Mongabay.co.id

Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya

Kumbang kotoran jantan Onthophagus taurus, spesies yang menurut studi Knell & Simmons (2010) tercatat sebagai serangga terkuat di dunia dengan kemampuan menarik beban hingga 1.141 kali berat tubuhnya. Dua tanduk melengkung di kepalanya digunakan untuk bertarung memperebutkan akses ke terowongan sarang. Foto: Don Loarie/iNaturalist (CC BY 4.0)

Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, ternyata tidak dipegang oleh semut, melainkan oleh kumbang.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B menemukan bahwa kumbang kotoran memiliki rasio kekuatan yang jauh melampaui semua serangga lain yang pernah diuji, termasuk kumbang badak yang sebelumnya dianggap sebagai pemegang rekor. Penelitian ini mengukur kekuatan tarik beberapa jenis kumbang menggunakan alat uji sederhana yang dipasang di dalam terowongan buatan, menyerupai kondisi pertarungan yang sesungguhnya terjadi di alam liar. Studi yang sama juga menemukan bahwa kekuatan kumbang sangat dipengaruhi oleh kualitas makanan yang mereka konsumsi sejak masa larva, sehingga kumbang dengan asupan gizi buruk cenderung memiliki kekuatan tarik yang jauh lebih rendah meski berasal dari spesies yang sama.

Kumbang Kotoran, Pemegang Rekor Kekuatan

Kumbang kotoran jantan dari spesies Onthophagus taurus tercatat sebagai serangga dengan rasio kekuatan tertinggi yang pernah diukur secara ilmiah. Dalam eksperimen yang dilakukan Robert Knell dari Queen Mary University of London bersama Leigh Simmons dari University of Western Australia, kumbang ini mampu menarik beban hingga 1.141 kali berat tubuhnya sendiri. Sebagai perbandingan, kekuatan itu setara dengan seorang manusia dewasa seberat 70 kilogram yang mampu menarik beban seberat 80 ton, atau setara enam bus tingkat penuh penumpang.

Kumbang kotoran jantan Onthophagus taurus dilihat dari samping, memperlihatkan tanduk melengkung khas yang menjadi asal nama spesies ini (“taurus”, merujuk pada tanduk banteng). Spesies berukuran sekitar 10 mm ini tercatat sebagai serangga terkuat di dunia berdasarkan rasio berat tubuh, mampu menarik beban hingga 1.141 kali berat badannya sendiri (Knell & Simmons, 2010). Foto: U. Schmidt (CC BY-SA 4.0)

Para peneliti mengukur kekuatan ini dengan memasang kumbang pada alat penarik di dalam terowongan buatan, lalu menariknya secara perlahan dari arah berlawanan hingga cengkeramannya lepas. Metode ini dirancang untuk meniru situasi nyata di alam, yaitu ketika seekor kumbang jantan mencoba menyeret pesaingnya keluar dari terowongan yang sedang diperebutkan. Semakin kuat sebuah kumbang mampu bertahan, semakin besar peluangnya memenangkan akses ke betina di dalam terowongan tersebut.

Kekuatan ekstrem ini berkembang sebagai hasil tekanan seleksi alam yang berlangsung selama ribuan generasi. Kumbang jantan bertubuh besar mengembangkan tanduk panjang dan otot yang kuat untuk memenangkan pertarungan fisik memperebutkan terowongan tempat betina bertelur, sementara jantan bertubuh kecil biasanya mengembangkan tanduk pendek dan memilih strategi menyelinap untuk menghindari konfrontasi langsung. Struktur eksoskeleton yang kaku pada tubuh kumbang juga berfungsi sebagai pengungkit mekanis yang efisien untuk mengubah kontraksi otot menjadi gaya tarik yang besar.

Kumbang Badak di Posisi Kedua

Posisi kedua di antara serangga terkuat ditempati oleh kumbang badak, kelompok kumbang besar dari subfamili Dynastinae. Kumbang ini mampu mengangkat atau menahan beban antara 850 hingga 1.000 kali berat tubuhnya, sedikit di bawah rekor kumbang kotoran namun tetap jauh melampaui kemampuan mamalia mana pun jika dihitung berdasarkan rasio yang sama.

Kekuatan kumbang badak juga terkait erat dengan tanduk besar di kepalanya, yang digunakan jantan untuk menjungkalkan pesaing saat berebut betina atau sumber makanan seperti getah pohon. Semakin besar tanduk yang dimiliki seekor kumbang, semakin besar pula tuas mekanis yang bisa digunakan untuk mengungkit dan menjatuhkan lawannya dalam pertarungan berhadapan langsung.

Oryctes monoceros, kumbang badak dari subfamili Dynastinae yang difoto di Republik Kongo. Kelompok kumbang ini menempati posisi kedua sebagai serangga dengan rasio kekuatan tertinggi, mampu mengangkat atau menahan beban 850 hingga 1.000 kali berat tubuhnya, tepat di bawah rekor Onthophagus taurus. Foto: Tony King/iNaturalist (CC BY 4.0)

Secara umum, rasio kekuatan yang tinggi pada serangga dijelaskan oleh hukum fisika sederhana yang berlaku bagi hewan berukuran kecil. Ketika ukuran tubuh mengecil, luas permukaan otot tidak menyusut secepat volume dan massa tubuh. Akibatnya, hewan kecil seperti kumbang memiliki rasio kekuatan otot terhadap berat badan yang jauh lebih tinggi dibanding hewan besar seperti gajah atau manusia, yang volumenya tumbuh jauh lebih cepat daripada luas permukaan ototnya. Ringkasnya, tiga jenis serangga yang dibahas dalam tulisan ini menunjukkan rentang rasio kekuatan yang sangat lebar: kumbang kotoran di angka 1.141 kali, kumbang badak di kisaran 850 hingga 1.000 kali, dan semut pemotong daun jauh di bawah keduanya pada kisaran 20 hingga 50 kali berat tubuh.

Di luar rekor kekuatannya, kumbang kotoran dan kumbang badak memiliki peran ekologis yang penting bagi ekosistem darat. Kumbang kotoran berperan sebagai pengurai yang memindahkan dan mengubur kotoran hewan ke dalam tanah, sebuah proses yang mempercepat siklus nutrisi dan mengurangi populasi lalat serta parasit di padang rumput. Larva kumbang badak, di sisi lain, membantu proses penguraian kayu dan bahan organik yang membusuk di lantai hutan. Sementara itu, semut pemotong daun yang disebut di awal tulisan ini tetap berperan penting sebagai penyebar spora jamur dan pengurai materi tumbuhan, meski rasio kekuatannya jauh di bawah dua kumbang tersebut.

**

Referensi:

Knell, R. J., & Simmons, L. W. (2010). Mating tactics determine patterns of condition dependence in a dimorphic horned beetle. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 277(1692), 2347–2353. https://doi.org/10.1098/rspb.2010.0257

Exit mobile version