Di Indonesia, kobra lebih akrab disebut ular sendok. Ular berbisa ini juga punya tempat yang kuat dalam kebudayaan Sri Lanka, tempat jejaknya mudah ditemukan. Sosok kobra terpahat pada batu, mulai dari kisah Buddha yang dilindungi kobra mitos Muchalinda dari badai hingga ukiran kobra berkepala tujuh di dekat waduk kuno. Kobra juga hadir dalam tarian topeng Naga Raksha dan menjadi bagian lambang kongres ular pertama di dunia. Hubungan yang berlangsung berabad-abad itu membuat kobra dikenal sebagai simbol sekaligus satwa.
Di balik itu, ada pertanyaan ilmiah yang belum tuntas: apakah kobra Sri Lanka layak dianggap spesies tersendiri? Kobra kacamata (Naja naja) tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Bhutan, dan Sri Lanka, dan secara umum diperlakukan sebagai satu spesies. Studi terbaru yang melibatkan peneliti Indian Institute of Science menemukan bahwa kobra di pulau itu membentuk garis keturunan genetik yang berbeda dari populasi di daratan India. Temuan ini menghidupkan lagi persoalan taksonomi yang diangkat seorang ahli zoologi Sri Lanka hampir sembilan dekade lalu. Para peneliti sendiri belum menyatakan kobra Sri Lanka sebagai spesies terpisah, dan keputusan itu masih berada di tangan para taksonom.
Hampir Sembilan Dekade Perdebatan Taksonomi
Ceritanya bermula pada 1939, ketika ahli zoologi Sri Lanka, P. E. P. Deraniyagala, menjelaskan kobra kacamata dengan tambahan corak mirip mata pada tudungnya. Ia menamainya variasi warna polyocellata. Saat itu, bentuk tersebut diperlakukan sebagai variasi warna kobra India, bukan subspesies khas Sri Lanka.
Deraniyagala kembali menulis soal taksonomi kobra pada 1945 dan 1960, termasuk mengusulkan beberapa ras geografis di anak benua India. Namun, penelitian morfologi sesudahnya menyatukan semua bentuk itu di bawah Naja naja. Selama beberapa dekade, kobra Sri Lanka pun dianggap satu spesies dengan kobra India.
Pada 2022, sebuah studi genetik mengusulkan agar polyocellata dihidupkan kembali sebagai spesies terpisah, Naja polyocellata. Usulan itu didasarkan pada perbedaan genetik yang cukup besar antara kobra Sri Lanka dan kobra di daratan India. Setahun kemudian, usulan tersebut dibantah.
Herpetolog Wolfgang Wüster dari Bangor University, Inggris, dan Frank Tillack dari Museum für Naturkunde, Jerman, menilai bukti pemisahan spesies belum cukup. Sampel studi 2022 hanya berasal dari India bagian semenanjung, dan analisisnya banyak bertumpu pada DNA mitokondria. Keduanya juga mengungkap dua spesimen kobra tua di museum Berlin yang terverifikasi berasal dari Sri Lanka.
Salah satu spesimen itu ditetapkan sebagai lektotipe, yaitu spesimen yang dipilih sebagai acuan resmi sebuah spesies. Dengan penetapan ini, lokasi acuan Naja naja dibatasi ke Sri Lanka. Akibatnya, nama polyocellata menjadi sinonim junior, yakni nama yang kalah dan tidak lagi dipakai.
Terpisah Laut, Berakar dari Afrika
Studi terbaru membawa pertanyaan ini kembali ke permukaan. Menurut Kartik Sunagar, ahli biologi evolusi di Indian Institute of Science, timnya memeriksa 67 individu dan memakai sembilan penanda genetik, baik dari mitokondria maupun inti sel. Cakupan itu lebih luas dibanding studi sebelumnya yang dikritik karena sampelnya terbatas.
Hasilnya, kobra Sri Lanka membentuk kelompok genetik tersendiri yang terisolasi secara geografis dari populasi daratan India. Sebaliknya, kobra dari berbagai wilayah India hanya sedikit berbeda secara genetik, kata Sunagar. Kedua kelompok diperkirakan berpisah sekitar dua juta tahun lalu, pada akhir Pliosen atau awal Pleistosen.
Perubahan permukaan laut diduga ikut berperan. Saat muka laut rendah, India dan Sri Lanka terhubung daratan sehingga satwa bisa berpindah. Ketika air naik, hubungan itu terputus dan populasi terisolasi, meski peneliti menegaskan hal ini belum terbukti sebagai penyebab langsung.
Sunagar mengatakan timnya tidak terburu-buru menyebut kobra Sri Lanka sebagai spesies terpisah. “Itu memerlukan pendekatan ilmiah yang berbeda dan lebih banyak studi,” ujarnya. Keputusan apakah garis keturunan ini layak berstatus spesies diserahkan kepada para taksonom.
Studi ini juga menelusuri asal-usul kobra. Analisis filogenetik menunjukkan genus Naja berasal dari Afrika, lalu Naja naja menyebar ke Asia Selatan pada Miosen. Fosil menunjukkan kobra pernah hidup di Eropa, termasuk Naja romani di Eropa Tengah, dan bertahan hingga Pliosen sebelum menghilang saat iklim mendingin.
**
Referensi
Kanunjna, P. D., Gond, P. G., Unawane, A., & Sunagar, K. (2026). Spectacular saga: Phylogenetics and phylogeography of the Indian spectacled cobra (Naja naja Linnaeus, 1758). Molecular Phylogenetics and Evolution, 223, Article 108654. https://doi.org/10.1016/j.ympev.2026.108654
