- Kebakaran hutan dan lahan sangat nyata mengancam kehidupan orangutan. Tidak hanya berdampak pada gangguan habitat tetapi juga kesehatan, hingga berujung kematian.
- Pada orangutan, sebuah penelitian telah melaporkan bahwa orangutan tidak hanya menjadi lebih pasif setelah menghirup asap. Tubuh mereka juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan energi.
- Selain itu, penelitian lainnya juga menemukan adanya peningkatan beban parasit setelah periode asap. Dampak paling berat bahkan ditemukan pada primata yang hidup di hutan rawa.
- Kebakaran merupakan ancaman utama bagi keanekaragaman hayati di banyak daerah, yang menyumbang 41 persen dari hilangnya hutan tropis global dan mengancam lebih dari 1.000 spesies.
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menganggu manusia. Di hutan, satwa juga harus mengirup udara yang sama, bahkan lebih buruk lagi. Kasus orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi gambaran nyata.
Seperti diberitakan Mongabay Indonesia sebelumnya, sepanjang Agustus 2026, tujuh orangutan dievakuasi setelah terdampak kebakaran. Salah satunya, orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, yang ditemukan lemas di sekitar kebun sawit setelah bergeser dari habitatnya, pada Minggu (30/8/26). Paparan asap karhutla menyebabkan tubuhnya mengalami gangguan pernapasan.
Namun, Sampurna mati sekitar pukul 15:20 WIB, setelah pertama kali ditemukan di hari yang sama sekitar pukul 06:00 WIB. Dikutip dari Kompas, kematiannya disebabkan oleh gangguan pernapasan berat, akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan yang memicu hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen di dalam tubuh.
Kisah Sampurna datang ketika musim kebakaran belum benar-benar berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, terdapat 463 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan, dan 264 di Sumatera pada 2 September. Kondisi panas dan kering masih berpotensi berlangsung awal September.
Bagi primata, ancaman kebakaran mungkin jauh lebih panjang. Penelitian Harrison dan kolega yang terbit di Global Ecology and Conservation 2026 mencoba melihat persoalan yang selama ini relatif kurang diperhatikan, yakni dampak tidak langsung kebakaran melalui asap dan kabut asap.
Peneliti mengumpulkan informasi dari peneliti primata serta menelaah literatur ilmiah. Secara keseluruhan, data mencakup 164 spesies primata, termasuk satwa penting seperti orangutan sumatera (Pongo abelii), orangutan borneo (Pongo pygmaeus), dan siamang (Symphalangus syndactylus).
Ratusan spesies tersebut berasal dari 45 negara (termasuk Indonesia), dengan lebih dari 93 persen lokasi merupakan populasi liar. Hasilnya mengkhawatirkan.
Kebakaran atau asap ditemukan pada 78–97 persen lokasi dalam kedua kumpulan data penelitian. Dampaknya lebih sering negatif dibandingkan positif.
Dalam data kuesioner, peneliti menemukan dampak negatif pada 60 persen lokasi. Kehilangan dan fragmentasi habitat serta berkurangnya ketersediaan atau kualitas makanan menjadi dampak yang paling sering dilaporkan. Namun, persoalannya tidak berhenti di sana.
Peneliti juga menemukan perubahan perilaku dan penggunaan waktu, gangguan kesehatan, perubahan interaksi antarspesies, degradasi habitat hingga kematian langsung, mirip seperti yang dialami Sampurna.
“Kami menemukan bahwa dampak kebakaran dan kabut asap terhadap primata tersebar luas, sebagian besar negatif, dan berpotensi meningkat,” tulis penelitian yang berjudul “Impacts of fire and haze on non-human primates.”
Asap yang mengubah cara hidup primata
Pada orangutan kalimantan, misalnya, penelitian sebelumnya yang dirangkum dalam studi ini menunjukkan paparan asap berkaitan dengan perubahan aktivitas dan pola makan untuk menghemat energi.
Asap juga dikaitkan dengan berkurangnya kehidupan sosial, perubahan frekuensi dan kualitas suara pejantan berjanggut pipi, serta peningkatan beban parasit.
Dampak tersebut penting, karena primata memiliki sejarah hidup relatif lambat. Banyak spesies berukuran tubuh besar yang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh serta berkembang biak. Paparan asap berulang jangka panjang tersebut, berpotensi menimbulkan risiko yang tidak langsung terlihat.
Peneliti bahkan menyoroti kemungkinan dampak lebih tersembunyi, seperti gangguan perkembangan janin, perubahan pada sistem kekebalan dan saraf pada individu yang terpapar asap sejak dini, perubahan metabolisme energi, hingga peningkatan parasit.
“Ini menunjukkan kebutuhan penting untuk meningkatkan upaya mitigasi ancaman ini (kebakaran dan kabut asap).”
Pada orangutan, penelitian Erb dan kolega (2018) yang berjudul “Wildfire smoke impacts activity and energetics of wild Bornean orangutans” menjadi bukti pertama bahwa asap kebakaran hutan memengaruhi kondisi orangutan.
Dalam temuannya, orangutan tidak hanya menjadi lebih pasif setelah menghirup asap. Tubuh mereka juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan energi.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa efek paparan asap bertahan setidaknya beberapa bulan, menyoroti potensi dampak jangka panjang pada populasi satwa liar,” tulis penelitian yang diterbitkan Scientific Reports.
Sementara itu, studi lainnya menyatakan bahwa paparan asap diduga membuat orangutan lebih rentan terhadap infeksi parasit. Gwynn dan kolega (2024) menemukan bahwa setelah periode asap, infeksi cacing tambang meningkat, baik dari sisi prevalensi maupun intensitas.
“Peningkatan intensitas signifikan, yaitu 2,5 kali lipat pada periode pasca-asap,” tulis penelitian yang berjudul Gastrointestinal parasites of wild Bornean orang-utans (Pongo pygmaeus) in a habitat affected by wildfire smoke yang diterbitkan dalam jurnal Global Ecology and Conservation.
Meskipun peningkatan ini kemungkinan besar tidak akan berdampak besar pada kebugaran individu orangutan, namun ketika daya tahan tubuhnya menurun, cacing tambang dapat memiliki konsekuensi besar peningkatan terjadinya anemia hingga kematian.
Kebakaran sesekali pun berdampak pada primata
Masih dalam penelitian Harrison dan kolega (2026), dampak karhutla terhadap primata ternyata tidak selalu membutuhkan api yang datang setiap tahun. Di lokasi yang hanya sesekali mengalami kebakaran dan kabut asap, dampak negatif yang kuat tetap dilaporkan pada 42 persen kejadian. Angka ini tidak jauh berbeda dengan lokasi yang hampir setiap tahun dilanda kebakaran dan asap, yakni 50 persen.
Dampak paling berat ditemukan pada primata yang hidup di hutan rawa. Dari laporan yang jumlahnya cukup untuk dibandingkan, 70 persen menunjukkan dampak negatif dan 60 persen di antaranya tergolong kuat.
Temuan ini memang perlu dibaca hati-hati, karena berasal dari kuesioner para peneliti dan bukan survei terhadap seluruh populasi primata. Namun, pesannya jelas, bagi primata, kebakaran sesekali pun dapat meninggalkan dampak. Apalagi jika terjadi berulang dan disertai kabut asap.
Merujuk situs pemantauan karhutla Indonesia, Sipongi Kemenhut, jumlah areal karhutla di Indonesia periode Januari – Juni 2026 mencapai 107.465 hektar. Luasan ini mengalami peningkatan sebesar 84.387 hektar atau 366% dibandingkan tahun 2025.
“Kebakaran kini dianggap sebagai ancaman utama bagi keanekaragaman hayati di banyak daerah, yang menyumbang 41% dari hilangnya hutan tropis global dan mengancam lebih dari 1.000 spesies di berbagai kelompok taksonomi,” tulis Harrison dan kolega (2026) dalam penelitiannya.
Referensi:
Erb, W. M., Barrow, E. J., Hofner, A. N., Utami-Atmoko, S. S., & Vogel, E. R. (2018). Wildfire smoke impacts activity and energetics of wild Bornean orangutans. Scientific Reports, 8(1), 7606. https://doi.org/10.1038/s41598-018-25847-1
Gwynn, A. L., Morrogh-Bernard, H. C., Thornton, A., Segah, H., Azis, A., & Van Veen, F. J. F. (2024). Gastrointestinal parasites of wild Bornean orang-utans (Pongo pygmaeus) in a habitat affected by wildfire smoke. Global Ecology and Conservation, 55, e03214. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2351989424004189
Harrison, M. E., de Andrade, A. C., Lokuciejewski, E., Allen, G., & Imron, M. A. (2026). Impacts of fire and haze on non-human primates. Global Ecology and Conservation, 68, e04248. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2351989426001976
*****
Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang
