Hutan-hutan di Afrika, termasuk kawasan-kawasan yang sudah lama dikenal secara ilmiah, masih menyimpan sejumlah spesies reptil yang belum terdeskripsikan secara resmi. Sebagian dari spesies tersebut selama ini tersembunyi di antara kerabatnya yang sudah dikenal, karena kemiripan bentuk tubuh dan warna membuat identifikasi visual di lapangan menjadi sulit dilakukan. Kemajuan analisis DNA dalam beberapa dekade terakhir membantu para peneliti mengurai perbedaan yang sebelumnya tidak terlihat, termasuk pada kelompok ular yang secara historis sulit dibedakan satu sama lain. Salah satu kelompok yang paling sering menghadapi masalah ini adalah genus Dasypeltis, ular pemakan telur asal Afrika yang sebagian besar anggotanya berwarna hitam, cokelat, atau abu-abu tanpa pola mencolok yang membedakan satu spesies dari spesies lainnya.
Studi genetik terbaru terhadap kelompok ini dipublikasikan dalam jurnal Herpetozoa, yang melaporkan spesies baru bernama Dasypeltis albigularis dari Hutan Harenna di Ethiopia, salah satu kawasan hutan alami tersisa yang cukup luas di Tanduk Afrika. Seperti kerabatnya dalam genus yang sama, spesies ini tidak memiliki gigi tajam atau bisa mematikan, melainkan mengandalkan tulang belakang leher yang termodifikasi untuk memecahkan cangkang telur burung sebelum menelannya utuh.
Penelitian ini dipimpin oleh Arthur Tiutenko dari Friedrich-Alexander-Universität Erlangen-Nürnberg, bersama koleganya dari Ludwig-Maximilians-Universität Munich dan National Museum Bloemfontein di Afrika Selatan. Spesies yang diberi nama umum white-throated egg-eater atau ular pemakan telur berleher putih ini sebelumnya sempat dikira sebagai spesies lain yang mirip secara fisik, sebelum akhirnya dipastikan berbeda melalui kombinasi bukti morfologi, genetik, dan pengamatan pembiakan yang berlangsung bertahun-tahun.
Awal Mula dari Seekor Anakan Betina
Penemuan ini bermula pada 2019, saat Tiutenko menerima seekor anakan betina ular pemakan telur dari seorang kolaborator lokal di Hutan Harenna. Pada awalnya, ular tersebut tampak seperti Dasypeltis atra, spesies yang dikenal sebagai montane egg-eater dan tersebar di berbagai hutan Afrika Timur. Tiutenko kemudian mencoba mengembangbiakkan ular tersebut dengan mencari pejantan dari spesies yang sama.
Seiring pertumbuhannya menuju ukuran dewasa, sejumlah perbedaan morfologi mulai terlihat. Kulit di antara sisik-sisiknya tampak pucat dengan semburat kebiruan, sementara bagian leher dan perutnya berwarna putih, berbeda dari D. atra yang umumnya berwarna gelap merata. Ular ini juga memiliki sisik kepala yang tidak lazim serta satu sisik kecil yang umumnya tidak dimiliki ular pemakan telur lainnya.
Untuk menguji apakah perbedaan tersebut mencerminkan perbedaan spesies yang sesungguhnya, Tiutenko mengawinkan betina tersebut dengan seekor D. atra jantan asal Chuka, Kenya, pada Juli 2022. Keturunan hasil perkawinan itu menunjukkan campuran ciri dari kedua induknya, memberikan petunjuk awal mengenai pola pewarisan sifat yang membedakan populasi Harenna dari D. atra. Percobaan pembiakan ini menjadi bagian dari investigasi yang berlangsung selama tujuh tahun, terhitung sejak pengamatan pertama pada Juni 2019 hingga publikasi resmi.
Selama periode tersebut, tim peneliti memeriksa total 16 spesimen dari Hutan Harenna yang terdiri dari enam jantan dan sepuluh betina, sekaligus memantau perilaku, aktivitas musiman, dan biologi reproduksi mereka di penangkaran. Analisis genetik yang dilakukan menggabungkan penanda DNA mitokondria dan nuklir, pendekatan yang untuk pertama kalinya diterapkan dalam studi genus Dasypeltis. Hasilnya menempatkan populasi Harenna sebagai spesies kerabat, atau sister species, dari D. atra, yang berarti keduanya berkerabat dekat namun menempuh jalur evolusi terpisah.
Jarak genetik antara populasi Harenna dan D. atra tercatat setara atau bahkan lebih besar dibandingkan perbedaan genetik antara sejumlah spesies lain yang sudah diakui dalam genus yang sama. Populasi ini juga terpisah secara geografis dan ekologis dari kerabat terdekatnya. Berdasarkan bukti tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa populasi Harenna berkembang sebagai garis evolusi tersendiri dan layak dideskripsikan sebagai spesies baru dengan nama Dasypeltis albigularis.
Ciri Fisik dan Kehidupan di Hutan Pegunungan
Dasypeltis albigularis dapat dikenali dari kulit di sela sisiknya yang berwarna abu-abu pucat dengan semburat kebiruan, terutama pada individu dewasa, serta warna putih di bagian leher dan perut depan yang menjadi asal nama spesies ini. Nama albigularis berasal dari bahasa Latin yang berarti berleher putih. Sebagian besar individu berwarna abu-abu gelap hingga hitam di bagian punggung, meskipun beberapa spesimen menunjukkan pola cokelat atau cokelat kemerahan.
Dari segi ukuran, betina spesies ini dapat mencapai panjang total sekitar 92 sentimeter, lebih besar dibandingkan jantan yang umumnya berukuran kurang dari 60 sentimeter. Ukuran tersebut relatif lebih kecil dibandingkan D. atra dan kerabat terdekat lainnya. Ciri lain yang membedakan adalah baris sisik tubuh bagian depan yang lebih halus dibandingkan beberapa spesies Dasypeltis lain.
Salah satu perbedaan yang tercatat berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri. Sejumlah spesies Dasypeltis diketahui mampu menghasilkan suara mendesis dengan menggesekkan sisik-sisik khusus pada tubuhnya saat merasa terancam, namun perilaku ini tidak teramati pada D. albigularis. Peneliti mencatat bahwa struktur sisik yang relevan pada spesies ini tampak kurang mendukung untuk menghasilkan suara tersebut.
Populasi yang telah didokumentasikan hidup di hutan lebat pada ketinggian sekitar 1.500 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut, di lereng Pegunungan Bale, dengan tumbuhan kopi liar sebagai bagian dari vegetasi bawahnya. Ketinggian tersebut setara dengan sekitar 4.900 hingga 5.600 kaki, dan kawasan ini termasuk salah satu hutan pegunungan yang masih relatif utuh di Ethiopia. Sebagaimana kerabatnya dalam genus Dasypeltis, spesies ini memiliki pola makan yang sangat khusus, yaitu hanya memangsa telur burung yang bersarang di pohon.
Siklus reproduksi spesies ini tampak berkaitan dengan ketersediaan telur burung secara musiman. Betina dapat menghasilkan beberapa kelompok telur dalam satu musim, dan telur-telur tersebut umumnya menetas setelah masa inkubasi sekitar tiga bulan. Temuan ini menambah daftar taksa yang telah dideskripsikan oleh Tiutenko, dengan Dasypeltis albigularis tercatat sebagai takson ke-20 yang ia beri nama, sementara lima hingga enam spesies lain beserta satu subgenus masih menunggu publikasi resmi.
**
Referensi:
Tiutenko, A., Heller, T. L., & Bates, M. F. (2026). A new species of ‘black’ egg-eating snake of the genus Dasypeltis Wagler (Squamata, Colubridae, Colubrinae, Boigini). Herpetozoa. https://herpetozoa.pensoft.net/article/205043/
