Mongabay.co.id

Bitis gabonica, Ular Berbisa dengan Taring Terpanjang di Dunia yang Menghasilkan Bisa Terbanyak

Foto: Mulut Bitis gabonica (Gaboon viper) yang terbuka lebar, memperlihatkan taring panjangnya yang melipat maju dari posisi tersimpan di langit-langit mulut. Foto oleh Brimac The 2nd, dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 2.0 Generic (CC BY 2.0). Sumber: Flickr

Bitis gabonica, yang dikenal umum sebagai Gaboon viper, merupakan spesies ular berbisa yang mendiami hutan hujan tropis dan kawasan savana di Afrika Sub-Sahara. Spesies ini memegang dua rekor sekaligus di antara seluruh spesies ular berbisa: taring terpanjang dan volume produksi bisa terbanyak. Panjang taringnya, menurut sejumlah sumber, berkisar antara 4 hingga 5,5 sentimeter, tergantung metode pengukuran dan spesimen yang diteliti. Adapun hasil pemerahan bisanya pernah tercatat melebihi 2 gram bisa kering dalam satu kali pemerahan, jumlah tertinggi yang pernah dilaporkan pada ular berbisa mana pun.

Secara taksonomi, bandotan gabon ini merupakan anggota terbesar dari genus Bitis, yang mencakup 18 spesies viper di kawasan Sub-Sahara Afrika dan sebagian Semenanjung Arab. Panjang tubuh dewasa umumnya berkisar 120 hingga 175 sentimeter, dengan berat mencapai 8 hingga 11 kilogram, menjadikannya salah satu ular berbisa terberat di Afrika. Dua kelompok yang secara historis dianggap subspesies, yaitu Bitis gabonica gabonica di Afrika Timur dan Selatan serta Bitis rhinoceros di Afrika Barat, kini diperlakukan sebagai dua spesies berbeda oleh sebagian peneliti berdasarkan bukti genetik. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat status konservasi Gaboon viper sebagai Vulnerable, meski data populasi yang mendasari penilaian ini masih terbatas di sejumlah wilayah jelajahnya.

Struktur Rahang dan Mekanisme Taring

Taring Gaboon viper menempel pada tulang maksila yang bersifat fleksibel, bagian dari struktur rahang solenoglyphous yang umum ditemukan pada famili Viperidae. Saat mulut tertutup, taring terlipat ke belakang sejajar dengan langit-langit mulut. Struktur ini memungkinkan ular menyimpan taring sepanjang itu tanpa melukai jaringan mulutnya sendiri.

Gaboon viper (Bitis gabonica) berkamuflase di lantai hutan tropis Afrika. Pola warna kepalanya yang menyerupai daun kering membuat ular ini sangat sulit terdeteksi oleh mangsa maupun manusia. Taring panjangnya, yang tersimpan di dalam rahang, dapat mencapai panjang 5 sentimeter—rekor terpanjang di dunia ular.| Foto oleh Clément Bardot – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=135217020

Ketika menyerang, tulang maksila berotasi sehingga taring bergerak maju hingga posisi tegak lurus terhadap target. Kecepatan serangan bandotan gabon ini diperkirakan mencapai sekitar 6 meter per detik. Berbeda dari kebanyakan spesies viper lain yang menggigit lalu melepaskan mangsa hingga mati, Gaboon viper ini cenderung tetap mempertahankan gigitannya hingga mangsa berhenti bergerak.

Komposisi bisa Gaboon viper telah dipetakan melalui analisis proteomik, yang mengidentifikasi sekitar 35 protein dari 12 famili toksin, didominasi oleh serine proteinase, metaloproteinase berbasis seng, protein mirip lektin tipe-C, dan fosfolipase A2. Efek klinis bisa ini bersifat sitotoksik dan mengganggu sistem koagulasi darah, termasuk menyebabkan degradasi fibrinogen yang berujung pada gangguan pembekuan darah. Efek ini berbeda dari bisa bersifat neurotoksik murni yang ditemukan pada sejumlah spesies ular berbisa lain.

Perilaku Berburu dan Interaksi dengan Manusia

Sebagai predator penyergap, Gaboon viper mengandalkan pola sisik yang menyerupai dedaunan kering untuk berkamuflase di lantai hutan. Kepala ular yang lebar, mencapai sekitar 15 sentimeter, turut membantu penyamaran ini. Ular ini umumnya bergerak lambat dan dapat diam dalam waktu lama sambil menunggu mangsa seperti tikus, burung, atau mamalia kecil lainnya mendekat.

Kerangka Gaboon viper (Bitis gabonica) menampilkan struktur anatomi yang khas, termasuk taring panjang yang dapat dilipat ke belakang ketika mulut menutup. | By Stefan3345 – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=46063244

Meski memiliki bisa yang berpotensi mematikan dan volume produksi bisa yang tinggi, bandotan gabon ini dilaporkan memiliki temperamen yang relatif tenang dan jarang menyerang manusia kecuali terinjak atau merasa terancam secara langsung. Gigitan pada manusia tetap tergolong kejadian medis serius yang memerlukan penanganan cepat. Korban envenomasi berat dilaporkan mengalami kerusakan jaringan yang luas, dan pada sejumlah kasus memerlukan amputasi anggota tubuh yang terkena, meski antivenom untuk spesies ini sudah tersedia.

Di sejumlah wilayah Afrika Barat, keberadaan Gaboon viper juga memengaruhi perilaku primata seperti monyet, yang dilaporkan meningkatkan kewaspadaan saat mendeteksi ular ini di area jelajahnya. Hal ini menunjukkan peran spesies tersebut dalam dinamika interaksi predator-mangsa di ekosistem hutan tropis Afrika, meski data kuantitatif mengenai dampaknya terhadap populasi mangsa masih terbatas.

**

Referensi

Fahmi, L., Miyamoto, T., Yamada, Y., Jouiaei, M., Fry, B.G., Ghezellou, P., & Calvete, J.J. (2007). Snake venomics of Bitis gabonica gabonica. Journal of Proteome Research, 6(9), 3499-3510.

Turner, A.A. (2021). Bitis gabonica. The IUCN Red List of Threatened Species 2021: e.T13300893A13300904.

 

Exit mobile version