Mongabay.co.id

Paus Punah dan yang Masih Hidup Ditemukan Berdampingan di Dasar Samudra Hindia

Bangkai paus di dasar laut Davidson Seamount, lepas pantai California, pada kedalaman sekitar 3.200 meter, yang ditemukan ekspedisi E/V Nautilus pada Oktober 2019. Gurita Muusoctopus dan ikan belut laut dalam (Pachycara) berkumpul di antara tulang-tulangnya, sekitar empat bulan setelah bangkai tenggelam. Proses whale fall seperti ini juga teramati di Zona Fraktur Diamantina, tempat tulang paus terus mengendap selama lebih dari lima juta tahun. Foto: OET/NOAA

Di antara mamalia besar yang hidup saat ini, paus paruh termasuk kelompok yang paling sedikit dipahami ilmuwan. Famili Ziphiidae ini mencakup sekitar 24 spesies yang umumnya hidup di laut lepas yang dalam, jauh dari garis pantai. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah permukaan dan hanya muncul sebentar untuk bernapas, sehingga jarang teramati. Akibatnya, banyak spesies lebih dikenal dari bangkai yang terdampar dan tengkorak di koleksi museum daripada dari pengamatan langsung di alam.

Karena itu, temuan di Zona Fraktur Diamantina, barat daya Australia, penting bagi penelitian kelompok paus ini. Di dasar laut kawasan tersebut, pada kedalaman 4.616 hingga 7.001 meter, tim peneliti menemukan tulang paus paruh yang sudah punah jutaan tahun lalu tergeletak di area yang sama dengan sisa spesies yang masih hidup hingga kini. Tim dari Institute of Deep-sea Science and Engineering, Chinese Academy of Sciences, itu melakukan 32 penyelaman dengan kapal selam berawak Fendouzhe pada 8 Februari hingga 17 Maret 2023 dan mencatat 485 titik berisi fosil maupun bangkai paus. Hasil penelitian ini terbit di jurnal Nature pada Juni 2026.

Arsip Tulang dari Lima Juta Tahun

Dua spesies paus paruh yang masih hidup teridentifikasi di situs ini, yaitu paus paruh Andrews (Mesoplodon bowdoini) dan paus paruh bergigi tali (Mesoplodon layardii). Di sekitarnya terdapat fosil dua spesies punah, Pterocetus benguelae dan Izikoziphius rossi. Tim juga mendeskripsikan satu spesies punah yang sebelumnya tidak dikenal, dan menamainya Pterocetus diamantinae.

Analisis isotop strontium menunjukkan umur fosil berkisar antara 120.000 hingga 5,26 juta tahun. Artinya, bangkai paus telah mengendap di kawasan ini setidaknya sejak awal zaman Pliosen dan terus berlanjut hingga sekarang. Di satu kawasan, peneliti dapat melihat genus yang sudah punah berdampingan dengan kerabatnya yang masih berenang di perairan yang sama, sesuatu yang sulit diperoleh dari catatan terdampar.

a, A 3-m-long minke whale fall recorded during dives FDZ174/FDZ177 at 5,610 m depth. b, Close-up view of yellow box in a showing brittle stars Ophiambix sp. (white arrows) and scale worms polynoid (yellow arrows) on the cranium. c, Close-up view of white box in a showing numerous transparent tubes of the bone-eating worm Osedax sp. emergent from whale bone. d, A beaked-whale fall consisting of eight ribs and several thoracic vertebrae observed during dive FDZ178 at 5,609 m depth. Brittle stars Ophioscolecidae sp. and Silax sp. and chemosymbiotic vesicomyid bivalves Abyssogena southwardae are associated with these bones. Tubeworm Nicomache sp. occurs in the surrounding sediments. e, Close-up view of the white box in d showing three vesicomyid bivalves (white arrows) and brittle stars (yellow arrows). f, A whale bone recorded during dive FDZ173 at 4,625.2 m depth, dominated by gastropods Phymorhynchus sp. 1 (white arrows), polychaetes Nicomache sp. (yellow arrows) and Osedax sp. (orange arrows). g, The deepest whale fall, consisting of three elongated vertebrae of a beaked whale, with small gastropods (yellow arrows) on their surface, observed during dive FDZ163 at 6,788.7 m depth. The two red laser points are spaced 10 cm apart. Scale bars, 5 cm.

Kepadatan sisa paus di situs ini juga tinggi. Pada area seluas 0,64 kilometer persegi yang berhasil disurvei, kepadatannya mencapai sekitar 759 individu per kilometer persegi. Peng Zhou, salah satu penulis studi, memperkirakan jumlah sisa paus di seluruh zona tersebut bisa lebih dari 10 juta, walaupun angka itu masih berupa perkiraan kasar.

Dominasi paus paruh sebagian dijelaskan oleh struktur tubuhnya. Tulang moncong atau rostrum mereka sangat padat sehingga lebih tahan terhadap penguraian. Laju sedimentasi di kawasan ini juga sangat rendah, dan lapisan oksida besi-mangan yang terbentuk di permukaan tulang ikut membantu proses fosilisasi.

Peta lokasi penyelaman di Zona Fraktur Diamantina, barat daya Australia. Lingkaran oranye menandai titik ditemukannya fosil atau bangkai paus, dan makin besar lingkarannya, makin banyak sisa paus yang tercatat. Tanda panah putih menunjukkan bangkai yang masih diurai organisme laut dalam, sedangkan lingkaran putih menandai penyelaman tanpa temuan. Seluruh tulang paus, baik dari spesies punah maupun yang masih hidup, hanya ditemukan di dasar zona ini. Foto: Xiaotong Peng et al./Nature, CC BY 4.0

Selain fosil, tim menemukan lima bangkai yang masih aktif diurai oleh organisme laut dalam. Salah satunya adalah kerangka paus minke Antartika (Balaenoptera bonaerensis) sepanjang sekitar 5 meter, sementara bangkai paus paruh terdalam berada pada kedalaman 6.788,7 meter. Tim juga mencatat sisa paus sei (Balaenoptera borealis), spesies paus balin yang berukuran jauh lebih besar.

Menyelam Lebih Dalam dari Mamalia Lain

Paus paruh dikenal sebagai penyelam terdalam di antara mamalia. Pada 2014, seekor paus paruh Cuvier (Ziphius cavirostris) yang dipasangi alat pelacak tercatat menyelam hingga sekitar 2.992 meter dan bertahan di bawah air selama 137,5 menit. Penelitian lanjutan yang terbit pada 2020 mencatat penyelaman paus paruh Cuvier yang berlangsung hingga 222 menit.

Kemampuan ini berkaitan dengan cara mereka mencari makan. Paus paruh berburu cumi-cumi dan ikan di perairan dalam, jauh di bawah jangkauan sebagian besar mamalia laut lain. Dalam makalahnya, tim peneliti menduga kawasan Diamantina merupakan habitat berburu yang baik bagi paus paruh, dan risiko dari penyelaman ekstrem mungkin ikut menjelaskan banyaknya bangkai di sana.

Paus paruh bergigi sekop (Mesoplodon traversii) yang terdampar di Otago, Selandia Baru, pada Juli 2024. Seperti banyak kerabatnya di famili Ziphiidae, spesies ini belum pernah teramati hidup di alam, dan pengetahuan tentangnya hanya berasal dari tulang dan bangkai yang terdampar. Keterbatasan inilah yang membuat kuburan paus paruh di Zona Fraktur Diamantina penting bagi peneliti. Foto: New Zealand Department of Conservation, CC BY 4.0

Minimnya pengetahuan tentang kelompok ini terlihat dari sejumlah kasus. Paus paruh bergigi sekop (Mesoplodon traversii), misalnya, selama puluhan tahun hanya diketahui dari beberapa potong tulang, sampai dua individu terdampar di Selandia Baru pada 2010. Paus paruh Andrews yang ditemukan di Diamantina pun sebagian besar dikenal dari individu yang terdampar di pesisir Australia dan Selandia Baru, dan sangat jarang teramati hidup di laut.

Paus paruh juga tercatat rentan terhadap gangguan suara bawah air. Sejumlah peristiwa terdampar massal, termasuk di Bahama pada 2000 dan Kepulauan Canaria pada 2002, dikaitkan dengan penggunaan sonar militer di sekitar lokasi. Penelitian menunjukkan paus paruh mengubah pola menyelam saat terpapar suara tersebut, yang dapat memicu cedera.

Dengan informasi yang terbatas tentang populasi dan sebaran paus paruh, catatan dari dasar laut Diamantina memberi data pembanding tentang spesies yang pernah dan masih menghuni kawasan itu. Tim peneliti menyatakan baru sebagian kecil dari zona tersebut yang berhasil dieksplorasi. Survei lanjutan diperlukan untuk memastikan seberapa luas sebaran tulang paus di sana dan spesies apa lagi yang tersimpan di dalamnya.

**

Referensi:

Peng, X., Zhou, P., Song, X., Bianucci, G., Du, M., Collareta, A., Gao, Z., Xie, T., Teng, M., Leduc, D., Mills, S., Ta, K., Li, J., Wei, T., Dasgupta, S., Liu, H., He, Y., Xu, W., Liu, S., & Zhang, H. (2026). A 5.3-million-year-old deep-sea whale necropolis in the Diamantina Zone. Nature, 654(8120), 978–983. https://doi.org/10.1038/s41586-026-10546-z

Exit mobile version