Mongabay.co.id

Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan

  • Masyarakat di sejumlah desa di Pulau Bangka mulai kesulitan air. Mereka bergantian mendapatkan jatah air dari pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat), dan bertahan dengan memanfaatkan kolam serta aliran air yang mulai menyusut.
  • Puluhan ribu liter air mulai disalurkan ke sejumlah desa terdampak krisis air. Hal ini berpotensi memburuk, ketika prediksi puncak kemarau akan berlangsung pada September, dan berakhir pada awal tahun 2027.
  • Secara alamiah, kondisi geologi kepulauan yang tersusun dari batuan granit dan batuan padu lainnya, menyebabkan kemampuan menyimpan air di Bangka Belitung sangat buruk. Dan ini diperparah dengan hilangnya tutupan hutan di wilayah perbukitan dan lahan basah akibat perkebunan sawit serta pertambangan.
  • Memulihkan kembali kawasan hutan yang terdegradasi, baik itu di perbukitan, hingga lahan basah harus dilakukan guna menyeimbangkan kembali siklus serta ketersediaan air di Kepulauan Bangka Belitung.

Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

“Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. Masih bertahan, mungkin karena ada mata airnya,” kata Mang Yan, Minggu (22/8/26).

Setiap tahun, warga Desa Zed membuka pintu bagi keluarga dan kerabat dari luar daerah. Warga desa mulai sibuk memasak ketupat, serta menyiapkan beragam kue, mirip lebaran. Tak jarang, jalan raya Desa Zed dipenuhi kendaraan dari pagi hingga malam. Ini dilakukan untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Yustika mengatakan, warga khawatir menyambut maulid tahun ini. Sebab, sebagian besar  mereka kesulitan air.

“Sumur-sumur mulai kering, air sungai menyusut,” jelasnya.

Warga Desa Zed bergantung pada air yang disalurkan melalui pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Namun, sejak dua minggu terakhir, air tersebut tidak mengalir merata ke seluruh rumah. Dalam sehari, hanya seratusan kepala keluarga yang mendapat jatah.

“Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” kata Hana Fitri, tetangga Yustika.

Hana Fitri dan Yustika mencuci pakaian dan beras di kolam air tersisa di sekitar Desa Zed, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Tidak hanya di Desa Zed, hal serupa terjadi di sejumlah desa tetangga mereka. Seperti Desa Puding Besar, Desa Paya Benua, dan Desa Kemuja. Di sepanjang jalan menuju Kota Pangkalpinang, Mongabay Indonesia beberapa kali melihat warga mandi di sejumlah titik pemandian umum serta membawa jerigen untuk membawa pulang air.

Di Dusun Tuing, permukiman pesisir di bagian Utara Pulau Bangka, kolam-kolam air tawar mulai menyusut. Beberapa mulai terasa asin, karena air laut merembes ke sejumlah aliran sungai kecil.

“Kalau bulan depan masih belum turun hujan, bisa-bisa kering total ini,” kata Sukardi, warga Dusun Tuing.

Agus Afandi, Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Belitung, mengatakan sampai saat ini belum ada laporan resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten terkait tingkat kerawanan kekeringan.

“Melihat kondisi hari ini, mungkin (kekeringan) bisa saja sama dengan kejadian sebelumnya,” jelasnya kepada Mongabay Indonesia, Selasa (25/8/26).

Salah satu kolam air tersisa di Dusun Tuing yang mulai menyusut dan diperkirakan akan kering jika hujan tak kunjung turun. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Mengutip antaranews pada Minggu 23 Agustus 2026, BPBD Kabupaten Bangka Tengah mencatat 13 desa dan satu kelurahan mengalami kekeringan karena hujan tak turun dua bulan terakhir.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung, per 11 Agustus 2026 sudah mendistribusikan air sebanyak 32.600 liter air ke sejumlah titik. Data ini belum termasuk distribusi air setelahnya yang diperkirakan mencapai 49.000 liter.

Situasi ini diperkirakan akan kian memburuk jika prediksi BMKG Bangka Belitung pada Agustus lalu benar adanya. Masih mengutip antaranews, Slamet Supriyadi, Ketua Tim Data dan Informasi BMKG, menyatakan puncak musim kemarau akan terjadi September 2026. Diperkirakan berakhir awal 2027, atau kisaran Januari hingga Februari tahun depan.

Warga menyedot air dari aliran sungai kecil yang mulai menyusut di sekitar Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia.

Sulit menyimpan air

Secara alami, lanskap daratan Kepulauan Bangka Belitung sulit untuk menyimpan cadangan air tanah. Hal ini disebabkan kondisi geologi kepulauan yang tersusun batuan granit dan batuan padu lainnya, sehingga membuah air tanah tidak tersebar merata.

Kondisi tersebut membuat air lebih banyak bergantung pada rekahan atau zona pelapukan untuk meresap dan tersimpan.

Irvani, peneliti geologi sekaligus dosen Universitas Bangka Belitung mengatakan, granit tergolong reservoir air yang buruk alias impermeabel.

“Kalaupun ada air tersimpan, khususnya pada rekahan-rekahan granit dan bagian-bagian lapukan granit atau tanah yang relatif dangkal,” katanya, Jumat (28/8/26).

Lebih lanjut, Irvani menjelaskan, kota-kota dan kabupaten di Bangka Belitung tidak dibangun di atas cekungan air tanah yang punya sistem hidro-hidrogeologi baik. Sumberdaya air tanah akan cepat terkuras sewaktu kemarau oleh abstraksi atau pemompaan air tanah yang terus meningkat, seiring peningkatan pemakaian masyarakat yang bertambah banyak.

“Situasi ini tidak hanya menjadikan Bangka Belitung rentan kekeringan, tetapi juga kebanjiran saat musim penghujan. Sebab, daya tampung dan daya resap air sangat minim,” ujarnya.

Salah satu aliran air yang ditumbuhi pohon rumbia bahkan mengering. Warga di Desa Zed harus menyambung selang guna mendapat air. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Merujuk Kajian Resiko Bencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2022-2026, dari luas daratan sekitar 1,6 juta hektar, hanya 368.996 hektar wilayah yang termasuk dalam bahaya kekeringan kelas rendah. Sementara sekitar 1,2 juta hektar berada dalam kelas sedang, dan kelas tinggi sekitar 1.620 hektar.

Hal ini dikuatkan kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Ekoregion Sumatera, yang menyatakan bahwa 88,76 persen wilayah Kepulauan Bangka Belitung masuk kategori rendah dalam jasa ekosistem penyediaan air bersih.

Selain itu, sekitar tiga perempat (75,40%) wilayah Bangka Belitung berada pada kategori sangat rendah–rendah dalam jasa pengaturan tata aliran air dan banjir. Sisanya, 24,60% berada pada kategori tinggi–sangat tinggi.

“Semakin luas area hutan yang dialihfungsikan menjadi kebun sawit dan tambang, juga sangat mempengaruhi sumberdaya air tanah sehingga bertambah kritis,” tutur Irvani.

Perkebunan sawit dan pertambangan yang menggerus hutan akan semakin memperburuk kekeringan serta keseimbangan air di Kepulauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi /Mongabay Indonesia.

Sebagai informasi, mengutip rri.co.id, data BPDAS Baturusa-Cerucuk Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan, tahun 2024 tercatat 208 ribu hektar lahan kritis di Kepulauan Bangka Belitung. Sementara berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), sekitar 167 ribu hektar lahan kritis, yang 70 persen diakibatkan tambang timah.

Selain itu, ada sekitar 12.327 kolong (lubang bekas tambang) dengan luas mencapai 15.579 yang tersebar di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menurut data tahun 2022.

­Dari ke tahun, luas areal perkebunan sawit di Kepulauan Bangka Belitung meningkat. Merujuk data BPS Bangka Belitung, pada 2018, kebun sawit rakyat sekitar 67 ribu hektar. Sementara pada 2024, luasnya bertambah mencapai 98 ribu hektar. Ini belum termasuk perkebunan milik perusahaan yang diperkirakan mencapai 171.332 hektar, menurut data buku statistik perkebunan Indonesia.

Jessix Amundian, Direktur Tumbek for Earth, pada Jumat (28/8/26), mengatakan situasi geologi Bangka Beiltung menggambarkan betapa besarnya ketergantungan air dari tutupan hutan alami, baik itu di lahan basah hingga perbukitan.

“Untuk memperbaiki sistem hidrologi yang sudah rusak, kawasan hutan yang terdegradasi harus segera dipulihkan, dan menjadi satu-satunya pilihan,” tegasnya.

 

*****

 

Memahami Sistem Panas Bumi Unik di Bangka Belitung

Exit mobile version