Mongabay.co.id

Sebelum Dinosaurus Menguasai, Hujan Ekstrem Pernah Mengguyur Planet Bumi Selama Satu Juta Tahun

Pada Peristiwa Pluvial Karnia sekitar 232 juta tahun lalu, curah hujan tinggi bertahan selama satu hingga dua juta tahun di banyak wilayah. Foto: Tianrun (Roderick) Qiu/Pixabay

Iklim Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Dalam rentang ratusan juta tahun, planet ini berkali-kali berganti wajah, dari masa yang sangat panas, masa yang membeku, sampai masa ketika hujan turun dalam jumlah luar biasa. Perubahan itu meninggalkan jejak di batuan dan fosil, dan dari situlah para ilmuwan menyusun cerita tentang apa yang pernah terjadi.

Salah satu babak yang menarik terjadi sekitar 232 juta tahun lalu pada zaman Trias Akhir, dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia (Carnian Pluvial Episode). Selama lebih dari 1 juta tahun, wilayah yang semula kering mengalami fase yang jauh lebih basah. Saat itu semua benua masih menyatu sebagai satu daratan raksasa bernama Pangea, dan dinosaurus baru mulai muncul.

Penyebab Fase Basah di Zaman Trias

Para peneliti menduga pemicunya adalah rangkaian letusan gunung api besar di Wrangellia, kawasan yang kini menjadi bagian barat laut Amerika Utara, antara Alaska dan British Columbia, yang mengeluarkan lava dalam jumlah sangat besar selama ratusan ribu hingga jutaan tahun. Bersamaan dengan lava itu, karbon dioksida dan metana ikut terlepas ke udara dalam jumlah yang cukup untuk memengaruhi suhu seluruh planet. Hubungan waktu antara letusan dan perubahan iklim ini belum sepenuhnya pasti, sebab penanggalan batuan Karnia masih memiliki ketidakpastian yang bisa mencapai sekitar satu juta tahun.

Gas-gas tersebut menahan panas di atmosfer sehingga suhu Bumi naik, dan udara yang lebih hangat membuat lebih banyak air dari laut maupun sungai menguap. Uap air itu kemudian turun lagi sebagai hujan, dan karena prosesnya berlangsung sangat lama, curah hujan tinggi bertahan selama satu hingga dua juta tahun di banyak tempat. Mengingat perubahan utamanya diduga berupa pemanasan global, sebagian ilmuwan menilai nama pluvial yang berarti hujan kurang menggambarkan peristiwa ini secara utuh.

Rekonstruksi posisi benua pada masa superbenua Pangea, yang masih menyatu saat Peristiwa Pluvial Karnia sekitar 232 juta tahun lalu. Bagian tengah daratan raksasa ini jauh dari laut dan cenderung panas serta kering. Rupa permukaan dalam gambar mengikuti kondisi masa kini, bukan zaman Trias. Sumber: Vannessalai (CC0).

Untuk membayangkan skalanya, sejuta tahun jauh lebih panjang daripada keberadaan manusia modern yang diperkirakan baru sekitar 300 ribu tahun. Para peneliti membaca jejak masa basah ini dari lapisan batuan di berbagai tempat di dunia, yang memperlihatkan peralihan dari kondisi kering ke basah pada kurun waktu yang sama. Di Somerset, Inggris, misalnya, selapis tipis batuan abu-abu di tengah batuan merah khas lanskap gurun menandai saat wilayah itu berubah menjadi lahan basah.

Bentuk daratan saat itu ikut berperan, sebab Pangea sangat luas sehingga bagian tengahnya jauh dari laut dan cenderung panas serta kering. Aliran udara dan arus lautnya juga berbeda dari yang dikenal sekarang, dan kondisi ini diduga membuat iklim lebih mudah terguncang oleh letusan gunung api. Karena itu, hujan ekstrem tersebut tampaknya muncul dari gabungan beberapa faktor.

Bagi makhluk hidup, perubahan ini membawa untung dan rugi: tumbuhan yang tidak tahan tanah terlalu basah kesulitan bertahan, dan hewan pemakan tumbuhan ikut terdampak, begitu pula pemangsa yang bergantung pada mereka. Namun, rawa dan danau baru menjadi tempat hidup bagi jenis lain yang cocok dengan suasana lembap. Catatan fosil menunjukkan bahwa krinoid (hewan laut sekerabat bintang laut), amfibi, dan tumbuhan darat kehilangan sejumlah jenisnya pada masa ini.

Lautan juga berubah, sebab air tawar dalam jumlah besar mengalir dari daratan ke laut dan karbon dioksida berlebih membuat air laut menjadi lebih asam. Kelompok laut yang peka terhadap perubahan itu ikut terdampak, sementara karang pembentuk terumbu dan plankton bercangkang kapur justru mulai bergerak ke bentuk yang lebih mirip kelompok masa kini. Pergeseran ini membuat sebagian ilmuwan menyebut Karnia sebagai titik balik antara dunia purba dan dunia modern.

Kepunahan dan Naiknya Dinosaurus

Perubahan lingkungan sebesar itu diperkirakan memicu kepunahan massal, baik di laut maupun di darat. Beberapa kelompok reptil termasuk yang menghilang. Meski begitu, lenyapnya jenis-jenis lama membuka ruang bagi kelompok lain untuk berkembang.

Dinosaurus termasuk yang mendapat peluang itu. Kelompok ini sudah muncul sekitar 245 juta tahun lalu, tetapi saat itu jumlahnya sangat sedikit dan hanya segelintir jenis yang dikenal. Pada awal zaman Karnia semuanya masih berukuran kecil dan berjalan dengan dua kaki, sedangkan pada akhirnya dua kelompok besar dinosaurus sudah terbentuk dan menjadi penguasa daratan. Pergeseran itu hanya memakan waktu sekitar 4 juta tahun, dan waktunya bertepatan dengan fase basah ini.

Hewan lain juga ikut diuntungkan. Amfibi besar seperti Mastodonsaurus hidup di rawa dan danau yang luas, lingkungan yang cocok bagi hewan yang membutuhkan air untuk berkembang biak. Panjang tubuhnya diperkirakan bisa mencapai beberapa meter, dan habitat air tawar yang bertambah memberinya banyak ruang untuk hidup.

Ilustrasi ikhtiosaurus (Ichthyosauria) memangsa hewan sekerabat cumi-cumi, karya Heinrich Harder tahun 1906. Reptil laut kelompok ini hidup pada zaman Trias dan diduga berburu ikan serta cephalopoda di lautan masa Pluvial Karnia. Bentuk tubuh dalam lukisan ini mengikuti pemahaman ilmuwan awal abad ke-20. Sumber: Heinrich Harder/Wikimedia Commons.

Di laut, reptil seperti ikhtiosaurus (Ichthyosauria) dan plesiosaurus (Plesiosauria) juga makin beragam. Sebagian hewan laut memang punah akibat perubahan air laut, tetapi reptil yang lebih mudah menyesuaikan diri mengisi tempat yang kosong. Mangsa mereka diduga antara lain ikan dan cephalopoda, kelompok hewan yang masih sekerabat dengan cumi-cumi.

Kisah Pluvial Karnia membantu ilmuwan memahami apa yang terjadi ketika gas rumah kaca dilepas dalam jumlah besar selama waktu yang panjang. Siklus air, bentuk daratan, dan susunan makhluk hidup berubah bersamaan. Sebagian kelompok hilang, sebagian lain berkembang, dan dunia Trias Akhir perlahan bergerak ke arah yang kelak dikuasai dinosaurus.

**

Referensi:

Marshall, M. (2019). A million years of Triassic rain. Nature, 576, 26–28. https://doi.org/10.1038/d41586-019-03699-7

Exit mobile version