Mongabay.co.id

Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau

  • Hutan Kota Srengseng menjadi ruang hijau bagi warga Jakarta untuk berolahraga, bersantai, dan menikmati udara sejuk. Kawasan seluas 10,15 hektar ini mampu menarik 200–300 pengunjung per hari saat akhir pekan.
  • Luas ruang terbuka hijau (RTH) Jakarta baru mencapai 5,56%, jauh dari target 30% yang ditetapkan pemerintah. Keterbatasan lahan dan mahalnya biaya pembebasan tanah menjadi kendala utama perluasan RTH.
  • Hutan kota berperan penting dalam mengurangi panas perkotaan melalui naungan pohon dan pengaturan iklim mikro. Efektivitasnya bergantung pada tutupan kanopi, keragaman vegetasi, kondisi tanah, dan ketersediaan air.
  • Keanekaragaman vegetasi menjadi kunci penyerapan karbon dan perbaikan kualitas lingkungan perkotaan. Namun, langkah penanaman pohon perlu dibarengi pengurangan emisi transportasi, pemeliharaan ruang hijau, serta penanganan sampah dan perburuan liar.

Pepohonan rindang memadati kawasan Hutan Kota Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Mulai dari pohon jati, akasia, beringin, lamtoro dan tanaman hias lainnya tampak berdiri tegak. Beberapa bagian sisi hutan kota tampak padat pepohonan hingga menghalau terik matahari dan menahan udara panas siang itu.

Sri Rahmawati, warga Kelurahan Joglo bersama dua orang temannya, siang itu sekitar pukul 10.00, tampak sedang menikmati Hutan Kota Srengseng, Jumat (25/9/26). Mereka mampir selepas menghadiri rapat di sekolah anaknya.

“Saya sering ke sini, di sini sepi dan udaranya bagus. Rasanya paru-paru segar ngirup udara di sini,” katanya, Jumat (25/9/26).

Rumahnya tak jauh dari hutan kota ini, setidaknya perlu 10 menit berkendara. Biasanya, tiap akhir pekan, bersama keluarga, dia menyempatkan waktu untuk berolahraga.

Hutan Kota Srengseng di Jakarta Barat menjadi ruang nagi masyarakat untuk berolahraga, beristirahat hingga rekreasi. Foto: Indah Suci Safitri/ Mongabay Indonesia

Sama dengan Ana Sulastri, warga Meruya, yang rutin datang tiap akhir pekan untuk berjalan santai, baik bersama keluarga atau teman. “Pohonnya rindang, ada suara burung juga,” katanya.

Warga bisa menikmati ruang terbuka hijau (RTH) seluas 10,15 hektar ini untuk jogging, jalan santai, menikmati pemandangan danau, hingga memancing. Bahkan ada arena untuk bermain anak. Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta, jumlah pengunjung pada akhir pekan bisa mencapai 200–300 orang per hari.

Arie Fajar Septa, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Hutan dan Dinas Pertamanan  Jakarta, mengatakan, pada 1995, kawasan ini merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Jakarta. Awalnya, luas mencapai 15 hektar, kini tinggal 10,15 hektar saja. Penyusutan ini karena normalisasi Kali Pesanggrahan pada 2013.

Perbandingan Citra Satelit Hutan Kota Srengseng
Tahun 2003 dan 2026

Diolah oleh: Indah Suci Safitri

 

 

Ruang terbuka hijau minim

Luasan RTH jauh dari target ideal. Berdasarkan UU Nomor 26/2007 tentang Penataan Ruang, target luasnya mencapai 30%.  Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta April 2026 merilis luas RTH di Jakarta 3.703,56 hektar atau 5,56% dari luas wilayah, terdiri dari taman lingkungan hingga hutan kota.

Arie mengakui, realisasi RTH di Jakarta masih belum ideal karena keterbatasan lahan. Di Jakarta Pusat, misal, wilayah ini relatif sulit untuk pengadaan hutan kota.

Pengadaan lahan, katanya, menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menambah luasan hutan kota. Selain keterbatasan lahan, harga lahan relatif mahal juga menjadi kendala.

“Pembebasan kan biayanya cukup mahal. Kemudian lokasi yang bisa dibebaskan juga tidak banyak lagi di Jakarta,” katanya.

Berdasarkan riset dari IPB (2018), hutan kota memiliki peran dalam memperbaiki iklim mikro di dalam kota. Penelitian ini juga menuliskan berkurangnya 10-50% RTH bisa menaikkan suhu udara 0,2-1,8 derajat Celcius, sebaliknya jika bertambah, maka bisa menurunkan suhu udara hingga 0,1-0,5 derajat Celcius.

Anak-anak bermain di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat. Foto: Indah Suci Safitri/ Mongabay Indonesia

Yudis Pribadi, peneliti hidrologi WRI, menjelaskan, hutan kota bekerja menurunkan panas melalui dua mekanisme utama. Pohon terlebih dahulu membentuk bayangan yang menghalangi radiasi matahari sebelum mencapai permukaan perkotaan.

“Permukaan keras di perkotaan cenderung menyimpan panas lebih kuat dan lebih lama. Kondisi itu membuat kawasan perkotaan terasa lebih panas. Karena itu, pohon berperan sebagai lapisan pertama yang menerima paparan matahari,” ujar Yudis.

Namun, dia mengingatkan tidak bisa mengukur fungsi hutan kota hanya dari jumlah pohon. Pemerintah perlu melihat struktur vegetasi secara keseluruhan.

“Kalau kita ngomongin tentang hutan kota, kita juga nggak bisa cuma sekadar ngomongin jumlah dari seberapa banyak pohon-pohon yang ada,” katanya.

Struktur itu mencakup tutupan kanopi, jenis pohon, kerapatan vegetasi, kondisi tanah, serta ketersediaan air. Semua unsur itu menentukan kemampuan vegetasi melindungi kawasan di sekitarnya.

Menurut Niken Prawestiti, Inisiator Ayo Ke Taman, bilang, keberadaan RTH di perkotaan selain menurunkan suhu di permukiman padat seperti Jakarta dapat menjadi ruang sosial bagi masyarakat perkotaan.

“Mayoritas masyarakat yang mengunjungi taman merasakan besarnya manfaat keberadaan pohon dan ruang hijau, hal ini membuat mereka mengunjungi lebih sering dan menjaga keberadaan ruang hijau yang ada,” kata Niken, Rabu (30/9/26).

Warga menikmati udara segar dan suasana nyaman di ruang terbuka hijau Jakarta. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia.

 

 Keragaman hayati untuk tekan emisi

Pemilihan jenis vegetasi, kata WRI, merupakan salah satu faktor penting dalam merancang ruang terbuka hijau. Apalagi, keduanya punya peran berkontribusi terhadap penyerapan emisi karbon.

WRI Indonesia meneliti terkait dampak emisi dan pemanfaatan vegetasi di kawasan perkotaan dengan pengembangan aplikasi EMISI. Apalagi, di Jakarta, sektor transportasi menyumbang hampir 60% emisi. Tentu, katanya,  secara signifikan mempercepat perubahan iklim dan memperburuknya kualitas udara perkotaan.

“Tidak semua jenis pohon memiliki kapasitas penyerapan karbon yang sama. Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh karakteristik spesies, tingkat pertumbuhan pohon, termasuk pertambahan diameter batang dan tinggi pohon, serta kesesuaian jenis vegetasi dengan kondisi ekosistem dan lokasi penanamannya,” jelas Retno Wihanesta, Senior Program Lead WRI Indonesia.

Niken juga bilang penanaman pohon saja tidak cukup untuk menjawab persoalan emisi dan panas perkotaan. Efektivitas penanaman pohon bergantung pada pemilihan jenis, jumlah, lokasi, serta keberlanjutan pemeliharaannya.

“Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kemampuan pohon menyerap karbon, membentuk kanopi, serta keragaman vegetasi. Penataan ruang hijau yang saling terhubung dapat memperkuat fungsi ekologis dibandingkan penanaman pohon dalam jumlah terbatas dan lokasi yang terpencar,” kata Niken.

Dia juga mendorong pemerintah mengurangi emisi transportasi dengan memperkuat angkutan umum dan membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Penanaman pohon, katanya, hanya menjadi salah satu bagian dari upaya mengatasi emisi dan panas kota. Pemerintah, katanya, perlu mengintegrasikan pengelolaan ruang hijau dengan kebijakan transportasi, bangunan, dan pelibatan masyarakat.

Sehingga, bisa menentukan sejauh mana ruang hijau dapat menyimpan karbon, menurunkan suhu, dan memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.

Jakarta yang ruang terbuka hijaunya dikalahkan hutan beton. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Dalam upaya menekan emisi transportasi, WRI pun melakukan riset di mana pilihan moda transportasi berpengaruh pada besarnya emisi. Semakin besar emisi perjalanan, semakin besar kapasitas penyerapan karbon yang diperlukan untuk mengimbanginya dengan beragam vegetasi. Misalnya, mangrove putih mampu menyerap sekitar 4,6 kilogram CO2/tahun, Pinus merkusii sekitar 2,5 kg CO2/tahun dan lain-lain.

Sementara itu, dalam upaya pengelolaan keanekaragaman hayati, pemerintah menanam pohon sesuai kondisi tanah dan lingkungannya hingga menjaga kelestariannya. Misal, untuk kawasan industri, pemilihan tanaman juga dapat mempertimbangkan kemampuan tanaman dalam menyerap polutan.

“Pemilihan tanaman kita nggak fokus bahwa ini nanti akan berdampak ke penyerapan karbon. Kita lebih melihat kesesuaian saja, misalnya jenis-jenis tertentu yang memang di situ dapat tumbuh,” kata Arie.

Meski begitu, katanya, pengelolaan keanekaragaman hayati juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain, sampah hingga perburuan liar.

“Tantangannya pertama memang banyak sampah. Kemudian kadang-kadang ada beberapa pihak yang, kalau terkait burung, misalnya, ada juga yang menjaring,” katanya.

Grafis emisi transportasi dengan jumlah pohon yang perlu kita tanam. Desain grafis oleh Hidayaturohman M. Suri

 

*****

Burung, Bioindikator Kualitas Ruang Terbuka Hijau Perkotaan di Jakarta

Exit mobile version