- Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional.
- Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas Krayan. Di sekelilingnya terdapat Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) seluas 1,27 juta hektar.
- Padi adan ditanam sekali setahun. Setelah panen, sawah diistirahatkan dan dipersiapkan untuk musim tanam berikutnya. Petani mempertahankan pola tersebut untuk menjaga kualitas beras.
- Pola tersebut membuat kegiatan pertanian tidak berdiri sendiri. Sawah, ternak, dan lingkungan menjadi bagian sistem kehidupan masyarakat. Di sisi lain, keberadaan sawah juga bergantung pada kondisi alam sekitar.
Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka.
Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas Krayan.
Padi adan tumbuh di antara bentang alam yang luas. Di sekelilingnya terdapat Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) seluas 1,27 juta hektar. Sementara wilayah adat Dayak Lundayeh Krayan sekitar 343.000 hektar.
Bagi masyarakat Lundayeh, padi adan bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga warisan budaya sekaligus sumber penghasilan.
Otnel Akun, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Pun Bersama di Desa Long Pua, Kecamatan Krayan Barat, mengatakan masyarakat mengenal beberapa jenis padi lokal. Namun, padi adan putih, merah, dan hitam yang paling banyak ditanam. Ketiganya memiliki pasar hingga ke Sarawak, Malaysia.
“Ini selalu kami kirim ke sana,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, Jumat (14/8/26).
Harga beras adan kisaran Rp350-400 ribu per kaleng, ukuran 15 kilogram. Pada kondisi tertentu, nilainya bisa mencapai Rp450 ribu. Ada sesuatu yang membuat beras ini berbeda. Masyarakat mengelola lahan secara tradisional, dengan mempertahankan pola budidaya yang tidak menggunakan bahan kimia.
“Pernah menggunakan pupuk kimia, namun, kini ditinggalkan.”
Para petani memanfaatkan sumber daya di sekitar mereka, termasuk kotoran dan urine kerbau untuk menyuburkan tanah. Cara tersebut bukan sesuatu yang baru, telah dikenal dari generasi sebelumnya.
“Alam menyediakan segala kebutuhan kami,” ujarnya.
Padi adan ditanam sekali setahun. Setelah panen, sawah diistirahatkan dan dipersiapkan untuk musim tanam berikutnya. Otnel mengatakan, petani mempertahankan pola tersebut untuk menjaga kualitas beras.
“Kalau dipaksa dua kali setahun, kami takut rasa pulennya hilang, wanginya berkurang, dan tanahnya jenuh. Mutu beras premium harus kami jaga.”
Pola tersebut membuat kegiatan pertanian tidak berdiri sendiri. Sawah, ternak, dan lingkungan menjadi bagian sistem kehidupan masyarakat. Di sisi lain, keberadaan sawah juga bergantung pada kondisi alam sekitar.
Hutan menjaga air
Hery Gunawan, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TNKM, mengatakan hutan pegunungan berperan penting menjaga siklus air yang mengalir menuju lembah.
“Fungsinya seperti spons raksasa. Tutupan tajuk rapat menangkap awan hujan, menyerap air, lalu melepaskan perlahan melalui jaringan sungai kecil ke dasar lembah,” jelasnya, Jumat (14/8/26).
Air dari kawasan hulu mengalir menuju sawah masyarakat. Bagi petani Krayan, hutan berkaitan dengan keberlanjutan pertanian dan pangan. Hutan bukan hanya berkaitan dengan perlindungan flora dan fauna saja.
“Bagi masyarakat adat, TNKM urat nadi pertanian mereka. Seluruh petak sawah basah di dataran tinggi ini sangat bergantung pada siklus hidrologi alami.”
Hery menjelaskan, hubungan Balai TNKM dan masyarakat tidak sebatas perlindungan kawasan. Ada program Desa Binaan yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, memperkuat kelembagaan, dan mendukung kegiatan ekonomi produktif di sekitar kawasan konservasi.
“Bentuk dukungan diwujudkan dalam bentuk satu unit hand tractor dan dua mesin penggiling padi. Peralatan tersebut telah digunakan sekitar tiga tahun,” ujarnya.
Sejauh ini, KTH Batu Pun Bersama yang beranggotakan 39 orang telah menghasilkan 51 ton gabah kering musim panen 2025. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, kisaran 30 ton.
“Inilah cara masyarakat Krayan menghidupkan ekonomi pangan di perbatasan. Penjualan secara sederhana itu bisa tembus hingga ke Malaysia,” sebutnya.
Pengetahuan adat dan konservasi
Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM, mengatakan beras adan merupakan bagian dari identitas masyarakat Krayan. Beras adan tumbuh subur dari hutan yang terjaga airnya, tanah yang dikelola masyarakat, kerbau yang membantu menyuburkan sawah, pengetahuan adat yang diwariskan, serta dukungan konservasi yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
“Beras adan adalah kebanggaan Krayan, lahir dari tanah subur dan air pegunungan jernih. Beras adan bukan hanya hasil pertanian, tetapi juga warisan budaya dan bukti harmoninya masyarakat Krayan dengan alam,” terangnya, Jumat (15/8/26).
Balai TNKM berupaya menjaga hutan dan sumber air yang menopang sawah, sekaligus memperkuat kapasitas petani dan membuka akses pasar. Untuk itu, pengelolaan kawasan konservasi tidak dapat dilakukan sendirian. Masyarakat di sekitar kawasan, terutama masyarakat adat, harus menjadi bagian kegiatan tersebut.
“Kami tidak bisa mengelola kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang tanpa mitra. Tentunya, melibatkan banyak pihak, dan salah satunya adalah masyarakat di sekitar kawasan,” tutupnya.
*****
Equator Prize 2020, Penghargaan untuk Kegigihan Masyarakat Adat Kayan Mentarang