- Video viral awal Agustus 2026 memperlihatkan seekor kuskus bertahan di antara pepohonan tumbang di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang ramai dibagikan warganet.
- Kuskus adalah hewan berkantung (marsupialia) endemik Indonesia Timur (Papua, Maluku, Sulawesi dan Timor), yang populasinya menurun akibat hilangnya habitat dan perburuan liar.
- Kuskus merupakan arboreal sejati. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas kanopi pohon, dan jarang sekali turun ke tanah. Ia aktif malam hari, tidur bersembunyi di lubang batang pohon atau rimbunan dedaunan saat siang, lalu keluar mencari makan saat gelap tiba. Persis seperti yang tampak dalam video viral itu, ketika kuskus tampak kebingungan di siang bolong setelah pohon tempat bersembunyi ditumbangkan.
- Kuskus memainkan peran penting menjaga kesehatan hutan. Kontribusi utama mereka adalah sebagai penebar benih dengan memakan buah dan membuang biji di tempat baru, juga membantu meregenerasi hutan.
Pada Mei 2026, beredar luas di media sosial video seekor kuskus yang bergerak ke dahan tertinggi saat pohon terakhirnya dirobohkan. Ia terus memanjat mencari perlindungan, sementara eskavator terus merobohkan pohon-pohon di sekelilingnya.
Awal Agustus 2026, video berikutnya memperlihatkan, di antara pohon-pohon yang tumbang, seekor kuskus berwarna emas dengan totol-totol putih bertahan di sisa-sisa dahan roboh. Di belakangnya, aktivitas alat berat terus bekerja menebang pohon-pohon lainnya.
Begitulah gambaran video yang belakangan ramai dibagikan warganet dari Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dan memantik duka warganet. Rekaman video ini mulai beredar luas sejak pertengahan tahun ini dan memperlihatkan aktivitas pembukaan lahan hijau skala besar di kawasan yang menjadi rumah bagi satwa endemik Papua.
Seperti apa sebenarnya kuskus?
Kuskus adalah satwa liar berkantung yang menghuni hutan hujan Australasia, mulai Pulau Papua, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Timor, hingga Australia bagian utara. Sering disangka primata karena gerakannya yang lambat dan matanya yang besar menghadap ke depan, hewan ini adalah marsupial arboreal sejati, penghuni kanopi ulung.
Identitas pasti individu kuskus dalam video yang viral ini belum dikonfirmasi resmi oleh lembaga konservasi. Namun berdasarkan pola sebarannya, kuskus di dataran rendah Papua Selatan, termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Wasur, Merauke, umumnya adalah satu dari dua jenis yang paling luas sebarannya di Papua, yaitu kuskus totol (Spilocuscus maculatus) dan kuskus biasa/kuskus timur (Phalanger orientalis).
Keduanya sama-sama pemanjat ulung: bertubuh 35–45 cm, bermata besar untuk melihat dalam gelap, dan berekor panjang tanpa bulu di ujungnya yang berfungsi seperti tangan kelima untuk mencengkeram dahan. Namun keduanya berbeda dengan saudaranya, yakni kuskus waigeo (Spilocuscus papuensis), spesies yang benar-benar endemik dan hanya hidup di satu pulau di Raja Ampat.
Sedangkan kuskus yang viral dalam video tersebut, memiliki wilayah jelajah lebih luas, meliputi seluruh dataran rendah Papua bagian selatan hingga ke Papua Nugini. Kuskus di Merauke karena itu bukan spesies yang endemik seperti di pulau kecil seperti Raja Ampat, tapi tetap satwa asli Papua-Australasia yang sangat bergantung pada hutan primer dan sekunder untuk bertahan hidup
Menurut BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), kuskus adalah hewan berkantung (marsupialia) endemik Indonesia Timur (Papua, Maluku, Sulawesi dan Timor), yang populasinya menurun akibat hilangnya habitat dan perburuan liar. Di Indonesia terdapat empat genus kuskus yaitu Phalanger, Spilocuscus, Ailurops, dan Strigocuscus. Sedangkan di luar Indonesia, penyebaran kuskus meliputi New Guinea dan sebagian Australia.
“Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu berbeda berdasarkan genusnya. Genus Spilocuscus terdiri tiga spesies dan Phalanger terdiri 8 spesies. Di Papua terdapat dua genus kuskus yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Spesies endemik Papua adalah Spilocuscus papuensis dan Spilocuscus rufoniger,” terang Wartika Rosa Farida, Peneliti di Pusat Riset Zoologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rilis edisi 13 Februari 2023.
Hingga saat ini, beberapa spesies kuskus telah dikategorikan Kritis, terancam punah, dan menuju kepunahan. Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia berstatus dilindungi. Internasional Union Conservation of Nature (IUCN) memasukan kuskus dalam Redlist atau Daftar Merah sebagai hewan Vulnerable atau Rentan (IUCN 2016), dan juga terdaftar dalam CITES Appendiks II. Artinya, kuskus tidak boleh diburu, disakiti, dibunuh, dan diperdagangkan, baik hidup atau mati, seluruhnya atau sebagian.
Habitat kuskus
Kawasan Merauke, tempat video ini direkam, adalah bagian dari lanskap basah paling kaya di Papua. Mozaik hutan savana semacam inilah yang menjadi rumah kuskus, bukan hutan lebat seragam, melainkan kantong-kantong pohon berbuah yang tersebar di antara padang terbuka.
Riset yang dilakukan Joseph, Latupapua, dan Sahusilawane (2024) yang dipublikasikan di Jurnal Sylva Scienteae mengenai pola sebaran kuskus di Hutan Desa Tala, Maluku, menemukan bahwa kuskus lebih banyak dijumpai di hutan sekunder dibanding hutan primer. Hutan sekunder menyediakan sumber pakan lebih melimpah melalui tumbuhan berbuah dan letaknya yang dekat kebun masyarakat.
Dikutip dari Animal.net, kuskus adalah hewan soliter dan nokturnal. Siang hari, mereka beristirahat melingkar di lubang pohon, dedaunan lebat, atau cabang kokoh, sering tersamar bulunya yang menyatu dengan kulit kayu dan daun. Saat senja terbangun, mata besar mereka sempurna untuk kondisi cahaya rendah di hutan.
Ia juga satwa arboreal sejati: hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas kanopi pohon dan jarang sekali turun ke tanah. Ia aktif malam hari, tidur bersembunyi di lubang batang pohon atau rimbunan dedaunan saat siang, lalu keluar mencari makan saat gelap tiba. Persis seperti yang tampak dalam video viral itu, ketika kuskus tampak kebingungan di siang bolong setelah pohon tempat bersembunyinya ditumbangkan.
Gerakan mereka lambat dan penuh perhitungan, ini sebagai strategi untuk menghemat energi serta memungkinkan navigasi hati-hati di lingkungan arboreal yang kompleks. Meski tampak lamban, kuskus sangat adaptif. Cakar mereka yang kuat memberikan cengkeraman, dan jari pertama dan kedua yang berlawanan di kaki belakang memungkinkan mereka memegang cabang dengan kelincahan luar biasa.
Sedangkan ekornya, disebut berfungsi sebagai anggota tubuh kelima, memberikan cengkeraman dan keseimbangan saat berpindah antarcabang. Ekor ini sangat kuat hingga mampu menopang seluruh berat tubuh, memungkinkan mereka bergantung bebas saat makan atau meraih cabang yang jauh.
Habitat alami kuskus membentang luas di Australasia, terutama mencakup Pulau Papua, pulau-pulau kecil di sekitarnya, sebagian Australia utara, hingga kepulauan Wallacea termasuk Sulawesi, Timor, dan Kepulauan Solomon. Mereka umumnya ditemukan di berbagai tipe hutan tropis, yakni hutan hujan tropis, hutan mangrove karena beberapa spesies beradaptasi di ekosistem pesisir, hutan eukaliptus di Australia utara, dan hutan sekunder. Preferensi mereka terhadap kanopi yang rapat sangat penting untuk perlindungan dari predator dan akses ke makanan. Jalinan cabang dan sulur menjadi “jalan raya” mereka di hutan.
Kuskus memainkan peran penting dalam kesehatan hutan. Kontribusi utama mereka adalah sebagai penebar benih dengan memakan buah dan membuang biji di tempat baru, mereka membantu regenerasi hutan dan keanekaragaman genetik. Kuskus juga menjadi sumber makanan bagi predator alami seperti ular sanca dan burung pemangsa, membantu mengatur populasi dan menjaga keseimbangan jaring makanan.
Ancaman terbesar kuskus saat ini adalah hilangnya habitat akibat deforestasi dan pembangunan infrastruktur yang menghancurkan rumah dan mengisolasi populasi mereka.
Referensi:
Joseph, S. D., Latupapua, L., & Sahusilawane, J. F. (2024). Penyebaran satwa kuskus berdasarkan tipe hutan (primer dan sekunder) pada Hutan Desa Tala, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jurnal Sylva Scienteae, 7(1), 80–89. https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jss/article/view/11605
*****
Kuskus Mata Biru Ternate Diburu untuk Konsumsi, Populasinya Terancam