Mongabay.co.id

Gambut Jambi Terus Membara, Derita Warga Terpapar Kabut Asap

  • Bara api di hutan dan lahan gambut Jambi tak jua padam. Jutaan masyarakat menghadapi pekatnya asap, alami gangguan pernapasan. Jarak pandang pun menyempit, ruang-ruang kelas belajar sementara tutup.
  • Data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menunjukkan, sepanjang September 2026 pasien infeksi saluran pernapasan (ISPA) mencapai 26.957 orang. Kota Jambi jadi penyumbang kasus paling banyak. Sejak Agustus-24 September tercatat 9.281 orang menderita gangguan pernapasan.
  • Analisis citra satelit tim GIS Walhi Jambi pada 8 Oktober 2026 menunjukkan, luas kebakaran di Jambi mencapai 43.451 hektar. Angka itu 10 kali lebih luas dari data Satgas Karhutla pada 6 Oktober 2026, mencatat areal kebakaran hanya 4.267 hektar. Luas kebakaran di Tanjung Jabung Timur melonjak menjadi 12.533 hektar, melebihi Sarolangun yang tercatat 8.922 hektar. Tebo yang terkepung asap, terpantau 7.063 hektar wilayahnya terbakar.
  • Saat ini, api sudah menembus kawasan ekosistem gambut di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) yang menjadi habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Data Walhi Jambi menunjukkan luas kebakaran di TNBS mencapai 11.339 hektar. Lebih dari 2.134 hektar hutan terbakar, berada dalam zona inti.

 

Bara api di hutan dan lahan gambut Jambi tak jua padam. Jutaan masyarakat menghadapi pekatnya asap, alami gangguan pernapasan. Jarak pandang pun menyempit, ruang-ruang kelas belajar sementara tutup.

Berbulan-bulan Anjeli batuk tanpa henti. Hasil rekam medis bocah dua tahun itu menunjukkan pembuluh darah pada parunya terlihat menonjol. Di bagian tengah paru kanan dan kiri, ada bayangan yang berkaitan infeksi paru.

“Batuk nggak sembuh-sembuh, kadang sampai muntah. Kata dokternya, pengaruh asap kebakaran,” kata Purba, ayah Anjeli.

Sejak Juli 2026, masyarakat Dusun Trans III, Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, Sarolangun, tempat mereka tinggal terkepung asap kebakaran di konsesi PT Alam Lestari Nusantara, anak perusahaan PTPN III.

Analisis citra satelit GIS Walhi Jambi, luas kebakaran lebih 2.500 hektar.

“Asap nggak ilang-ilang, ALN kebakaran terus,” keluh Purba.

Kabut asap juga mencekik masyarakat di Kota Jambi. Sudah seminggu Hanafia mengeluh pusing dan sakit tenggorokan. Dia pun harus mengkonsumsi obat dari Puskesmas.

“Minggu ini kabutnya pekat banget. Napas jadi sesak,” kata perempuan 30 tahun itu.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menunjukkan, sepanjang September 2026 pasien infeksi saluran pernapasan (ISPA) mencapai 26.957 orang. Kota Jambi jadi penyumbang kasus paling banyak. Sejak Agustus-24 September tercatat 9.281 orang menderita gangguan pernapasan.

Purba menunjukkan hasil rontgen paru anaknya yang menderita infeksi paru dampak kabut asap. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia

Zakaria, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, mengatakan, dampak kabut asap tidak hanya ISPA, partikel polutan halus yang terhirup dapat memicu risiko serangan asma, gangguan paru-paru, bahkan serangan jantung.

“Saya mengimbau kelompok rentan—anak-anak dan lansia—dan masyarakat yang memiliki komorbit, kalau tidak ada yang penting, tidak usah keluar rumah,” katanya.

Berhari-hari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Jambi dalam level berbahaya. Pada 9 Oktober 2026, data ISPU net Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan,  cemaran partikel udara PM2.5—30 kali lebih kecil dari rambut manusia—di Kota Jambi menyentuh angka 484 mikrogram per meter kubik (µg/m3).

Sejak 26 Agustus 2026, Wali Kota Jambi, Maulana, lebih delapan kali mengeluarkan surat edaran agar siswa PAUD, taman kanak-kanak, sekolah dasar dan SMP melakukan pembelajaran jarak jauh atau daring.

Pekatnya kabut asap yang menyelimuti langit Muaro Jambi membuat Novriyani kembali khawatir. Warga Desa Pematang Raman itu trauma bencana asap 2019 kembali terulang. Saat itu anaknya yang berumur tiga bulan berhari-hari demam tinggi.

Bencana kabut asap nyaris membuat ekonomi keluarganya lumpuh. Suaminya tidak bisa bekerja karena sakit. Bahkan Novri menderita peradangan pada dinding saluran bronkus akibat polusi kabut asap.

“Sampai sekarang sayo masih berobat terus.”

Kebakaran di wilayah Londerang, Tanjung Jabung Timur. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia

Nyaris 50.000 hektar terbakar

Pada 9 Oktober 2026, polusi partikel udara PM10 di Muaro Jambi mencapai 642 µg/m3, terus naik dari hari-hari sebelumnya. Sedang PM2.5 menyentuh angka 439. Hari sama, polusi udara di Kabupaten Tebo jadi yang terburuk. Cemaran PM10 tembus 1.922 µg/m3, dan PM2.5 tercatat 740 µg/m3.

Analisis citra satelit tim GIS Walhi Jambi pada 8 Oktober 2026 menunjukkan, luas kebakaran di Jambi mencapai 43.451 hektar. Angka itu 10 kali lebih luas dari data Satgas Karhutla pada 6 Oktober 2026, mencatat areal kebakaran hanya 4.267 hektar.

Luas kebakaran di Tanjung Jabung Timur melonjak menjadi 12.533 hektar, melebihi Sarolangun yang tercatat 8.922 hektar. Tebo yang terkepung asap, terpantau 7.063 hektar wilayahnya terbakar.

Kebakaran Tahura Sultan Thaha Syaifudin ikut menambah luas kebakaran di Batanghari menjadi 6.318 hektar, Muaro Jambi 4.618 hektar.

Selanjutnya Tanjung Jabung Barat 2.047 hektar, Bungo 1.259 hektar, Merangin 584 hektar, Kerinci 78 hektar, Kota Jambi 27 hektar dan Kota Sungai Penuh satu hektar.

Kebakaran lahan gambut diduga jadi penyebab kabut asap yang mengepung Kota Jambi dan sekitarnya. Walhi Jambi menyebut 17.899 hektar lahan gambut di Jambi terbakar.

Data KKI Warsi menunjukkan,  6.791 hektar gambut di Tanjung Jabung Timur hangus terbakar. Lalu, Muaro Jambi, 2.689 hektar dan Sarolangun 1.190 hektar. Sekitar 9.145 hektar gambut terbakar merupakan gambut dalam, dengan ketebalan 2-3 meter lebih.

Gubernur Jambi Al Haris meninjau proses pemadaman di wilayah gambut Londerang. Foto: Teguh Suprayitno/mongabay Indonesia

Taman Nasional Berbak kebakaran

Saat ini, api sudah menembus kawasan ekosistem gambut di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) yang menjadi habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Data Walhi Jambi menunjukkan luas kebakaran di TNBS mencapai 11.339 hektar. Lebih dari 2.134 hektar hutan terbakar, berada dalam zona inti.

Berminggu-minggu, puluhan personel satgas karhutla berjibaku memadamkan api di tengah kepungan asap. Tetapi mereka terkendala pasokan air yang menipis dan titik api yang nyaris tak terjangkau.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi api itu menjalar terlalu cepat. Untuk menjangkau titik api juga tidak ada jalan,” kata Yunaidi, Kepala Balai TNBS.

“Sampai sekarang water bombing masih terus.”

Api mengepung TNBS dari segala arah. Lelaki 58 tahun itu cerita, api mula-mula muncul di wilayah Parit 4, Rantau Rasau, Tanjung Jabung Timur pada 9 Agustus.

“Waktu itu ada warga yang bakar lahan.”

Kebakaran kemudian meluas ke wilayah Parit 5, hingga 9. Api di Parit 4 dan 5 baru padam 12 hari kemudian, setelah petugas menyuntikkan air langsung ke dalam gambut.

“Kalau wilayah 7, 8, 9 sampai sekarang masih kebakaran,” ujar mantan Kepala Balai TNBD itu.

Di tengah upaya pemadaman, kobaran api kembali muncul dari wilayah Sungai Palas dan merembet ke kawasan. Pada 12 September, giliran Bagan 6, Desa Tanah Pilih, Banyuasin II, Sumatera Selatan, terbakar. Lokasi api di luar jangkauan petugas.

Saat itu, angin mengarah ke utara, menuju Jambi. Untungnya api berhenti tepat di perbatasan provinsi.

Dua minggu berselang, Tahura Rangkayo Hitam di Kumpeh, Muaro Jambi ikut terbakar. Api yang tak terbendung terus menjalar ke TNBS sampai sekarang.

Alat berat membuat sekat bakar, tetapi gambut dalam membuat ekskavator kesulitan bergerak.

Rudi Syaf, Manager Komunikasi KKI Warsi mengatakan, kebakaran gambut lebih sulit karena api bergerak di bawah permukaan dan muncul kembali di lokasi jauh dari titik awal. Analisis Warsi melihat kebakaran di TNBS mampu melompati badan sungai.

“Ketika kondisi lanskap sangat kering, kemampuan gambut untuk mempertahankan air juga semakin berkurang.”

Cuaca kering yang dipengaruhi El-Nino turut meningkatkan kerentanan otu. Namun, aktivitas manusia di sekitar kawasan juga perlu menjadi perhatian.

Di tengah kebakaran yang terus meluas, dan cemaran partikel udara yang semakin buruk akibat kabut asap, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni justru mengeklaim karhutla di Jambi cenderung membaik.

“Kalau kita lihat secara objektif ya, hari ini hotspot titik panas itu tinggal 5, dari 7 turun ke 5, terus membaik. Belum selesai semuanya, ya seperti saya katakan tadi gambut ini tidak gampang memadamkannya. Secara umum…saya kira semakin membaik, meskipun tantangan masih besar,” kata Raja, saat kunjungan ke Jambi, 29 September 2026.

Sehari setelah itu, koalisi masyarakat sipil di Jambi—16 lembaga nonpemerintah termasuk Walhi Jambi—mencatat,  ada 708 titik panas. 439 titik atau 62% terdeteksi di Tanjung Jabung Timur.

Personel pemadaman berusaha memadamkan api yang membakar wilayah gambut di Londerang. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia

El-Nino bukan sumber api

Risiko kebakaran gambut di Jambi begitu besar akibat pengaruh El-Nino sangat kuat. Iola Abas, Direktur Eksekutif Pantau Gambut mengatakan,  fenomena iklim itu bukan satu-satunya penjelasan mengapa kebakaran gambut terus meluas.

Di balik kebakaran, terdapat bentang gambut yang kehilangan kemampuan alami akibat drainase, perubahan tutupan lahan, kebakaran berulang, serta pemulihan yang belum efektif.

“El-Nino adalah penguat ancaman, tapi tingkat kerusakan gambut ditentukan oleh cara kita mengelolanya” kata perempuan yang akrab disapa Ola itu.

Pada dasarnya, gambut nyaris mustahil terbakar. Ia terbentuk di bawah genangan air selama ribuan tahun, pori-pori penuh air, oksigen terbatas, dan bahan organik nyaris tak punya celah untuk menyala.

Gambut adalah salah satu lanskap paling basah dan paling kebal api.

Satu-satunya alasan mengapa lahan basah purba ini bisa terbakar adalah ia sengaja “dibunuh”. Vegetasi di atasnya terbabat, tercacah dengan kanal-kanal, yang sengaja mengalirkan air keluar dari bentang gambut.

Akibatnya muka air tanah turun. Lapisan permukaan gambut kehilangan kelembapan. Ketika ada sumber panas, serasah di permukaan menjadi mudah terbakar.

Api kemudian masuk ke lapisan gambut, bergerak perlahan di bawah permukaan, mengikuti bagian gambut yang kering, akar, retakan tanah, dan jaringan kanal.

“Gambut umumnya bukan terbakar sendiri. Ada sumber panas awal, tetapi drainase dan pengeringanlah yang mengubah gambut menjadi bahan bakar, serta memungkinkan api bertahan dan meluas,” kata Ola.

Sepanjang 1 Januari-15 September 2026, Pantau Gambut mencatat 351.195 hotspot dari seluruh tingkat kepercayaan di ekosistem gambut. Sebanyak 166.728 terdeteksi pada Agustus dan 139.378 lainnya dalam 15 hari pertama September.

Hotspot merupakan indikator awal indikasi kebakaran. Namun, lonjakan hotspot menunjukkan bagaimana kondisi iklim ekstrem saat bertemu dengan gambut yang sudah rentan.

Penelitian di Sumatera dan Kalimantan, menunjukkan gambut berkanal memiliki kepadatan hotspot lebih tinggi daripada tanpa kanal. Pada tahun Enso netral, median kepadatan hotspot di gambut berdrainase sekitar 13 kali lebih tinggi.

Temuan itu menunjukkan iklim, tutupan lahan, dan kepadatan drainase bekerja secara bersama-sama.

Penelitian lain, kata Ola,  menemukan pengaruh kanal terhadap muka air tanah dapat mencapai 200 meter dari kanal. Pada jarak kurang 50 meter, hampir seluruh pengukuran muka air berada lebih dari 40 sentimeter di bawah permukaan gambut.

Akibat proses pengeringan paksa ini, gambut yang kehilangan air mulai terpapar oksigen secara masif, hingga mempercepat penguraian karbon.

Kabut asap tebal menyelimuti wilayah Kota Jambi hingga membuat udara dalam kategori bahaya. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia

Lahan gambut mulai ambles, dan kehilangan fungsi hidrologis alaminya sebagai spons penahan air. Gambut yang terlanjur kering akan mengalami hidrofobik atau menolak air, akibat struktur koloid hancur dan sifat tanah berbalik secara total.

“Gambut sehat pada dasarnya bersifat hidrofilik dan mampu menyimpan air. Namun, sebagian permukaannya dapat berubah menjadi lebih hidrofobik setelah mengalami pengeringan berat atau pemanasan,” kata Ola.

Dalam fase hidrofobik inilah gambut yang kering berubah menjadi bahan bakar organik berupa karbon murni yang gampang terbakar.

Tingkat hidrofobisitas juga dipengaruhi kekeringan, suhu dan lama pemanasan, komposisi bahan organik, tingkat kematangan gambut, serta riwayat kebakaran.

Dalam kondisi itu, air hujan akan membentuk butiran di permukaan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk masuk.

Karena itu, hujan singkat tidak otomatis mengembalikan seluruh gambut yang kering dan rusak menjadi basah. Pemulihan perlu pembasahan cukup lama, perbaikan tata air dalam skala bentang alam, penutupan kanal yang tepat, dan pemulihan vegetasi.

Temuan lapangan Pantau Gambut juga menunjukkan persoalan pada upaya pembasahan. Dari 77 sekat kanal dalam sampel pemantauan, sekitar 70% rusak dan sekitar 52% mencatat muka air tanah melebihi 40 sentimeter.

Temuan ini tidak berarti semua sekat kanal gagal, tetapi menunjukkan pembangunan tanpa pemeliharaan, pemantauan, dan kesesuaian lokasi tidak otomatis memulihkan hidrologi gambut.

Karena itu kata Ola, menjadikan El Nino sebagai penyebab tunggal, justru berisiko menutupi faktor yang sebenarnya dapat dikendalikan: seperti drainase gambut; perubahan tutupan lahan; penggunaan api; kesiapsiagaan; infrastruktur pembasahan; pengawasan; serta respons pemegang izin dan pemerintah.

“Kebakaran tetap membutuhkan penyulut, tetapi El-Nino bukan sumber api.”

Kebakaran di Sorolangun. Foto: dokumen warga

Api di konsesi

Secara alami sawit dan akasia, sama sekali tidak bisa tumbuh di atas gambut. Sistem perakarannya akan membusuk jika terus terendam air rawa.

Pilihannya, dengan merekayasa bentang alam secara destruktif, menggali jaringan kanal agar muka air tanah turun hingga tanaman monokultur itu dapat bernapas dan subur.

Kebakaran di wilayah berizin, menunjukkan, persoalan tata air begitu penting. KKI Warsi mencatat,  setidaknya 36 perkebunan sawit dan 15 konsesi kehutanan terbakar. Beberapa izin perusahan berada di atas kawasan gambut.

“Pemegang izin yang menguasai dan memperoleh manfaat ekonomi dari wilayah itu harus bertanggung jawab menjaga tata air, serta memulihkan kerusakan,” kata Ola. 

Analisis Pantau Gambut mendeteksi 80.893 hotspot di perkebunan sawit dan 21.158 di areal PBPH sepanjang 1 Januari-15 September 2026. Pada 1-15 September saja, terdapat 28.645 deteksi dalam areal HGU dan 10.606 di PBPH.

Menurut Ola, konsentrasi hotspot dalam areal berizin perlu menjadi dasar pemeriksaan kondisi lapangan, tata air, sarana pencegahan, respons pemadaman, dan riwayat kebakaran.

Penelitian di Kubu Raya dan Batanghari menemukan,  bahaya kebakaran tinggi banyak terjadi ketika muka air turun di bawah 40 sentimeter. Namun, Ola mengingatkan angka 40 sentimeter bukan batas sederhana antara aman dan pasti terbakar.

Risiko kebakaran juga dipengaruhi lamanya pengeringan, kelembapan lapisan permukaan, sifat gambut, curah hujan, jarak dari kanal, tutupan vegetasi, riwayat kebakaran, sumber penyulut, dan kecepatan respons.

“Karena itu, data muka air tanah seharusnya digunakan sebagai sistem peringatan dini sebelum api terlihat, bukan hanya menjadi angka yang dicatat setelah kebakaran.”

Pantau Gambut melihat ada dua desakan darurat dan dua rekomendasi struktural. Pertama, melindungi masyarakat yang terpapar asap dan memadamkan api sampai ke lapisan bawah gambut.

Kedua, pemerintah perlu mengevaluasi izin dan penggunaan lahan pada wilayah kebakaran berulang, serta memulihkan gambut berdasarkan satu kesatuan hidrologis.

“Kebakaran gambut tidak akan selesai apabila negara hanya fokus pada pemadaman ketika api sudah terlihat.”

Pencegahan, katanya,  harus mulai dari menjaga gambut tetap basah, mengoreksi penggunaan lahan yang merusak tata air, dan memastikan pihak yang menguasai wilayah menjalankan kewajibannya.

Feri Irawan, Direktur Perkumpulan Hijau mengatakan, kebakaran gambut tidak bisa hanya persoalan biasa. Gambut memiliki fungsi ekologis penting dan penyimpan karbon.

Dampak kebakaran gambut tidak berhenti pada lokasi api, juga degradasi ekosistem, emisi hingga persoalan kesehatan akibat bencana asap.

“Solusi permanen kebakaran gambut adalah dengan mengelola hidrologi satu lanskap, tidak terbatas KHG. Karena banyak kubah gambut rusak dicacah kanal.”

Kebakaran di wilayah Londerang, Tanjung Jabung Timur. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia

 

*****

 

 

Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut

 

Exit mobile version