Mongabay.co.id

Geophilus hadesi, Kelabang Buta yang Hidup 1.100 Meter di Bawah Permukaan Bumi

Mulut Gua Lukina jama di Gunung Velebit, Kroasia. Gua ini bagian dari sistem Lukina jama-Trojama yang dalamnya 1.431 meter, tempat Geophilus hadesi tercatat pada kedalaman 980 meter dan 1.100 meter. Foto: M. Jekić, dalam Stoev dkk. (2015), ZooKeys 510.

Gua dan sistem rongga bawah tanah masih menjadi tempat ditemukannya hewan-hewan baru bagi sains. Lingkungan tanpa cahaya matahari, bersuhu rendah, dan miskin pasokan makanan membentuk penghuni dengan penyesuaian khusus, seperti antena, ruas tubuh, dan cakar yang memanjang. Hewan yang seluruh daur hidupnya berlangsung di dalam gua disebut troglobit, dan kelompok ini tersebar di berbagai golongan invertebrata, termasuk kelabang.

Salah satu penghuni gua itu adalah Geophilus hadesi, kelabang berukuran kecil yang dideskripsikan pada 2015 dari gua-gua vertikal di Gunung Velebit, Kroasia tengah. Satu individunya teramati pada kedalaman sekitar 1.100 meter, dan angka itu tercatat sebagai kedalaman terjauh yang pernah dilaporkan untuk seluruh kelabang. Temuan tersebut dimuat di jurnal ZooKeys oleh tim yang dipimpin Pavel Stoev dari Pensoft Publishers dan Museum Sejarah Alam Nasional Bulgaria.

Spesimen dari gua-gua Velebit

Stoev dan rekan-rekannya mendeskripsikan spesies baru ini dari spesimen yang dikumpulkan di gua-gua Velebit pada kedalaman sekitar 250 meter ke bawah. Holotipenya, yaitu spesimen acuan penamaan spesies, berupa betina sepanjang 28 milimeter dengan 33 pasang kaki. Spesimen itu diambil dengan tangan pada Februari 2011 di Gua Munižaba, kawasan Gračac, yang mulut guanya berada di ketinggian 915 meter di atas permukaan laut.

Individu lain tercatat di sistem gua vertikal Lukina jama-Trojama pada kedalaman 980 meter dan 1.100 meter. Yang pertama dikoleksi di sebuah ruang gua yang luas, sedangkan yang kedua hanya teramati di titik yang tidak dapat dijangkau sehingga tidak bisa diambil. Para penulis menyebut keduanya tampaknya berasal dari spesies yang sama, dan menyebut angka 1.100 meter sebagai catatan kedalaman terjauh untuk seluruh Chilopoda.

Citra mikroskop elektron pindai (SEM) bagian tubuh Geophilus hadesi. Tungkai dan cakar kaki yang panjang melengkung, serta rambut halus (seta) di permukaannya, termasuk ciri adaptasi spesies ini terhadap kehidupan gua. Spesimen berupa paratipe betina dari Gua Muda labudova, Kroasia. Foto: Stoev dkk. (2015), ZooKeys 510.

Perbedaan perlakuan itu penting dibaca dengan cermat. Rekor 1.100 meter bertumpu pada satu pengamatan, sementara ciri-ciri spesies ditentukan dari spesimen yang berhasil dikumpulkan. Makalah itu ditulis oleh Pavel Stoev, Nesrine Akkari, Ana Komerički, Gregory D. Edgecombe, dan Lucio Bonato dari lembaga di Bulgaria, Austria, Kroasia, Inggris, dan Italia, sedangkan spesimennya diperoleh para ahli biospeleologi Kroasia.

Velebit membentang sekitar 145 kilometer di kawasan karst Dinarik, yang dipandang sebagai salah satu hot spot keanekaragaman fauna bawah tanah. Lukina jama-Trojama sendiri sedalam 1.431 meter dan menempati peringkat ke-15 gua terdalam di dunia. Nama spesiesnya mengambil nama Hades, dewa dunia bawah dalam mitologi Yunani, berpasangan dengan kerabatnya Geophilus persephones yang dinamai dari Persephone, istri Hades.

Cara bertahan dan berburu dalam gelap

Kelabang dewasa ini berukuran sekitar 2,2 sampai 2,8 sentimeter dengan 33 pasang kaki. Seperti kelabang tanah lainnya, ia tidak memiliki mata, dan tubuhnya yang panjang dan pipih memudahkannya merayap di celah-celah batu. Ia hidup di gua yang lembap dan nyaris membeku, dengan antena, ruas tubuh, dan cakar kaki yang sangat panjang, ciri yang lazim pada artropoda penghuni gua.

Menurut Stoev, antena yang sangat panjang dan rambut halus atau seta pada tungkainya membantu hewan ini mendeteksi mangsa dalam gelap total. Rahangnya dilengkapi kelenjar racun, dan cakar melengkung yang panjang dipakai untuk mencengkeram mangsa. Tim peneliti menggolongkannya sebagai salah satu predator teratas di antara fauna gua tempatnya hidup.

Tubuh ramping dan pucat pada Geophilus hadesi, spesies yang oleh para peneliti dicatat hingga kedalaman 1.100 meter di gua Gunung Velebit, Kroasia. Foto: J. Bedek/Stoev dkk. (2015), ZooKeys 510, lisensi CC BY 4.0, via Wikimedia Commons.

Soal makanannya, Stoev memperkirakan kelabang ini memangsa larva, collembola (springtail), cacing, kutu kayu (woodlice), laba-laba, dan hewan kecil lain. Perkiraan itu belum didasarkan pada pengamatan perilaku makan di gua, dan tim peneliti sendiri mengakui bahwa rincian gaya hidup spesies ini, juga banyak hewan gua lainnya, belum banyak diketahui. Karena individu pada kedalaman 1.100 meter tidak dikoleksi, informasi tentang populasi di kedalaman itu terbatas pada satu pengamatan tersebut.

Geophilus hadesi tergolong ordo Geophilomorpha, yang menurut makalah itu mencakup sekitar 1.000 sampai 1.250 spesies dan tersebar di semua benua kecuali Antartika. Anggota ordo ini biasanya hanya sesekali berlindung di gua, sehingga spesies yang seluruh daur hidupnya terbatas di gua sangat jarang. Bersama Geophilus persephones, yang dideskripsikan dari Gua Pierre Saint-Martin di Prancis pada 1999, ia menjadi satu dari dua geophilomorph yang sejauh ini dikenal sangat beradaptasi dengan gua.

Troglobit pada kelabang hanya dideskripsikan pada tiga dari lima ordo yang masih hidup, yaitu Lithobiomorpha, Scolopendromorpha, dan Geophilomorpha, dengan satu kasus pada Scutigeromorpha. Para penulis juga menyinggung populasi troglobit Cryptops anomalans, kelabang yang umum di Eropa, di Gua Movile, Rumania, yang menurut mereka masih perlu diteliti lebih lanjut. Stoev menyebut temuan dari Velebit ini sebagai bukti betapa sedikit yang diketahui tentang kehidupan di gua, bahkan di kawasan yang sudah banyak dijelajahi.

**

Referensi:

Stoev, P., Akkari, N., Komerički, A., Edgecombe, G. D., & Bonato, L. (2015). At the end of the rope: Geophilus hadesi sp. n. – the world’s deepest cave-dwelling centipede (Chilopoda, Geophilomorpha, Geophilidae). ZooKeys, 510, 95–114. https://doi.org/10.3897/zookeys.510.9614

Exit mobile version