Mongabay.co.id

Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut

  • Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari.
  • Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, polusi udara pada level berbahaya dengan konsentrasi partikulat PM2,5 sebesar 375.0 µg/m.³ Tak jauh beda kondisi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, pencemaran udara level berbahaya dengan PM2,5 sebesar 265,1 µg/m.³
  • Pada Kamis, (27/8/26), suasana duka menyelimuti keluarga Ahmad Riyadi, Ketua Relawan Pemadam Kebakaran tingkat kelurahan. Dia meninggal dunia setelah sebelumnya terlibat langsung dalam penanganan karhutla di lahan gambut Kota Palangka Raya.
  • Di tengah bencana kabut asap karhutla juga meningkatkan rasa solidaritas sesama, istilahnya, rakyat bantu rakyat. Salah satu di Palangka Raya, ada Koalisi Respon Asap Karhutla Kalimantan Tengah (Rakat). Rakat terdiri dari organisasi masyarakat sipil dan mahasiswa menyediakan rumah aman (safehouse) untuk memberikan bantuan dan respon cepat bagi masyarakat terdampak asap karhutla.

Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari.

Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, polusi udara pada level berbahaya dengan konsentrasi partikulat PM2,5 sebesar 375.0 µg/m.³  Tak jauh beda kondisi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, pencemaran udara level berbahaya dengan PM2,5 sebesar 265,1 µg/m.³

Kabut asap di Kota Pontianak, Kalbar. 3 September 2026. Foto: Tursih/Mongabay Indonesia

Tursih, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat  mengatakan, kabut asap langsung berdampak ke kesehatan terutama anak-anak. “Ini anak-anak di rumah sudah dari beberapa pekan lalu batuk pilek,” katanya, akhir Agustus lalu.

Dia dan keluarga pun berupaya mengurangi aktivitas ke luar rumah. Ketika terpaksa keluar, mereka gunakan masker. “Adanya yang ini yang kami beli,”  katanya. Yang dia maksud itu masker medis yang sekadar menutup wajah.

Asap karhutla parah, Kota Pontianak pun masih sekolah daring.  “Kabut asap tebal. Sekolah masih libur, belajar daring,” kata Tursih.

Dia bilang, sekolah secara daring dengan melihat kondisi asap. Ketika pekat, dan udara memburuk, pemerintah umumkan sekolah secara daring dari rumah.

Di Palangka Raya, Ibu Kota Kalimantan Tengah pun tak aman lagi. Seminggu setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung, masyarakat kota makin terkepung api dan asap dari karhutla.

Bagi warga Kalteng, karhutla bukan fenomena yang hanya terlihat sebagai kepulan asap di langit. Ia jadi acaman kesehatan, keselamatan maupun ekonomi.

Hasil pantauan data Konsentrasi Partikulat (PM2.5) selama tiga hari berada pada kondisi bahaya. Sore hari, pukul 16.00  pada 30 Agustus merupakan puncak terparah di periode Agustus. Asap karhutla menyebabkan kualitas udara berbahaya mencapai 1.470.4 µg/m3.

Memasuki awal September 2026, konsentrasi partikulat di Palangka Raya terpantau menurun menjadi 86 µg/m³ pada pukul 17.00 WIB.

Meskipun mengalami penurunan, kondisi itu masih berada dalam kategori tidak sehat.

Tim SAR bantu evakuasi warga terkepung karhutla di Palangka Raya, kalteng. Foto: Krismes Santo Haloho/Mongabay Indonesia

Ilma Naela Anjeli, ibu rumah tangga yang memiliki bayi lima bulan, turut merasakan dampak karhutla dan asapnya. Rumahnya di Jalan Hiu Putih Lanjutan sempat berada dalam jarak sekitar 200 meter dari titik api pada pagi hari. Meskipun api padam, asap sisa karhutla masih menyelimuti kawasan sekitar rumahnya.

“Ketika api mulai padam, asap dan abu justru masuk ke dalam rumah dan menempel di seluruh permukaan barang. Kondisi tersebut membuat kami sesak dan pusing. Kami juga takut keluar karena khawatir kebakaran semakin parah. Posisi kami benar-benar terjebak,” katanya Selasa (1/9/26).

Dia hanya tinggal dengan ibunya berusia 60 tahun dan bayinya.

Berdasarkan pantauan Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya, 30 Agustus,Kalteng berada pada peringkat ke dua dengan 1.212 titik panas di bawah Kabupaten Kapuas. Pada 31 Agustus,  naik menjadi peringkat satu dengan 1.047 hotspot.

Kabut asap masih menyelimuti Kota Pontianak, Kalbar, 3 September 2026. Foto: Tursih/Mongabay Indonesia

Bahayakan keselamatan warga, sudah telan korban jiwa

Pada Kamis, (27/8/26), suasana duka menyelimuti keluarga Ahmad Riyadi, Ketua Relawan Pemadam Kebakaran tingkat kelurahan itu meninggal dunia setelah sebelumnya terlibat langsung dalam penanganan karhutla di lahan gambut Kota Palangka Raya.

Pemakaman Ahmad pada 28 Agustus 2026. Hendry Hanafi, Asisten Bidang Intelejen (Asintel) Kejaksaan Kalimantan Tengah yang hadir pada pemakaman itu mengatakan, karhutla berdampak terhadap masyarakat bukan hanya sisi kesehatan, juga keselamatan jiwa.

“Kita semua harus menjadi perhatian bahwa karhutla itu dirasakan masyarakat bukan hanya berdampak pada sisi kesehatan, juga mengancam nyawa,” katanya, 28 Agustus lalu sembari sampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Menurut informasi kejaksaan dari kronologi dari media, sebelumnya Ahmad terlibat langsung dalam pemadaman api di Rambang walau dia belum dapat memastikan penyebab kematiannya.

Sore hari setelah pemakaman, para petugas dan relawan masih berjibaku dengan api.  Sekitar pukul 17.30, tim Basarnas menerima informasi mengenai kondisi warga di tengah kebakaran di Jl Mahir Mahar Bukit Tunggal– Jalan Yos Sudarso Ujung, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Di tengah kobaran api,  ada warga terjebak di area dan perlu bantuan SAR.  Delapan orang, satu keluarga menjadi korban keganasan karhutla dan bisa evakuasi dengan selamat.

Pada Kamis, (27/8/26), Ahmad Riyadi, Ketua Relawan Pemadam Kebakaran tingkat kelurahan meninggal dunia setelah sebelumnya terlibat langsung dalam penanganan karhutla di lahan gambut Kota Palangka Raya. Foto: Krismes Santo Haloho/ Mongabay Indonesia

Data SMC Kansar Palangka Raya, korban terdiri dari tiga lansia, empat dewasa  usia produktif dan satu remaja.

Korlap Basarnas Palangka Raya, saat ditemui dalam proses evakuasi menjelaskan,  situasi di lapangan tidak mudah. Angin membuat arah pergerakan api jadi sulit.

Petugas juga harus bekerja malam hari dengan jarak pandang makin terbatas.

Api terus menyeberang mengikuti kondisi angin. Para petugas memilih bersiaga sembari memantau perkembangan situasi dan berupaya membujuk warga yang masih bertahan agar mau menuju lokasi aman.

Bagi tim evakuasi, kejadian itu bukan kali pertama mereka harus membantu warga menghadapi ancaman kebakaran. Petugas menyebut sudah dua kali evakuasi dalam situasi karhutla.

Rumah bebas asap Koalisi di palangka Raya, Kalteng. Foto: Krismes Santo Haloho/Mongabay Indonesia

Rakyat bantu rakyat

Di tengah bencana kabut asap karhutla juga meningkatkan rasa solidaritas sesama, istilahnya, rakyat bantu rakyat.  Salah satu di Palangka Raya, ada Koalisi Respon Asap Karhutla Kalimantan Tengah (Rakat).

Rakat terdiri dari organisasi masyarakat sipil dan mahasiswa menyediakan rumah aman (safehouse) untuk memberikan bantuan dan respon cepat bagi masyarakat terdampak asap karhutla.

Posko di Jl. Badak XVI, No.5, Palangka Raya itu sudah bukan lebih seminggu. Setiap hari warga yang mengakses layanan bantuan rumah aman asap sekitar 2-3 orang dewasa maupun anak-anak.

“Disini ada en purifier 3, nebulizer 2 dan tabung oksigennya satu, susu anak, vitamin popok, oxycan, anti nyamuk dan masker… lengkap,” kata Agnes Jesika, di Posko Safehouse.

Adelina Saragih, warga Palangka Raya (mengetahui posko rakyat itu dari Instagram. Dia datang karena anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun mulai batuk setelah terpapar asap selama beberapa hari.

“Asap sudah masuk ke dalam teras. Hari ini masuk ke dalam rumah,” katanya.

Sebelumnya, anaknya tak pernah mengalami batuk separah itu. Kali ini, batuk lebih berat dan sempat kesulitan tidur serta napas berbunyi.  

Anak yang lebih kecil baru berusia sekitar tiga tahun. Dalam kondisi asap pekat, perhatian keluarga tidak hanya tertuju kepada anak yang batuk, juga mengkhawatirkan balita yang lebih rentan ketika kondisi memburuk.

Pengalaman menghadapi asap, katanya, memang bukan hal  baru bagi keluarganya. Dia menceritakan,  situasi serupa 2019, ketika anak pertama mereka masih bayi.

Data koalisi ini, hingga 31 Agustus ada 84 orang datang membutuhkan pertolongan. Mereka terdiri dari anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan lain.


Udara racun, jutaan warga terdampak

Pada pertengahan Agustus lalu,  Kementerian Kesehatan mencatat, lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi terparah.

Data Kemenkes per 21 Agustus 2026, tujuh provinsi terdampak karhutla meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Enam sudah menetapkan status siaga darurat bencana seiring kemarau panjang sejak awal 2026.

Lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi signifikan di sejumlah wilayah. Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA melonjak dari 402 kasus jadi 716 kasus dalam satu minggu (78,1%).

Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151.000 kasus sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Tren serupa, juga bersamaan dengan kasus asma dan iritasi, seperti terjadi di Riau dan Kalimantan Selatan.

Agus Jamaludin,  Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, mengatakan, telah mengerahkan 314 tenaga medis/tenaga kesehatan dan mendistribusikan ratusan ribu bantuan logistik kesehatan ke wilayah terdampak.

“Terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” katanya dalam keterangan resmi Kemenkes.

Selain pengerahan tenaga kesehatan, Kemenkes juga mendistribusikan perlengkapan medis dan obat-obatan.

Dia merinci, secara keseluruhan logistik yang tersalur meliputi 278.940 masker, 56 oxygen concentrator (OC), 40 face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis (handscoon), 36 tabung oxycan, delapan set alat pelindung diri (APD), 33 dus pemberian makanan tambahan (PMT), serta obat-obatan dan vitamin.

Di titik-titik rawan seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya, pemerintah mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen.

Selain itu, program “Oase Udara” juga mereka jalankan di fasilitas kesehatan Kalimantan Barat untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.

Tim Greenpeace yang memadamkan kebakaran gambut di Kubu Raya, Kalbar. Foto: Widya/Mongabay Indonesia

Protes negara tetangga

Dampak asap karhutla pun sudah nular ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Mereka kena kabut asap akibat karhutla mengepung Kalimantan. Wilayah Sarawak di Pulau Borneo menjadi daerah paling parah terpapar.

Kota-kota seperti Kuching, Serian, Sri Aman, dan Sibu mengalami penurunan kualitas udara drastis hingga kategori tidak sehat.

Tiupan angin muson membawa partikel polusi hingga ke Semenanjung Malaysia, menyelimuti wilayah perkotaan padat seperti Kuala Lumpur, Putrajaya, dan Selangor dengan kabut asap tipis. Begitu pula yang terjadi di Bandar Seri Begawan, Belait, Tutong, hingga Temburong, Brunei Darussalam.

Kondisi udara yang memburuk ini membuat aktivitas masyarakat terganggu hingga ancaman ISPA dan kelancaran transportasi.

Mengutip kantor berita nasional pemerintah Malaysia, Bernama.com, Negeri Jiran dan Pemerintahan Kerajaan Brunei Darussalam telah mencapai kesepakatan untuk menggunakan mekanisme ASEAN untuk mengatasi masalah kabut asap lintas batas ini.

Datuk Seri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, mengatakan,  masalah itu termasuk di antara hal-hal yang mereka bahas dengan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah.

“Kami berdua sepakat untuk menggunakan mekanisme ASEAN sebagai pilihan terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani masalah ini.”

Mohamad bilang, Malaysia melalui Kementerian Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan (NRES) akan mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN dalam waktu dekat.

“Menteri NRES, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup juga akan menulis surat kepada mitranya di Indonesia. Kami percaya, ASEAN adalah mekanisme terbaik untuk mengatasi isu dan masalah di antara negara-negara anggota ASEAN. Kami memandang sekretariat lebih efektif dalam mengelola masalah ini.”

Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, peningkatan aktivitas terpengaruh minimnya curah hujan alami yang terjadi. Kondisi ini, memperbesar potensi kebakaran dan memperpanjang asap di sejumlah wilayah.

Menurut dia, kondisi karhutla di Kalimantan memiliki karakteristik berbeda karena banyak terjadi di lahan gambut. Permukaan lahan yang terlihat sudah padam, namun belum tentu bara di bawahnya benar-benar mati.

“Karena itu, hujan dengan intensitas yang cukup menjadi salah satu faktor penting untuk membantu membasahi kembali lahan gambut dan memadamkan bara yang masih tersimpan,” katanya dalam keterangan pers.

Operasi modifikasi cuaca (OMC) menjadi dengan mengabur garap diawan menjadi prioritas untuk memicu timbulnya hujan. Juga pengerahan armada.

BNPB saat ini menyiagakan 30 helikopter untuk mendukung operasi water bombing dan patroli udara di Kalimantan. Sebanyak 22 helikopter siaga mendukung penanganan karhutla di wilayah Sumatera.

Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, 22 Agustus lalu, mengatakan, pemerintah memprioritaskan langkah mitigasi untuk menghentikan perluasan kebakaran sekaligus mencegah munculnya titik-titik api baru.

“Saya sudah lihat situasi kita ikuti terus. Kita ambil langkah-langkah ya, mitigasi, yang penting kita segera hentikan perluasan penambahan titik api.” ujar Prabowo kepada awak media.

Tim Sar lakukan evakuasi penyelamatan warga terkepung karhutla di Palangka Raya, Kalteng. Foto: Krismes Santo Haloho/Mongabay Indonesia

 

*****

 

 

Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara

Exit mobile version