- Paus atau lumba-lumba mengalami keterdamparan, bisa karena faktor biologis atau lingkungan. Bisa tunggal atau kombinasi keduanya. Namun, perlu penelitian lebih lanjut dengan membedah tubuh mereka secara medis.
- Paus pilot merupakan spesies yang memiliki ikatan sosial sangat tinggi. Biasanya, komunitas yang dibentuk beranggotakan 50 hingga ratusan individu. Saat satu individu mengalami masalah, baik itu karena faktor kesehatan ataupun karena alam dan manusia, yang lain akan menemani. Paling buruk, kawanan tersebut akan terdampar.
- Keterdamparan bisa disebabkan kegiatan perikanan, seperti jaring yang tidak sengaja menjerat mamalia laut. Saat itu terjadi, mamalia laut tak bisa naik ke permukaan air untuk bernapas, yang berpotensi terbawa arus. Semakin buruk kondisi lingkungan, semakin tinggi risiko terdampar
- Keterdamparan bisa juga disebabkan karena kesehatan mamalia laut menurun akibat penyakit tumor atau kanker. Bukti lain juga menguat karena penggunaan sonar aktif frekuensi menengah seperti pada kapal selam.
Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026.
Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut.
Achmad Sahri, Pakar Mamalia Laut dari Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan peristiwa itu hal biasa. Paus pilot merupakan spesies yang memiliki ikatan sosial sangat tinggi. Biasanya, komunitas yang dibentuk beranggotakan 50 hingga ratusan individu.
Saat satu individu mengalami masalah, baik itu karena faktor kesehatan ataupun karena alam dan manusia, yang lain akan menemani. Paling buruk, kawanan tersebut akan terdampar.
“Meski mendekati coastal, mereka terus bersama, hingga terdampar. Jadi, murni karena social bond,” ungkap Peneliti Ahli Madya itu, Kamis (27/8/26).
Sahri menyebut, kasus paus pilot sirip pendek menjadi contoh mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba terdampar. Ada dua hal utama penyebabnya, selain faktor alamiah seperti penyakit atau berusia tua, ada juga karena antropogenik dari aktivitas manusia.
Paus atau lumba-lumba mengalami keterdamparan, bisa karena faktor biologis atau lingkungan. Bisa tunggal atau kombinasi keduanya. Namun, perlu penelitian lebih lanjut dengan membedah tubuh mereka secara medis.
“Faktor alamiah bisa juga karena badai matahari, sesuatu yang mungkin tidak bisa diukur.”
Antropogenik dikarenaka penurunan daya dukung lingkungan yang mengakibatkan pencemaran dan perubahan ekosistem laut, seperti sampah. Atau, ada pembangunan pesisir dan penggunaan sonar bawah laut pada eksplorasi minyak dan gas.
“Paus dan lumba-lumba menggunakan suara untuk berkomunikasi dan bernavigasi.”
Krisis iklim
Krisis iklim juga bisa menyebabkan banyak hal, termasuk penurunan sumber pakan karena kenaikan suhu air. Meningkatnya suhu air, berpotensi memecah rute migrasi karena mamalia laut akan mencari air yang lebih aman.
“Kemampuan daya jelajah mereka juga berubah,” sebutnya.
Hal tidak boleh dilupakan, keterdamparan bisa disebabkan kegiatan perikanan, seperti jaring yang tidak sengaja menjerat mamalia laut. Saat itu terjadi, mamalia laut tak bisa naik ke permukaan air untuk bernapas, yang berpotensi terbawa arus. Semakin buruk kondisi lingkungan, semakin tinggi risiko terdampar.
Berdasarkan laporan, sepanjang 1995-2021, terdapat 26 spesies mamalia laut terdampar di Indonesia. Jumlah itu bisa bertambah jika akses semakin terbuka seperti saat ini.
“Kasus terdampar bisa berasal dari mana saja.”
Henry Manik, Guru Besar bidang Akustik Bawah Air dan Instrumentasi Kelautan IPB University, mengatakan sebagian besar penyebab mamalia laut terdampar karena faktor tingkah laku.
Kesimpulan itu dia dapat berdasarkan survei lapangan langsung saat mamalia laut terdampar. Saat dilakukan pembedahan, terdapat banyak sampah plastik di tubuhnya.
“Itu jadi kebiasaan, ada plastik masuk ke tubuh.”
Faktor gelombang juga membuat tubuh mereka terbawa arus. Biasanya, terjadi ketika ada operasi seismik menggunakan energi akustik dengan power besar.
Kegiatan tersebut membuat kemampuan mendengar mamalia berkurang, bahkan hilang. Jika itu terjadi, daya navigasi menurun dan mengganggu pelacakan rute.
“Kalau pendengaran hilang, tidak bisa mendeteksi sekitarnya. Komunikasi bawah laut menggunakan biosonar.”
Saat polusi suara muncul, mereka mencari jalur aman. Namun risikonya, ada di perairan dangkal, yang berarti memperbesar risiko terdampar. Akibatnya, risiko kematian massal semakin tinggi dan bisa berakhir terdampar. Terlebih, jika lingkungan perairan tercemar, kekurangan oksigen, atau makanan terkontaminasi plastik.
“Degradasi lingkungan juga meningkatkan potensi perubahan jalur migrasi. Ikan seperti tuna yang bermigrasi, akan pindah ke wilayah lain sesuai perubahan suhu laut.”
Penelitian
Dalam sebuah karya ilmiah yang ditulis Achmad Sahri bersama delapan peneliti, disebutkan penyebab kejadian mamalia laut terdampar masih belum diketahui secara pasti.
Identifikasi paling awal akhir 1980-an, saat itu ditemukan sampah, terutama plastik di dalam perut mamalia laut, yang terdampar karena tangkapan sampingan (by catch), atau tertabrak kapal.
Keterdamparan bisa juga disebabkan karena kesehatan mamalia laut menurun akibat penyakit tumor atau kanker. Bukti lain juga menguat karena penggunaan sonar aktif frekuensi menengah seperti pada kapal selam.
“Beberapa penyebab alami juga dikaitkan dengan peristiwa terdampar, seperti badai matahari.”
Para peneliti menyebut, tindakan nekropsi masih terbatas, hingga 2021 baru 34 kali dilakukan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 14 neskropsi dilakukan di Kalimantan Timur dengan tangkapan sampingan sebagai kesimpulan penyebab kematian pada empat kasus. Satu nekropsi dilakukan di NTT pada paus pilot sirip pendek yang kemudian diketahui penyebab terdampar karena mati sesak napas akibat penyumbatan saluran napas bagian atas.
Pada masa kolonial ada peristiwa pertama terjadi di Pekalongan, 12 April 1863, yaitu seekor paus bungkuk. Lalu di Lhokseumawe pada 1901/1902, dengan 52 ekor paus pilot sirip pendek.
Namun, pencatatan peristiwa terdamparnya mamalia laut di Indonesia baru dimulai periode 2000-an. Berikutnya, berdiri jaringan terdampar nasional (2013), yang dilatarbelakangi terdamparnya 51 paus pilot sirip pendek di Sabu Raijua, NTT, pada Oktober 2012. Selain itu, ada juga jejaring sukarela yang dibentuk para peneliti sejak 2022. Berdasarkan basis data sukarela tersebut, antara 1995-2021 tercatat 638 kejadian mamalia laut terdampa di Indonesia.
“Harus ada pengaturan dari berbagai sisi, agar peristiwa terdampar bisa turun, bukan naik,” ujar Henry.
Sahri menambahkan, penelitian lebih lanjut perlu dikembangkan. Mengingat, masih ada keterbatasan data. Dengan pertimbangan lokasi dan biaya, metode oportunistik menjadi yang paling memungkinkan. Semmentara, metode sistematik harus mengumpulkan data dari sejumlah lokasi dengan kontribusi banyak orang.
Tak kalah pentingnya, Sahri menyoroti pentingnya menetapkan zona khusus dalam tata ruang laut dan kawasan konservasi perairan. Tujuannya, agar area yang rawan kejadian terdampar bisa lebih tertib lagi.
Referensi:
Mustika, P. L. K., High, K. K., Putra, M. I. H., Sahri, A., Ratha, I. M. J., Prinanda, M. O., … & Kreb, D. (2022, November). When and where did they strand? The spatio-temporal hotspot patterns of cetacean stranding events in Indonesia. In Oceans (Vol. 3, No. 4, pp. 509-526). MDPI. https://www.mdpi.com/2673-1924/3/4/34
*****
Mengenal Hiu Elang, Spesies Purba yang Menyerupai Dua Hewan Sekaligus
