- Ine Martha merupakan Penelimaa, atau penutur Telimaa, sastra dayak kayan. Dia selalu berpesan jaga lingkungan lewat sastranya.
- Sebelum menjadi seorang Penelimaa, Ine Martha menghabiskan banyak waktu mengurus rumah, memasak dan menjaga adik-adiknya. Dulu, dia tidak pernah hadiri acara pernikahan, adat, ataupun kematian.
- uatu hari, seorang guru agama di daerahnya mengajak menjadi penyanyi koor dan menyanyikan lagu rohani. Dari sana, dia mulai belajar menjadi Penelimaa di usia 40 tahun.
- Ine Martha juga terlibat dalam pembuatan lagu Suara Tanah Kita, gagasan Yayasan Madani Berkelanjutan. Lagu ini memadukan alunan modern dengan sape, alat musik tradisional kalimantan, serta memasukkan Telimaa, tradisi lisan masyarakat Dayak.
Martha Haran melangkah perlahan. September ini, perempuan Dayak Kayan Mendalam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu berusia 70 tahun. Meski begitu, usia tak menyurutkan semangatnya, suaranya kuat dan jernih, ketika sedang menuturkan telimaa dengan iringan sape, alat musik petik tradisional Dayak.
Ine Martha, sapaan akrabnya, adalah seorang penelimaa atau penutur syair telimaa, sastra lisan Kayan. Sebagai penelimaa, dia bertugas memberikan saran pada generasi penerus untuk menjaga tanah warisan leluhur.
“Kepada anak-anak agar jangan merusak yang dititipkan para leluhur untuk kita. Nah, apabila dihancurkan oleh kita, nanti akan ada dampaknya sebagai hukuman bagi kita,” katanya.
Namun, terima atau tidaknya pesan itu tergantung orang yang mendengarkan. Menurut dia, orang yang tidak mau merusak pasti mendengar. Beda dengan yang mau merusak, dan mementingkan diri sendiri, akan tetap membangkang.
Dia mencontohkan iming-iming pada masyarakat kampung yang mau menjual tanah pada perusahaan.
“Seandainya perusahaan masuk, kita yang tidak punya mobil, bisa punya. Kita tidak punya motor, bisa punya.”
Uang yang perusahaan tawarkan untuk membeli tanah warga bisa habis. Meski mereka yang menjual dapat bibit, pupuk, dan racun rumput, itu tidak sebanding dengan tanah warisan leluhur.
“Tanah kalau hak leluhur kita ini, kita piara untuk selama-lamanya. Turun-temurun kita punya. Kalau mobil, kalau motornya sudah beberapa lama hancur. Nah, mau cari apa lagi?”
Baginya, lebih baik tidak dapat bibit dan lapar daripada menukar tanah dengan kesenangan yang hanya sementara. Namun, sikap itu tidak selalu bisa masyarakat terima.
“Kadang-kadang mereka itu benci juga dengan saya karena saya itu seorang pembangkang.”
Awal mula
Sebelum menjadi penelimaa, Martha menghabiskan banyak waktu mengurus rumah, memasak dan menjaga adik-adiknya. Dulu, dia tidak pernah hadiri acara pernikahan, adat, ataupun kematian.
“Saya mengurus rumah tangga, masak-masak untuk mereka yang pergi. (Jadi) mereka pulang tinggal makan,” kisahnya.
Rutinitas itu dia lakukan sejak kanak-kanak sampai dia menikah dan punya anak. Fase hidup barunya inilah yang membawa Martha sering pergi mengantar bantuan untuk orang yang meninggal atau ikut dalam acara-acara.
Suatu hari, seorang guru agama di daerahnya mengajak menjadi penyanyi koor dan menyanyikan lagu rohani. Dari sana, dia mulai belajar menjadi penelimaa di usia 40 tahun.
Dia bilang, tidak ada yang mengajarinya menuturkan telimaa. Pada penampilannya yang kedua, hanya dapat teks untuk dia tuturkan. Kekhawatiran menyelimuti, takut teks yang ada tidak selesai bersamaan dengan lagu yang main.
“Saya belajar sendiri. Sampai sekian lama saya belajar, akhirnya aku dapat satu lembar teks yang penuh itu.”
Namun, penampilan yang paling membuatnya terkesan adalah saat perayaan dange, acara syukuran setelah panen. Saat itu, dia melantunkan Telimaa dengan iringan sape. Respons warga, menurutnya, di luar dugaan.
“Jadi ada yang menangis. Ada yang sangat bangga mendengarnya. Indah katanya. Jadi sekali saya melantun itu, yang duduk lalu berdiri. Siapa nih yang melantun lagu ini? Aduh rasanya saya mau kembali bujang lagi.”
Sejak saat itulah dia dapat banyak permintaan untuk melantunkan Telimaa di mana pun.
Jadi pengajar
Siapapun, katanya, laki-laki atau perempuan, bisa jadi penutur telimaa. Saat ini, dia pun terus membantu orang-orang yang ingin belajar menjadi penelimaa.
Beberapa orang, katanya, semangat belajar walau masih kurang pas membawakan. Ada juga yang masih kurang percaya diri bila harus menggunakan teks lama seperti Ine Martha dulu.
“Jadi sekarang, sih, memang ada mereka belajar itu. Jadi ini pun rasa bangga. Setidak-tidaknya ada regenerasi penerus,” ujarnya.
Namun, ada tantangan dalam menyampaikan pesan yang terkandung dalam telimaa. Sastra lisan ini harus tersampaikan dalam bahasa sastra daerah bukan bahasa sehari-hari.
“Kalau memakai bahasa sehari-hari ini, mereka mudah. Tapi kalau bahasa sastra sangat tidak dimengerti, jarang sekali yang mengerti.”
Paduan modern dan tradisional
Ine Martha juga terlibat dalam pembuatan lagu Suara Tanah Kita, gagasan Yayasan Madani Berkelanjutan. Lagu ini memadukan alunan modern dengan sape, alat musik tradisional kalimantan, serta memasukkan Telimaa, tradisi lisan masyarakat Dayak.
Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, mengatakan, perlu cara-cara yang tidak konvensional untuk menyuarakan aspirasi menjaga bumi. Salah satunya lewat lagu yang mereka rilis.
Karya musik ini merupakan kolaborasi musisi Asteriska bersama penutur sastra lisan Dayak Kayan, Ine Martha, dan Dominikus Uyub, budayawan Kapuas Hulu,.
Dalam keterangan persnya, Nadia bilang, Suara Tanah Kita menyuarakan kembali hubungan mendasar manusia dengan tanah, hutan, dan air. Karya ini berupaya memanggil kembali ingatan kolektif akan kearifan lokal yang kerap terlupakan di tengah modernisasi.
Nadia berharap lagu ini dapat menyampaikan pesan yang menyentuh masyarakat.
“Semua kalangan masyarakat muda, masyarakat tua. Kalau lagu semua senang, semuanya. Harapannya bisa itu.”
Satu dekade terakhir, katanya, Madani Berkelanjutan tidak hanya aktif mendorong pemerintah Indonesia membuat kebijakan-kebijakan yang mencegah bumi semakin panas, juga menjalin kerja sama dengan masyarakat.
“Kita mau kerja sama dengan mereka yang di tingkat tapak, yang sudah menjaga hutan, menjaga lingkungan, melalui berbagai pengetahuan budaya yang mereka miliki selama ini.”
Sementara bagi Ine martha, dia mengaku senang dan mendukung proyek semacam ini.
“Apalagi ini membawa jalan yang sangat baik. Saya tetap mendukung walaupun dalam keadaan apapun.”
*****