.”

Meskipun tidak selalu menjadi perhatian utama dalam pengamatan satwa, katak memiliki peran dalam ekosistem. Sebagai pemangsa berbagai jenis hewan kecil, katak menjadi bagian dari jaring-jaring makanan. Katak juga dapat menjadi sumber makanan bagi satwa lain.

Keberadaan amfibi dengan kebutuhan habitat yang berbeda turut memperlihatkan kompleksitas ekosistem hutan. Setiap jenis memiliki karakteristik dan ketergantungan lingkungan yang tidak selalu sama.

Berdasarkan IUCN, Rhacophorus pardalis masuk kategori Risiko Rendah (Least Concern/LC).

 

*****

 

Katak Pohon, Spesies Baru dari Pulau Jawa

Exit mobile version