- Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.
- Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media).
- Burung juga dapat menjadi indikator perubahan ekosistem. Setiap jenis memiliki kebutuhan habitat, pakan dan tingkat toleransi terhadap gangguan berbeda.
- Masyarakat Beutong bergantung pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo yang membelah kawasan hutan. Hamparan sawah sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan dan pendapatan masyarakat.
Beragam jenis suara burung terdengar di hutan pegunungan Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.
Hasil pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh, menunjukkan 31 jenis burung hidup di sini, yang 4 jenis berstatus Genting (Endangered/EN). Keempatnya adalah Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media).
“Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh, Senin (24/8/26).
Tim KSLH juga juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan (Vulnerable/VU), yakni Schneider’s Pitta (Hydrornis schneideri), Graceful Pitta (Erythropitta venusta), dan Hoogerwerf’s Pheasant (Lophura hoogerwerfi).
Empat jenis masuk kategori Hampir Terancam (Near Threatened/NT), yaitu Sumatran Babbler (Pellorneum buettikoferi), Sumatran Green Pigeon (Treron oxyurus), Sumatran Drongo (Dicrurus sumatranus), dan Sumatran Woodpecker (Picus dedemi).
Sementara itu, 19 jenis berstatus Risiko Rendah (Least Concern/LC) dan 1 jenis, Sumatran Robin (Myiomela sumatrana), berstatus Belum Dievaluasi (Not Evaluated/NE).
“Hutan Beutong Ateuh sangat penting untuk pelestarian burung-burung endemik Aceh,” kata Heri.
Burung-burung yang ditemukan, tidak hanya dari satu kelompok atau satu lapisan habitat. Ada jenis yang aktif di tajuk pohon, mencari buah dan serangga di antara vegetasi, atau berada di lantai hutan.
“Keberadaan mereka berkaitan dengan ketersediaan pakan, tempat berlindung, pohon bertengger, maupun lokasi berkembang biak.”
Menurut Heri, burung juga dapat menjadi indikator perubahan ekosistem. Setiap jenis memiliki kebutuhan habitat, pakan dan tingkat toleransi terhadap gangguan berbeda.
“Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan.”
Bagi burung, perubahan tutupan hutan dan fragmentasi habitat dapat mempengaruhi ruang hidup mereka, terutama jenis sebaran terbatas.
“Beutong Ateuh surga bagi burung-burung Sumatera di Aceh. Menjaga habitat burung, berarti kita melindungi kehidupan satwa liar di hutan pegunungan Aceh,” jelas Heri.
Hidup selaras alam
Beutong Ateuh Banggalang merupakan kecamatan kecil yang hanya memiliki empat desa, yakni Babah Suak, Blang Meurandeh, Blang Puuk, dan Kuta Teungoh, dengan total 2.400 jiwa.
Kehidupan masyarakat bergantung pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo yang membelah kawasan itu hutan. Hamparan sawah sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan dan pendapatan masyarakat.
Kawasan ini juga penting secara ekologis, karena menjadi jalur lintasan satwa yang menghubungkan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan hutan Ulu Masen.
Teungku Malikul Azis, tokoh adat dan agama Beutong, mengungkapkan secara turun-temurun masyarakat Beutong hidup berdampingan dengan alam, tidak merusak rutan dan tidak boleh serakah.
“Kami hidup dari hasil alam. Hutan yang membentengi Beutong Ateuh, sungai yang membelah kecamatan, sawah dan kebun yang mengelilingi kampung kami merupakan harta yang harus dijaga dan tidak boleh rusak,” sebut lelaki yang kerap disapa Abu Kamil, Minggu (25/1/26) lalu.
Masyarakat Beutong tidak memburu atau membunuh satwa liar sembarangan, apalagi satwa dilindungi, seperti harimau sumatera dan gajah. Meski hidup dikelilingi hutan yang merupakan habitat harimau, namun masyarakat Beutong tidak pernah menganggap sang predator puncak sebagai satwa pengganggu.
“Kami tidak pernah berkonflik dengan harimau. Kami tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak mengganggu kami.”
Bahkan, lanjut Abu Kamil, orangtua mereka melarang mengganggu hewan.
“Semua makhluk Tuhan berhak hidup di bumi. Jika tanpa sengaja menyakiti hewan, kami wajib minta maaf,” ujarnya.
Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Save the Indonesian Nature and Threatened Species (Sintas) Indonesia dan beberapa Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Aceh, pada Juli 2021 hingga Juli 2023 telah melakukan survei satwa liar di hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Terutama, di kawasan hutan Terangun – Beutong dan hutan Soraya – Bengkung.
Dalam workshop Konservasi Kucing Liar di KEL yang digelar di Banda Aceh, pada 29 Februari 2024, dijelaskan bahwa di hutan Terangun – Beutong terekam lima kucing liar.
“Jenisnya adalah Clouded Leopard atau macan dahan, Golden Cat atau kucing emas, dan harimau sumatera,” terang Ridha Abdullah, koordinator survei dalam persentasinya.
Di hutan Terangun – Beutong juga, tim menemukan satwa mangsa harimau yang memadai seperti rusa, kambing hutan, kijang dan babi hutan.
“Kami melakukan survei di kawasan hutan yang luasnya mencapai 332,132 hektar.”
*****
Warga Beutong Ateuh Tidak Takut “Bertetangga” dengan Harimau Sumatera