Mongabay.co.id

Bagaimana Jepang Habiskan 25 Tahun demi Membasmi Garangan Pemburu Ular di Satu Pulau

Seekor garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) tertangkap dalam salah satu dari puluhan ribu perangkap kandang yang dipasang di seluruh Amami Oshima sepanjang program eradikasi. Foto: Courtesy of the Ministry of the Environment, Jepang

Ketika sebuah spesies asing didatangkan untuk mengendalikan populasi hama, keputusan itu sering dianggap sebagai solusi cepat dan murah. Pertimbangan awalnya biasanya sederhana: satu predator dilepas, populasi target menyusut, masalah selesai. Yang jarang dihitung sejak awal adalah kemungkinan bahwa introduksi itu gagal mencapai tujuannya, dan bahwa memperbaiki kegagalan tersebut bisa memakan waktu puluhan tahun serta anggaran yang jauh lebih besar daripada biaya pelepasan awal.

Kasus garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) di Pulau Amami Oshima, Jepang, menjadi salah satu contoh paling terdokumentasi dari pola ini. Setelah sekitar 30 ekor garangan dilepas pada 1979 untuk mengendalikan ular berbisa, pemerintah Jepang menghabiskan sekitar 3,6 miliar yen, setara sekitar 24 juta dolar AS, hanya untuk periode 2000 hingga 2024, demi menyingkirkan hewan yang sama dari pulau itu. Operasi ini melibatkan puluhan ribu perangkap, ratusan kamera pemantau, dan tim anjing pelacak khusus, sebelum akhirnya dinyatakan berhasil pada September 2024.

Tiga Dekade Operasi Bertahap

Upaya menangani garangan di Amami Oshima sebenarnya dimulai lebih awal dari yang banyak diberitakan. Pemerintah daerah setempat mulai menangkap garangan sebagai hewan pengganggu pada 1993, jauh sebelum ada program nasional yang terkoordinasi. Kementerian Lingkungan Jepang baru meluncurkan survei dan proyek percontohan pada pertengahan 1990-an, sebelum akhirnya menetapkan program eradikasi berskala penuh pada 2000, saat populasi garangan diperkirakan telah mencapai sekitar 10.000 ekor.

Metode penangkapan terus berubah seiring waktu. Perangkap tabung ringan yang mematikan mulai digunakan sejak 2003, setelah tim profesional pertama kali disewa untuk menangani operasi lapangan. Dua tahun kemudian, Jepang mengesahkan Undang-Undang Spesies Asing Invasif dan membentuk tim khusus bernama Amami Mongoose Busters, yang anggarannya meningkat signifikan dan mulai menggunakan anjing pelacak bau untuk menemukan individu yang tersisa di kawasan hutan. Pada 2008, metode anjing untuk penangkapan hidup-hidup mulai diterapkan, melengkapi jaringan lebih dari 30.000 perangkap, mulai dari perangkap kandang, perangkap tabung, hingga perangkap penjebak rambut, serta lebih dari 300 kamera otomatis yang dipasang di seluruh penjuru pulau seluas sekitar 712 kilometer persegi.

Garangan kecil india (Herpestes auropunctatus), difoto untuk koleksi dokumentasi spesies invasif Kementerian Lingkungan Jepang, kementerian yang menjalankan program eradikasi di Amami Oshima selama 25 tahun. Foto: Ministry of the Environment, Government of Japan (CC BY 4.0)

Skala operasional ini sulit dibayangkan tanpa melihat kondisi lapangannya. Sebagian besar wilayah Amami Oshima berupa hutan subtropis lebat dengan medan pegunungan yang sulit dijangkau kendaraan, sehingga petugas Mongoose Busters harus rutin mendaki dan menyusuri hutan untuk memeriksa ribuan titik perangkap secara berkala. Sejak 2009, total upaya pemasangan perangkap di seluruh pulau mencapai sekitar dua juta hari-perangkap setiap tahun, sebuah ukuran yang menggambarkan betapa padatnya pemantauan yang dibutuhkan hanya untuk memastikan area tetap bebas garangan.

Hasil dari kombinasi metode ini terlihat dalam data populasi. Dari sekitar 10.000 ekor pada 2000, jumlah garangan turun menjadi kurang dari 1.000 ekor pada 2007, lalu kurang dari 300 ekor pada 2012, dan kurang dari 100 ekor pada pertengahan dekade berikutnya. Penangkapan terakhir tercatat pada April 2018, dan sejak saat itu tidak ada lagi garangan yang terdeteksi lewat perangkap, anjing pelacak, maupun kamera pemantau. Total keseluruhan garangan yang berhasil ditangkap sepanjang program mencapai sekitar 32.000 ekor.

Menghitung Kembali Ongkos dan Manfaatnya

Kementerian Lingkungan Jepang tidak langsung mengumumkan keberhasilan begitu penangkapan terakhir tercatat. Pemerintah menunggu hampir enam tahun tanpa deteksi sebelum menyatakan Amami Oshima resmi bebas garangan pada 3 September 2024, dan seluruh perangkap baru dicabut penuh pada Februari 2025. Klaim eradikasi itu didukung oleh dua model statistik berbeda, yakni model berbasis hasil tangkapan yang menghitung probabilitas keberhasilan sebesar 99,7 persen, dan model penilaian eradikasi cepat yang mencatat angka 98,9 persen.

Pencapaian ini juga terlihat lebih signifikan bila dibandingkan dengan upaya serupa yang masih berlangsung di Pulau Okinawa, tempat garangan pertama kali diperkenalkan ke Jepang. Di pulau utama Okinawa, otoritas setempat menyebut prospek eradikasi penuh masih belum terlihat, meski pengendalian di bagian utara pulau menunjukkan kemajuan. Perbandingan ini membuat Amami Oshima disebut sebagai kasus pertama di dunia di mana garangan introduksi berhasil dieradikasi penuh dari area seluas ini.

Garangan kecil india (Herpestes auropunctatus), spesies yang sama seperti yang dilepas di Amami Oshima pada 1979, difoto di Maui, Hawaii, pulau lain yang juga menghadapi masalah serupa akibat introduksi garangan untuk mengendalikan hama pada abad ke-19. Foto: Marcel Holyoak/Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Sebuah kajian yang diterbitkan di jurnal Oryx pada 2025 mencoba menghitung apakah ongkos sebesar itu sepadan dengan hasilnya. Dengan menggunakan survei kesediaan membayar warga terhadap program konservasi semacam ini, para peneliti menemukan bahwa manfaat sosial dari eradikasi garangan jauh melampaui total biaya operasi selama 25 tahun tersebut. Temuan ini relevan karena selama program berjalan sempat muncul tekanan untuk memangkas anggaran di tengah jalan, jauh sebelum hasil akhirnya terlihat, dan hasil kajian itu dipakai untuk membenarkan keputusan mempertahankan pendanaan hingga tuntas.

Populasi kelinci Amami (Pentalagus furnessi) dan sejumlah satwa endemik lain di pulau itu kini mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah tekanan predasi garangan hilang. Kementerian Lingkungan Jepang mencatat bahwa spesies asli lain, termasuk tikus berduri Amami dan beberapa jenis burung endemik, turut menunjukkan tren populasi yang membaik sejak eradikasi garangan tercapai. Namun angka-angka di balik pencapaian itu, mulai dari puluhan ribu perangkap, tiga metode penangkapan berbeda, hingga anggaran miliaran yen selama seperempat abad, menjadi catatan penting bagi negara lain yang tengah mempertimbangkan introduksi predator sebagai solusi pengendalian hama.

Gambar utama: Seekor garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) tertangkap dalam salah satu dari puluhan ribu perangkap kandang yang dipasang di seluruh Amami Oshima sepanjang program eradikasi. Foto: Courtesy of the Ministry of the Environment, Jepang

Referensi:

Kubo, T., & Mameno, K. (2025). Mongoose eradication achieved on Japanese World Heritage island: Social benefits outweigh costs. Oryx, 59(3), 286. https://doi.org/10.1017/S0030605325000250

Ministry of the Environment, Government of Japan. (2024, September 3). Declaration of the eradication of the small Indian mongoose (designated invasive alien species) in Amami Oshima Island [Press release]. https://www.env.go.jp/en/press/press_03205.html

The Japan Times. (2024, September 23). After Amami-Oshima success, Okinawa’s mongoose eradication in focus. https://www.japantimes.co.jp/news/2024/09/23/japan/society/okinawa-mongoose-eradication/

Exit mobile version