Mongabay.co.id

Pohon Asuh dari Hutan Nagari Simarasok

  • Warga Nagari Simarasok, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengembangkan program pohon asuh untuk mendukung pelestarian Hutan Nagari seluas sekitar 397 hektar. Melalui program ini, individu maupun lembaga dapat memilih dan membiayai pemeliharaan pohon dengan biaya Rp100.000–Rp200.000 per tahun, bergantung pada diameter pohon. Pada 2026, sekitar 43 pohon telah memiliki pengasuh dari total 216 pohon yang dikelola dalam program tersebut.
  • Keberadaan hutan menjadi penopang kehidupan warga, terutama untuk menjaga ketersediaan air bersih dan irigasi sawah. Hasil identifikasi pengelola menunjukkan terdapat sekitar 10 mata air di kawasan hutan yang tetap mengalir meski musim kemarau. Hutan juga mendukung mata pencaharian masyarakat melalui pertanian, kopi, kayu manis, cengkih, getah pinus, dan usaha madu.
  • Usaha madu kelulut menjadi salah satu sumber pendapatan sekaligus ruang pemberdayaan perempuan. Madu dijual langsung kepada konsumen dengan harga sekitar Rp350.000 per liter. Bagi perempuan yang terlibat, kelompok usaha juga membuka akses terhadap pelatihan, pengetahuan, dan kesempatan mengembangkan ekonomi keluarga, meski manfaat kesejahteraannya belum maksimal.
  • Selain pohon asuh dan usaha madu, warga mengembangkan kopi, agroforestri, serai wangi, serta melakukan patroli dan penanaman pohon. Ke depan, mereka berharap potensi jasa lingkungan dan ekowisata, termasuk sumber air, arung jeram, dan Goa Agam Tabik, dapat menjadi sumber kesejahteraan jangka panjang. Bagi warga, menjaga hutan berarti mempertahankan sumber air sekaligus penghidupan masyarakat.

Zakir menunjukkan pesan di telepon pintarnya dari salah seorang pengasuh pohon di Hutan Nagari (desa adat) Simarasok, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

“Terimakasih warga Nagari Simarasok, masih ada yang peduli dengan hutan dan menjaga hutan.” tulis pesan singkat itu.

Warga Nagari Simarasok tidak pernah bertemu para pengasuh pohon di nagarinya itu. Sebab, kebanyakan mereka dari luar daerah. Salah satunya yang berkirim pesan dengan Zakir. Dia adalah warga Jambi dan mengasuh sejumlah pohon di Nagari Simarasok.

Pohon asuh merupakan salah satu model pengelolaan hutan di Nagari Simarasok setelah pengesahan kawasan hutan nagari oleh Menteri Kehutanan pada Juli 2017. Luasnya sekitar 397 hektar.

Zakir, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Simarasok bilang,  menjaga hutan tidak hanya  dengan menanam dan merawatnya.  Dengan dampingan  KKI Warsi  juga mengembangkan program pohon asuh, yang memungkinkan orang atau lembaga mengadopsi pohon tertentu dan membiayai pemeliharaannya.

“Melalui program ini, orang yang menjadi pengasuh pohon mendapatkan sertifikat digital serta laporan mengenai kondisi pohon sebanyak tiga kali dalam setahun. Pohon yang ditawarkan telah diberi tagging sehingga pengasuh dapat mengetahui pohon yang mereka pilih,” ujarnya.

Pengelola memperbaharui tagging di Pohon Asuh Hutan Simarasok. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesoia.

Pengasuh memilih sendiri pohon asuhan

Program itu  membuka tiga pilihan berdasarkan diameter pohon. Pohon dengan diameter 60 sentimeter ke atas dapat diasuh dengan biaya Rp200.000 per tahun per batang. Untuk diameter 40-60 sentimeter, biayanya Rp150.000 per tahun.

Sementara pohon dengan diameter di bawah 40 sentimeter ditawarkan dengan biaya Rp100.000 per tahun, yang Zakir sebut sebagai paket mahasiswa.

“Calon pengasuh dapat memilih sendiri pohon melalui situs Pohon Asuh. Di sana tercantum pohon yang sudah memiliki pengasuh dan pohon yang masih tersedia. Dari sejumlah pilihan tersebut, paket Rp150 ribu menjadi yang paling banyak diminati,” jelasnya.

Menurut dia,  pohon yang dia tawarkan untuk pengasuhan bukan sembarang pohon. Mereka memilih pohon yang dia pastikan mampu bertahan dan tidak mudah tumbang selama masa pengasuhan.

Jenis pohon juga  yang  tumbuh  alami di hutan, termasuk jenis  yang sudah populer di masyarakat, seperti mangalan, kale, dan madang.

Pada 2026, sekitar 43 pohon memiliki pengasuh dalam pendataan terakhir, sementara pohon yang terkelola untuk program itu   sekitar 216 batang.

“Masa pengasuhan setiap pohon berbeda. Ada yang berakhir pada Oktober 2026, sementara lainnya berlangsung hingga Maret tahun berikutnya. Pohon yang masa pengasuhannya tidak diperpanjang dapat kembali ditawarkan kepada pengasuh baru.”

Aktivitas panen padi di Nagari Simarasok. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Pengelola berharap program ini tidak hanya menarik individu dan lembaga dari luar daerah,  juga pemerintah daerah dan institusi. Menurut mereka, masyarakat yang menjaga hutan sebenarnya sedang mempertahankan cadangan karbon sekaligus sumber air yang warga perlukan.

“Kalau pohon ditebang, karbon itu lepas,” ujar Zakir.

Pemerintah daerah, kepolisian, hingga institusi lain, katanya, bisa ikut mengadopsi pohon sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan. Sejauh ini,  justru banyak pengasuh berasal dari luar daerah. Bahkan,  terdapat dua warga negara Jepang yang disebut ikut mengasuh pohon di kawasan tersebut.

“Prosesnya tidak sulit, bisa kunjungi situs pohonasuh.org.”

Katanya, keterlibatan pihak luar juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap hutan dapat dibangun melalui skema sederhana: seseorang tidak harus datang langsung ke hutan untuk ikut menjaganya, tetapi dapat berkontribusi melalui pohon yang diasuh.

Upaya mempertahankan hutan tersebut tidak terlepas dari ketergantungan masyarakat Nagari Simarasok terhadap kawasan hutan. Zakir katakan, sebagian besar kehidupan masyarakat berkaitan dengan hutan, terutama untuk ketersediaan air.

Air bersih dan air untuk sawah masyarakat berasal dari kawasan hutan. Dari hasil identifikasi, terdapat sekitar 10 mata air yang tak pernah mati, meski kemarau. “Sumber-sumber tersebut tersebar di kawasan hutan, mulai dari sekitar kawasan pinus hingga bagian lain dari wilayah hutan nagari.”

Bagi masyarakat, keberadaan hutan juga berkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi. Selain bertani, mereka mengembangkan usaha madu dan sejumlah komoditas seperti kopi, kayu manis, dan cengkih, termasuk Zakir. Dia mengelola sawah, kayu manis, cengkih dan juga kebun kopi.

Sekali panen, Zakir bisa mendapat sekitar 40 kilogram kopi. Dia memilih menjual dalam bentuk cherry dengan harga sekitar Rp9.000 setiap kilogramnya. Menurutnya, menjual kopi dalam bentuk cherry lebih praktis karena pengolahan menjadi green bean membutuhkan waktu dan tenaga tambahan. Kopi harus melalui proses penjemuran sekitar lima hari sebelum dapat dia jual dengan harga yang lebih tinggi.

Selain Zakir, ada juga Jumiarti, perempuan dari Simarasok yang gantungkan sumber perekonomiannya dari bertani. Lokasinya persis di samping Hutan Nagari Simarasok. “Sawah ada, lalu juga ada kebun kayu manis, itu untuk jangka panjang jika ada kebutuhan mendesak,” katanya.

Selain untuk konsumsi, hasil panen dia jual untuk keperluan sehari-hari. “Cukuplah,” katanya.

Sebagian pengelola Hutan Nagari Simarasok. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Kembangkan madu

Selain pohon asuh, pengelola hutan nagari juga mengembangkan madu sebagai salah satu sumber pendapatan dari kawasan hutan. Madu dijual langsung kepada konsumen dengan harga sekitar Rp350.000 per liter. Ada pelanggan yang membeli secara rutin setiap dua bulan, sementara sebagian lainnya membeli dalam ukuran lebih kecil.

Namun, pemasaran madu masih menjadi tantangan. Pengelola menyebut harga yang petani terima dari pembeli dalam jumlah besar dapat jauh lebih rendah ketimbang harga jual kembali di pasar.

Hari itu, sejumlah anggota kelompok tengah memanen madu kelulut yang ada di pinggiran hutan nagari. Kotak-kotak lebah berdiri di tengah rimbunnya pepohonan, sejumlah lebah kelulut juga tampak keluar dari sarangnya.

Dua perempuan memanen madu itu dengan cekatan, menggunakan selang dan alat kecil yang menghisap madu dari sarang-sarang madu. Selain Jumiarti, ada juga Zurniati yang sibuk mengumpulkan madu dalam tabung. Warnanya kuning dan rasanya manis keasaman. “Kalau baru dipanen tidak terlalu asam,” kata Zurniati.

Bagi perempuan yang terlibat dalam kelompok, usaha madu bukan sekadar soal menambah penghasilan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk belajar, bertemu dengan sesama anggota, dan mendapatkan pengetahuan yang dapat mereka gunakan untuk mengembangkan usaha.

Zurniati bergabung dengan pengelola hutan nagari, sejak awal pembentukannya sekitar 2006. Ketika kelompok usaha madu kemudian terbentuk, dia memilih ikut terlibat. Keputusannya untuk bertahan di kelompok itu bukan karena ada gaji bulanan.

Justru, di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga, mengelola warung, dan bekerja sebagai staf kebersihan di kantor nagari, dia melihat kelompok sebagai salah satu ruang yang dapat membuka kesempatan bagi perempuan untuk belajar dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Peningkatan kesejahteraan memang ada, cuma belum maksimal,” ujar ibu tiga anak itu.

Hamparan sawah di Nagari Simarasok yang tampak subur. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Meski manfaat ekonomi yang dia dapat belum besar, Zurniati menyebut ada manfaat lain yang membuatnya tetap bertahan. Melalui kelompok, dia bisa mendapatkan pengetahuan dan mengikuti berbagai pelatihan yang sebelumnya tidak mudah dia dapatkan.

“Walaupun tidak banyak, kami juga merasakan ada manfaatnya. Kami bisa mendapatkan pengetahuan, ikut pelatihan. Kalau tidak tergabung dalam kelompok, tidak ada kesempatan seperti itu,” ujarnya.

Menurutnya keterlibatan dalam kelompok menjadi salah satu cara untuk tetap produktif di tengah berbagai tanggung jawabnya sebagai perempuan. Dia memiliki sebuah warung yang menjual kebutuhan sehari-hari di rumah.

Di rumah, penghasilannya dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan tiga anaknya. Anak sulungnya sudah bekerja di Jakarta, anak keduanya sedang kuliah kesehatan di Padang, sedangkan anak ketiganya duduk di kelas satu SMA.

“Saya juga membeli hasil tani masyarakat, misalnya seperti kopi dan hasil tani lainnya.”

Biaya pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipikirkannya. Untuk kebutuhan kuliah anaknya setiap semester, misalnya, ia harus menyiapkan sekitar Rp4 juta. Pengeluaran tersebut dipenuhinya dari berbagai sumber penghasilan dan bantuan keluarga.

Di kelompok yang mengelola usaha sosial madu, Zurniati bersama anggota lainnya juga memiliki jadwal piket. Setiap hari, dua orang bertugas membersihkan lokasi dan memeriksa kondisi koloni lebah.

Mereka mengamati kemungkinan munculnya penyakit maupun gangguan dari hewan lain. Lebah yang dibudidayakan merupakan jenis trigona atau kelulut.

Berbeda dengan lebah yang memiliki sengat, kelulut tidak menyengat. Ketika merasa terganggu, lebah akan mengerubungi orang yang berada di dekat sarangnya. Beberapa bahkan dapat masuk ke rambut dan kemudian mati.

Zuniarti dan Jumiarti memanen madu di Hutan Nagari Simarasok. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia.

Menjaga kehidupan

Bagi masyarakat Simarasok, menjaga hutan tidak hanya berarti mempertahankan pohon, tetapi juga memastikan kawasan tersebut dapat terus memberikan penghidupan. Karena itu, warga mengembangkan berbagai usaha berbasis hutan, mulai dari getah pinus, kopi, agroforestri, serai wangi, hingga madu.

Menurut Zakir, pengelolaan tersebut terus diperkuat melalui pelatihan dan pengembangan kelompok usaha. Di saat yang sama, masyarakat tetap melakukan patroli dan penanaman pohon untuk menjaga kawasan.

Ke depan, masyarakat juga melihat potensi jasa lingkungan dan ekowisata sebagai sumber ekonomi. Sumber air, arung jeram, dan Goa Agam Tabik menjadi beberapa potensi yang ingin dikembangkan.

“Kami berharap ke depan bisa mengelola secara maksimal potensi yang ada di kawasan izin kelola kami, terutama jasa lingkungan dan ekowisata. Itu yang menurut kami akan jadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.”

Zakir menegaskna, hutan bukan hanya tempat pohon tumbuh. Dari kawasan itu, warga mendapatkan air, sumber ekonomi, juga kehidupan.

*****

 

Surga Tersembunyi Itu Ada di Hutan Nagari Sungai Buluh

Exit mobile version