- Ledakan alga terjadi karena meningkatnya kandungan nutrien di perairan yang berasal dari daratan.
- Penyebab melimpahnya alga karena meningkatnya pasokan limbah domestik dari permukiman, aktivitas pertanian, peternakan, hingga kegiatan budi daya perikanan. Semua aktivitas itu membawa bahan organik masuk ke pesisir melalui sungai.
- Ledakan alga sudah terjadi di perairan Indonesia, walau tidak sering. Fenomena itu bisa memicu terjadinya ledakan beracun dan tidak beracun.
- Ledakan alga di Indonesia ditandai dengan perubahan warna air laut menjadi hijau, merah, atau kecokelatan. Dampak terbesar ledakan alga adalah berkurangnya kadar oksigen di perairan. Aktivitas fotosintesis siang hari dan respirasi malam hari, jika dilakukan alga dengan jumlah sangat banyak akan menghabiskan kadar oksigen di perairan.
Sekelompok peneliti dari University of South Florida dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menemukan fenomena ledakan alga (bloomings algae) yang titiknya meluas di lautan dunia. Temuan itu dibantu kecerdasan buatan (AI). Penelitian itu menjelaskan, ledakan alga juga memicu munculnya bau tidak sedap, menimbulkan kerusakan ekologis, dan merugikan ekonomi wilayah pesisir.
Bagaimana Indonesia? Saat terjadi ledakan alga, perairan Indonesia akan mengalami perubahan warna dari biru menjadi hijau pekat atau merah kecokelatan. Secara kasat mata, permukaan air laut tampak tertutup lapisan warna asing.
Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir dari IPB University, menjelaskan ledakan alga terjadi karena meningkatnya kandungan nutrien di perairan yang berasal dari daratan.
“Ledakan alga selalu terjadi di perairan berdekatan permukiman penduduk,” ucapnya, Sabtu (18/9/26).
Penyebab melimpahnya alga karena meningkatnya pasokan limbah domestik dari permukiman, aktivitas pertanian, peternakan, hingga kegiatan budi daya perikanan. Semua aktivitas itu membawa bahan organik masuk ke pesisir melalui sungai.
Bahan organik tersebut mengalami proses penguraian bakteri, sehingga berubah menjadi nutrien seperti nitrat (NO₃⁻), nitrit (NO₂⁻), amonia (NH₃/NH₄⁺), dan fosfat (PO₄³⁻) yang dapat dimanfaatkan langsung alga untuk tumbuh. Kondisi itu disebut eutrofikasi, atau meningkatnya kandungan nutrien berlebihan di perairan.
Ario mengatakan, nutrien bukan satu-satunya faktor. Pertumbuhan alga juga dipengaruhi cahaya matahari dan kondisi fisik perairan. Wilayah yang memiliki arus relatif tenang, memungkinkan nutrien bertahan lebih lama, sehingga alga bisa berkembang lebih cepat.
Wilayah perairan seperti Teluk Jakarta, Teluk Banten, atau Teluk Lampung adalah beberapa contohnya.
Krisis oksigen
Ledakan alga berdampak negatif pada perairan. Menurunnya kadar oksigen, bisa memicu kematian massal ikan dan pembusukan bahan organik oleh bakteri.
Penurunan oksigen terjadi, karena sebagai zat kimia, nutrien menjadi makanan alga, yaitu organisme mikroskopis yang hidup melayang di air. Selain nutrien, alga melakukan fotosintesis siang hari dengan melibatkan cahaya matahari dan karbon dioksida (CO₂).
Proses tersebut normal di siang hari, namun tidak pada malam hari. Hal itu, karena alga akan melakukan respirasi dengan cara mengonsumsi oksigen yang mengakibatkan kadar oksigen turun drastis.
Paling berbahaya, muncul alga beracun yang bisa mencemari hasil laut seperti kerang-kerangan. Jika manusia mengonsumsi kerang beracun akan menyebabkan diare, muntah, dan gangguan kesehatan.
“Hasil tangkapan laut juga menurun, serta aktivitas pariwisata terganggu,” jelas Ario.
Tantangan lain di Indonesia, belum adanya sistem surveilans rutin untuk mendeteksi ledakan alga. Faktor utamanya, karena keterbatasan anggaran pada lembaga pemerintahan dan universitas untuk melakukan penelitian di laut.
“Solusi agar ledakan alga tidak terjadi adalah dengan mengatasi persoalan pencemaran di sumber yang ada di daratan, terutama kawasan padat penduduk,” pungkasnya.
Ekosistem laut terganggu
Tumpak Sidabutar, pakar ekologi laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan ledakan alga sudah terjadi di perairan Indonesia, walau tidak sering. Fenomena itu bisa memicu terjadinya ledakan beracun dan tidak beracun.
Peristiwa itu terjadi karena nutrien meningkat akibat limbah pertanian, limbah perkotaan, dan perubahan penggunaan lahan. Ledakan alga di Indonesia ditandai dengan perubahan warna air laut menjadi hijau, merah, atau kecokelatan.
Beberapa kelompok alga yang sering ditemukan dalam fenomena ini antara lain diatom, dinoflagellata, dan cyanobacteria. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda dan dapat mendominasi perairan ketika kondisi lingkungan mendukung.
Diatom adalah alga yang banyak ditemukan saat ledakan dan makanan penting zooplankton, walau beberapa spesies bisa berbahaya. Dinoflagellata merupakan alga penyebab warna merah, sekaligus penghasil racun yang terakumulasi pada kerang-kerangan.
Cyanobacteria adalah alga yang membentuk lapisan hijau seperti cat di permukaan air. Waduk atau danau yang kaya nitrat dan fosfat menjadi lokasi paling sering terjadi. Alga ini berbahaya karena beracun.
“Tantangan terbesar bagi Indonesia, bukan menghadapi kejadian tersebut, tetapi mengenali perubahan itu sinyal gangguan ekosistem.”
Dampak terbesar ledakan alga adalah berkurangnya kadar oksigen di perairan. Aktivitas fotosintesis siang hari dan respirasi malam hari, jika dilakukan alga dengan jumlah sangat banyak akan menghabiskan kadar oksigen di perairan.
“Ikan dan organisme laut akan sulit bertahan hidup.”
Beberapa jenis ledakan alga dapat menghasilkan racun atau toxic algae bloom. Racun tersebut dapat masuk ke rantai makanan melalui organisme penyaring seperti kerang.
Lebih buruk lagi, ledakan alga bisa mengakibatkan ketidakseimbangan ekologis di wilayah pesisir. Perubahan parameter lingkungan seperti oksigen, keasaman, atau rasio unsur nutrien bisa memengaruhi ekosistem secara keseluruhan.
“Blooming adalah indikator perairan tidak seimbang,” tegasnya.
Indonesia berpeluang mengalami ledakan alga, karena ada banyak lokasi perairan pesisir yang mendukung. Perlu sistem deteksi dini untuk meminimalisir dampak buruk, selain kebijakan langsung dari Pemerintah melalui regulasi.
“Nutrien bisa menjadi sumber daya produktif, namun jika berlebihan akan menjadi bencana.”
Selain mikroalga berukuran kecil dan sangat kecil, ledakan alga juga bisa terjadi pada makroalga, yaitu alga berukuran besar. Para peneliti mengidentifikasi mulai terjadi ledakan pada 2010 dan lalu menyebar luas ke belahan dunia lain.
Referensi:
Qi, L., Wang, M., Barnes, B. B., Capone, D. G., Goes, J. I., Carpenter, E. J., … & Hu, C. (2025). Global floating algae blooms are expanding. Nature Communications, 17(1), 612.
*****
