Mongabay.co.id

Ketika Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi

  • Anak Gunung Krakatau erupsi lagi mulai 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir, sekitar Banten, Lampung, dan wilayah Jabodetabek. Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi.
  • Ati Pramudji Hastuti, Kepala Dinas Kesehatan Banten, mengatakan, abu vulkanik dapat membahayakan kesehatan, terutama saluran pernapasan. Hingga 6 September 2026, dua warga Kabupaten Serang telah rujuk ke rumah sakit setelah mengalami gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik. Meski demikian, kasus ISPA di puskesmas masih belum menunjukkan peningkatan signifikan.
  • Abu vulkanik pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, dan Samudra Hindia.
  • Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengatakan, sekolah di wilayah terdampak berat dapat menyesuaikan pembelajaran melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Keselamatan siswa dan warga menjadi prioritas. Sedang, daerah tidak terdampak tetap dapat menggelar pembelajaran tatap muka dengan penyesuaian.

Anak Gunung Krakatau erupsi lagi 5 September lalu. Sebaran abu vulkaniknya ke berbagai daerah pesisir,  sekitar Banten, Lampung,  dan wilayah Jabodetabek.  Agktivitas masyarakat pun terganggu. Delapan bandara tutup  berdampak terhadap 1.558 penerbangan. Pada Selasa, 8 September, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan yang lain mulai beroperasi lagi.

Maryana, warga Kampung Tancang, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, mengatakan,  debu vulkanik mulai masuk ke halaman rumah sejak 5 September malam. Kondisi itu membuat perempuan 60 tahun ini memutuskan mengungsi ke rumah keluarga di lokasi lebih tinggi.

Dia memilih mengungsi lantaran cukup trauma tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, anak krakatau menyebabkan longsoran material ke laut yang memicu tsunami dan menghantam pesisir di sekitar Selatan Sunda, yaitu pesisir Banten dan Lampung.

“Rumah saya terdampak tsunami. Saya mengungsi hampir dua minggu,” kata Maryana kepada Mongabay di rumahnya, 6 September lalu.

Abu vulkanik juga penuhi air sungai di Kampung Tancang. Warga khawatir karena sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Nurhayat, warga Tancang mengatakan,  kondisi air berubah setelah abu vulkanik mulai turun. Dia khawatir abu yang masuk ke aliran sungai dapat memengaruhi kualitas air.

“Cuci piring, baju, mandi, semua di sini. Abu ini masuk ke sungai sejak kemarin,” katanya.

Abu vulkanik juga menempel di lokasi rumah dan sekitar. Aktivitas warga terganggu. Dia harus sering membersihkan teras rumah.

Maryana berharap,  pemerintah segera memberikan bantuan masker medis kepada warga yang terdampak abu vulkanik.

“Ini sudah berkali-kali disapu, abunya ada lagi, ada terus.”

Kondisi lantai rumah warga di Desa Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang yang dipenuhi abu vulkanik. Foto: Anggita Raissa/Mongabay Indonesia

Andra Soni, Gubernur Banten mengatakan, erupsi anak krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami. Dia meminta masyarakat tetap waspada terhadap dampak abu vulkanik.

“Indikasi kenapa sekarang tidak terjadi tsunami, ukuran badannya jauh dengan 2018. Waktu 2018 tingginya kurang lebih di atas permukaan laut itu 300 sekian meter. Kalau sekarang, berdasarkan keterangan Badan Geologi masih landai,” kata Andra  usai meninjau Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/26).

Aktivitas GAK mulai meningkat sejak awal Juli 2026. Pada 2 Juli, gunung api kembali mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Pada hari yang sama, status aktivitas GAK naik dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Siti Sumilah Rita Susilawati,  Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), mengatakan, kenaikan status itu setelah aktivitas vulkanik GAK meningkat. Status Level III atau Siaga masih berlaku hingga saat ini.

Setelah erupsi pada 2 Juli, aktivitas GAK terus berlanjut. Hingga pada 4 September pukul 23.07 WIB, terjadi episode erupsi menerus yang ditandai dengan aktivitas lava  dan berlangsung sekitar 25 jam. Erupsi berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB.

Saat ini, aktivitas vulkanik GAK terpantau menurun. Namun, kata Rita,  penurunan itu bukan berarti aktivitas gunung akan berhenti. Potensi erupsi susulan masih ada sehingga PVMBG terus melakukan pemantauan selama 24 jam.

“Saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitasnya, kemungkinan masih akan terjadi erupsi,” katanya kepada awak media usai meninjau Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang.

Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan kepada awak media erupsi Gunung Anak Krakatau tak berpotensi tsunami. Foto: Anggita Raissa/Mongabay Indonesia

Bahayakan kesehatan

Ati Pramudji Hastuti, Kepala Dinas Kesehatan Banten, mengatakan,  abu vulkanik dapat membahayakan kesehatan, terutama saluran pernapasan. Hingga 6 September 2026, dua warga Kabupaten Serang telah rujuk ke rumah sakit setelah mengalami gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik. Meski demikian, kasus ISPA di puskesmas masih belum menunjukkan peningkatan signifikan.

“Kami mengimbau masyarakat wajib memakai masker dan kacamata jika beraktivitas di luar, serta meminimalisir penggunaan transportasi saat kepadatan abu vulkanik meningkat guna menghindari risiko gangguan pernapasan kronis,” ujar Ati kepada awak media.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu vulkanik GAK tak hanya berdampak di pesisir Banten. Abu terpantau menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk sebagian Jawa Barat, Jabodetabek, hingga Lampung.

Berdasarkan analisis BMKG pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik GAK. Analisis itu menggunakan informasi dari PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta citra satelit Himawari-9.

Klaster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya. Sebaran abu pada klaster ini terpantau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki.

Klaster lain terpantau bergerak ke wilayah berbeda dengan ketinggian sebaran abu juga teridentifikasi melalui pemantauan satelit BMKG.

Abu vulkanik pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, dan Samudra Hindia.

Sebaran abu itu turut berdampak pada aktivitas penerbangan. Saat erupsi pada 5 September, delapan bandara sempat tutup sementara karena sebaran abu vulkanik.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan, Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) pertama setelah erupsi GAK pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

Hingga 6 September 2026, BMKG menerbitkan 18 SIGMET untuk memantau sebaran abu vulkanik.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9/26).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, abu vulkanik erupsi GAK berdampak pada 15 kecamatan di tiga kabupaten, yakni, Lampung Selatan dan Tanggamus di Lampung serta Pandeglang di Banten.

Di Kabupaten Lampung Selatan, abu vulkanik berdampak pada tujuh kecamatan, yakni, Punduh Pedada, Rajabasa, Kalianda, Ketapang, Bakauheni, Sidomulyo, dan Katibung.

Sementara  di Kabupaten Pandeglang, ada empat kecamatan terdampak, yaitu, Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput. Adapun di Tanggamus, abu vulkanik berdampak pada Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung.

“Kami mengirimkan 10 personel untuk asesmen cepat dan koordinasi di Banten dan Lampung,” kata Suharyanto, Kepala BNPB dalam konferensi pers, Minggu (6/9/26).

Untuk mengurangi dampak sebaran abu vulkanik, BNPB juga melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Suharyanto mengatakan,  operasi itu untuk mengurangi konsentrasi abu vulkanik di udara agar tak makin mengganggu aktivitas masyarakat dan sektor perhubungan.

Salah satu ruas jalan di Serang, Banten, sepi setelah terjadi erupsi anak krakatau. Warga memilih tinggal di rumah menghindari risiko. Foto: Anggita Raissa/Mongabay Indonesia

Pembelajaran jarak jauh

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah mengatakan,  pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik. Salah satunya dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring di tujuh kecamatan yang terdampak erupsi.

Kebijakan serupa Jakarta terapkan. Pemerintah Jakarta memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah mulai Senin (7/9/26) sebagai langkah antisipasi dampak abu vulkanik.

Nahdiana,  Kepala Dinas Pendidikan Jakarta mengatakan,  kebijakan itu untuk menjaga kesehatan dan keselamatan siswa, guru, serta tenaga kependidikan.

Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengatakan,  sekolah di wilayah terdampak berat dapat menyesuaikan pembelajaran melalui PJJ.

Menurut dia, keselamatan siswa dan warga menjadi prioritas. Sedang, daerah tidak terdampak tetap dapat menggelar pembelajaran tatap muka dengan penyesuaian.

ILustrasi. Status Gunung Anak Krakatau saat ini berada level II [waspada]. Foto: KPHK Kepulauan Krakatau

 

 

*****

 

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Asap Tebal Terlihat Jelas Sebelumnya

Exit mobile version