- Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap 28 September menjadi momentum untuk melihat kembali hubungan manusia dengan hewan di sekitarnya.
- Rabies telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama di negara-negara Asia dan Afrika. Menurut WHO, rabies telah menyebabkan sekitar 59 ribu kematian setiap tahun. Sekitar 40 persen di antaranya adalah anak-anak di bawah umur 15 tahun.
- Anjing menjadi sumber penularan utama rabies pada manusia, diperkirakan bertanggung jawab atas hampir 99 persen kasus. Anak-anak, terutama kelompok usia 5 hingga 14 tahun, termasuk yang paling rentan terpapar. Meski begitu, anjing bukan satu-satunya satwa yang menularkan rabies.
- Virus rabies menyebar ke seluruh penjuru dunia kecuali Antartika. Menurut Global Health Estimates 2021, rabies menyebabkan 44.203 kematian setiap tahun. Namun angka ini diperkirakan jauh lebih sedikit dari pada kejadian sesungguhnya.
Seorang ibu yang tinggal di wilayah Alsace membawa anaknya ke Paris. Butuh waktu sekitar 10 jam perjalanan darat untuk sampai ke ibu kota Prancis itu. Tujuannya bertemu Louis Pasteur, nama yang sangat lekat dengan pengawetan makanan yang metodenya dipakai hingga kini. Dia berharap ilmuwan itu mau mengobati anaknya. Joseph Meister, 9 tahun. Anaknya digigit anjing gila sampai 14 kali.
Kalender memperlihatkan bulan Juli, 1885. Sampai waktu itu, mereka yang digigit anjing terjangkit rabies kerap berakhir kematian. Louis Pasteur memang telah menemukan vaksin rabies. Namun hanya berhasil diuji pada anjing dan kelinci.
Seorang dokter bernama Jacques Joseph Grancher meyakinkan Louis Pasteur untuk mencoba vaksin itu ke manusia. Louis Pasteur gamang. Dia lebih memilih menyerahkan tanggung jawab itu kepada Grancher. Maka setiap hari selama sepuluh hari, Grancher memberikan 12 dosis vaksin ke anak itu. Sebulan kemudian, Joseph Meister dinyatakan sembuh.
Sontak, banyak orang yang digigit anjing gila pergi menemuinya sampai Pasteur dan teman-temannya kewalahan. Tak lama setelahnya Institut Pasteur berdiri. Lembaga ini lahir dari semangat Louis Pasteur menjadikan ilmu pengetahuan melawan penyakit mematikan. Institut melakuan berbagai penelitian ilmiah di bidang mikrobiologi, penyakit menular, dan vaksinasi untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Pada 28 September, Louis Pasteur berpulang. Untuk menghormati jasanya menemukan vaksin rabies, setiap 28 September diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia. Peringatan tahun ini bertema “Stronger Together” atau Bersama Lebih Kuat. Tema ini menyiratkan pesan bahwa penghapusan penyakit rabies hanya mungkin dilakukan secara bersama. Baik dari komunitas lokal, tenaga kesehatan, pendidik, media massa, hingga mitra global.
Rabies telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama di negara-negara Asia dan Afrika. Menurut WHO, rabies telah menyebabkan sekitar 59 ribu kematian setiap tahun. Sekitar 40 persen di antaranya adalah anak-anak di bawah umur 15 tahun.
WHO telah memasukkan rabies dalam roadmap WHO 2021-2030 untuk pengendalian Penyakit Tropis Terabaikan atau Neglected Tropical Diseases (NTD) ini secara global. Sejumlah target dan rencana strategis global ditetapkan untuk mengakhiri kematian akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada 2030.
Untuk mencapai target itu beberapa upaya ditempuh. WHO dan mitra mengupayakan tersedianya vaksin terjangkau. Selain itu, menyediakan standar teknis dan panduan untuk semua negara, dan mendorongnya untuk membangun kapasitas tenaga kerja One Health dalam kaitan dengan program eliminasi rabies. WHO juga mendorong penggunaan forum multi pemangku kepentingan yang dibentuk dalam melawan rabies.
Sejak diterbitkan rencana strategis Zero by 30, telah ada 17 negara yang dinyatakan bebas infeksi virus rabies. Negara-negara itu adalah Austria, Bahrain, Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, Estonia, Jerman, Yunani, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Malta, Montenegro, Portugal, Serbia, Slovenia, dan Swedia.
Mematikan
Rabies masih menjadi penyakit zoonosis paling mematikan, menurut situs WHO. Penyakit akibat virus ini menyerang sistem saraf pusat. Begitu gejala klinis sudah muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal.
Anjing menjadi sumber penularan utama rabies pada manusia, diperkirakan bertanggung jawab atas hampir 99 persen kasus. Anak-anak, terutama kelompok usia 5 hingga 14 tahun, termasuk yang paling rentan terpapar. Meski begitu, anjing bukan satu-satunya satwa yang menularkan rabies.
Virus rabies dapat menginfeksi berbagai mamalia, seperti kucing, hewan ternak, hingga satwa liar. Penularan terutama terjadi melalui air liur hewan yang terinfeksi, biasanya akibat gigitan atau cakaran, bisa juga saat air liur mengenai selaput lendir mata dan mulut atau luka terbuka.
Virus rabies menyebar ke seluruh penjuru dunia kecuali Antartika. Menurut Global Health Estimates 2021, rabies menyebabkan 44.203 kematian setiap tahun. Namun angka ini diperkirakan jauh lebih sedikit dari pada kejadian sesungguhnya. Jumlah kejadian kematian yang tidak dilaporkan kemungkinan lebih besar mengingat sistem pengawasan yang lemah dan diagnosis yang tidak tepat.
Biasanya masa inkubasi rabies 2 hingga 3 bulan, namun bisa bervariasi dari satu minggu hingga satu tahun. Gejala awal rabies berupa demam, nyeri, merasa kesemutan, panas atau ditusuk di area luka.Virus akan bergerak ke sistem saraf pusat hingga kematian tak terhindarkan.
Ada dua bentuk rabies, yaitu sangat parah dan paralitik. Bentuk pertama biasanya penderita akan menunjukkan hiperaktivitas, sensitif, halusinasi, hidrofobia (takut air) dan aerofobia (takut angin atau udara segar). Kematian terjadi beberapa hari kemudian akibat henti jantung dan pernapasan.
Bentuk kedua, menyumbang sekitar 20 persen dari total kasus. Gejalanya lebih ringan, seperti otot yang lumpuh secara bertahap dimulai dari lokasi bagian tubuh yang luka. Selanjutnya, koma secara perlahan dan diikuti kematian. Gejala yang demikian membuat penderita sering kali salah didiagnosis sehingga tidak dilaporakn sebagai rabies.
Masih menurut situs resminya, saat ini belum ada alat diagnostik untuk mendeteksi infeksi rabies yang disetujui WHO. Diagnosis klinis rabies sulit diketahui tanpa riwayat kontak yang pasti dengan hewan rabies sebelum gejala spesifik seperti takut air atau angin muncul. Jika memungkinkan, hewan yang menggigit pun harus diuji.
Pencegahan paling mungkin dilakukan yang hemat biaya adalah dengan vaksinasi anjing atau hewan peliharaan lainnya. Reservoir utama rabies adalah anjing, sehingga vaksinasi massal anjing< class=”Apple-converted-space”> </>bisa mencegah virus masuk ke rantai penularan sejak awal. Dibanding vaksinasi manusia pascapaparan, vaksinasi anjing jauh lebih murah, karena seseorang yang digigit harus menerima beberapa dosis vaksin rabies. Itupun kadang harus ditambah imunoglobulin rabies yang harganya mahal.
Jika tergigit atau tercakar, respons darurat terhadap paparan rabies adalah segera cuci luka dengan air dan sabun. Pastikan air mengalir sekurang-kurangnya 15 menit. Setelah itu segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapat penanganan secara medis.
Indonesia
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan sejak Januari hingga Maret 2025, terdapat 13.453 kasus gigitan hewan rabies, dengan 25 kematian. Sementara tahun sebelumnya terdapat 185.359 kasus gigitan hewan rabies yang mengakibatkan 122 kematian akibat rabies pada manusia.
Dari 2000 sampai 2022 sekurang-kurangnya terdapat 68 korban jiwa akibat penyakit rabies. Sementara angka kasusnya mencapai 80 ribu. Pada 2023 sendiri terdapat 11 kasus kematian akibat rabies yang sebagian besar karena gigitan anjing. Hingga April 2023, terdapat sebanyak 31.113 kasus gigitan hewan penular rabies, dan 23.211 kasus gigitan yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies.
Pemerintah Indonesia mengklaim beberapa propinsi sebagai daerah bebas rabies. Yaitu Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Selanjutnya Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa rabies bukan semata persoalan kesehatan manusia. Penyakit ini berada di persimpangan antara kesehatan manusia, hewan, dan kondisi lingkungan. Ketika populasi anjing tidak tervaksinasi, hewan berkeliaran tanpa pengawasan, dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan vaksin masih terbatas, maka risiko penularan ikut meningkat.
Pengendalian rabies membutuhkan pendekatan One Health yang mempertemukan sektor kesehatan, peternakan dan kesehatan hewan, pemerintah daerah, serta masyarakat. WHO menekankan bahwa vaksinasi anjing secara luas, pengelolaan populasi anjing, pencegahan gigitan, serta akses cepat terhadap penanganan pascapaparan merupakan bagian penting untuk memutus rantai penularan.
Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap 28 September menjadi momentum untuk melihat kembali hubungan manusia dengan hewan di sekitarnya.
*****
Rabies hingga Cacar Monyet, Penyakit yang Mewabah di Planet Bumi
