Mongabay.co.id

Keledai, Kuda, dan Kerbau: Mengapa Si Kecil Justru Kuat Memikul Beban Terberat?

Struktur tulang punggung yang kokoh dan kuku yang tegak memungkinkan keledai mengangkut beban semacam ini melintasi medan yang sulit dijangkau kuda maupun kerbau. Foto: Photographeruoh/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Di banyak wilayah pegunungan dan gurun di dunia, manusia telah lama bergantung pada hewan untuk mengangkut barang melintasi medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan bermotor. Kuda, kerbau, unta, dan keledai masing-masing punya peran dalam sejarah transportasi darat, dan masing-masing berkembang dengan cara berbeda untuk menghadapi tantangan lingkungan tempat mereka hidup.

Di antara hewan-hewan itu, keledai (Equus asinus) sering menarik perhatian karena ukuran tubuhnya yang jauh lebih kecil dibanding kuda atau kerbau, namun tetap mampu membawa beban dalam proporsi yang besar terhadap berat tubuhnya sendiri. Sejumlah penelitian veteriner dan zoologi telah menelusuri kombinasi anatomi dan fisiologi yang menjelaskan kemampuan ini, sekaligus mengapa keledai secara historis dipilih sebagai hewan angkut di medan yang sulit dijangkau kuda maupun kerbau. Kapasitas fisik yang besar ini, seperti akan terlihat, tidak selalu sejalan dengan praktik yang aman bagi kesejahteraan hewan itu sendiri.

Struktur tulang dan otot yang dirancang untuk menahan beban

Salah satu faktor utama terletak pada kepadatan tulang keledai. Tulang kortikal pada keledai relatif lebih padat dan kompak dibanding kuda maupun poni, sehingga memerlukan gaya yang lebih besar untuk mengalami patah tulang. Ketika cedera tulang memang terjadi, pola yang muncul pada keledai umumnya berupa fraktur inkomplet atau parsial, bukan patah total seperti yang lebih sering ditemukan pada kuda.

Tulang belakang keledai juga lebih pendek dibanding kuda, dengan ruas tulang punggung (vertebra dorsal) yang berkembang kuat. Keledai memiliki lima ruas tulang lumbar, satu lebih sedikit dibanding kuda yang memiliki enam. Struktur punggung yang lebih lurus dan kaku ini membuat beban dapat diletakkan tepat di atas titik pusat gravitasi tubuh, sehingga distribusi berat menjadi lebih stabil selama perjalanan jauh.

Dari sisi otot, penelitian histokimia sejak akhir 1970-an menemukan bahwa otot keledai didominasi oleh serat tipe lambat (slow-twitch) yang bersifat oksidatif. Serat jenis ini tidak menghasilkan tenaga ledakan besar seperti serat cepat pada kuda pacu, tetapi jauh lebih tahan terhadap kelelahan saat bekerja dalam waktu lama dengan intensitas rendah hingga sedang. Kombinasi ini membuat keledai lebih cocok untuk kerja angkut berkepanjangan dibanding kerja berkecepatan tinggi.

Bentuk kuku keledai turut berkontribusi. Kukunya lebih kecil, sempit, dan tegak, dengan dinding kuku yang lebih tebal serta telapak yang lebih cekung membentuk huruf U. Struktur ini memberikan traksi dan kestabilan lebih baik saat melangkah di permukaan berbatu atau kering, kondisi yang justru menjadi tantangan bagi kuku kuda yang lebih rata dan lebar.

Fisiologi gurun, sejarah pemilihan, dan batas kesejahteraan hewan

Kemampuan keledai bertahan dalam kondisi kering menjadi faktor pembeda lain dibanding kuda maupun kerbau. Keledai dapat menoleransi kehilangan cairan tubuh hingga sekitar 30 persen dari berat tubuhnya, kemudian merehidrasi diri dengan cepat tanpa mengalami gangguan sirkulasi yang serius. Sebagai perbandingan, banyak mamalia lain yang mengalami dehidrasi di lingkungan panas sudah berisiko mengalami kegagalan sirkulasi ketika kehilangan cairan sekitar 12 persen dari berat tubuhnya.

Sistem pencernaan keledai juga mendukung efisiensi kerja di lahan kering dan minim pakan berkualitas. Kebutuhan energi tercerna keledai diperkirakan sekitar 20 hingga 25 persen lebih rendah dibanding kuda berukuran serupa, dan keledai mampu mencerna hijauan berserat kasar yang kurang bergizi bagi kuda. Kombinasi ini menjadikan keledai relatif lebih mudah dipelihara di wilayah dengan sumber pakan terbatas.

Sejarah domestikasi turut menjelaskan mengapa sifat-sifat ini melekat pada keledai. Keledai domestik diturunkan dari keledai liar Afrika (Equus africanus), dengan bukti genetik menunjuk pada satu peristiwa domestikasi tunggal di Afrika sekitar tujuh ribu tahun lalu. Warisan dari nenek moyang yang hidup di lingkungan gurun inilah yang membekali keledai modern dengan toleransi terhadap kekeringan dan efisiensi energi yang tidak dimiliki kuda, yang leluhurnya beradaptasi dengan padang rumput yang relatif lebih subur dan berair.

Serombongan keledai membawa jeriken dan karung logistik melintasi jembatan kayu darurat di kawasan pegunungan Nepal. Kuku yang tegak dan kestabilan langkah memungkinkan keledai melintasi jalur berbatu dan licin seperti ini, medan yang jauh lebih menantang bagi kuda maupun kerbau. Foto: Pixabay

Perbandingan dengan kerbau menunjukkan pembagian peran yang berbeda. Kerbau unggul dalam kekuatan tarik absolut dan cocok untuk lahan basah atau berlumpur, sementara keledai lebih diandalkan di medan kering dan berbatu yang tidak ramah bagi kerbau. Persilangan antara keledai jantan dan kuda betina menghasilkan bagal, yang mewarisi ketahanan dan kestabilan langkah dari keledai sekaligus ukuran serta tenaga dari kuda, sehingga mampu membawa beban lebih berat dibanding kedua induknya.

Kapasitas fisik yang besar ini kerap disalahpahami sebagai patokan berapa banyak beban yang boleh diberikan kepada keledai. Sebuah studi lapangan terhadap 332 keledai kerja di Pakistan mencatat beban tunggangan median mencapai 77,1 persen dari berat tubuh hewan, dengan 87,4 persen keledai yang disurvei membawa beban di atas separuh berat tubuhnya, dan sebagian bahkan tercatat membawa beban hingga melebihi berat tubuhnya sendiri. Beban sebesar itu berasosiasi dengan tanda-tanda tekanan fisik, termasuk kecenderungan keledai berbaring dengan posisi dada menempel tanah begitu kesempatan istirahat tersedia, serta luka gesekan pada kulit dan gangguan pada tendon.

Sejumlah organisasi kesejahteraan hewan merekomendasikan batas beban sekitar 20 hingga 30 persen dari berat tubuh keledai untuk pekerjaan yang berkelanjutan, meski mereka sendiri mengakui rekomendasi ini belum sepenuhnya didukung oleh bukti eksperimental yang kuat. Kemampuan keledai menahan beban berat dalam jangka pendek, dengan kata lain, tidak serta merta menunjukkan bahwa beban tersebut aman dijalani dalam rutinitas kerja harian.

**

Referensi:

Rashid, M. I., Ahmad, N., Muhammad, F., & Hameed, A. (2022). Welfare concerns for mounted load carrying by working donkeys in Pakistan. Frontiers in Veterinary Science, 9, Article 811508. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9186103/

Exit mobile version