Mongabay.co.id

Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana

Ilustrasi Cretoxyrhina mantelli, salah satu spesies predator yang telah lebih dulu tercatat di Abu-Tartur sebelum penemuan lima spesies baru dalam studi ini. Ilustrasi: Dmitry Bogdanov (CC BY 3.0)

Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun barat Mesir.

Sebuah studi paleontologi terbaru mengungkap bahwa dataran tinggi yang kini tandus di gurun barat Mesir dahulu merupakan bagian dari laut dangkal yang menjadi rumah bagi setidaknya tujuh spesies hiu purba. Temuan ini berasal dari analisis gigi-gigi fosil yang dikumpulkan di Dataran Tinggi Abu-Tartur, sekitar 650 kilometer barat daya Kairo, dan dipublikasikan dalam jurnal Cretaceous Research oleh tim yang dipimpin ahli paleontologi Tarek Yassin dari Universitas Kairo.

Analisis 14 Gigi Fosil Ungkap Lima Spesies Baru

Yassin dan rekannya Alhussein Ibrahim mengumpulkan 14 gigi hiu dari lapisan fosfat hitam dan kuning di sektor Maghrabi-Liffiya, bagian dari Formasi Duwi yang berumur Kapur Akhir. Gigi-gigi tersebut memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari yang ramping dan memanjang hingga yang melengkung tajam dan bergerigi, menunjukkan perbedaan strategi makan di antara spesies yang pernah hidup berdampingan di perairan itu.

Gigi-gigi fosil yang menjadi bukti utama studi ini: sebagian mewakili lima spesies hiu yang baru tercatat di Abu-Tartur, termasuk dua yang merupakan catatan pertama untuk Mesir. Kredit: Cretaceous Research (2026). DOI: 10.1016/j.cretres.2026.106476

Setelah membandingkan bentuk dan anatomi gigi dengan deskripsi ilmiah yang sudah dipublikasikan serta spesimen pembanding di koleksi museum Swiss, tim mengidentifikasi lima spesies yang belum pernah tercatat di Abu-Tartur, termasuk Cretalamna cf. maroccana, Scapanorhynchus cf. raphiodon, Serratolamna cf. serrata, dan Squalicorax bassanii. Dua di antaranya, Serratolamna cf. serrata dan Squalicorax bassanii, merupakan catatan pertama untuk wilayah Mesir. Satu spesies lain, Scapanorhynchus cf. raphiodon, kerabat purba hiu goblin modern, kemungkinan besar belum pernah tercatat di benua Afrika sama sekali.

Digabung dengan dua spesies yang sudah lebih dulu diketahui dari lokasi yang sama pada penelitian sebelumnya, yaitu Scapanorhynchus rapax dan Cretoxyrhina mantelli, jumlah spesies hiu yang tercatat di Abu-Tartur kini mencapai setidaknya tujuh. Para peneliti mencatat bahwa kerangka hiu yang sebagian besar tersusun dari tulang rawan jarang terawetkan menjadi fosil utuh, sehingga gigi tetap menjadi bukti paling andal untuk merekonstruksi keberadaan populasi hiu purba.

Laut Tropis Kaya Nutrisi yang Kini Berubah Jadi Gurun

Sekitar 80 juta tahun lalu, sebagian wilayah yang kini menjadi Gurun Barat Mesir tertutup laut dangkal yang terhubung dengan tepi selatan Samudra Tethys purba. Perairan hangat itu merendam Formasi Duwi, termasuk sedimen kaya fosfat di Abu-Tartur, sepanjang Zaman Kapur Akhir. Kandungan fosfat yang tinggi pada batuan tersebut menjadi indikasi bahwa perairan ini kaya nutrisi dan sangat produktif, cukup untuk menopang beberapa jenis hiu predator dalam satu rantai makanan sekaligus. Laut ini kemudian berangsur surut seiring turunnya permukaan laut global dan perubahan tektonik yang mengubah hubungan Mesir dengan Samudra Tethys, menyingkap dasar laut yang lambat laun berubah menjadi lanskap gurun seperti sekarang.

Para peneliti menggarisbawahi keterbatasan temuan ini. Karena sedimen yang terbentuk pada periode tersebut sangat tipis, lapisan fosfat yang menyimpan gigi-gigi hiu ini kemungkinan besar merupakan akumulasi dari rentang waktu yang panjang, bukan potret satu momen tunggal. Dengan kata lain, ketujuh spesies tersebut kemungkinan tidak hidup dan mati bersamaan di satu waktu yang sama, melainkan mewakili populasi yang silih berganti menghuni perairan itu dari waktu ke waktu.

Yassin mengatakan penelitian di Abu-Tartur akan terus dilanjutkan untuk menelusuri wilayah sekitarnya. Temuan ini menambah dua catatan baru bagi Mesir dan kemungkinan satu catatan baru bagi benua Afrika, sekaligus memperluas jangkauan paleogeografis beberapa garis keturunan hiu dari Zaman Kapur Akhir yang sebelumnya tidak diketahui hidup di wilayah ini.

**

Referensi:

Yassin, T., Carrillo-Briceño, J. D., Kindlimann, R., Ibrahim, A., & AbdelGawad, M. K. (2026). Egyptian shark graveyard: New Late Cretaceous Lamniform shark assemblage from Duwi Formation of Abu-Tartur area, Southwestern desert, Egypt. Cretaceous Research, 106476. https://doi.org/10.1016/j.cretres.2026.106476

Exit mobile version