Mongabay.co.id

Ciguatoksin, Ancaman Tersembunyi pada Ikan Karang?

Ikan kerapu (Epinephelus coioides) ini dalam kondisi hidup hargannya bisa tinggi di pasar Hongkong, Taiwan, Tiongkok, Korea dan Jepang. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

  • Kakap merah ramai diperbincangkan setelah disebut mengandung racun ciguatoksin. Benarkah ikan karang berbahaya untuk dikonsumsi masyarakat?
  • Ciguatoksin merupakan racun alami laut yang berasal dari mikroalga tertentu. Racun ini dapat terakumulasi pada ikan karang melalui rantai makanan
  • Belum ada kasus ciguatoksin terkonfirmasi di Indonesia, namun pemantauan dan penelitian tetap perlu diperkuat.
  • Ciguatoksin adalah ancaman tersembunyi bagi sistem perikanan dan perdagangan Indonesia. Untuk itu, Indonesia harus serius memitigasi dampaknya melalui riset mendalam dan implementasi kebijakan berbasis keamanan pangan.

Sebuah video siniar berjudul “Ancaman Superbug, Hewan Beracun, Nutrilevel” mendadak ramai jadi perbincangan di Indonesia. Tayangan tersebut pertama kali muncul pada 28 Juli 2026 dan sudah ditonton 163 ribu kali. Satu bahasan paling menarik adalah ikan karang, khususnya kakap merah yang disebut mengandung racun.

Nara sumber pada menit 14.05 mengatakan kalau kakap merah mengandung racun bernama ciguatoksin. Dia menekankan, ikan tersebut berbahaya dikonsumsi, jika bobotnya lebih dari 2 kilogram.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat dua unggahan di sosial media tentang itu. Pada dua video singkat yang diunggah Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) KKP, terdapat klarifikasi tentang pernyataan racun pada ikan kakap merah di atas 2 kg.

Nurjanah, Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, tidak membantah pernyataan dari siniar tersebut. Hanya, dia meyakinkan publik kalau ikan kakap merah dari Indonesia yang beredar di pasar dalam dan luar negeri, sudah melewati keamanan pangan.

Kepada Mongabay, Jumat (18/9/26), dia meyakinkan bahwa belum ada kasus ciguatoksin terkonfirmasi di Indonesia. Racun yang menyebabkan ciguatoksin masih sangat terbatas dan perlu penguatan lebih bagus lagi.

“Data pemetaan wilayah berisiko masih belum lengkap.”

Nurjanah bilang, kasus keracunan ciguatoksin lebih sering ditemukan di kawasan pasifik dan subtropis. Mendeteksi ciguatoksin tidak mudah, karena Indonesia belum memiliki metode yang sesuai dan cepat.

Deteksi ciguatoksin juga masih sangat rendah, hanya 0,6 parts per billion (ppb). Artinya, dalam setiap 1 kg ikan, kandungan ciguatoksin yang terdeteksi sekitar 0,6 mikrogram (µg).

Jika ciguatoksin masuk dan terakumulasi pada ikan berobot di atas 2 kg, kemungkinan masuk daging sangat kecil. Berdasarkan pengalamannya meneliti, racun akan masuk dan mengendap pada jeroan atau lemak di kepala.

“Amannya, saat makan ikan hindari jeroan dan bagian atas kepala.”

Ikan kerapu (Epinephelus coioides) yang sangat potensial di laut Indonesia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Racun laut

Ciguatoksin adalah senyawa racun alami laut yang diproduksi beberapa jenis alga, terutama jenis Gambierdiscus yang hidup di lingkungan terumbu karang. Sementara, ciguatera adalah keracunan makanan laut yang mengandung ciguatoksin.

Biasanya, ciguatoksin masuk pada sistem pencernaan ikan karang, yaitu saat terjadi ledakan alga (bloomings algae) yang waktunya tidak pasti. Ketika itu terjadi, ikan karang akan banyak mengonsumsi alga beracun yang berlimpah.

Belum adanya ciguatoksin di Indonesia, bisa jadi karena perairan Indonesia yang beriklim tropis dengan suhunya relatif stabil sepanjang tahun, tidak disukai mikoralga, penyebab toksin. Kondisi itu, membuatnya tak berkembang dengan baik seperti di wilayah subtropis.

Sebaliknya, Nurjanah menyebut, perairan subtropis dengan perubahan suhu ekstrem sepanjang tahun diduga kuat menjadi penyebab ledakan alga bisa terjadi. Belum ada temuan ilmiah ciguatoksin, bisa saja sudah ada kasusnya hanya tidak terdeteksi di Indonesia. Gejala seperti mual, muntah, atau diare setelah mengonsumsi ikan karang, tidak berarti disebabkan ciguatoksin. Melainkan, ada campuran mikroba atau faktor lain.

Menurut Nurjanah, prinsip C3Q perlu diterapkan. Cool dengan menjaga ikan tetap dingin, clean untuk memastikan kebersihan, careful untuk penerapan prinsip kehati-hatian, dan quick menghindari terlalu lama di suhu ruang.

Kakap merah, komoditas andalan perikanan Indonesia. Foto: Ralf Roletschek melalui Wikimedia Commons (CC BY 3.0 DEED).

Kedaulatan pangan

Tumpak Sidabutar, ahli oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, sebagai negara dengan banyak ekosistem karang, ciguatoksin berpotensi besar ada. Namun, sampai sekarang belum ada data resminya. Meskipun, dia pernah menemukan racun tersebut saat riset di perairan Ambon, Maluku.

“Jumlahnya kecil,” ungkapnya, Jumat (18/9/26).

Ciguatoksin berpeluang besar di perairan Indonesia, karena bergantung pada ekosistem dengan karakteristik suhu air, tingkat salinitas, dan aktivitas el nino yang memengaruhi pertumbuhan plankton dan risiko ledakan. Saat ledakan alga terjadi, peningkatan besar populasi spesies toksin juga naik.

“Risiko manusia mengonsumsi ikan terkontaminasi terbuka lebar.”

Ledakan alga juga bisa mengancam kedaulatan pangan nasional dan membahayakan kelangsungan perdagangan internasional produk perikanan Indonesia. Pengembangan kebijakan dan regulasi menjadi penting bagi Indonesia, karena harus ada standar keamanan pangan nasional, mencakup toksin seperti ciguatoksin. Hal ini sangat membantu nelayan, karena mereka membutuhkan panduan teknis lebih detil.

Ikan dan terumbu karang yang ditemukan di perairan Puru Kambera di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Foto : Wisuda/Mongabay Indonesia.

Mitigasi melalui sistem peringatan dini sangat diperlukan untuk memantau dan mencegah dampak negatif ledakan alga di Indonesia. Selain itu, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) bisa dipakai untuk mengidentifikasi aktivitas di air.

Namun demikian, agar antisipasi bisa lebih kuat, perlu penelitian mendalam untuk pemetaan distribusi ciguatoksin. Termasuk juga, melakukan identifikasi kandungan racun tersebut dalam ikan, dan seperti apa dampak yang muncul di masyarakat.

“Tantangannya adalah, data toksin di tubuh ikan masih minim, baik itu pada daging atau area pencernaan. Perlu kesadaran publik tentang potensi bahaya mengonsumsi ikan beracun.”

Menurut Tumpak, ciguatoksin adalah ancaman tersembunyi bagi sistem perikanan dan perdagangan Indonesia. Untuk itu, Indonesia harus serius memitigasi dampaknya melalui riset mendalam dan implementasi kebijakan berbasis keamanan pangan.

 

*****

 

Kajian Seksama Penting untuk Keberlanjutan Perikanan Demersal Indonesia

Exit mobile version