Sejumlah pulau paling terpencil di dunia menjadi rumah bagi spesies burung yang khas, hasil dari isolasi geografis yang berlangsung jutaan tahun. Tanpa keberadaan predator, burung di pulau semacam ini kerap kehilangan kemampuan terbang, sebuah pola evolusi yang tercatat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya ditemukan di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, di tenggara Samudra Atlantik Selatan.
Salah satu pulau dalam gugusan itu adalah Inaccessible Island, pulau vulkanik bertebing curam dengan luas hanya 7,4 kilometer persegi. Ombak besar dan medan ekstrem membuat pulau ini nyaris tidak pernah dikunjungi manusia sejak ditemukan. Di pulau inilah hidup Atlantisia rogersi, atau Mandar Inaccessible, burung tak bisa terbang terkecil di dunia. Bobotnya 30 sampai 40 gram, mirip berat sebutir bola pingpong, dengan ukuran tubuh tidak lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Selama hampir satu abad, ilmuwan belum mengetahui bagaimana spesies yang tidak bisa terbang ini bisa menghuni pulau yang terpisah ribuan kilometer dari daratan mana pun.
Riset DNA Membantah Teori Jembatan Darat
Pertanyaan itu baru terjawab lewat riset genetika yang dipimpin ahli biologi evolusi Martin Stervander bersama tim dari FitzPatrick Institute of African Ornithology, yang naskahnya terbit di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution. Untuk melacak silsilah burung ini, tim peneliti mengandalkan teknik pengurutan DNA modern, lalu membandingkan materi genetiknya dengan sejumlah kerabat burung dari berbagai belahan dunia. Hasilnya mematahkan hipotesis ahli ornitologi Percy Lowe yang diajukan pada 1920-an. Lowe menduga leluhur burung ini berjalan kaki melintasi bentangan darat purba yang menyambungkan benua-benua, sebelum bentangan itu akhirnya karam ke dasar laut.
Data geologi menunjukkan hal berbeda. Inaccessible Island lahir dari letusan gunung berapi di dasar laut sekitar 3 sampai 6 juta tahun silam, sebagai bagian dari rangkaian gunung berapi bawah laut di Atlantik Selatan, dan pulau ini tidak pernah tersambung dengan daratan benua mana pun. Data DNA juga menunjukkan burung ini baru menghuni pulau tersebut sekitar 1,5 juta tahun lalu, jauh lebih muda dari perkiraan waktu terputusnya benua purba sehingga jalur darat mustahil pernah ada. Analisis filogenetik dalam riset itu juga mengungkap kerabat terdekat Mandar Inaccessible bukan burung Afrika seperti dugaan sebelumnya, melainkan Dot-winged Crake dan Black Rail yang hidup di benua Amerika.
Temuan ini menunjukkan nenek moyang burung tersebut menempuh perjalanan sejauh 3.500 kilometer dari Amerika Selatan. Para peneliti menyebut proses ini sebagai sweepstakes dispersal, ketika sekelompok burung yang semula masih bisa terbang tersapu angin barat yang berhembus kencang di Atlantik Selatan. Sebagian besar burung yang terbawa badai itu diperkirakan mati di tengah laut, dan hanya segelintir yang berhasil mendarat di satu-satunya titik daratan di tengah samudra tersebut. Famili Rallidae, tempat Mandar Inaccessible dan Dot-winged Crake bernaung, memang dikenal sebagai salah satu kelompok burung yang berulang kali kehilangan kemampuan terbang setelah menghuni pulau terpencil, pola yang juga tercatat pada sejumlah spesies rel lain di berbagai belahan dunia.
Sindrom Pulau dan Populasi yang Rentan
Setelah menetap di Inaccessible Island, burung ini mengalami perubahan fisik yang dalam ilmu biologi dikenal sebagai sindrom pulau. Pulau tersebut menyediakan rumput tussock yang lebat untuk berlindung, sumber makanan berupa cacing, ngengat, dan biji-bijian, serta tidak ada predator seperti tikus, kucing, atau mamalia pemangsa lain. Karena tidak perlu terbang untuk menghindari pemangsa maupun mencari makan, seleksi alam mengarahkan energi burung ini ke fungsi lain seperti reproduksi dan metabolisme. Sayapnya lambat laun mengecil, bulunya menjadi lebih halus menyerupai rambut, dan kakinya tumbuh lebih kuat untuk berlari cepat di antara vegetasi.
Populasi Mandar Inaccessible saat ini diperkirakan berjumlah sekitar 5.600 ekor burung dewasa, angka yang tergolong padat untuk pulau seukuran itu, dan seluruh populasi ini hanya ditemukan di satu titik di dunia. Badan konservasi dunia International Union for Conservation of Nature mengategorikan status burung ini sebagai rentan atau vulnerable. Sejak 1994, Inaccessible Island berstatus cagar alam dengan akses yang dibatasi ketat, sebagian untuk melindungi populasi burung ini dari gangguan luar.
Catatan sejarah juga menunjukkan kebakaran rumput pada 1872 dan 1909 diduga pernah membunuh banyak individu, meski kejadian serupa belum terulang sejak itu. Perilaku burung ini gesit dan cenderung mendekati manusia karena tidak memiliki insting waspada terhadap pemangsa. Populasi ini rentan jika ada predator baru yang masuk ke pulau tersebut.
Tikus rumah, kucing liar, dan tikus got memang belum pernah ditemukan di pulau ini, tetapi ketiganya sudah ada di Tristan da Cunha yang berjarak tidak terlalu jauh, dan berpotensi terbawa kapal nelayan atau kapal wisata yang singgah. Di Gough Island, pulau tetangga dalam gugusan yang sama, burung sejenis nyaris punah setelah tikus yang terbawa kapal manusia masuk ke pulau tersebut. Otoritas Tristan da Cunha membatasi kunjungan kapal ke Inaccessible Island untuk mengurangi risiko masuknya predator asing tersebut. Kelangsungan hidup Mandar Inaccessible saat ini bergantung pada terjaganya pembatasan akses itu.
**
Referensi:
Referensi: Stervander, M., Ryan, P. G., Melo, M., & Hansson, B. (2019). The origin of the world’s smallest flightless bird, the Inaccessible Island Rail Atlantisia rogersi (Aves: Rallidae). Molecular Phylogenetics and Evolution, 130, 92-98. https://doi.org/10.1016/j.ympev.2018.10.007
