- Empat personel dan relawan pemadaman kebakaran hutan meninggal saat berjuang memadamkan api. Ketiga korban ditemukan meninggal di lokasi kebakaran di Pusung Lingkerm Kabupaten Probolinggo pada Kamis (15/10/26) sore. Seorang lainnya meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas.
- Balai Besar TNBTS mengeluarkan pengumuman penutupan area Penanjakan yang menjadi tujuan wisata untuk mengamati matahari terbit atau sunrise di kawasan Gunung Bromo. Penutupan area Penanjakan mulai Ahad, 17 Oktober 2026 pukul 21.30 WIB sampai batas waktu yang belum ditetapkan.
- Kebakaran juga terjadi di kawasan hutan lindung dan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo sejak Jumat, 16 Oktober 2026. Sebanyak 110 pendaki berhasil dievakuasi, sebelumnya dikabarkan sebanyak 29 pendaki terjebak di puncak.
- Kebakaran hutan juga menyebabkan kerusakan jaringan pipa air bersih Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Desa Jatiarjo. Total pipa pvc diameter tiga sampai lima inci sepanjang empat kilometer. HIPPAM melayani 2.500 rumah untuk 7.700 jiwa.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menelan korban jiwa. Empat personel pemadam kebakaran tewas usai berjuang memadamkan api. Tiga korban meninggal di lokasi kebakaran di Pusung Lingkerm, Kabupaten Probolinggo Kamis (15/10/26) sore.
Ketiganya adalah Sukaris, pegawai Balai Besar TNBTS (BBTNBTS), Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah pegawai PT Mitra Indo Permai (MIP). Sedangkan satu korban lain, Hendra Rony Wagiyanata, personel Manggala Agni BBTNBTS.
DIa menghembuskan napas terakhir setelah tiga yang lain jalani perawatan di RSUD Tongas, Probolinggo. “Turut berduka cita atas meninggalnya personel saat memadamkan kebakaran,” kata Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala BBTNBTS dalam siaran pers yang Mongabay terima.
Kebakaran bermula pada Selasa (13/10/26). Petugas BBTNBTS menerima informasi dari Kepala Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo pukul 14.23. Informasinya, kebakaran ladang di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan TNBTS.
“Menindaklanjuti informasi, petugas TNBTS menuju lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk meminta bantuan personel memadamkan kebakaran,” kata Rudi.
Sejumlah warga bersama perangkat desa berupaya memadamkan api. Karena jauh dari sumber air dan lokasi yang sulit untuk kendaraan penyemprot, pemadaman pun berlangsung secara manual menggunakan alat pemukul atau gepyok. Ternyata api terus merambat masuk ke kawasan TNBTS hingga mencapai lokasi dengan medan yang terjal dan sulit terjangkau.
“Akhirnya api berhasil dipadamkan Rabu 14 Oktober 2026 pukul 11.45,” katanya.
Petugas terus memantau hingga malam dan memastikan tak ada api dan asap. Pada Kamis (15/10/26), pukul 09.20 dari Posko Karhut Cemoro Lawang, Probolinggo terlihat asap tebal di lokasi sebelumnya. Empat personel menuju lokasi dan berusaha memadamkan api.
Api terus membesar, petugas meminta tambahan dukungan personel. Lantas pegawai pemegang perizinan berusaha sarana wisata alam (PSWA) MIP, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) membantu pemadaman. Mereka melakukan penyekatan api yang menjalar di kawasan Mentigen, Probolinggo.
Mereka membagi tim menjadi dua regu, di sebelah kiri dan kanan api. Sekitar pukul 13.00, tiba-tiba berembus angin kencang yang menyebabkan enam personel terjebak di tengah kobaran api. Sedangkan lima personel berhasil menyelamatkan diri, karena lokasi berlawanan dengan arah api.
Setelah kobaran mereda, tiga dari enam personel yang terjebak meninggal dunia di lokasi kejadian pada pukul 13.30 dengan kondisi tubuh terbakar. Sedangkan satu lainnya kritis akibat luka bakar. Korban terakhir pun meninggal setelah menjalani perawatan di RSUD Tongas.
Selain empat korban meninggal, dua personel mengalami luka bakar berat. Mereka adalah Munawi, relawan MPA, dan Suraji- petugas keamanan MIP yang kini di Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya.
BBTNBTS menyatakan menutup area Penanjakan yang menjadi tujuan wisata untuk mengamati matahari terbit atau sunrise di kawasan Gunung Bromo. Penutupan berlangsung sejak Sabtu (17/10/26) pukul 21.30.
“Aktivitas kunjungan wisata dan aktivitas warga di area Penanjakan hanya boleh sampai Lemah Pasar. Mohon seluruh wisatawan, pelaku jasa wisata, dan masyarakat, katanya, untuk mematuhi seluruh ketentuan kunjungan. Serta tidak melakukan aktivitas yang bisa merusak potensi alam dan menyebabkan kebakaran.”
Beri penghormatan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan penghormatan dan apresiasi sebesar-besarnya atas dedikasi, keberanian, dan pengabdian korban meninggal.
Mereka gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan dan bagian dari perjuangan untuk melindungi keselamatan lingkungan. Sekaligus menjaga kelestarian ekosistem, dan mencegah dampak kebakaran yang lebih luas.
Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam pernyataan tertulis menyebut berbagai tantangan dan risiko personel dalam tugas di lapangan.
Kondisi medan, perubahan arah angin, perkembangan titik api, dan dinamika di lapangan menjadi faktor penentu. “Dibutuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan tinggi,” tulis Berton.
Menurut dia, peristiwa itu menjadi pengingat besarnya tanggung jawab dan risiko personel dalam menjalankan tugas pemadaman kebakaran hutan.
“Setiap langkah penanganan harus didukung penilaian risiko yang cermat. Juga pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, jalur evakuasi, komunikasi dan koordinasi.”
Dia bilang, pengambilan keputusan di lapangan perlu mempertimbangkan kondisi api, arah dan kecepatan angin. Sekaligus karakteristik medan, dan potensi bahaya yang mengancam keselamatan personel. Sehingga, butuh kesiapan sarana dan prasarana pendukung, penerapan prosedur keselamatan, dan kemampuan evakuasi secara cepat dan tepat untuk meminimalkan risiko.
“Perlu penguatan sistem peringatan dini dan kesiapan respons darurat,” katanya. Upaya pencegahan secara terpadu, katanya, diharapkan bisa mengurangi risiko kebakaran sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Perlindungan lingkungan, harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap personel yang berada di garis depan penanganan bencana.
“Pengabdian mereka menjadi pengingat bahwa di balik setiap upaya melindungi alam dan masyarakat, terdapat perjuangan, keberanian, dan pengorbanan yang patut dihormati,” ujarnya.
Evakuasi ratusan pendaki Arjuno
Selain Bromo, kebakaran juga melanda kawasan hutan lindung dan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo di Gunung Arjuno, Kabupaten Pasuruan, sejak Jumat (16/10/26). Menyusul peristiwa itu, tim dari Badan Search and Rescue (Basarnas) mengevakuasi 110 pendaki yang sempat terjebak.
“Semua berhasil dievakuasi melalui Kop-Kopan. Semua aman dan selamat,” kata Sugeng Hariadi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan melalui apliksi perpesanan. Area yang terbakar, katanya, meliputi Puthuk Bulak, Gua Gambir, Tungwulung, Anjat dan Gunung Ringgit.
Sugeng menyatakan telah mengerahkan personelnya untuk membantu pemadaman.
“Upaya pengendalian dengan membuat sekat bakar dan pemadaman dengan peralatan manual,” kata Sugeng.
Jumadi, Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Jawa Timur (Jatim), menuturkan, para personel dari polisi kehutanan, relawan dari manggala agni, masyarakat, polisi dan TNI juga turun ke lokasi untuk memadamkan api.
Hingga Sabtu (17/10/26), total area terbakar mencapai 170 hektar. Namun, itu hanya untuk area yang masuk wilayah Mojokerto. Meliputi Gunung Kukusan, Putuk Kencur, Putuk Duro, Putuk Sembung dan Bukit Cendono. “Ada 80-an personel terlibat pengendalian kebakaran,” katanya dalam pernyataan tertulisnya.
Sedangkan di wilayah Pasuruan, total luas area yang terbakar belum terakumulasi. Area ini mencakup Puthuk Bulak, Guo Gambir, Blok Tungwulung, Blok Anjat dan Gunung Ringgit. Ia menyebut luas hutan yang terbakar belum bisa diakumulasi. Sedangkan di wilayah Sumberbrantas, Kota Batu api telah padam.
“Pengendalian kebakaran difokuskan di area yang mudah terjangkau dan aman. Dibuat sekat bakar dan dipantau berkelanjutan,” katanya. Setiap lokasi memiliki tingkat kesulitan dan medan yang berbeda, untuk itu diutamakan keamanan dan keselamatan personel yang bekerja di lapangan.
Agustiningtyas Marini, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura R. Soerjo, menyatakan menutup pendakian Gunung Arjuno-Welirang sejak Jumat (16/10/26). “Sehubungan dengan kebakaran, seluruh aktivitas pendakian Gunung Arjuno-Welirang ditutup sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” tulisnya.
Ratusan relawan pemadam kebakaran Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan juga bergerak memadamkan api. Desa Jatiarjo berhimpitan dengan kawasan hutan Tahura R. Soerjo. Dardiri, Kepala Desa Jatiarjo, mengatakan kebakaran kali ini berada di titik yang sama dengan peristiwa yang terjadi sebulan lalu. “Medan curam, relawan kesulitan menjangkau lokasi di wilayah Gunung Ringgit,” katanya.
Relawan kebakaran hutan Desa Jatiarjo terbentuk sejak 2006. Mereka telah mengikuti pelatihan khusus. Setiap kelompok dipimpin koordinator yang berpengalaman, dan bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP). “Belajar dari pengalaman, dulu sering kecelakaan. Tapi tak sampai fatal,” katanya.
Kini, sudah ada empat generasi yang bergabung dalam relawan pemadaman kebakaran hutan. Tak hanya api, tapi juga pohon tumbang dan longsoran batu berpotensi terjadi saat pemadaman kebakaran.
Dardiri menilai, waterbombing menggunakan helikopter tak efektif dalam menanggulangi kebakaran seperti yang dilakukan BPBD Jawa Timur pada 2023.
“Daya tampung air kecil. Selain itu, kabut air tak menjangkau langsung titik api,” katanya.
Jadi, katanya, mencegah kebakaran lebih baik daripada menanggulanginya. Dardiri menduga kebakaran di Gunung Arjuno karena faktor manusia.
“Polisi harus menyelidiki dan menangkap pelaku. Beri efek jera, agar tak terus berulang,” kata Dardiri.
Dia melihat, kebakaran berpola dan terjadi di titik yang sama setiap tahun. Dardiri mengaku beberapa kali berkirim surat ke Dinas Kehutanan Jawa Timur agar dilakukan mitigasi dari kebakaran hutan.
“Sebenarnya tak perlu penanaman atau reboisasi. Karena hutan di Gunung Arjuno memiliki kekhasan, pohon cepat tumbuh. Kuncinya jangan ada kebakaran,” katanya.
Jaringan pipa air bersih rusak
Kebakaran hutan juga menyebabkan kerusakan jaringan pipa air bersih Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Desa Jatiarjo. Total pipa pvc diameter tiga sampai lima inci sepanjang empat kilometer.
HIPPAM melayani 2.500 rumah untuk 7.700 jiwa. Setiap rumah diperkirakan membutuhkan 250 liter per hari. Untuk sementara secara bergotong royong warga mengambil air dari sumber air terdekat.
“Butuh dana puluhan juta untuk memperbaiki jaringan pipa air minum,” kata Dardiri.
Secara ekologi, katanya, kebakaran hutan berpotensi menyebabkan banjir dan tanah longsor. Serta menyebabkan matinya sumber mata air, kerusakan hutan dan keanekaragaman hayati. Tahura R Soerjo seluas 27.868,30 hektar, terdiri atas hutan lindung 22.908,3 hektar, dan Kawasan Cagar Alam Arjuno-Lalijiwo 4.960 hektar.
Tahura R Soerjo menjadi habitat aneka jenis satwa seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus), Rusa Timor (Rusa timorensis) dan Kijang (Muntiacus muntjak). Serta aneka burung atau aves seperti Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Raja Udang (Halcyon cyanoventris), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Tekukur (Streptopelia chinensis), Kepodang (Oriolus xanthonotus), dan Ayam Hutan (Gallus gallus).
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jatim mendata hingga Agustus 2026 total sekitar 10.000 hektar hutan di Jatim telah terbakar. Sekitar 80% berada di bawah pengelolaan negara seperti taman nasional, dan tahura. “Walhi sudah jauh-jauh hari mengingatkan potensi kebakaran hutan saat ada fenomena El Nino Godzilla,” katanya.
Pemerintah, katanya, harus menyiapkan langkah preventif atas potensi kebakaran hutan. Pradipta Indra Ariono, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim menyayangkan, upaya pemadaman kebakaran di Bromo yang sampai merenggut nyawa. Dia berharap peristiwa itu menjadi pelajaran penting dan tak kembali terulang.
*****
Asap Karhutla Ancam Kesehatan, Warga Kalbar Desak Pertanggungjawaban Negara